
Thomas duduk di depan Mattea yang sedang memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh pelayan. Memang, apartemen Thomas ini memiliki dua orang pelayan untuk membantu membersihkan apartemennya, dan menyiapkan segala perlengkapannya.
Mattea yang sedang menyesap susu putih kesukaannya itu, dengan tegukan yang menurut Thomas mampu membuat tubuhnya bergetar, hanya santai saja mengabaikan pria itu. Thomas memalingkan wajahnya kearah lain, mengusir pikirannya yang dari semalam mulai tidak waras.
‘Ah, aku benar-benar seperti sugar Daddy sekarang.’
“Uncle mau?” tawar Mattea pada Thomas, membuat laki-laki itu cepat menggeleng.
“No. Habiskan sarapanmu cepat, kita pulang ke mansion daddymu!” mendengar perkataan Thomas membuat Mattea mengangguk malas. Ah, alasan apa yang nantinya mau dia berikan pada Daddy-nya itu jika sang Daddy bertanya, kenapa tidak ada di rumah dan paginya pulang dengan diantarkan Thomas.
Pergi malam-malam sendirian tanpa pamit, ke club' pula, dan setelah itu tidak pulang ke rumah, Mattea rasa pasti Daddy-nya itu sangat marah.
Tapi dia juga heran, kenapa Daddy-nya tidak mencoba untuk menghubungi dia kalau tau anak perempuan kesayangannya itu tidak ada di rumah kala dia bangun pagi.
Sudahlah, Mattea tidak ingin memikirkannya, karena yang saat ini sedang dia pikirkan adalah, bagaimana caranya supaya dia bisa meruntuhkan balok es yang membentengi hati pamannya itu, dan masuk kedalamnya. Dia sungguh sudah tidak sabar lagi, karena menahan perasaan sendiri sungguh menyakitkan.
“Oh iya, kau tidak boleh bawa mobil lagi.” Mattea yang mendengar perkataan Thomas, tersentak dari lamunannya, dan hanya mengerling malas menanggapi perkataan Uncle kesayangannya itu.
“Kenapa sih Uncle, aku kan sudah punya SIM dari lama, kenapa tidak boleh?!” Mattea mengerucutkan bibirnya membuat pandangan mata Thomas terpaku sempurna pada bibir tipis yang merah itu, terlihat sedikit bengkak karena ulahnya, tapi sepertinya Mattea tidak menyadari itu. Thomas meringis dalam hati, tak kala dia mengingat kembali perbuatannya malam tadi.
‘Oh s*it, bahkan melihat bibirnya mengerucut seperti itu, membuatku panas!’ Thomas menggeram. Sejak kapan dia mulai tidak bisa mengendalikan diri seperti ini.
Bukankah dia yang sudah menolak gadis itu mentah-mentah, tidak mungkin'kan kalau posisi itu kini berbalik padanya?
Hei, kenapa tidak mungkin? Ya mungkin aja lah! (aku kan baik><)
Thomas bangkit dari duduknya, meninggalkan Mattea disana. Dia berjalan menuju kamarnya untuk menenangkan pikirannya yang sudah tidak bisa lagi ia kontrol.
Mattea ikut masuk kedalam kamar Thomas, lalu duduk di pinggir ranjang laki-laki dewasa itu.
“Keluarlah girl, kau bersiaplah. Aku akan mengantarmu pulang.” lagi-lagi Mattea mengerucutkan bibirnya sebal. Mattea keluar dari kamar Thomas, lalu masuk ke kamar tamu yang semalam dia huni itu. Mengambil tasnya, Mattea langsung kembali beranjak keluar kamar.
“Kau yakin akan pulang dengan pakaian seperti ini?” tanya Thomas menggeram kesal. Mattea menganggukkan kepalanya mantap saat mendengar perkataan Thomas.
“Astaga Mattea, kau membuatku gila!” setelah mengatakan itu, Thomas kembali kedalam kamarnya dan berjalan menuju ruang ganti yang ada dalam kamarnya itu,, lalu mengambil sebuah jas disana.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, dia kembali keluar dan melilitkan jas itu di pinggang Mattea, membuat gadis itu menahan nafas dengan wajah yang memerah merona karena perlakuan laki-laki itu.
Thomas mencoba untuk menahan diri tak kala tubuhnya sedikit menempel pada tubuh Mattea, merasakan dua benda berharga milik Mattea seperti sedang mengodanya. Setelah itu dia berdehem menormalkan ekspresinya.
“Ayo...” Mattea hanya mengekor dari belakang. Membayangkan Thomas yang tadi, hampir seperti memeluknya membuat rona di wajah cantik gadis itu semakin menjadi. Padahal sebenarnya dia sudah sering di peluk oleh Thomas, tapi saat itu Thomas tidak mengetahui perasaannya, dan rasanya sungguh berbeda.
