My Devils Husband

My Devils Husband
Exp. Atha



“Atha ... jangan berlari! Nanti kau jatuh!” suara teriakan Arthur di dalam rumah megah kediamannya itu menggema.


Athanasia kecil berlarian menaiki tangga lalu menuruninya lagi, membuat ayahnya itu benar-benar kewalahan.


“Ayah, ini menenangkan cekali.” sahutnya. Dia sepertinya enggan mendekat pada Arthur yang baru saja tiba di lantai bawah.


“Menenangkan apanya? Itu bisa membuatmu jatuh, Atha! Kemari, ayo mendekat anak pintar ....” dengan langkah ragu, Atha berjalan mendekat pada sang ayah. Laki-laki itu langsung menggendong putrinya dan berjalan menuju ruang keluarga.


“Ayah, bukan menenangkan tapi menenangkan!” Athanasia yang berada dalam gendongan Arthur, memberenggut. Gadis kecil itu memeluk leher Arthur.


“Eh, gadis kecil. Apa bedanya menenangkan dengan menenangkan?” mengacak-acak rambut pirang yang sudah rapi itu, Arthur lalu mencubit pipi gembul yang menggemaskan tersebut


“Arthur dia bilang menyenangkan bukan menenangkan!” Nemi membawakan susu untuk Atha, dia meletakkannya di atas meja. Gadis kecil itu segera turun dari pangkuan Arthur, dan langsung menyambar susu yang ada di atas meja tersebut.


“Gadis nakal! Beraninya kau mempermainkan aku!” Athanasia yang sedang meminum susu itu hanya mengangkat bahu acuh. Setelah susu itu habis, dia meletakkan gelasnya di atas meja.


Menoleh pada Arthur, “Ayah, mainkan apa? Atha bilang menenangkan, ayah bilang lain lagi!” ujarnya, sembari bersidekap dada dengan pipi yang di gembung kan.


Arthur mendesah, “Terserahlah, terserah kau saja! Pokoknya kau tidak boleh berlarian menuruni tangga, kalau tidak ayah akan menghancurkan tangganya!” ucap laki-laki itu santai.


Athanasia melirik tajam ayahnya, “Ayah ini tejam!” sinis mulut mungil tersebut.


Alis Arthur mengkerut, “Tejam apa lagi? Kejam, Sayang!” ralatnya.


Seperti orang dewasa yang menghela napas berat, gadis kecil itu pun melakukannya, “Ayah payah! Ayah benal-benal tolot tekali!” kepala mungil dengan wajah menggemaskan itu menggeleng-geleng membuat Arthur gemas.


“Tolot apa lagi itu?” tanya laki-laki tampan tersebut.


“Tolot ayah, ayah itu tolot!”


Melirik Nemi yang duduk di sofa depannya, Arthur bertanya, “Ibu, dia sedang mengatai aku *****, ya?”


Nemi terkekeh mendengar perkataan Arthur. Dia lalu menggeleng. “Dia bilang, kolot!” ujarnya.


Arthur melebarkan matanya saat mendengar perkataan Nemi. Dia melirik putrinya yang sedang tersenyum tidak bersalah. “Hei, gadis! Ayah tidak setua itu, untuk kau sebut kolot!” ucap Arthur.


“Tapi, kan, ayah memang tolot!” Athanasia tidak mau kalah.


Arthur menghela napas berat. “Sudahlah, bukankah katanya kau mau pergi ke taman? Mumpung sekarang ayah sedang tidak pergi bekerja?” ujar laki-laki itu mengalihkan pembicaraan.


Atha mengangguk antusias, “Iya! Atha dan Nenek sudah menciapkan bekal! Ayo, Ayah!” Athanasia menarik tangan Arthur menuju ruang makan, tempat bekalnya berada. Nemi mengikuti dari belakang.


“Ibu akan ikut juga?” tanya Arthur saat wanita tua itu memasukkan kotak makanan itu dalam sebuah paper bag.


Tangan tua itu menyerahkannya pada Arthur, lalu dia menggeleng. “Tidak, kalian berdua saja. Jarang-jarang, kan, kalian pergi jalan-jalan bersama,” ujarnya kemudian.


“Baiklah, Nenek, kami pasti segela kembali!” Arthur kembali menggendong Atha. Gadis kecil itu melambaikan tangan pada Nemi, dan di balas oleh wanita tua itu.


