
Kepergian Ana yang tiba-tiba dan mendadak bagi Matt membuat laki-laki itu frustasi.
Bagaimana tidak, baru beberapa Minggu dari gadis itu menolak menikah dengannya, dan sekarang sebuah pesan singkat sedang Matt baca, sebagai pemberitahuan dari Ana kalau dia sudah memberitahu laki-laki itu tentang kepergiannya.
Matt semakin marah saat Ana melarangnya untuk menemui gadisnya itu.
Ada apa dengan Ana? Kenapa dia seperti menghindar dari Matt? Dan alasan kuliah bukanlah sesuatu hal yang masuk akal bagi Matt, terlebih mereka tinggal di negara maju.
Bahkan, orang Indonesia pun berbondong-bondong untuk mau kuliah di Jerman, lantas kenapa Ana malah ke Indonesia, dan memilih untuk tinggal di sana?
Rasanya, kepala Matt hampir pecah saat memikirkan Ana, yang selalu saja terbayang-bayang di kepalanya.
Rasa sayangnya pada Ana bukanlah fiktif belaka, dia mencintai gadis itu. Sangat mencintainya.
Kepergian Ana meninggalkan duka bagi Matt. Dia berubah menjadi pria yang semakin dingin. Cuek dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Yang dia harapkan saat ini hanyalah, bagaimana menjalankan hidupnya sebaik mungkin, hingga waktu membawanya begitu cepat untuk empat tahun ke depan.
Menemui Ana-nya, membawanya pulang, dan menikahi gadisnya itu.
Senyum sapa karyawan yang dia lewati, tiada di hiraukan oleh Matt. Manik gelap itu menatap tajam ke depan. Langkah kakinya yang tegap dan lebar menggema di sepanjang lantai kantor.
Arthur, sang asisten pribadi yang di beri tugas oleh Max untuk membantu pekerjaan putranya mengekor di belakang. Laki-laki yang sama-sama gagah dan tampan itu masuk kedalam lift, menuju lantai teratas gedung Alexander corp.
Bunyi lift berdenting, pertanda benda besi itu sudah membawa kedua laki-laki itu sampai pada lantai tujuan.
Matt menghela napas.
Di sana Stella sudah menunggunya. Stella sang sekretaris menyambut Matt dan Arthur dengan sopan. Matt hanya menganggukkan kepalanya.
Tanpa menghiraukan kedua orang itu, Matt masuk kedalam ruangannya.
“Kenapa lagi dia?” tanya Stella pada lawan berdebatnya itu.
“Seperti biasa,” Arthur meninggalkan Stella yang mendengus padanya. Bos dan asisten sama saja, sama-sama menyebalkan.
Kalau bukan, Max yang menyuruh Stella untuk berkerja sebagai sekretaris anaknya itu, Stella rasanya ogah untuk berkerja di perusahaan besar ini. Dia lebih suka bermain peluru bersama Nicko dan anak buah Max yang lainnya.
“Kapan Mommy dan Daddy pulang, Ar?”
Matteo duduk di kursi kebesarannya. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi empuk dengan harga mahal itu, sembari menatap langit-langit dengan kosong.
Semenjak dua tahun belakangan ini, Max, Stef, Aira, David dan juga Kevano sering kali mengunjungi negara Indonesia. Sedangkan Matt tidak bisa ikut. Daddy-nya melarang, dan juga pesan Ana membuatnya tidak bisa membantah.
Entah apa yang dilakukan Ana di sana, rasanya Matt ingin sekali datang diam-diam dan menculik gadis itu dan membawanya pergi. Tapi tentu saja itu tidak akan mungkin terjadi.
Matteo hanya takut, Ana akan berubah dan meninggalkannya. Cintanya pada Ana semakin besar sekarang, terlebih saat Ana meninggalkannya, membuat Matt menyadari, bahwa Ana adalah satu-satunya gadis yang dia cintai.
Bahkan untuk melihat wajah Ana saja Matt tidak bisa. Karena gadis itu memblokir media sosialnya, dan juga Matt pun tidak bisa meminta pada Daddy ataupun sang Mommy, karena mereka tidak memilikinya.
“Seperti yang dikatakan oleh Tuan Max, mereka akan kembali besok Tuan.” ujar Arthur memberitahu.
Semenjak kelulusan Matt, laki-laki itulah yang memegang perusahaan Daddy-nya, dia di ajarkan langsung oleh Max, dan Thomas. Dan juga David tentunya.
