My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. Diculik



Makan malam yang panjang ini menjadi makan malam yang paling indah yang pernah Mattea lalui. Meskipun dilamar dengan cara yang sederhana, dan tanpa perencanaan tapi Mattea sangat bahagia karena itu.


Mattea melihat kembali pada jari manisnya yang kini sudah melingkar sebuah cincin cantik bermata berlian. Membuat tangannya semakin indah.


Mattea mengingat kembali, saat Mommy dan Daddy-nya akan menikahkan dia dengan Thomas satu bulan lagi. Semuanya sudah di perkirakan dengan sangat matang. Max ternyata juga sudah bicara dengan Masseria dan Lucky, kakek dan nenek si kembar. Dan juga Jhon, ayah Stef. Tentunya tanpa Lie, karena ibunda dari Stef itu, sudah menghembuskan nafas terakhirnya saat si kembar baru berusia beberapa bulan.


Kondisi ginjal Lie yang semakin lemah, membuat tubuhnya semakin drop.


Tidak ingin berlama-lama bersedih mengingat sang nenek yang sudah pergi, walaupun tidak melihat wajahnya atau mengenalnya dulu, tapi Mattea tetap menyayangi ibu dari sang Momy.


Mattea kembali menatap cincin pemberian laki-laki yang sangat dia cintai itu. Matanya selalu berbinar melihat cincin yang sangat indah yang melekat di jarinya yang mungil.


Mattea merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia menatap langit-langit kamar. Tak lama setelah itu, terdengar dering ponsel yang membuat Mattea langsung meraih benda persegi empat itu.


“Hallo Uncle?” sapa Mattea pada orang yang menelponnya itu, ternyata adalah sang calon suami. Mengingat dia yang akan menikah dengan Thomas, membuat gadis cantik itu merona merah.


‘Hallo sayang. Tidak adakah panggilan lain selain Uncle untuk calon suamimu ini Baby Girl?’ nada suara Thomas yang kesal membuat Mattea terkekeh gemas.


“Tapi aku suka memanggilmu seperti itu?!” elak Mattea yang membuat Thomas di seberang sana menghembuskan nafas kasar.


‘Baby girl, kenapa kau tidak memanggilku opa saja, biar terlihat lebih tua?!’ Mattea tergelak mendengar perkataan Thomas. Rupanya laki-laki itu semakin kesal saat dia menolak untuk memanggilnya dengan panggilan lain.


“Kelitannya itu terdengar bagus?” goda Mattea yang kini sangat yakin, kalau Thomas akan semakin kesal padanya.


‘Baby girl?’ nada suara Thomas yang sudah mulai menekannya membuat Mattea tergelak.


“Baiklah sayang. Jadi, ada apa menelponku tengah malam begini? Apa pertemuan tadi tak membuatmu puas sayang?” Mattea menggoda Thomas. Laki-laki dewasa diseberang sana itu, kini sedang tersenyum lebar saat Mattea memanggilnya dengan sebutan sayang.


‘Hemm, kau tau rupanya. Aku memang sudah merindukanmu lagi, lagi dan lagi...’ Mattea memerah mendengar perkataan Thomas. Dia menggigit bibir bawahnya menahan agar tidak tersenyum, walaupun tau kalau Thomas tidak akan melihatnya.


“Jangan menggombal sayang, sudah tidurlah!” Mattea mengalihkan pembicaraan membuat Thomas di seberang sana terkekeh.


‘Mana kecup jauhnya sayangku?’


“Astaga, kenapa Uncle jadi narsis begini sih?” tanya Mattea yang berpura-pura kesal.


‘Panggil aku sayang, jangan Uncle Atea?!’


“Haha, baiklah sayang. Sudahlah, sebaiknya kamu tidur sekarang!”


‘Iya ... iya, baiklah! Night Mattea, i love you, always love you!’


“Night sayang..”


Setelah sambungan telepon dimatikan, Mattea berguling-guling di atas ranjangnya dengan menggigit bibir bawahnya menahan untuk berteriak karena bahagia.