“Apa ayah akan menyetil mobil sendili?” Athanasia yang duduk di kursi samping kemudi itu bertanya pada Arthur yang sedang memasangkannya seat belt.


“Heem, kita akan menghabiskan waktu berdua hari ini!” gadis berusia tiga tahun lebih itu mengangguk-angguk antusias.


“Ayah, apa nanti kita akan beli pistol?” Arthur yang sudah duduk tenang memegang kemudi itu menoleh, gadis kecil itu tersenyum takut. “Atha belcanda ayah!” sahutnya, duduk diam, sesekali melirik pada Arthur yang sedang mengeluarkan mobil dari halaman luas itu.


“Tidak boleh minta pistol, atau apapun barang-barang berbahaya lainnya. Kau hanya boleh membeli boneka dan juga buku dongeng, paham?” dengan bibir yang mengerucut, Athanasia tetap menganggukkan kepalanya.


Arthur tampak fokus dengan jalanan yang dia lalui, Atha terlihat antusias saat melihat gedung-gedung tinggi yang mereka lalui.


“Ayah, habis dali taman, kita akan pelgi kemana?” Arthur menoleh sekilas pada Atha yang meliriknya.


“Kemanapun yang kau mau!” ujarnya. Atha mangut-mangut.


Mobil yang dikendarai Arthur, masuk kedalam area sebuah taman bunga yang indah. Bunga musim semi kali ini, mekar dengan sangat indah.


Dengan menggenggam tangan besar Arthur, Atha berjalan di samping ayahnya.


“Ayah, kenapa kita tidak belkemah saja?” tanyanya.


Arthur menggeleng. “Kalau berkemah, kita butuh persiapan banyak! Sekarang, kau bisa main sepuasnya di sini!” ujar Arthur. Duduk di sebuah kursi taman. Dia meletakkan paper bag yang berisi bekal dari Nemi di sampingnya.


“Ayah, apa ibu melihat kita saat main di sini dali sulga?” Athanasia yang semula sudah mau beranjak main itu, mengurungkan niatnya saat anak-anak yang pergi bersama kedua orangtuanya bermain juga di sana.


Arthur tertegun, dia berdehem. “Iya, ibu pasti lihat Atha dari atas surga, makanya Atha tidak boleh jadi gadis nakal. Harus nurut dengan perintah ayah. Pahamkan, Nak?” gadis kecil itu mengangguk-angguk. Arthur mengusap-usap kepalanya dengan penuh kasih sayang.


“Emm, Ayah. Kenapa kita tidak main belsama, sepelti meleka itu?” Athanasia menunjuk pada anak kecil sebayanya yang sedang di gendong oleh ayahnya, berlari mengejar kupu-kupu.


Arthur ikut melirik ke arah yang di maksud putrinya itu. “Baiklah, kau mau menangkap kupu-kupu juga?” tanyanya. Athanasia mengangguk antusias.


Arthur tersenyum kecil, “Baiklah, apapun untuk Tuan putri!” ujarnya.


Arthur langsung menyambar Athanasia, lalu meletakkan gadis kecil itu di atas pundaknya, Atha tertawa lebar saat Arthur berlari cepat menangkap kupu-kupu yang berterbangan di sekitar taman bunga itu.


“Kita lari di sekitar sini saja, ya? Nanti bunganya bisa rusak!” Atha mengangguk. Dia memeluk leher ayahnya dengan erat, agar tidak terjatuh.


Arthur berhenti, sudah cukup lama mereka berlari-lari di sekitar taman tersebut. “Apa ayah lelah? Ayo kita belhenti, aku mau makan bekal yang di buatkan oleh nenek!”


Arthur menurut, dia berjalan pada kursi taman tempat awal dia duduk. Bekalnya masih ada di sana. Dia segera menurunkan Atha, dan mendudukkan gadis kecil itu di sampingnya.


“Apa ayah mau?” Athanasia menunjukkan bekal yang berisi sandwich itu pada Arthur. Laki-laki itu menggeleng, “Untuk Tuan Putri ayah saja.” ujarnya. Athanasia tersenyum, dia langsung melahap bekal itu.


“Ayah, kita cali lestoran di sekital sini, ya. Ayah belum makan!” Arthur mengusap-usap surai pirang tersebut, lalu dia mengangguk. Athanasia memakan bekal, yang hanya untuk dia itu dengan cepat.


*


Masuk ke dalam rumah, Athanasia berlari ke arah dapur. Karena di sana, dia yakin Nemi sekarang berada. Wanita tua itu pasti sedang memasak saat ini, membantu pelayan menyiapkan makan malam.


