My Devils Husband

My Devils Husband
Exp. Kemarahan Thomas



Pagi ini, entah kenapa, perasaan Thomas terasa tidak enak. Dia terus gelisah, hingga akhirnya dia menelpon Nick untuk memperketat keamanan hotel tempat mereka menginap. Yang merupakan salah satu dari hotel milik Max.


“Duduklah, Sayang. Aku pusing melihatmu terus mondar-mandir seperti ini!” Mattea yang sedang bersandar di atas tempat tidur itu akhirnya angkat bicara. Thomas mendekat pada wanita itu, lalu mengusap rambutnya dengan sayang.


“Perasaanku tidak enak, Sayang! Aku akan menelpon pengasuh Aletta untuk meningkatkan pengawasan anak kita,”


“Aletta kan, juga bersama dengan Mommy dan Daddy!” Thomas menghembuskan napas pasrah. Dia kembali menelpon Nanny yang menjaga Aletta untuk memperketat penjagaan anaknya itu. Dia juga kembali memastikan kalau semua anggota Black Devils sudah ada di hotel, dan Nick mengatakan mereka sudah ada di hotel, memakai pakaian biasa untuk menyamar.


“Heem, baiklah. Ayo kita mandi dulu, setelah itu kita susul mereka ke bawah!” Mattea mengangguk, di bantu oleh Thomas untuk berdiri, wanita itu berjalan menuju kamar mandi. Memang, perkiraan Mattea melahirkan sudah mendekati tanggalnya, makanya dia sedikit susah untuk bergerak.


Thomas dan juga Mattea mandi dengan cepat, mereka akan ke bawah untuk sarapan, selesai berpakaian kedua orang itu keluar dari kamar hotel, lalu masuk kedalam lift untuk menuju lantai dasar.


Thomas dan Mattea berjalan menuju restoran yang ada di hotel itu, di sana, tampak Max dan Stef sudah menunggu. Juga ada Aletta dan Nanny yang menjaganya.


“Apa Matt belum turun?” tanya Thomas. Max dan Stef menggeleng. David dan Aira tidak berada di hotel, karena setelah acara kemarin, kedua orang itu pulang ke rumah mereka.


“Munggkin mereka sedang kelelahan?!” Max terkekeh mendengar perkataan Stef. Yang jawabannya adalah benar.


“Ada apa? Kenapa kau memperketat keamanan?” Max tentu saja menyadari, saat ada banyak orang-orangnya ada di hotel ini. Dan dia juga tau, ada sesuatu yang mengganggu menantunya ini.


“Entahlah, perasaanku tidak enak, hanya berjaga-jaga saja!” Max mengangguk paham. Banyak yang harus di urus oleh laki-laki yang sedang menunggu kelahiran anak kedua itu. Musuh mereka tidak sedikit, hanya saja kedua laki-laki itu bisa menyembunyikannya dari istri mereka masing-masing.


“Mom, Dad, kenapa Uncle Arthur belum turun?” semua orang menoleh pada gadis cantik mungil itu. Stef mengusap rambut Aletta dengan lembut.


“Dia masih ada urusan, Sayang, nanti juga akan turun!” Aletta mengangguk saja. Dia melanjutkan memakan serealnya. Bibir mungil itu belepotan dengan makanan membuat orang yang melihatnya menjadi gemas.


“Nanny, ayo antar aku ke toilet!” wanita yang masih muda itu mengangguk. Dia meminta izin pada semua orang, lalu setelahnya berlalu dari sana.


“Kau tunggu di luar saja, aku bisa sendiri!” Aletta menatap pengasuhnya dengan yakin. Dia bisa pipis sendiri, karena dia sudah belajar untuk ke kamar mandi sendiri di kamarnya.


“Apa Nona kecil yakin?” tanya wanita muda itu ragu. Aletta mengangguk. Walaupun begitu, dia tetap menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Aletta.


Gadis cilik itu masuk kedalam kamar mandi sendiri. Dia memang gadis yang mandiri. Sedangkan diluar,


“Uuummbbb,” seseorang membekap mulut dan hidung pengasuh Mattea. Mata wanita itu melotot sebelum tidur sadarkan diri. Pergerakannya yang sebelumnya meronta-ronta untuk minta dilepaskan, perlahan mulai berhenti. Setelahnya, dia di bawa pergi dari sana, sebelum orang-orang melihat aksi mereka.


Tak lama kemudian, Aletta keluar dan melihat ke kiri kanan, dan setelahnya, ada seseorang yang juga langsung membekap mulutnya hingga gadis kecil itu memberontak, sebelum akhirnya lemas karena bius yang ada di sapu tangan itu.


Sedangkan kini Thomas sudah sangat gelisah, karena putrinya tidak kunjung kembali. Laki-laki itu bangkit dari duduknya, perasaannya sungguh tidak enak sekarang, lalu ia memanggil anak buahnya untuk ikut. Nick yang mendapat telepon dari Thomas itu langsung mengikuti pria yang menjadi pemimpinnya itu. Entah kenapa, dia ikut cemas saat ini, dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi.