_______


Sudah satu Minggu ini semenjak pertunangan Mattea dan Thomas, Max semakin memperketat penjagaan untuk Mattea, karena dia merasa kalau akan ada sesuatu yang menimpa putrinya itu. Max bahkan menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Mattea dari jauh dan juga dari dekat, meskipun Thomas selalu mengantar gadis itu kemanapun, karena masa hukuman menyenangkan dari Max belum berakhir.


Karena firasatnya sebagai seorang ayah, membuat Max menjaga Mattea dengan ekstra. Bahkan dia juga menyuruh Matteo untuk lebih waspada menjaga adik perempuannya itu.


Seperti saat ini, Mattea masih didalam lingkungan kampus, dia berbincang dengan teman perempuannya, karena Thomas melarangnya untuk dekat dengan Harry, karena laki-laki itu cemburu, tapi tidak mengakuinya membuat Mattea gemas.


Mattea asik berbincang di kursi tunggu depan koridor kampus, bahkan dia tidak menyadari kalau anak buah Daddy-nya mengawasinya dari setiap titik.


Terlihat Mattea tertawa dengan temannya itu, entah apa yang mereka bicarakan tapi terlihat dari tatapan mata Mattea, dia nyaman berteman dengan gadis itu.


“Stella, aku mau ke toilet sebentar, kau tunggu di sini saja?!” Mattea hendak berjalan, tapi di tahan oleh temannya itu.


“Atea, sebaiknya aku ikut ya, aku tidak nyaman berjalan sendiri?!” Mattea terkekeh mendengar perkataan gadis cantik itu.


“Aku tidak akan lama Stella, lagian aku cuma mau buang air kecil.”


“No Mattea, aku ikut saja ya.” teman Mattea itu kembali menatap Mattea dengan tatapan memohon dan juga takut.


“Tidak apa-apa Stella, disini aman, kau tunggu sebentar. Aku tidak akan lama!”


Walau dengan berat hati, gadis yang menjadi temannya itu menganggukkan kepala mendengar perkataan Mattea. Dia duduk kembali di kursi itu, lalu menatap kepergian Mattea dengan risau. Entah kenapa dia memiliki firasat buruk, yang akan menimpa Mattea.


Salah satu dari laki-laki yang tadi berjalan tergesa-gesa menuju toilet, kembali ke hadapan gadis itu.


“Dimana nona muda, dia tidak ada di toilet!” teman baru Mattea itu terkejut, tubuhnya gemetar. Lalu dia ikut berlari menuju toilet.


Dia melihat kedalam seluruh ruang toilet, tapi Mattea tidak ada disana.


“Sial!” ujar gadis itu. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Max.


“Hallo..” ujar Max menjawab di seberang sana.


“Tuan, nona muda menghilang!” ujar gadis itu memberitahu. Max sangat terkejut dengan hal itu.


“Apa? Kenapa kau bisa kehilangan dia?” ujar Max dengan emosi. Benarkan, apa yang dia takutkan selama ini. Kenapa anak buahnya sampai teledor seperti ini, hingga tidak menyadari kalau Mattea menghilang.


“Maaf tuan, tadi nona muda minta izin untuk pergi ke toilet, saya sudah memaksa untuk ikut, tapi nona muda menolak tuan!” Max menghembuskan nafas kasar. Dia tidak tau siapa di balik semua ini, tapi satu hal yang harus dia ingat, dia tidak boleh gegabah mengambil keputusan.


“Baiklah, suruh semua yang ada disana untuk berpencar mencari Mattea, pastikan tidak ada yang terlewat, periksa seluruh cctv yang ada di area kampus, dan lihat kembali ke toilet, apa ada tanda-tanda kalau Mattea di culik! Aku akan segera kesana untuk mengecek langsung nanti!” meskipun Max tidak dapat melihat anggukan kepalanya, tapi gadis itu tetap mengangguk.


“Baik tuan!” setelah itu sambungan telepon terputus.


Max segera menghubungi Thomas, dan juga Matt untuk memberitahu hal ini, tapi dia belum memberitahu Stef, karena takut wanita itu akan sangat khawatir.


“Siapa dia? Kenapa dia mau bermain-main denganku! Tidak akan aku ampuni kau, jika menyakiti putriku!” Max meremas ponselnya dengan gusar. Secepatnya dia harus menemukan Mattea, dia tidak akan menyangka kalau akan kecolongan seperti ini. Seharusnya dia menambah lagi gadis yang dia suruh untuk menemani Mattea kemanapun dia pergi.