Berkat ketiga orang hebat itu membimbingnya, Matt menjelma sebagai Max kedua dengan reputasi yang lebih bersinar dari pada sang Daddy.
Setiap produk yang di luncurkannya, selalu merajai pasar industri. Mobil-mobilnya laku keras, bahkan sekarang perusahaannya kini merambah pada bidang manufaktur, membuatnya semakin sibuk, dan bisa mengurangi rindunya pada Ana.
“Selesaikan pekerjaan secepatnya Ar, aku akan ke Indonesia menjemput Ana-ku.”
Ya, waktu empat tahun itu sudah tiba. Penantian panjang Matt sebentar lagi akan berakhir.
Setelah Daddy-nya pulang dari Indonesia, mereka akan berangkat kembali bersama-sama kesana. Sebenarnya Matt melarang mereka untuk bolak-balik dari Indonesia-Jerman, tapi kekuasaan Max masih di atas putranya. Terlebih, Matt benar-benar tidak bisa membatah perkataan Daddy-nya itu.
...*****...
Arthur dan Matt melakukan pekerjaan mereka dengan cepat. Satu Minggu untuk membereskan semuanya adalah waktu yang cukup.
Matt menghela napas lagi. Rasa letih di tubuhnya tidak dia rasa, karena akhirnya semua pekerjaannya sudah selesai.
Matt sudah bersiap untuk pulang. Arthur mengekor, begitupun dengan Stella yang juga sudah bersiap-siap untuk pulang.
“Aku harap, selama aku tidak disini, kalian bisa menghandle semuanya dengan baik. Seperti yang biasa aku lakukan. Semuanya aku percayakan pada kalian berdua.”
Matt yang memimpin langkah, memberikan perintah pada Arthur dan Stella.
“Baik, Tuan.”
“Setelah jam kerja, jangan memanggilku Tuan lagi, sudah berapa kali aku ingatkan?” Matt mengatakan dengan kesal. Dia berdiri saat tiba di depan lift. Arthur dengan sigap menekan tombol lift untuk Tuannya itu.
Mereka masuk kedalam. Matt berdiri di depan, dan di belakangnya ada Arthur dan Stella tentunya. Itu sudah menjadi perintah Matt, kalau mereka berdua di haruskan untuk memakai lift khusus itu, karena mereka adalah orang terdekat Matt.
“Baik Matt,” ujar Stella dan Arthur hampir bersamaan. Matt mengangguk.
“Dan, kalian jangan sering-sering bertengkar lagi!”
“Tapi, kalau untuk itu, aku rasa tidak bisa, Matt!” ujar Stella menatap Arthur ketus. Sedangkan laki-laki yang di tatap juga menatapnya jengkel.
“Tidak baik seperti itu. Kalau nanti kalian saling jatuh cinta, langsung katakan padaku.” baik Stella maupun Arthur tidak menjawab perkataan Matt. Mereka saling memalingkan wajah.
Lift berdenting membawa Matt ke lantai bawah. Dia keluar dari dalam lift saat pintunya sudah terbuka.
Stella akan pulang sendiri, dengan mobilnya. Sedangkan Matt akan pulang bersama Arthur.
...****...
“Ayo, Sayang ....” Matt tersentak saat mendengar suara Stef.
Kini mereka baru saja tiba di bandara Soekarno-Hatta.
Matt menghirup udara dengan tenang, lalu keluar dari dalam pesawat, dia mengikuti Max dan Stef yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya.
“Pantas saja Mommy dan Daddy suka sekali kemari, disini menyenangkan,” Matt yang sudah duduk di bangku penumpang didalam mobil yang menjemput mereka membuka suara.
“Iya, Sayang. Walaupun masih sama padatnya dengan negara kita, tapi disini memang menyenangkan.” Matt mengangguk membenarkan.
Matanya menjelajah bangunan-bangunan tinggi yang menjulang di sepanjang jalan. Hampir sama dengan Jerman.
“Mom, Dad, bagaimana dengan Ana sekarang? Apa dia berubah banyak?” Matt kembali menatap ke depan. Sang Daddy yang duduk di samping sopir dan Stef yang duduk di sampingnya menelan ludah kasar.
“Iya, Sayang. Dia semakin cantik.” ujar Stef bergetar.
