
Pagi ini terlihat Justin sedang bersiap-siap kerena dia memiliki janji temu dengan Jenna. Lelaki itu mempersiapkan penampilannya sebaik mungkin, dia tidak ingin Jenna menjadi ilfil ataupun mengecapnya sebagai laki-laki yang tidak disiplin dan juga tidak rapi.
Justin menghembuskan nafasnya berat. Saat jatuh cinta pertama kalinya, dia malah jatuh cinta pada sang adik, yang bisa di kategorikan kalau rasa itu hanyalah sebatas rasa sayang kakak adik melalui kontak batin. Dan kini, saat pertama kalinya dia benar-benar jatuh cinta pada orang yang tepat, dia malah harus menelan pil kekecewaan karena orang yang disukainya itu malah akan di jodohkan dengan orang lain.
Miris memang, tapi Justin tak punya pilihan lain, lagipula dia juga sudah berjanji untuk membantu wanita yang di sukai nya untuk menemui sang calon laki-laki yang akan di jodohkan dengannya.
Sebenarnya Justin cukup heran, kenapa juga Jenna harus mencari laki-laki itu? Bukankah mereka sudah di jodohkan, lalu untuk apa mencari kalau mereka bisa membuat janji temu secara langsung tanpa harus repot mencari di negara sebesar Jerman ini.
Ntahlah, Justin tidak mau untuk terlalu memikirkannya karena baginya kebahagiaan Jenna lebih penting, walaupun dia harus menjauhi gadis itu nantinya.
“Wah ... wah ..., tampan sekali kakakku ini.” sapa Stef dengan tatapan menggoda. Kini Justin sudah berada di ruang makan, untuk sarapan pagi bersama. Justin hanya mendelik sebal lalu duduk dikursi yang tersedia disana. Para pelayan di mansion besar Max langsung menyiapkan sarapan untuk Justin lalu memasukkannya kedalam piring. Sarapan pagi ini adalah roti panggang yang diberi selai kacang. Walau begitu tetap diletakkan di atas piring.
Justin menatap pada kedua adiknya, kini Aira duduk disamping Stef. Gadis cantik itu nanti akan pergi dengan Max, David, dan juga Thomas ke kantor besar Alexander Corp. Karena disana yang saat ini memang sedang krisis membutuhkan banyak tenaga untuk berfikir, dan semoga saja nanti disana Aira bisa membantu. Yang paling senang Aira bekerja disana adalah David tentunya, karena dia bisa melihat gadis cantik itu kapanpun yang dia mau.
“Ahhh, malang sekali nasibku,” Justin memakan sarapannya dengan cepat membuat Stef kesal.
“Hati-hati kak, nanti kau tersedak.” peringat Stef, nampak Justin memelankan makannya lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sedangkan Max saat ini tampak tidak berselera makan ataupun menggoda Justin, terlihat jelas kantung mata disekitaran matanya, dia pun hanya memakan sarapannya dengan ogah-ogahan.
“Kenapa kau Max?” tanya Justin heran. Lantas saja Max langsung mengangkat kepalanya mendengar perkataan Justin, lalu dia menggeleng. Terlalu malu baginya jika harus bercerita pada Justin perihal semalam Stef yang terus saja mengerjainya membuat Max tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Bagaimana tidak, Stef terus saja menggodanya dengan membuat tubuhnya panas menginginkan untuk menyentuh Stef, tapi saat Stef sudah benar-benar bisa meningkatkan gairahnya langsung saja dia menghentikan Max lalu mengingatnya pada perkataan Dokter Patricia waktu itu membuat Max tidak habis pikir dan berujung masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin cukup lama.
“Tidak, aku hanya kurang tidur saja!” ujar Max lesu, lalu dia beralih menatap Stef yang berusaha menyembunyikan tawanya membuat Max semakin menghembuskan nafasnya frustasi.
“Dimana orang tuamu Max?” tanya Justin.
“Mereka pergi ke apartemen, untuk bertemu orang tuamu!” jawab Max acuh. Justin hanya menganggukkan kepalanya. Dia berfikir, kenapa harus sepagi ini?! batin Justin.
Menghabiskan sarapannya dengan cepat, Justin lalu berdiri dari duduknya.
“Aku akan berangkat, aku akan menemui Jenna hari ini.” ujar Justin memberitahu.
Max mengangkat kepalanya, lalu menatap Justin. Dia memanggil Martin, hingga membuat laki-laki itu berjalan cepat kearahnya.
“Ada apa tuan?” tanya Martin sigap.
“Berikan kunci mobil pada Justin, pilih salah satu dari mereka yang terbaik.” ujar Max memberitahu, lantas saja Martin mengangguk lalu berjalan cepat meninggalkan meja makan mengambil kunci mobil yang dimaksud oleh Max. Sedangkan Justin hanya diam, dia tau kalau dia akan butuh mobil nantinya, makanya dia tidak akan menolak perkataan Max.
Bukan apa-apa, Justin juga membawa mobilnya ke mansion Max, tapi karena kemarin mobilnya dibawa ke bengkel untuk perawatan jadi dia harus menggunakan mobil yang di siapkan oleh Max.
Tampak Martin berjalan cepat menuju Justin, lalu menyerahkan kunci mobil pada pria itu yang diterima dengan sangat baik.
