My Devils Husband

My Devils Husband
27. Melamarmu



Max keluar dari kamar Lie dan menemui Stef yang duduk disofa ruang keluarga. Ia membiarkan dulu orang tuanya bernostalgia bercerita masa lalu untuk melepaskan rindu.


Gadis cantik itu duduk menopang dagu memenung hingga dia tidak menyadari Max yang menghampiri dan duduk di sampingnya.


"Kau melamunkan apa?" suara Max bertanya membuat Stef terkejut. Stef menoleh melihat Max sekilas lalu kembali menatap kosong kedepan.


Melihat Stef yang tetap diam tanpa menjawabnya Max mengerutkan kening.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Stef lagi.


"Kuliahku!" jawaban Stef cukup membuat Max mengerti dengan semua yang dipikirkan gadisnya itu. "Kenapa papi dan momy kesini?" sambung Stef bertanya menoleh kearah Max, setelah itu ia kembali menatap lurus kedepan. Terlihat pemilik manik gelap itu menghela nafas panjang.


"Melamarmu!" refleks Stef mendongak menatap Max terkejut, berfikir sebentar lalu menghela nafas.


"Lalu kapan kita akan menikah?" tanya Stef dengan nada pasrah. Max tahu bahwa sebenarnya Stef masih ingin melanjutkan kuliahnya.


"Apa kau keberatan?" tanya Max menatap Stef dalam. Manik hitam pekat itu beradu dengan manik coklat milik Stef, menyelami isi pikiran masing-masing.


"Tidak!" jawab Stef singkat, menunjukkan senyumnya. Sungguh indah pipi kemerahan yang beradu dengan wajah cantik itu.


"Kenapa? Bukankah kau ingin kuliah?" tanya Max serius.


"Iya." jawab Stef singkat.


"Apa kau mau menunda pernikahan kita?" tanya Max dengan nada pasrah membuat Stef berusaha menyembunyikan senyumannya. Terlihat jelas bagi Stef bagaimana tatapan kekecewaan Max terlihat jelas tarpancar dari manik gelap itu.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Stef balik bertanya.


"Aku serahkan semua keputusan padamu, bagaimanapun nanti aku akan tetap mencintai dan menikahimu jika kau siap." jawaban Max membuat Stef tergelak.


"Bukankah setelah menikah nanti aku tetap bisa melanjutkan kuliahku." ucap Stef tersenyum cantik menatap Max yang mengerutkan kening. "Lagi pula bukankah kau yang menjadi sponsor utama kampusku?" sambung Stef membuat Max refleks menepuk kening lucu.


"Astaga, kenapa aku tidak berfikir kesana," decak Max membuat Stef gemas.


"Apa tadi kau berfikir aku tidak akan mau menikah denganmu secepatnya karena alasan kuliahku?" tanya Stef menatap Max yang dijawab anggukan kepala oleh lelaki tampan itu.


"Dasar bodoh!" ucap Stef meledek.


"Enak saja kau!" Max hanya menjawab seadanya saja, karena jujur ia tidak kepikiran kesana.


"Bagaimana mungkin aku tidak mau menikahimu!" ucap Stef menatap Max dalam.


"Benarkah? Kenapa?" tanya Max cepat.


"Entahlah, aku tidak tau!" jawab Stef membuat Max kesal. Max mencium pipi Stef sekilas lalu melengos begitu saja membuat Stef jengkel. Stef diam, membuat Max menatapnya.


"Stef," panggil Max singkat.


"Ya!"


"Aku ingin kau mencintaiku seperti aku mencintaimu Stef." Stef mendongak beradu pandang dengan manik gelap yang memancarkan keseriusan itu.


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Stef menatap Max bingung dengan perkataan Max yang tiba-tiba.


"Aku hanya mengatakan isi hatiku," Jawab Max tersenyum lembut.


"Benarkah? Apa segitu besarnya kau mencintaiku?" ledek Stef tersenyum jahil. Max merasa gemas dengan pemilik pipi kemerahan itu, membuatnya mencubit sekilas hingga Stef mengaduh. Sungguh pemandangan yang indah!


"Apa kau tak mau jawaban dariku Max?" tanya Stef menatap Max serius. Max menghela nafas.


"Apa jawabanmu akan membuatku bahagia atau sebaliknya?" tanya Max berbalik.


"Jawaban seperti apa yang kau inginkan?" tanya Stef.


"Aku hanya ingin jawaban kejujuran Stef, biarpun itu menyakitkan!"


"Aku tidak ingin mencintaimu seperti kau mencintaiku Max!" jawab Stef membuat Max mengkerut.


"Kenapa?" refleks Max bertanya seperti itu, menunggu barisan kata yang akan diucapkan oleh gadis cantik itu.


"Karena aku mencintaimu dengan caraku sendiri, dan kau tetaplah mencintaiku seperti caramu sendiri."


.


.


.


.


TBC.


Love❤❤❤EgaSri