
Pesta pernikahan megah dan mewah itu kini telah usai. Semua tamu undangan tidak ada yang tersisa, mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini yang tinggal hanyalah orang dari pihak WO yang jasanya di pakai oleh Stef dan Aira untuk mengurus semua keperluan saat pesta pernikahan anak-anak mereka.
“Matt, bawa istri kamu istirahat sana, Ana kayaknya capek banget!” Matt mengangguk patuh mendengar perintah Stefani ibunya.
“Nih, access card-nya. Kamu tau dimana tempatnya kan?” Stef memberikan sebuah kartu masuk untuk kamar presiden suite, tempat kamar mereka.
“Tau, Mom!”
Matt dan juga Ana berjalan menuju lift. Mereka memasuki kotak besi tersebut dan menekan tombol lantai tujuan.
Matt menempelkan access card yang ada di tangannya di depan pintu kamar, setelah itu dia membuka pintunya, dan berjalan masuk terlebih dahulu.
Kamar yang bernuansa putih itu membuat Ana kagum. Sepertinya memang sudah dipersiapkan untuk pengantin baru seperti mereka berdua. Fasilitas lengkap tersedia disini. Ada televisi, lemari pendingin, walking closed, sofa yang lumayan besar dan juga ada meja makan di sudutnya. Kamar yang terletak di lantai tertinggi gedung itu menampilkan cantiknya kelap-kelip lampu yang menerangi kota Frankfurt.
Ana berjalan ke arah balkon kamar, dia membuka jendela kaca itu dan berdiri di tepi pagar pembatas tinggi. Di sana juga ada dua buah kursi untuk mereka duduk, menikmati pemandangan indah malam hari.
“Kau tidak mau mandi dulu, Sayang?”
Dada Ana bergemuruh saat Matt melingkarkan tangannya di pinggangnya.
Ana berbalik menatap Matt dengan wajah yang memerah.
“Aku akan mandi dulu, Kak!” Ana langsung melepaskan tangan Matt yang tadi ada di pinggangnya, lalu berlari masuk kedalam kamar dan langsung menuju kamar mandi.
“Aku merasakan jantungnya berdebar-debar tadi!” kekeh Matt tertawa sendiri. Dia menggelengkan kepalanya, lalu masuk kedalam kamar. Matt menutup gorden besar yang tadi di buka Ana, dia juga menutup pintu jendela kaca tempat dia berjalan keluar balkon tadi.
Matt melepaskan jas pengantin yang tadi digunakannya. Juga sepatu pantofel yang melekat di kakinya.
Kini Matt mendudukkan dirinya di atas ranjang sembari memainkan ponselnya. Ada beberapa hal yang perlu Matt selesaikan terlebih dahulu.
Sedangkan Ana kini dia sedang berendam di dalam bathtub. Sembari membersihkan make-up yang ada di wajahnya. Tubuhnya yang tadi lelah, kini serasa segar kembali saat terkena air hangat, apalagi aromaterapi yang di campurkan didalam air mandinya membuat Ana relaks.
Cukup lama Ana berada di dalam bathtub, setelah merasa tubuhnya benar-benar bersih, Ana keluar dari dalam bathtub untuk membilas sisa-sisa busa sabun yang melekat pada tubuh mungilnya.
“Astaga!” decak Ana kesal saat dia sadar kalau dirinya lupa membawa handuk maupun kimono saat berlari ke kamar mandi.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Ana pada dirinya sendiri. Dia melihat pantulan tubuh polosnya di depan cermin.
“Ya ampun, aku baru sadar, kalau ternyata aku cukup seksi!” Ana berpose di depan cermin, tapi saat melihat ke arah pintu, dia kembali tersadar dan menepuk keningnya.
Lama Ana mondar-mandir di dalam kamar mandi, membuat Matt yang sedari tadi sudah lama menunggu menjadi kesal.
“An, kenapa lama sekali? Aku juga mau mandi!” Ana tersentak kaget saat mendengar suara Matt yang sudah berada di depan pintu kamar mandi. Laki-laki itu memutar gagang pintu yang sialnya tidak di kunci oleh Ana.
“An, kau tidak me——”
“KAK MATT, JANGAN LIAT AKU!”
Ana berlari masuk kembali ke dalam bathtub.
Entah memang Ana yang pelupa atau benar-benar bodoh, membuat Matt menggelengkan kepalanya.
“Kalau aku tau pintunya tadi tidak di kunci, aku tidak akan menunggu lama, An!” Matt berjalan ke arah bathub, membuat Ana harap-harap cemas.
