My Devils Husband

My Devils Husband
MatteNa: Pernikahan, taruhan.



Gaun pengantin berwarna putih tulang dengan taburan kristal Swarovski itu kini terlihat sangat pas di tubuh Ana yang mungil.


Gaun yang berkilau itu membuat Ana tampak benar-benar cantik. Hiasan kepala di rambut pendeknya yang di berikan mahkota benar-benar membuat Ana tampak menjadi seorang putri.


Wajah yang merona karena sapuan make up yang tidak terlalu menor dan tebal itu menambah kesan anggun dari seorang Anastasya. Bibir pink itu tidak berhenti untuk tersenyum. Melengkung sempurna, membuat siapa saja yang melihatnya akan ikut melengkungkan sudut bibir mereka.


Ana benar-benar sangat cantik. Calon istri dari seorang Matteo Michaelino Alexander Luciano itu benar-benar menghipnotis setiap orang dengan wajahnya yang imut.


“Anak Mommy, kau cantik sekali, Sayang.” Aira meneteskan air mata haru, saat melihat anaknya yang begitu cantik.


Tak terasa, kini gadis kecil yang selalu dia timang dan berikan ASI dulunya itu, akan segera menikah dengan pria pilihannya.


Rasanya waktu berjalan cepat sekali, masih ingat di ingatan Aira, kala Ana membuatnya sibuk di malam hari karena mengompol. Membuat dia dan David bergadang menjaga putri cantik mereka itu karena setelahnya dia tidak mau tidur lagi.


“Mommy, juga sangat cantik.” ujar Ana tersenyum lembut. Dia mengusap pipi Mommy-nya itu dengan sangat lembut. Membersihkan air mata yang berharga itu dengan tangan kecilnya.


“Mommy tidak menyangka, ternyata kau sudah dewasa, Sayang. Padahal dulu kau masih berlarian di dalam rumah untuk mengejar kami yang menjahilimu, tapi lihatlah sekarang. Kau sudah menjadi ratu di hati seorang raja.”


Ana membawa sang Mommy kedalam pelukannya.


“Ana sangat mencintai dan menyayangi Mommy.” ujar Ana. Setelah itu pelukannya terlepas.


“Mommy lebih mencintaimu, Sayang.”


Pintu kamar tempat Ana berhias itu terbuka karena ada seseorang yang memutar kenop nya.


“Heii, dua wanita terhebatku, kenapa kalian menangis di hari bahagia ini?” David mendekat pada sang istri. Dia tersenyum lembut pada wanita yang sudah menemani sisa hidupnya itu.


“Kami sedang menangis bahagia, Dad.” ujar Aira.


“Tidak boleh menangis. Nanti make up kalian luntur. Ayo kita keluar, sang pangeran sudah menunggu tuan putrinya di depan Altar.”


Ana menyambut tangan sang Daddy. Dia di bantu berdiri oleh Aira. Sedangkan gaun panjangnya di angkat oleh make up artist yang tadi mendandaninya.


Ana dan David berjalan beriringan menuju altar. David dengan tuxedo berwarna hitamnya tampak sangat gagah dengan usianya yang tidak lagi muda. Tubuh kekarnya masih tampak jelas terlihat di balik tuxedo yang digunakannya itu.


Ana meremas tangan David dengan gugup. David dapat merasakan tangan putrinya begitu dingin karena keringat. Ana mengangkat kepalanya sesuai bisikan sang Daddy.


Pangeran bertuxedo putih gading seperti warna gaun yang digunakannya tampak sangat gagah di atas altar.


Matteo menatap Ana dengan dada yang membuncah. Walaupun wajah gadisnya di tutup tudung, tapi dia bisa melihat, kalau di balik tudung itu, wajah sang calon permaisuri terlihat sangat cantik.


Ana berdebar-debar saat dia sudah tiba di depan bersama David. Dan Daddy-nya itu menyerahkan tangannya pada laki-laki yang sudah menunggu putrinya.


“Jaga putriku dengan baik, Matt.” ujar David serak. Matteo mengangguk pasti. Di matanya terlihat banyak sekali cinta untuk Ana.


“Pasti, Uncle. Aku akan menjaganya dengan nyawaku sendiri!” David bernapas lega mendengar jawaban tanpa keraguan dari laki-laki yang berdiri di depannya itu. Setelah itu dia berjalan turun dari altar untuk melihat putrinya melakukan sumpah bersama sang pangeran.


Pendeta mulai membacakan doa-doa. Hingga janji sehidup semati yang keluar dari mulut kedua orang itu, kini akhirnya bisa terucap dengan lantang.