“Nenekkk ....” Athanasia berteriak, Nemi menoleh. Dia tersenyum lebar saat melihat cucunya itu berlari mendekat padanya.


“Kau sudah pulang?” tanyanya. Berjongkok di depan Athanasia yang memegang banyak paper bag hasil belanjanya.


“Nenek mau lihat? Ini, aku beli dengan ayah. Aku sendili yang memilihnya untuk Nenek!” sebuah tas branded keluaran terbaru Athanasia berikan pada Nemi, wanita tua itu tersenyum tipis.


Nemi mengusap kepala Atha dengan penuh kasih sayang, “Kenapa buang-buang uang untuk membeli ini? Atha tau, kan, kalau Nenek tidak akan pergi kemana-mana dan memakainya?” tanya wanita tua itu.


Athanasia cemberut, dia menggelengkan kepalanya. “Pokonya Nenek harus pakai ini! Jangan di simpan sepelti balang-balang yang ada di lemali itu!” ujarnya cemberut. Nemi terkekeh. “Nenek tidak bisa janji, ya!” ujarnya.


“Oh iya, kakak pelayan. Atha tadi juga beli untuk kalian!” pelayan yang sedang memotong berbagai sayuran itu menoleh.


Athanasia memberikan paper bag itu pada mereka, yang berjumlah empat orang, lalu membagikannya satu-persatu.


“Nona kecil, ini pasti sangat mahal!” ujar salah satu pelayan. Yang lainnya mengangguk.


Athanasia menggeleng, “Apa kalian tidak tau, kalau ayahku itu kaya?” tanyanya melipat tangan di depan dada. Para pelayan itu terkekeh. Kalau Arthur tidak kaya, mana mungkin mereka sekarang ada disini dan bekerja untuk pria itu.


“Terimakasih, Nona kecil!” ujar mereka serempak. Athanasia mengangguk.


“Nenek, Atha mau mandi!” Nemi mengusap rambut pirang itu dengan lembut. “Ayo, Nenek mandikan!”


Athanasia berjalan menuju lantai atas, ke kamarnya. Arthur yang duduk di ruang keluarga, tampak sedang menghubungi seseorang lewat telepon, mungkin masalah pekerjaan.


Nemi memandikan Athanasia, wanita tua itu benar-benar memperlakukan Atha seperti cucunya sendiri. Dan gadis kecil itu juga sangat menyayanginya.


**


“Ayah ....” Arthur yang sedang berada di ruang kerja itu menoleh pada Athanasia yang berdiri di dekat pintu. Laki-laki itu meletakkan berkas yang ada di tangannya di atas meja.


“Ayah ... Atha tidak bisa tidul, Atha mau tidul dengan ayah.” Arthur tersenyum. Dia bangkit dari duduknya. Gadis kecil itu memeluk guling kesayangannya, dengan baju tidur anak yang tampak menggemaskan.


Arthur berjongkok, “Ayo, ayah akan menemanimu tidur!” Atha mengangguk. Arthur segera menggendong bayi kecilnya itu, lalu berjalan membuka pintu dan keluar dari ruang kerjanya itu.


Atha melingkarkan tangannya di leher Arthur, sedangkan guling yang tadi dia pegang, sudah beralih ke tangan Arthur.


Menaiki tangga, akhirnya Arthur tiba di depan kamarnya. Ya, dia sudah terbiasa tidur di kamarnya dengan sang putri.


Dengan pelan, Arthur meletakkan Athanasia di atas ranjang. Gadis kecil itu masih terjaga, Arthur duduk di sampingnya setelah mengambil sebuah buku dongeng yang ada di dalam lemari kecil meja nakas.


“Ayah, dongeng putri salju, ya?” ujar Atha. Dia sudah mengeratkan selimutnya, dan bersiap mendengarkan cerita ayahnya.


Arthur berdehem, dia membacakan dongeng itu sesuai dengan permintaan sang putri. Bacaan cerita pengantar tidur itu berlangsung. Athanasia masih terjaga, walaupun sesekali sudah menguap. Bahkan matanya sudah berair, hingga akhirnya gadis kecil itu terlelap.


Melihat sang putri sudah memejamkan matanya, Arthur menyimpan buku yang tadi dia baca ke dalam lemari kecil tadi.


