My Devils Husband

My Devils Husband
35. Mesum



Max membantu Stef mandi, menggosok punggung Stef membuatnya harus menelan ludah kasar menahan gejolak pada dirinya untuk tidak menerkam Stef saat ini.


Oh ayolah, lelaki mana yang akan tahan melihat punggung putih bersih seorang wanita terlebih itu adalah istrinya sendiri. Jika bukan karena mengingat ibu Stef yang saat ini sedang masuk rumah sakit rasanya Max ingin menerkam Stef lagi.


Max memberikan handuk kepada Stef, lalu menggendong tubuh Stef keluar dari kamar mandi, Stef hanya diam tanpa melakukan perlawanan karena jujur bagian inti bawahnya saat ini masih terasa perih akibat pergulatannya semalam bersama dengan Max.


Max menurunkan Stef di ranjang lalu berjalan mengambil pakaian untuk dirinya dan juga sang istri kecilnya.


Stef hanya memperhatikan Max mencari isi lemari tapi tidak ada pakaian yang pantas untuk digunakan oleh Stef. Lalu Max berjalan kearah meja kecil di samping ranjang untuk mengambil ponselnya, menekan beberapa digit angka hingga terdengar suara resepsionis hotel menjawab disana.


"Kirimkan pakaian wanita yang sopan ke kamarku!" perintah Max. Wanita yang saat ini sedang menjalani jam kerjanya itu dan mendengar perintah dari Max itu ia langsung mengiyakan karena ia tahu bahwa itu adalah suara Max, anak dari pemilik hotel tempatnya bekerja.


Max sudah terlebih dahulu memakai pakaiannya sedangkan Stef menunggu pakaian yang dipesan oleh Max sampai.


Tak lama berselang terdengar suara ketukan pintu, Max berjalan membukakan, tampaklah seorang wanita memegang sebuah paper bag yang berdiri takut didepannya.


"Ini pakaian yang anda pesan tuan," ucap wanita itu takut — takut.


"Baiklah, terimakasih," ucap Max, ia juga memberikan tip pada wanita itu, hingga ucapan terimakasih berkali-kali ia dengar dari mulut wanita itu. Max menutup pintu kamar lalu berjalan kearah Stef.


"Perlu aku bantu?" tanya Max menatap Stef jahil.


"Tidak usah, aku bisa sendiri!" ucap Stef ketus. Jika sampai Stef mengizinkan Max untuk mengenakan pakaiannya lalu menyentuh salah satu anggota tubuhnya, dapat dipastikan jika nanti dia akan mandi kembali.


"Ahaha, kau ini ketus sekali," Max tertawa lebar melihat wajah Stef yang menatap dirinya cemberut.


"Dasar mesum kau ini!" ucap Stef,


"Kau baru tau aku mesum?" ucap Max menggoda Stef lagi.


"Sudahlah, aku mau ganti pakaian dulu, jangan terus terusan menggodaku!" ucap Stef. Max hanya diam, karena ia juga ingin Stef cepat mengenakan pakaiannya menutupi tubuh indahnya itu.


****


Stef berjalan pelan di samping Max, karena saat ini ia masih merasakan sedikit sakit, dan Max memahami itu.


"Kita mau ke rumah sakit mana?" tanya Stef saat mereka sudah berada didalam mobil. Max sendiri yang menyetir mobilnya karena saat ini Thomas sedang mengurus Jhon di markas mereka.


"Ke rumah sakit papi," ucap Max menjawab singkat.


"Papi juga punya rumah sakit?" tanya Stef takjub.


"Tentu saja, Luciano Grup menaungi segala bidang," ucap Max bangga. "Jadi kau tidak akan kekurangan uang jika bersamaku!" sambung Max sombong.


"Ck, uang orang tua saja kau bangga," ucap Stef mengejek.


"Apa kau bilang? Hei, perusahaan suamimu ini bahkan kini hampir sama besarnya dengan perusahaan mertuamu," ucap Max tidak terima dikatakan oleh Stef jika ia hanya bangga pada uang orang tuanya.


"Ya baiklah," ucap Stef mengalah. Karena jika berdebat dengan Max, sudah dapat dipastikan ia akan kalah karena apa yang dikatakan oleh suaminya itu adalah benar. Jadi Stef tidak mempunyai alasan untuk menolak fakta tersebut.


Saat masih dalam perjalanan, ponsel Max berdering tanda ada panggilan masuk, Max langsung menjawab panggilan yang ternyata dari David itu.


"Ada apa?" tanya Max langsung. "Saat ini aku sedang dalam perjalanan," ucap Max memberitahu tanpa ditanya oleh David.


"Kau tidak usah kemari!" ucap David yang membuat Max menghentikan laju mobilnya.


"Kenapa?" tanya Max.


"Nyonya Lie sudah keluar dari rumah sakit," jawab David memberitahu.


"Apa? Kenapa cepat sekali?" tanya Max terkejut.


"Apa kau sudah memberitahu Stef?" bukannya malah menjawab pertanyaan Max, David malah bertanya seperti itu.


"Belum," ucap Max dengan suara kecil. Kini Max sudah paham maksud dari perkataan David.


"Ya aku paham," jawab Max singkat.


"Syukurlah, jangan sampai Stef tau bahwa ibunya tadi masuk rumah sakit karena nyonya Lie sendiri yang meminta seperti itu, dia juga memaksa untuk pulang cepat agar Stef tidak khawatir dengan kondisinya jika ia masih berada di rumah sakit saat ini," ucap David menjelaskan sesuatu yang sudah dipahami oleh Max.


"Ya kau tenang saja," ucap Max singkat.


"Baiklah," setelah itu sambungan telepon pun terputus.


Stef yang sedari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara.


"Siapa?" tanyanya singkat.


"Temanku," ucap Max.


"Ada apa?" tanya Stef lagi.


"Kita tidak jadi ke rumah sakit,"


"Kenapa?"


"Barusan temanku mengatakan kalau dia dan keluarganya sudah pulang, jadi kita tidak jadi kesana," ucap Max berbohong.


"Baiklah, jadi kita akan kemana sekarang?" tanya Stef yang tidak mau ambil pusing dengan jawaban Max, karena ia menyangka itu pasti keluarga rekan bisnis Max bukan Ibunya.


"Kita kembali ke hotel saja," ucap Max tersenyum mesum.


"Ah, aku takut melihatmu tersenyum seperti ini!" ucap Stef cemberut.


"Memang senyumku seperti apa?" tanya Max.


"Mesum," jawab Stef singkat.


"Enak saja, memangnya ada suami yang dikatakan mesum kepada istrinya sendiri?" tanya Max membuat Stef terbungkam.


"Sudahlah, ayo kita kembali! Aku ingin beristirahat," ucap Stef mengalihkan pembicaraan.


"Istirahat bersama denganku," ucap Max.


"Tidak!" jawab Stef cepat.


"Kenapa?"


"Aku tidak yakin jika nanti aku akan istirahat dengan nyaman karena kau!" ucap Stef mengembuskan nafas pasrah.


"Kau tenang saja, aku tidak akan sejahat itu, aku tau saat ini kau masih merasakan sakit," ucap Max menatap Stef tulus.


"Benarkah?" tanya Stef tidak percaya.


"Iya, demi kau biar aku yang tersiksa," ucap Max mendramatisir keadaan.


"Ck, kau ini," ucap Stef berdecak.


"Ya sudah, ayo kita kembali," Max kembali melajukan mobilnya membelah jalanan kota Frankfurt, membawa istrinya itu untuk kembali pulang ke hotel untuk beristirahat.


.


.


.


.


Love❤️❤️❤️ EgaSri