Dengan tangan yang bergetar, Matt membuka tudung yang menutupi wajah cantik sang wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Bibir tipis itu melengkung dengan sangat sempurna. Wajah sang wanita bersemu merah.


Sesuai arahan pendeta, Matt mendekatkan bibirnya pada bibir sang Istri, dan menautkan.


Tidak ada nafsu di sana, yang ada hanya ciuman penuh cinta dan terimakasih. Matt melepaskan ciuman singkat itu.


“Nanti kita bisa mengulangnya, Sayang.” ujar Matt saat melihat wajah sang istri yang tampak tidak rela saat pungutan itu terlepas. Ana benar-benar bersemu merah. Semua orang bertepuk tangan saat ciuman itu terlepas. Dan pendeta mengatakan, kalau mereka sudah Sah menjadi suami istri.


...*****...


Kini, kedua orang yang sedang menjadi raja dan ratu sehari itu sedang duduk di kursi singgasana pelaminan mereka. Matt terus menggenggam tangan Ana seakan dia benar-benar tidak ingin pegangan tangan itu terlepas, dan Ana pergi lagi darinya.


“Tuan, Ana tidak akan lari darimu, jadi tidak perlu di genggam seperti itu juga!” celetuk Arthur saat dia dan Stella memberikan selamat kepada kedua orang yang sedang berbahagia itu.


“Kalau kau iri, maka kau bisa menggenggam tangan kekasihmu itu, cepat nikahi dia!” Stella yang berdiri di samping Arthur memerah mendengar perkataan atasannya itu. Dia mencubit lengan Arthur membuat laki-laki itu mengaduh.


“Kau ini, kenapa mencubitku?” ujar Arthur kesal. Stella mendelik tajam.


“Sudah, jangan bertengkar disini, jangan merusak pesta kami, kalian kalau bertengkar, benar-benar merepotkan!” Arthur menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena apa yang dikatakan oleh laki-laki yang menjadi boss nya itu benar.


“Selamat, ya, An. Semoga pernikahan kalian langgeng dan awet.” Ana dan Stella berpelukan sesaat.


“Terimakasih, kak. Ana doakan juga, supaya kak Stella cepat menyusul.” Stella terkekeh. Tidak suami, tidak istri, sama saja.


“Iya, An. Aku menunggu kalau ada laki-laki yang mau melamar ku,” ujar Stella.


“Kalau dia aku tidak jamin,” Stella menunjuk Arthur yang mendengus padanya. “Mungkin kalau ada yang melamarku setelah ini, aku akan langsung menerimanya!”


Arthur langsung mendelik tajam.


“Siapa juga laki-laki lain yang mau melamarmu selain aku. Kau ini kan judes, mana ada yang mau.” Arthur lagi-lagi mendapatkan cubitan di perutnya hingga membuat laki-laki itu mengaduh.


“Kau ini, kenapa suka sekali mencubit-ku, sih?” tanya Arthur kesal.


“Hadeeehhh, mulai lagi ....”


...****...


Banyak sahabat Ana dan Matt yang datang. Arion dan Erick mengucapkan selamat pada mereka. Dan Jenny juga datang untuk memberikan selamat pada sang sahabat yang dulu meninggalkannya itu.


Para orang tua juga sibuk melayani tamu. Max dan David menjabat satu-persatu kolega bisnis mereka, di temani oleh istri masing-masing, plus Aletta. Perbincangan bisnis itu memakan waktu cukup lama.


Justin beserta keluarga juga datang, tapi Jenita sedang ada di hotel beristirahat karena mengalami mabok udara. Ternyata ini yang di takutkan oleh gadis itu, hingga dia meminta pada Ana agar pernikahan itu di adakan di Indonesia saja. Jenita di temani oleh James yang juga sudah ada di Jerman. Bukan hanya berdua sih, karena ada pengawal Justin juga yang mengawasi mereka.


“Arthur, ayo...!” Stella menyeret tangan Arthur untuk ikut masuk kedalam kerumunan orang itu. Tapi yang di seret masih enggan untuk berjalan.


“Tidak mau, itu norak sekali. Aku tidak mau ikut!” ujar Arthur yang masih kekeh. Tapi Stella masih tetap tidak mau kalah.


“Ayo kita ikut, itu pasti seru!”


“Ih, kau ini menyebalkan. Sejak kapan kau jadi wanita manja seperti ini?”


“Aku hanya mau mengajakmu, jika kau tidak mau, ya sudah! Aku tidak akan memaksa,” Stella berjalan meninggalkan Arthur, membuat laki-laki itu menghela napas.


“Untung sayang! Kalau tidak, sudah aku buang dia ke kutub Utara sana!” gerutunya.


