
Tak selamanya perjuangan cinta akan menyakitkan, karena biasanya setelah kita berjuang sampai titik terlemah, kisah yang selama ini kita perjuangkan, berbalik untuk memperjuangkan kita yang sudah lelah dengan segala perjuangan.
-Ega_Sri
__________
Thomas hari ini di minta oleh Max untuk menjemput Mattea, karena Matteo ada kelas sampai sore sedangkan Mattea tidak. Sedangkan supir yang biasa menjemput gadis itu sedang di suruh oleh Max untuk melakukan sesuatu.
Pria tampan, dewasa, dan gagah di usianya yang tidak lagi muda itu tampak sangat menggoda dengan gayanya yang elegan menunggu di sebuah Ferrari keluaran terbaru.
Dengan lengan kemeja yang di gulung hingga suku, dan otot-otot yang kekar membuat pandangan mahasiswi tak berkedip ke arahnya dan Thomas sangat malas akan hal itu.
Thomas menatap pada jam tangannya yang mahal itu, sudah tiga puluh menit dia menunggu, sedangkan orang yang di tunggu belum juga keluar dari fakultasnya.
Thomas mengeluarkan ponselnya dari dalam celana katun yang dia gunakan, lalu memilih untuk menghubungi Mattea.
“Hallo Uncle?” sapa Mattea heran saat sambungan telepon tersebut di angkatnya.
“Hallo girl, kau dimana? Uncle ada di parkiran kampus mu!” Thomas kembali menatap sekeliling berharap Mattea dapat di jangkau matanya.
“Ah astaga, maafkan aku Uncle, aku segera kesana. Harry ayo kita ke parkiran!” sebelum sambungan telepon di matikan, Thomas sempat mendengar Mattea menyebutkan nama Harry.
“Siapa Harry?” tanyanya heran.
Sekitar lima menit kemudian, tampak Mattea berjalan bersama dengan seorang laki-laki mendekat pada Thomas.
“Hai Uncle. Maaf membuatmu menunggu lama, aku di perpustakaan tadi!” Thomas hanya mengangguk mendengar perkataan Mattea, tapi matanya tidak lepas dari laki-laki yang bersama dengan baby girl nya itu.
Melihat Thomas yang seperti penasaran dengan Harry, membuat Mattea berinisiatif untuk mengenalkan temannya itu.
“Oh iya Uncle, perkenalkan ini temanku Harry, dan Harry kenalkan ini Uncle Thomas, sahabat Daddy ku!” Harry menyodorkan tangan sopan pada Thomas, di sambut baik oleh laki-laki dewasa itu.
“Harry!”
“Thomas!”
Setelah merasa cukup, Thomas mengajak Mattea untuk segera pulang, dan juga dia tidak ingin untuk berlama-lama disini karena pandangan mata teman laki-laki dari gadis kecilnya itu tampak berbeda.
“Ayo girl!” Thomas membukakan pintu mobil untuk Mattea masuk. Mattea mengangguk, dia melambaikan tangan pada Harry lalu masuk ke dalam mobil.
Thomas duduk di kemudi, di samping Mattea, tapi pikirannya masih tertuju pada Harry.
“Girl, siapa laki-laki tadi? Apa dia pacarmu?” tanya Thomas yang membuat Mattea kaget lalu tertawa.
“No Uncle. He is my Friend!” jawab Mattea singkat. Sedangkan Thomas hanya menganggukkan kepalanya.
“Jangan terlalu dekat dengannya,” kata-kata lucknut itu keluar dari mulut Thomas membuat Mattea heran.
“Memangnya kenapa?”
“No! Aku hanya merasa dia bukan laki-laki baik!” sungguh alasan yang klise sekali.
“Why? Dia pria yang baik, aku sudah lumayan lama berteman dengannya?!”
“Entahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja!”
______
Mobil yang di kendarai Thomas masuk kedalam area mansion. Penjaga membukakan gerbang.
Saat mobil sudah berhenti di depan pintu utama mansion megah dan mewah itu, Mattea turun dari mobil yang di tumpangi nya. Begitupula dengan Thomas.
“Apa Uncle, mau masuk dulu?” Mattea sangat berharap jika laki-laki itu mau untuk ikut masuk dengannya. Tapi jawaban Thomas membuat Mattea cemberut.
“No baby, Uncle harus kembali ke kantor!”
“Hemm, baiklah!” setelah mengatakan itu Mattea masuk kedalam mansion yang di sambut oleh Martin, masih saudara dekat Marko.
Sedangkan Thomas kembali masuk kedalam mobilnya. Tapi sebelum itu dia menelepon Nicko terlebih dahulu.
Nicko adalah kaki tangannya untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan Black Devils.
“Hallo Nick. Aku ingin kau menyelidiki laki-laki yang bernama Harry, dia teman Mattea.” Thomas langsung memberikan perintah itu pada Nicko.
“Bail ketua!” jawab Nicko sigap.
Setelah itu sambungan telepon pun terputus.
_____
Matteo berjalan lunglai dengan kedua temannya menuju parkiran. Sungguh badannya lelah seharian ini.