“Matt tidak sabar bertemu dengannya, Mom, Matt sangat merindukan dia, pasti dia juga merindukan, Matt, kan?” Stef menatap anaknya dengan sendu. Matt mengetahui itu, membuatnya mengerutkan kening.
“Ada apa, Mom?” tanya Matt heran.
“Siapkan hatimu untuk semua yang terjadi nanti, Sayang ....”
...****...
Apa yang ada di pikiran kalian saat kalian baru saja tiba untuk menemui orang terkasih yang sudah beberapa tahun tidak bertemu?
Seperti apa penyambutan yang kalian inginkan? Apakah akan langsung di peluk? Cium? Atau yang lainnya?
Tapi semua itu sangat berbanding terbalik dengan penyambutan yang Matt dapatkan.
Matt terdiam saat Justin menyambut mereka dengan istrinya. Juga seorang gadis yang berambut pirang, yang pendek.
Matt mengenali wajah cantik itu. Wajah seorang gadis yang sangat dia rindukan selama ini. Wajah yang selalu dia bayangkan dikala akan tidur. Wajah yang menjadi penyemangatnya dikala berkerja dengan tumpukan dokumen di depannya.
Wajah cantik yang kini terlihat dewasa itu membuat Matt rasanya ingin sekali membawanya ke pelukannya saat ini juga, tapi saat melihat gadisnya yang seperti orang bingung, membuat Matt bertanya dalam hati.
‘Apa dia tidak merindukan aku? Kenapa dia bersikap seolah tidak mengenalku?’
“Selamat datang, Matt ....” sapa Justin. Dia tersenyum pada Matt, begitu juga istrinya.
“Ana, apa kau tidak mau memelukku?”
“Apa kau, yang bernama Matteo, anak paman Max dan bibi Stef?”
Matt menegang dengan mulut ternganga di depan gadis berambut pendek itu. Mata tajamnya menatap Ana tanpa berkedip. Dia menatap Ana dari atas sampai bawah. Memang sedikit kurus, tapi tetap cantik, walaupun dengan rambut pendek yang bahkan tidak sampai sebahu.
“Ana ... Apa kau melupakan aku?” tanya Matt. Sedangkan Max, Stef, Justin, Aira memalingkan wajah mereka.
Mereka tidak tega saat melihat tatapan terluka Matt saat mengetahui kenyataan kalau gadisnya tidak mengenali dirinya.
“Tidak! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Ana bertanya dengan wajah polos. Dia menatap Matt bingung. Kenapa laki-laki yang ada didepannya ini, berkata seolah mereka saling mengenal sejak lama.
“Mom ... Dad, kalian tidak mau menjelaskan sesuatu padaku?” Matt beralih menatap Max dan Stef. Kedua orang tua itu bungkam. Mereka melirik satu sama lain.
“Kak Teo, kau memang tampan seperti yang diceritakan oleh bibi Stef!” Ana tersenyum manis. Dia menatap Matt dengan memuja, berbeda dengan Matt yang menatapnya semakin bingung.
“Sejak kapan kau memanggilku Teo, Ana?” tanya Matt pedih.
Baru empat tahun mereka berpisah, tapi sekarang gadisnya bahkan tidak mengingatnya dan melupakan panggilan sayangnya.
“Mom ... Dad, jelaskan padaku ....”
“Kita masuk dulu Matt, ayo!” Justin angkat bicara. Dia membantu membawa koper Matt.
Semua orang itu berjalan masuk kedalam rumah bertingkat tiga itu. Rumah yang sangat besar, tapi masih lebih besar mansion Max yang juga sudah di renovasi.
“Ana, bisa buatkan kami minum, Sayang?”
...*****...
Bagaimana rasanya, saat kalian mengetahui, kalau orang yang kalian cintai, hampir saja meninggal saat mengalami sakit parah, yang berawal dari keteledoran kalian?
Matt meremas tangannya sendiri, saat mendengar cerita Stef dan Max. Juga Justin dan Ara tentunya.
Kecelakaan besar yang dulu terjadi pada Matt dan Ana, membuat luka yang mendalam bagi Ana.
Gadis itu harus bertahan hidup, saat di diagnosis mengalami sakit tumor otak ganas, karena kecelakaan itu.
Ternyata, bolak-baliknya Max, Stef, David dan Aira ke Indonesia karena kondisi gadis itu. Karena mereka harus membawa Ana ke Penang, untuk berobat.