___


Sedangkan Thomas, saat ini dia sedang melajukan mobilnya ke kampus Mattea, dia diberitahu oleh Max, kalau gadis kecilnya itu menghilang, tapi belum tau siapa yang membawanya.


Sesampainya dia di area kampus, Thomas bertemu dengan Max yang juga baru sampai disana, keduanya langsung berlalu menuju ruangan cctv untuk mengecek kemana gadis kecil itu terakhir terlihat.


Max melihat anak buahnya menyebar di sekeliling kampus untuk mencari Mattea, tapi nihil.


“Thomas, periksa GPS yang terhubung dengan ponsel Mattea!” Thomas mengangguk, dia langsung mengeluarkan ponselnya, untuk menghubungkan dan melihat titik terakhir Mattea. Tapi disana jelas terlihat Mattea berada di area kampus, sebelum titik itu mati, karena ponsel Mattea dimatikan.


“Terakhir di koridor kampus Max!” Max menghembuskan nafas kasar, dia benar-benar kecolongan. Rupanya orang itu benar-benar mempersiapkan ini dengan matang. Kini kedua laki-laki itu sudah berada di ruang monitor.


Melihat kedatangan Max yang tiba-tiba di kampus, membuat pihak kampus menjadi cemas, takut terjadi hal buruk.


“Tuan Max?” sapa Dekan langsung turun tangan untuk menghampiri Max, karena tadi salah satu dosen mengatakan padanya kalau Max terlihat tergesa-gesa menuju ruang cctv.


“Aku ingin memeriksa cctv, putriku menghilang!”


Duaarr... Bagai disambar petir, Dekan itu terlihat sangat terkejut. Dia sangat takut saat ini, kalau Mattea benar-benar menghilang ketika berada di area kampus. Itu akan buruk baginya nanti.


Dia cepat-cepat menyuruh petugas yang ada disana untuk memutar video cctv sesuai saat jam Mattea menghilang. Saat dia berjalan menuju toilet, dan berjalan ke koridor kampus.


Terlihat disana Mattea masuk kedalam toilet, tapi tak lama setelah itu, layar monitor menjadi gelap. Hingga membuat Dekan mati kutu, dan Max juga Thomas terlihat mengepalkan tangan mereka. Kedua laki-laki dewasa itu menatap Dekan dengan mata tajam mereka.


“Apa seperti ini keamanan kampus ini?” Max melampiaskan kemarahannya pada Dekan tak bersalah itu. Dia menarik jas yang di pakai pria paruh baya itu, hingga tubuhnya sedikit berjinjit ke atas.


“Sebaiknya kau secepatnya bisa menemukan putriku, kalau tidak, kau tidak akan tau, apa yang bisa aku lakukan padamu!” Max melepaskan Dekan itu hingga membuat laki-laki paruh baya itu mundur beberapa langkah ke belakang karena Max mendorongnya. Lalu Max diikuti oleh Thomas berjalan keluar ruang cctv. Thomas terlihat menghubungi Nicko untuk memberitahu seluruh anggota Black Devils untuk mencari Mattea, karena nona muda menghilang diculik seseorang.


Diseberang sana, Nicko tampak mengepalkan tangannya pertanda dia ikut emosi saat mendengar hal itu.


“Siapa orang yang berani menganggu ketenangan keluarga Alexander Luciano? Mau cari mati?!” wajahnya memerah menahan emosi. Tidak dapat dia bayangkan, bagaimana marahnya Max dan Thomas saat ini, akibat keteledoran anak buahnya.


“Habislah kita, Elang jantan sudah membuka matanya dan mengepakkan sayapnya penuh dengan kemarahan!”


Nicko langsung menghubungi anak buahnya yang lain untuk segera mencari Mattea, terlebih dahulu dia akan menemui Arthur dulu untuk melacak keberadaan Mattea, karena laki-laki itu adalah seorang hacker profesional.


_____


Hoho, aku deg-degan ini. Bisa nyelesain dan ngehaluin ini apa gak😭😬


Dukungannya sayangku 😍