______
Thomas menggeram marah saat mobilnya terjebak dalam urutan mobil yang berjejer rapi membentuk barisan. Karena ini sudah pagi, dan jam masuk kerja sebentar lagi, maka banyak kendaraan yang antri mengunakan jalan untuk bisa sampai di tujuan.
Untung saja tadi dia sudah memberikan jas pada Mattea, agar menutupi paha gadis itu. Kalau tidak, mungkin dia akan menggeram frustasi sekarang ini.
Sebenarnya, jika kalian bertanya bagaimana penampilan Mattea selama ini, dia tidak menggunakan pakaian yang terlalu terbuka, jika menggunakan dress maka hanya sampai sebatas di bawah lutut, karena Thomas melarangnya dengan alasan tidak baik untuk gadis sepertinya.
Dan kini, Thomas tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau dia selama ini tidak melarang Mattea memakai pakaian yang terbuka, entah sudah berapa banyak laki-laki yang melihat tubuh indah gadisnya itu.
Di tengah keheningan yang melanda, Mattea menghadapkan tubuhnya pada Thomas yang duduk di kursi kemudi.
“Uncle?” suara Mattea memecah keheningan. Thomas menatap pada gadis di sampingnya itu.
“Hemm?” Thomas hanya berdehem menanggapi panggilan Mattea.
“Apa aku boleh tanya sekali lagi?” mata Mattea menatap penuh harap pada laki-laki dewasa yang gagah di sampingnya itu.
“Bertanya apa lagi girl?” sebenarnya Thomas sudah tau apa yang akan menjadi pertanyaan gadisnya ini.
“Apa Uncle benar-benar tidak mau untuk belajar mencintai aku?” binar mata Mattea menatap Thomas penuh harap. Seperti dugaannya, pertanyaan Mattea pasti tentang ini lagi.
“No!” Thomas memalingkan wajahnya kearah jendela mobil menghindari tatapan mata Mattea yang kecewa karena jawabannya.
“Kenapa Uncle? Setidaknya cobalah sedikit saja.” Thomas mengalihkan pandangannya pada gadis kecil disampingnya ini.
“Mattea, kau sudah tau——”
“No! Jangan katakan kalau kau menganggapku seperti anakmu lagi! Aku tersiksa karena itu Uncle!” Mattea memotong perkataan Thomas membuat laki-laki itu menghela nafas.
“Mattea, tolong mengertilah posisiku! Aku ... aku tidak bisa!” Thomas mengepalkan tangannya saat air mata luruh begitu saja dari mata cantik gadisnya itu.
“Mattea, ku mohon jangan menangis!” Thomas menggeram marah, dia mengangkat tangannya mencoba menghapus air mata Mattea, tapi gadis itu menolaknya.
“Tidak apa Uncle. Aku tidak apa!” Mattea mencobakan senyumannya membuat Thomas merasa bersalah.
“Apa yang membuat Uncle tidak bisa membuka hati untukku? Aku sudah begitu lama mencintaimu Uncle, bahkan sangat lama, karena aku sendiri tidak tau, sudah seberapa lama aku mencintaimu, mulai dari aku yang masih bocah ingusan, sampai sekarang aku sudah dewasa. Kau tidak lihat dadaku? Ini ukuran yang lumayan Uncle, kau tidak akan kecewa!”
Thomas ingin sekali rasanya membekap mulut manis gadis yang duduk di sampingnya itu. Mana mungkin dia berkata seperti itu.
“Hei bicara apa kau ini?” nah kan! Karena perkataan Mattea, Thomas jadi membayangkan hal yang tidak-tidak dengan isi yang ada dalam pakaian kebesaran yang digunakan oleh gadis itu.
Thomas mengucap syukur saat perlahan mobil yang dia kendarai itu keluar dari zona nyaman macet. Dia dengan cepat melajukan mobilnya kearah jalan mansion Max.
“Uncle...” mendengar suara Mattea yang memelas, membuat Thomas tidak bisa mengendalikan diri. Dia menepikan mobil yang dibawanya itu, dan berhenti disana.
“Mattea...” Thomas menatap Mattea yang juga sedang menatapnya.
“Hemm?”
“Kenapa kau sangat bersikeras mencintaiku?”
“Aku tidak bersikeras Uncle, tapi memang seperti itu perasanku.”
“Kenapa kau tidak mencoba untuk membuka hati untuk laki-laki lain?”
Arrrggghhh, Thomas merutuki mulutnya yang berkata seperti itu pada Mattea. Mana sanggup dia melihat Mattea bergandengan dengan laki-laki lain. Membayangkan saat gadis itu dekat dengan Harry saja, sudah membuat darah Thomas seperti mendidih.