Bahkan mereka mengetahui hal itu saat Ana sudah berada di Indonesia selama satu tahun, dan itupun Justin yang memberi tahu.
Saat sebelum operasi besar dilakukan, Ana melarang mereka semua untuk memberitahu Matt.
Dia sangat tidak berdaya, terlebih dengan rambut yang sudah mulai rontok karena kemo, dia tidak ingin Matt melihat sisi lemahnya. Ternyata Ana sudah mengetahui penyakitnya, saat dia merasakan selalu pusing dan juga beberapa kali mimisan.
Dia memeriksakan ke dokter, dan di beri tahulah kabar buruk itu, membuatnya tidak bisa menikahi Matt dah memilih untuk pindah ke Indonesia.
Tapi, semakin lama, penyakit menyerangnya dengan semakin ganas. Bodoh memang, saat orang ingin berobat bersama dengan orang tercinta dan juga keluarga tercinta, Ana malah memilih untuk berada jauh dari mereka semua.
Matt memegang dadanya dengan penuh sesak saat Stef mengatakan kalau akibat dari operasi besar itu adalah, Ana harus kehilangan memorinya.
Disaat dia sadar, dia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri.
...****...
“Ini minuman kalian ....” Ana membawa nampan, dan bibi di belakangnya membawa kotak camilan.
Ana meletakkan minuman yang ada di nampan tersebut di depan mereka masing-masing.
“Silahkan di minum kak Teo ....” ujar Ana dengan senyum manis.
Bahkan, saat dia tidak mengingat Matt pun, dia masih terpesona entah untuk yang ke berapa kalinya pada laki-laki muda itu.
“Terimakasih, An.” ujar Ana. Ana sedikit terdiam mendengar suara laki-laki itu.
‘An?’
“Aku rasa, kalian perlu bicara untuk perkenalan lebih lanjut? Bukan begitu, Matt?”
Matt mengangguk mendengar perkataan Max. Dia meredam semua rasa di dadanya, saat gadis yang ada di depannya tersenyum manis.
Ingin dia memeluk Ana dengan erat, dan menggumamkan kata maaf. Karena tidak ada di saat-saat terberat gadis itu.
“Ayo Kak Teo, aku antar untuk berkeliling rumah ini ....” Matteo bangkit dari duduknya. Dia berjalan mengikuti Ana.
“Aku harap, Matt tidak marah pada kita, karena sudah menyembunyikan ini semua darinya sayang ....” Stef hanya mengangguk membenarkan perkataan sang suami.
Matt marah pada mereka, itu pasti!
****
“Ana, bisakah kau memanggilku Matt saja? Aku agak asing dengan panggilan itu,” Matt yang berjalan di samping Ana mengungkapkan perasaan tidak nyamannya.
“Baiklah. Kak Matt!” ujar Ana tersenyum senang. Sedangkan Matt merasa dadanya menghangat karena panggilan itu.
“Ana ... Apa kau benar-benar tidak mengingat tentangku sedikitpun?” tanya Matt, pada Anak yang berjalan di sampingnya. Mereka kini akan pergi ke lantai tiga.
“Mengingat kak Matt? Bukankah kita baru bertemu sekarang?” tanya Ana dengan kening yang mengkerut.
“Tidak An, kita pernah bertemu dulu ... Bukan bertemu, tapi bahkan saling mengenal, sangat mengenal ....”
“Ini pasti tentang masa lalu Ana, ya, Kak?” Ana tersenyum sendu. Dia sendiri sebenarnya ingin lagi mengingat semua memorinya. Tapi, sampai sekarang belum bisa.
“Hemm, kau tau, aku sangat kecewa karena kau tidak mengingatku,” Matteo menatap Ana. Tatapan mereka bertemu.
“Apa dulu, kita berteman dekat?” tanya Ana. Matt menggeleng.
“Bukan ....”
“Lalu?”
“Kau kekasihku, dulunya.”
“Dulu?”
“Iya. Bahkan sampai saat ini pun, kau masih menjadi kekasihku!”
“Waahhhhh ... Ana tidak menyangka, kalau ternyata selera Ana tinggi sekali, ya, Kak?”
“Hah?”
.......
.......
.......
.......
.......
...*Membosankan? Maafkan aku^_^...
...Semakin tidak jelas? Maafkan aku^_^...
...Perjuangan Matt di mulai di sini. Mereka sama-sama berjuang....
...Ga akan lama lagi, ini bakal tamat....
...Bentar lagi*....