“Humm, aku rasa itu ide yang bagus.” ujar Erick menyetujui.
“Baiklah, tapi kalian yang bawa mobilku!” Matteo melemparkan kunci mobilnya yang segera di tangkap oleh Arion.
“Tapi bagaimana dengan mobil kami?” tanya Arion.
“Nanti kita kesini lagi, jangan buang-buang bensin, dan bikin jalan raya macet!” ujar Matteo yang membuat kedua temannya mendelik.
“Katakan itu pada Daddy mu, kenapa memproduksi mobil banyak sekali!” ujar Erick yang di angguki oleh Arion.
“Haha.. sudah, ayo!” Matteo duduk di kursi sebelah kemudi dengan Arion yang menyetir, sedangkan Erick duduk di belakang.
Matteo dan kedua temannya pergi ke sebuah kafe yang sedang hits di kalangan anak muda. Banyak remaja yang nongkrong disana, sekedar untuk bercerita atau membuat tugas, dan ada juga yang berfoto.
Ketiga laki-laki tampan itu duduk di sebuah meja di sebelah sudut. Mereka memesan tiga cappuccino dan kue red Velvet.
Sembari menunggu pesanan, ketiga orang itu memainkan ponsel masing-masing. Hingga tidak lama setelah itu pesanan mereka datang.
Matteo mencoba kue yang di pesannya, ternyata enak sekali. Di temani dengan segelas cappucino menikmati suasana tengah kota memberikan kesan tersendiri bagi Matteo.
“Kak Matt...” Matteo tersedak kue yang dia makan saat sebuah tangan menepuk pundaknya.
“Oh ****, ini perih!” Matteo meminum minumannya dan menatap tajam pada gadis penyebab masalah itu.
“Apa kau tidak lihat aku sedang makan?” hardik Matteo kesal, sedangkan Ana hanya bisa menundukkan kepalanya takut. Memang ini kesalahannya karena sudah mengagetkan laki-laki itu.
“Maafkan aku kak Matt, aku tidak sengaja, dan juga tidak menyangka kau akan tersedak seperti itu.” sedangkan kedua sahabat Ana hanya bisa melongo melihat kejadian ini. Dan juga takjub dengan pemandangan tiga laki-laki tampan di depan mereka.
“Kau membuat mood ku buruk. Pergi sana!” Matteo yang kesal tidak dapat menahan emosinya hingga menghardik Ana hingga menarik perhatian pengunjung lainnya.
Dengan wajah yang memerah gadis cantik itu berlari keluar kafe. Dan kedua temannya juga mengikuti dari belakang.
“Kau berlebihan Matt, seharusnya kau tidak menghardik gadis itu!” ujar Erick akhirnya bersuara.
“Aku kesal, gara-gara dia tenggorokanku jadi sakit!” Matt masih tidak mau di salahkan karena menurutnya Ana lah yang salah.
“Tapi dia tidak tau kau sedang makan, dan akan tersedak seperti itu Matt!” Arion ikut menyalahkan Matt membuat laki-laki itu terdiam.
“Apa tadi aku keterlaluan?” pertanyaan Matt di jawab anggukan kepala oleh kedua temannya.
“Ya. Kau membuatnya jadi pusat perhatian, dan dia menangis Matt!”
“Aih ada-ada saja!” Matt bangkit dari kursinya membuat kedua temannya heran.
“Heii kau mau kemana?”
“Pulang!” jawab Matt singkat.
“Hei bagaimana dengan kami, kami pulang dengan apa?” tanya Erick kesal.
“Ah iya, kau benar. Kalian pakai taksi saja! Aku mau mengejar gadis cengeng tadi!”
“Kauuu.... Maattttt, kau menyebalkan!”
“Hei, lagian kan kalian yang mengajak aku kesini,”
Matt meninggalkan kafe itu setelah sebelumnya dia membayar makanan yang tadi dia makan.
Matteo menatap ke sekeliling tempat itu, berharap Ana masih ada di sana. Tapi dia tidak melihatnya. Matt menaiki mobilnya menyusuri jalan secara perlahan hingga di depan sana dia melihat Ana dan kedua temannya masuk kedalam mobil jemputan yang di suruh David.
Matt menghela nafas, memang tadi dia keterlaluan menghardik Ana dengan keras hingga menarik perhatian banyak orang, tapi dia seperti itu karena kesal saat merasa tenggorokannya perih.
“Ya sudahlah. Nanti saja aku minta maaf padanya!” Matt memutuskan untuk pulang tanpa kembali ke kafe tempat dia meninggalkan kedua temannya tadi.
Sedangkan Arion dan Erick menggerutu tidak jelas saat Matt meninggalkan mereka berdua di kafe itu.
________
Anggap aja ini Thomas sama Mattea. Nampak perbedaannya kan? Tapi masih cocok.
Bagi yang nanya usia Thomas berapa, nanti aku jawab.
oke, sayang-sayangku 😍😘
Ku menangiiiisss, like nya makin ambrul😭😭