Dengan langkah malas, Arthur mengikuti langkah sang kekasih. Laki-laki itu masuk kedalam kerumunan orang yang berdesak-desakkan. Dia memeluk bahu Stella karena banyak laki-laki yang juga ikut berdempetan dengan mereka. Sungguh Arthur tidak suka ini.


Semua orang bersorak untuk menghitung. Beberapa kali mereka kecewa karena Ana dan Matt mengerjai mereka.


Kini hitungan mulai terdengar lagi, dan Ana juga Matt benar-benar melepaskan bunga itu ke belakang mereka.


“Aduh ....” Arthur yang berdiri di samping Stella mengaduh, matanya membelalak saat tangannya secara refleks menangkap benda yang mengenai mukanya itu. Tangkai bunga yang menjadi rebutan itu, mengenai dia dan tak sengaja jatuh di depan wajahnya.


“Yeeee ....” Stella berteriak senang, dia mengambil alih bunga yang ada di tangan Arthur lalu memeluk laki-laki itu tanpa sadar. Semua yang berebut tadi menghela napas kecewa karena tidak mendapatkannya.


“Aku rela berdesak-desakan begini terus jika dia memelukku seperti ini!” Arthur dengan senyum bahagia membalas pelukan Stella. Jarang-jarang, kan, gadis cantik ini mau memeluknya erat begini. Hehe, menyelam sambil minum air kan tidak dosa.


Orang-orang sudah bubar. Meninggalkan dua orang yang saling memeluk itu.


“Maaf Nona, Tuan, sampai kapan kalian berpelukan begitu?” seseorang menegur keduanya. Stella lantas melepaskan pelukan itu lalu memukul dada bidang Arthur cukup keras.


“Kau membuatku malu!” ujarnya dengan kesal.


Arthur hanya terkekeh gemas. Semua orang menggeleng melihat pasangan itu.


Arthur masih setia berdiri di sana, membuat Stella heran. Gadis itu kembali dan menarik tangan Arthur, tapi laki-laki itu masih tetap tidak mau bergerak.


“Ada apa?” tanya Stella heran.


Semua menatap pada dua pasangan itu, begitupun dengan Ana dan Matt.


“Aku yakin, dia akan melamar gadis itu sekarang!” ujar Matt. Ana mendongak pada suaminya.


“Darimana kak Matt tau?” tanya Ana.


“Feelingku saja!”


“Tapi menurutku tidak!” ujar Ana yakin.


“Mau bertaruh?” Ana menatap Matt menyelidik, setelah itu dia mengangguk yakin.


“Oke!” ujar Ana semangat.


“Kalau aku menang, maka kau nanti yang main di atas!” Ana membelalak kaget. Dia paham dengan apa yang di maksud oleh suami mesumnya ini.


“Taruhan apa itu! Tidak mau!” ujar Ana.


“Yah, kau ini Cemen sekali!” Ana menatap Matt kesal.


“Deal! Kalau aku menang, malam ini kita tidak jadi malam pertama!”


“Hei, mana bisa begitu!” tentu saja Matt tidak terima dong! Ya iyalah, kan ini yang di tunggu-tunggu oleh pengantin baru seperti dirinya.


“Cemen!”


“Ka—kauuu ...!” Matt menggeram, istrinya ini benar-benar menyebalkan! “Deal!”


Matt benar-benar berharap saat ini supaya Arthur melamar gadis itu, kalau tidak, habislah dia!


Matt memilih untuk duduk di bangku pelaminannya, sedangkan Ana masih berdiri.


“Jika kau lamar Stella sekarang, aku yang akan tanggung semua biaya pernikahan dan bulan madu kalian, kalau tidak, kau aku pecat!”


Ting ....


Arthur mendengar suara ponselnya berdenting, tanda ada pesan singkat.


Keningnya mengernyit melihat pesan singkat yang ternyata dari Matt tersebut, dia menatap Matt dengan tatapan penuh tanda tanya, tapi laki-laki itu hanya menatapnya tajam.


“Hehe, kebetulan sekali, aku kan memang mau melamar dia! Ternyata memang benar, ya, kalau niat baik itu memang selalu membawa hal baik!” Arthur terkekeh senang, Stella yang melihat itu menjadi kesal sendiri.


“Kenapa dia? Pesan siapa itu? Kenapa dia tersenyum seperti itu, awas kalau kau selingkuh Arthur, aku potong burungmu sampai habis!”


Wkwkwkwk..


.......


.......


.......


.......


...****...


...Sabar, si Mattea lagi On the way, lagi proses ya😂✌️...