Setelah mengucapkan terimakasih, Justin berlalu dari sana meninggalkan Stef, Max, dan juga Aira. Stef asik mengobrol dengan Aira mengabaikan suaminya yang tampak tidak terima di abaikan oleh Stef. Tak lama setelah itu, tampaklah David dan juga Thomas dari arah belakang Mansion, mereka sudah berpakaian rapi, sangat berbeda dengan Max yang masih terlihat kusut walaupun dia sudah mencuci muka sekalipun. Mereka duduk di meja makan dengan David yang duduk berhadapan dengan Aira. Gadis itu menundukkan pandangannya saat melihat David duduk di depannya.
“Kemana pria menyedihkan itu pergi pagi-pagi begini?” tanya David terkekeh diikuti oleh Thomas. Max yang paham dengan siapa yang dimaksud oleh David juga ikut terkekeh gemas.
“Pergi menemani orang yang dicintai untuk mencari laki-laki yang akan menikahinya.” jawab Max asal. David dan Thomas tergelak dengan perkataan Max.
“Menyedihkan sekali dia?!” ucap Thomas disela tawanya.
“Dia lebih mending darimu, memiliki orang yang dia cintai dan memiliki tujuan untuk memperjuangkan orang yang dicintai, sedangkan kau apa? Aku tidak pernah melihat kalian dekat dengan wanita manapun! Atau jangan-jangan kalian ituu...?” Max tidak melanjutkan ucapannya. Dia sengaja menggantung ucapannya membuat David dan juga Thomas mendelik kesal.
“Hei Bos, aku masih normal! Singkirkan pikiran burukmu itu!” ujar Thomas kesal karena bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Max.
David menatap pada Aira, gadis itu tampak berbisik dengan Stef mengabaikan obrolan mereka barusan. Bagaimana dia terkikik bersama dengan Stef dengan suara tawa yang disembunyikan membuatnya tampak sangat menggemaskan di mata David.
_-_-_-
Tok tok tok...
Justin mengetuk pintu apartemen Jenna. Karena kemarin gadis itu sudah memberitahukan padanya dimana dia tinggal.
Tak lama menunggu, pintu tersebut terbuka. Terlihat disana Jenna juga sudah berpakaian rapi dan juga sangat cantik dengan rambut pirangnya. Dia tersenyum pada Justin.
“Ayo masuk dulu, aku sudah membuatkan sarapan untukmu!” ujar Jenna mempersilahkan Justin masuk, diikuti oleh dirinya sendiri di belakang.
Jenna menuntun Justin berjalan menuju ruang makan. Disana sudah tersedia dua porsi nasi goreng.
“Ayo sarapan dulu?!” aja Jenna. Lantas Justin langsung menggelengkan kepalanya.
“Tidak terimakasih. Aku sudah sarapan dirumah tadi.” ujar Justin menolak.
Walau bagaimanapun, saat ini dia masih kenyang karena makan roti dengan selai kacang tadi.
“Yaaahhh... sayang sekali, padahal aku membuatkannya untukmu!” ujar Jenna menampilkan wajahnya yang cemberut.
“Aih..,” Justin yang melihat wajah Jenna yang menurutnya sangat menggemaskan itu tidak dapat menolaknya.
“Baiklah aku akan makan, tapi sedikit saja!” ujar Justin. Lantas Jenna langsung mengangguk antusias mendengar perkataan laki-laki yang ada dihadapannya ini.
“Terimakasih.” ujar Justin saat Jenna memberikan sendok padanya. Justin memakan masakan Jenna dengan sangat lahap. Oh astaga, ini sungguh enak sekali. Ternyata gadis secantik Jenna pintar memasak, dan Justin semakin kagum padanya.
“Bagaimana rasa?” tanya Jenna berbinar antusias dengan tanggapan Justin mengenai masakannya.
“Ini sangat enak! Sungguh.” jawab Justin tersenyum.
“Sukurlah kalau begitu, karena soalnya aku akan membawakan makanan ini untuk calon suamiku. Karena orang tuaku sudah memberikan nomor ponselnya dan aku sudah menghubunginya. Jadi kita tidak perlu repot-repot untuk mencarinya, dan kau hanya perlu menemani aku saja saat bertemu dengannya nanti.” ujar Jenna dengan senang.
Sedangkan Justin yang mendengar penuturan Jenna langsung melototkan bahu lemas. Ah ternyata Jenna sudah menghubunginya.
“K-kau sudah menemukan dia?” tanya Justin.
“Iya, orang tuaku menyuruhku untuk menemuinya, dan menyuruh kami untuk mengenal lebih dekat karena tidak lama lagi kami akan menikah.” ujar Jenna menjelaskan dengan sangat bersemangat.
“Bukankah waktu itu kau bilang kau tidak mengenal dia, dan tidak tau siapa dia?” tanya Justin lagi. Jenna mengangguk membenarkan perkataan Justin.
“Iya, tapi orang tuaku sudah menjelaskan padaku kenapa waktu itu tidak memberitahuku, mereka bilang mereka punya alasannya tersendiri.” ujar Jenna lagi.
“Baiklah, aku akan menemanimu.” ujar Justin lemas.
“Ah, kau baik sekali.” ujar Jenna senang lalu tanpa sadar menggenggam tangan Justin.
“Ya tuhan, tolong kuatkan aku. Aku tidak sanggup.” batin Justin meringis. Lalu tetap berusaha untuk menampilkan senyuman terbaiknya di hadapan Jenna.
____
Oh tuhan, aku gak nyangka kalau diriku yang ehem ehem ini ternyata cukup kejam padamu oh Justin ku🥺Maaf kan daku yah🥺