“Kak, jangan kesini! Tolong ambilkan handukku! Aku lupa membawanya tadi,” Matt mengangkat sebelah alisnya tanda tidak percaya.
“Kau yakin? Bukankah kau sengaja?” goda Matt saat sudah melihat wajah Ana yang memerah.
“Kak, jangan mendekat, ambilkan handukku dulu! Ini sudah larut, aku sangat lelah!” Matt semakin mendekat pada Ana.
“Kenapa begitu? Kau keluar saja seperti itu, lagipula tadi aku sudah melihat tubuhmu!” Matt berdiri di tepi bathub membuat Ana semakin berkeringat dingin.
“An, bagaimana kalau kita mulai dari sini dulu?” tanya Matt dengan nada suara serak yang menggoda. Jantung Ana bertalu-talu didalam dadanya. Walaupun dengan wajah yang lusuh karena keringat seperti ini, tapi malah membuat Matt tampak semakin seksi di matanya.
“Tidak, keluar kak! Aku mau berpakaian! Ambilkan handukku!” Ana semakin memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub, supaya dadanya tidak terlihat.
“Tidak mau!”
Matt membuka kancing kemejanya. Satu persatu kancing itu tanggal, dan saat Matt membuka kemejanya, Ana langsung merebut kemeja itu membuat Matt terkejut.
Ana membalutkan tubuhnya dengan kemeja besar milik Matt, lalu keluar dari dalam bathtub dan berlari menuju pintu.
Ana membanting pintu kamar mandi dengan keras, membuat Matt tertawa terbahak-bahak.
“Ah ... Aku suka wajahnya yang memerah seperti itu, dia sungguh seksi!” Matt menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan tubuh Ana yang memegang saat dia tidak sengaja membuka pintu tadi, Matt bahkan tidak menyangka kalau ternyata Ana tidak mengunci pintunya. “Ck, gadis itu sungguh ceroboh!”
Ana langsung masuk kedalam walking closed, kemeja putih Matt kasih terbalut di tubuh mungilnya. Ana membuka satu persatu pintu lemari, tapi tidak ada pakaiannya di sana.
Hanya ada celana Matt, handuk ganti, bahkan seprai pun ada. Dan mata Ana membola saat melihat jajaran gaun tidur transparan yang berbagai warna di dalam lemari itu.
“Ya ampun. Aku benar-benar akan habis malam ini. Mana mungkin aku pakai pakaian seperti ini?” Ana mengangkat lingerie seksi tersebut dengan jijik.
“Oh ya tuhan, tolong aku!” gumam Ana. Bahkan kemeja untuk Matt seja tidak ada, sepertinya orangtuaku yang sudah menyiapkan ini semua.
“Aaakkhhhh ....” teriak Ana memegang rambutnya. Matt langsung membuka pintu walking closed, saat dia mendengar suara Ana berteriak.
“Ana, kau kenapp—?” Matt tidak berani melanjutkan pertanyaannya.
“Astaga, kenapa kau suka sekali menggodaku? Ha?” tanya Matt dengan nada kesal.
Ana langsung tersadar dengan apa yang terjadi. Dia melihat baju Matt yang tadi dia belitkan ke tubuhnya sudah jatuh kebawah. Ana langsung mengambil handuk yang tersusun di dalam lemari lalu membaluti tubuhnya dengan handuk tersebut.
“Maaf kak, tapi kenapa isi lemarinya seperti ini? Sama seperti novel-novel romansa yang Ana baca, kalau isinya cuma ada pakaian laknat ini?!” Ana menunjuk pada lingerie yang berjejer rapi tersebut. Matt pun menelan ludahnya dengan kasar. Melihat Ana memakai handuk seperti ini saja sudah membuatnya tegang, apalagi dengan pakaian seperti itu?
Habislah kau malam ini, Ana!
“Me—memangnya kenapa? Kau kan sudah menikah, jadi jelaslah isinya seperti ini!”
“Tapi kenapa isi lemari Mommy tidak seperti ini?”
“Itu karena kau tidak melihatnya. Mommy mu pasti meletakkannya di suatu tempat, sudahlah kenakan pakaianmu sekarang!” Matt mengambil celana dalam dan juga celana bokser yang ada didalam lemari tersebut. Lalu berjalan keluar.
“Ck, kalau aku pakai celanaku di dalam, pasti dia akan bertanya, kenapa milikku berdiri! Dasar merepotkan!” gerutu Matt kesal. Sungguh, dia benar-benar sudah terangsang saat ini.
.............
.......
...*****...
...Skip aja kali, ya? Biar ga di tolak lagi🤣...