Mattea terdiam mendengar perkataan Thomas. Laki-laki itu sangat berharap supaya Mattea menolak usulnya tadi. Ah, Thomas merutuki dirinya yang tidak bisa menentukan apa yang ada dalam hatinya saat ini.
“Uncle, aku ... aku akan coba... Mungkin Harry menyukaiku?!”
Tidak, itu tidak boleh terjadi!
“No girl! Itu tidak boleh!” Mattea memandang Thomas heran.
“Bukankah uncle yang menyuruh?”
Thomas menatap Mattea dengan intens. Laki-laki dewasa itu meraih tubuh gadis kecilnya, lalu mengangkatnya untuk duduk di pangkuannya. Mattea membelalak kaget dengan perlakuan Thomas. Sungguh jantungnya sudah tidak bisa di kondisikan lagi. Merasakan deru nafas Thomas dengan posisi yang seintim ini membuat Mattea memerah seperti kepiting rebus.
“U—uncle?” tanya Mattea dengan suara gugup. Manik hitam pekatnya menatap Thomas untuk meminta jawaban.
Tapi bukan jawaban yang dia dapatkan melainkan sebuah ciuman di bibirnya membuat mata Mattea sempurna melebar karena kaget.
“U—unc.. hhhmmpptt...”
Setelah merasa cukup lama mencium Mattea, Thomas melepaskan ciuman mereka, dan mereka berdua menghirup udara sebanyak mungkin, seakan seperti sudah lama tidak bernafas. Thomas menatap mata gadis itu dengan tatapan yang tidak bisa Mattea artikan.
“Aku tidak mengizinkanmu untuk dekat dengan laki-laki lain Mattea!” Mattea memasang telinganya lebar-lebar mendengar perkataan Thomas.
“Kenapa? Bukannya Uncle yang menyuruh?!” melihat wajah merah padam Thomas membuat Mattea menyunggingkan senyuman kemenangan.
‘Kena kau Uncle!’
“Tidak ada yang boleh kau cintai selain aku!” egois sekali laki-laki ini. Bukankah dia yang awalnya melarang Mattea untuk mencintainya?
“Kenapa? Bukankah Uncle tidak mau, untuk aku mencintaimu? Mungkin dekat dengan Harry bisa membuatku perlahan melupakanmu?!”
Hohoho, lihatlah wajah merah padamnya itu. Mattea memekik kegirangan dalam hati.
“Aku tidak bisa melihat kau dekat dengan laki-laki lain!” aku Thomas dengan jujur membuat Mattea kegirangan dalam hatinya.
“Kau tidak boleh egois Uncle, kau melarang ku untuk dekat dengan laki-laki lain, tapi kau juga tidak mau untuk aku mencintaimu dan juga membalas cintaku!” Thomas terdiam, memikirkan segala gejolak hatinya. Dia menatap pada wajah mungil gadis yang ada di atas pangkuannya ini.
Bagaimana binar mata hitam pekat itu selalu mampu membuatnya luluh. Bagaimana bibir mungil itu, membuatnya tidak berkutik.
Hei Thomas bodoh?! Tidak bisakah kau menyadari perasaanmu yang menyebalkan itu! hati baik Thomas seperti meledek dirinya karena tidak tau dengan perasaannya sendiri.
“Aku merasa tidak pantas Mattea!” Mattea mengalungkan tangannya pada leher Thomas. Mereka berdua seakan lupa, kalau saat ini mereka ada ditepi jalan. Untung saja kaca gelap mobil milik Thomas, tidak bisa melihat dari luar apa yang sedang mereka lakukan dalam mobil.
“Hemm?”
“Aku bahkan hampir seumuran dengan daddymu!”
“Uncle, cinta itu tidak memandang, bentuk, rupa maupun usia!” Thomas terkekeh mendengar perkataan sok bijak gadisnya ini.
“Apa kau tidak malu berjalan denganku?!” Mattea menggelengkan kepalanya cepat mendengar perkataan Thomas.
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa selama ini uncle tidak malu saat berjalan denganku? Ah, aku harus menanyakan pada Daddy dan mommy, kenapa aku tidak dilahirkan lebih awal saja!”
Mendengar perkataan polos Mattea membuat Thomas tertawa.
“Baiklah nona kecil, apa kini kau mau jadi pacarku?” mata Mattea sempurna melebar saat mendengar pertanyaan Thomas. Dia menepuk pipinya, seakan memastikan kalau ini tidak mimpi. Setelah dirasa ini nyata, Mattea menatap Thomas gemas.
“Kenapa tidak langsung menikah saja?” Mattea mendekatkan bibirnya pada Thomas membuat laki-laki itu kaget.
“Aku benar-benar sudah gila? Aku benar-benar jadi sugar Daddy?”
______
Gw juga mau, jadiin lu sugar Daddy Uncle Handsome😂
Dukungannya dong, sayangku😍