Arthur membetulkan selimut Atha, dan mengusap kening putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


“Maafkan ayah, Sayang. Ayah akan berusaha untuk memberikan seluruh kasih sayang untukmu. Ayah akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi ayah sekaligus ibu untukmu.”


Wajah lelah itu tersenyum, Arthur mencium kening Atha dengan lembut. “Ayah sangat mencintai dan juga menyayangimu!” kecupan lagi, di kening Atha. Setelah itu Arthur kembali keluar dari kamarnya, dia menuruni tangga berjalan menuju ruang kerjanya.


***


“Ayah ... ayah ....” suara kecil tuan putri kediaman keluarga Halmington itu berusaha untuk membangunkan sang ayah. Arthur berdehem, dia berusaha mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya.


“Ayah, ayo bangun. Bukannya ayah ingin pergi ke kantor?” Arthur berusaha untuk duduk. Dia melirik pada putrinya yang masih mengenakan piyama tidurnya.


“Iya, ayo mandi bersama ayah!” Arthur turun dari ranjang. Dia menggendong Athanasia lalu berjalan menuju kamar mandi.


“Ayah, Atha mau main sabun!” Arthur memberikan shampoo pada rambut pirang yang cukup panjang itu.


“Tidak bisa, Ayah harus cepat!” ujar Arthur. Athanasia cemberut, tapi tidak merengek lagi.


Setelah selesai memandikan anaknya, Arthur membawa Atha ke kamarnya sendiri, lalu memakaikan gadis kecil itu baju, dan juga menyisir dan mengepang rambutnya.


“Tuan putri sudah wangi, sekarang giliran ayah yang mandi, temui Nenek dulu, ya?” Athanasia mengangguk. Dengan gaun kecilnya yang berwarna pink cerah, gadis itu keluar dari kamarnya menuruni anak tangga.


Sedangkan Arthur kembali ke kamarnya untuk segera bersiap-siap.


***


“Ayah ... Atha mau ikut ayah ke kantor!” Arthur yang sedang memakan sarapannya itu menoleh pada putri kecilnya. Laki-laki itu menggeleng.


“Tidak boleh, main dengan Nenek di rumah!” ujarnya. Athanasia cemberut.


“Tidak mau, pokoknya hari ini Atha mau ikut ayah ke kantor!” gadis kecil itu melipat tangannya di depan dada. Arthur menggeleng lagi. “Tidak boleh, Atha!” ujarnya.


“Huuaa ... ayah kenapa tidak mau membawa Atha ikut denganmu? Padahal Kakek saja sering membawa Atha ke kantor paman Matt! Huuaa, ayah jahat!” Nemi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis kecil itu.


Memang, Max sering membawa Atha bersama dengannya kalau laki-laki itu datang ke kediaman Arthur, dan pasti Atha akan merengek ikut dengannya.


Mendesah pelan, “Huhh ... Baiklah, tapi nanti jangan nakal. Jangan membuat ulah, oke?” Athanasia mengangguk antusias. Gadis kecil itu tersenyum ceria. Dia mengedipkan matanya pada Nemi, pertanda aktingnya berhasil. Wanita tua itu hanya terkekeh kecil melihat tingkah menggemaskan itu.


Sesudah sarapan, Atha naik ke lantai atas, masuk kedalam kamarnya. Gadis kecil itu mengambil mainannya, dan memasukkannya kedalam tas.


Setelah itu dia berlari menuruni tangga membuat Arthur mengelus dada lagi. “Bukankah sudah ayah bilang, untuk jangan berlarian menuruni tangga?” tanya laki-laki itu. Atha tertawa dengan takut-takut. “Maaf, Ayah.” ujarnya.


Arthur mendesah, “Ayo!” ujarnya. Atha menurut, dia mendekat pada Arthur. Dan ayahnya itu segera menggendongnya. Berjalan keluar diikuti oleh Nemi di belakang.


“Nenek, Atha pelgi dulu, ya?” ujar Atha, melambai pada Nemi, wanita tua itu mengangguk. “Ingat, jangan nakal, oke?” ujarnya. Atha tersenyum, “Oke!”


Arthur masuk kedalam mobil bersama Atha, mereka duduk di kursi belakang, kali ini mereka akan di antar supir.


“Nanti Ayah ada rapat, ingat ya! Jangan nakal, jangan berlarian di kantor, apalagi mengganggu karyawan lain! Paham?” Athanasia mengangguk patuh.


**


🥀🥀


1 chap lagi😭Leganya