Saat sampai di depan toilet wanita, setelah memastikan pada seorang wanita yang keluar dari dalam sana dan tidak ada orang lagi, anak buah Thomas langsung masuk dan mengecek ruang toilet itu satu-persatu.


“Apa?!” Thomas masuk kedalam toilet itu untuk melihat dengan matanya sendiri. Ternyata benar-benar tidak ada orang didalam. Laki-laki itu keluar dari dalam toilet.


“Cepat periksa cctv-nya!” perintah Thomas langsung. Wajahnya memerah menahan amarah. Tangannya terkepal karena amarah yang sudah menguasainya. Amarah dan rasa khawatir bercampur menjadi satu. Para anak buah Thomas langsung ke ruang monitor, untung saja di sudut toilet itu ada kamera cctv-nya.


“BAGAIMANA KERJA KALIAN SEMUA?! BUKANKAH SUDAH AKU BILANG, UNTUK MEMPERKETAT KEAMANAN?!” tangan kekar itu mengepal kuat. Thomas tidak dapat menahan emosinya. Vas bunga besar yang ada di sudut dia lempar hingga membuat kegaduhan. Semua orang berbondong-bondong untuk melihat ke sana. Bahkan Max pun juga ikut terkejut mendengar pecahan kaca dari vas bunga mahal itu. Yang sepertinya tidak terlalu jauh dari tempat dia makan.


Stef dengan berjalan mengiringi Mattea menyusul Max yang sudah berjalan terlebih dahulu, laki-laki itu melihat menantunya dengan wajah kacau.


“Ada apa, Thomas?” tanya Max dengan wajah yang sama paniknya.


“Anakku hilang, Max! Anakku hilang!” Thomas berlari pada Mattea yang syok mendengar perkataannya.


“Sayang, jangan cemas. Aku akan menemukan Aletta, anak buahku sedang memeriksa cctv-nya!” Thomas membawa Mattea kedalam pelukannya. Rahang laki-laki itu mengeras mendengar isakan tangis istrinya.


“Temukan anakku! Temukan Aletta ku, anakku!” Mattea menangis tersedu-sedu. Amarah Thomas semakin membesar saat melihat istrinya menangis seperti ini. Dia berjanji, akan menguliti orang yang membuat kekacauan ini hidup-hidup!


“Stef, bawa Mattea ke kamar hotel kita. Aku dan Thomas akan membawa Aletta kembali secepatnya!” untungnya Stef bisa lebih kuat, dia mengangguk. Dan perlahan mengandeng Mattea berjalan menuju lift. Di temani oleh pegawai hotel untuk mengantar kedua orang itu. Dan juga orang-orang Black Devils menjaga di depan pintu kamar yang ditempati oleh Stef dan Mattea.


Max menatap nyalang pada keamanan yang datang tergesa-gesa. Direktur hotel juga datang langsung menghadap padanya. Semua orang yang ada di sana, menatap kedua laki-laki berkuasa itu dengan wajah pucat. Siapa yang berani membangunkan singa tidur ini?


“Apa begini cara kau mengelola hotelku?! Cucuku hilang! Cepat dari dia secepatnya, kalau kalian tidak menemukannya, bersiap-siaplah untuk kehilangan pekerjaan kalian!” laki-laki itu sama marahnya dengan Thomas. Aletta adalah cucu pertamanya. Gadis kecil yang selalu menemani harinya di mansion beberapa tahun belakangan ini, semenjak dirinya digantikan oleh Matteo.


Wajah-wajah pucat itu langsung berbalik dan berlari kecil. Bagaimana mereka bisa ceroboh seperti ini? Padahal keamanan hotel ini sangat ketat. Bagaimana ada seseorang yang masuk kesini dan menculik Nona kecil keluarga Alexander Luciano! Cari mati kah mereka?


“Tuan, Nona kecil bersama dengan kelompok Valder!” Nick yang sudah kembali dari ruang monitor langsung memberitahukan Thomas yang baru saja mau ke sana bersama dengan Max.


“Mereka?!” wajah putih itu memerah kembali. Emosi kembali mengambil alih, Thomas mengepalkan tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih.


“Beraninya mereka!” Max sama geramnya dengan Thomas. Manik hitam pekat itu benar-benar membuat suasana di sana sangat mencekam. Aura membunuh mereka keluar.


“Beraninya mereka bermain denganku!”


“Cepat lacak keberadaan mereka, kita harus cepat. Aku tidak mau putriku kenapa-napa!” Nick dan juga orang-orang berbadan besar itu segera berlalu dari sana. Max dan Thomas memimpin. Mobil-mobil besar dan juga anti peluru berjejer didepan lobi hotel. Wajah-wajah sangar itu tampak sangat menakutkan. Apalagi wajah pemilik hotel yang tampak sangat marah itu.


...***...


Upss, kita main-main dulu ya gens, sebelum tutup buku😂