My Devils Husband

My Devils Husband
41. Ayah



Suara langkah kaki terdengar berjalan masuk, Stef yang saat ini masih didalam kamar ibunya berdiri untuk melihat siapa yang datang. Tampaklah Jhon berjalan dengan gagah dan tersenyum cerah disamping Max dan juga David.


“Ayah,” Stef berlari memeluk Jhon erat, menumpahkan air matanya di dada bidang ayah tirinya tersebut, sedangkan Jhon juga memeluk Stef erat, melepaskan kerinduannya setelah beberapa hari ini tidak bertemu dengan anaknya itu.


“Ayah,” Stef memanggil nama Jhon dengan memelas, membuat lelaki paruh baya tersebut tersenyum.


“Iya sayang, ada apa dengan anak kesayangan ayah ini, hum? Kenapa dia menangis?” Jhon mengusap air mata yang membanjiri pipi anaknya itu.


“Tidak apa-apa ayah, aku hanya merindukanmu,” ucap Stef menjawab singkat.


“Benarkah?” tanya Jhon tak percaya, lalu dia melirik kearah Lie yang juga berjalan mendekat padanya, “Kau apakan anakku Lie? Kenapa dia bisa sampai menangis?” tanya Jhon menatap Lie, yang dibalas kedikan bahu oleh istrinya tersebut.


“Anakmu saja yang cengeng,” Lie menjawab dengan nada meledek membuat Stef semakin memeluk ayahnya itu.


“Stef, kau tidak memelukku juga?” Max yang sedari tadi hanya diam pun akhirnya angkat bicara, sedangkan David hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bos-nya itu.


“Memangnya kau siapa?” Stef berjalan bersama Jhon dengan tetap memeluk ayahnya itu untuk duduk di sofa yang ada disana.


“Astaga sayang, mentang-mentang kau sudah bertemu dengan ayahmu lagi, kau jadi melupakan aku,” Max sengaja mendramatisir nada bicaranya membuat Stef mendelik. Oh ayolah, baru tadi pagi mereka berpisah dengan alasan Max ada urusan pekerjaan dengan David, kini suaminya itu sudah bersikap seperti mereka tidak bertemu satu tahun saja.


“Kau pergi setahun pun aku tidak akan rindu,” Stef berbicara dengan sarkas membuat Max mendelik.


“Tapi masalahnya aku tidak mau meninggalkanmu sehari saja, apalagi setahun sayang,” Jhon, Lie, maupun David tertawa mendengar ucapan Max.


“Sudah sudah, kau tidak perlu menggoda anakku lagi Max, dia masih merindukan aku, jadi sebaiknya kau mengalah saja padaku hari ini,” Max cemberut kesal mendengar jawaban Jhon.


“Tidak mau, dia adalah istriku, jadi aku yang berhak padanya,” Max mendekat duduk disamping Stef, sedangkan Stef tetap memeluk ayahnya itu seperti seorang anak yang baru mendapat kejutan dari ayahnya yang pergi merantau dan tidak pulang beberapa lama.


“Hei, apa kau lupa? Aku ini ayahnya!” Stef tersenyum mendengar pembelaan ayahnya tersebut, dia menjulurkan lidahnya pada Max membuat lelaki itu kesal.


“Ayah, apa kau tidak merindukan ibu?” Max bertanya dengan nada menggoda membuat Lie yang duduk disana memerah malu, sedangkan Jhon juga menatap wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut.


“Tentu saja, bagaimana mungkin aku tidak merindukan istriku ini,” Jhon menatap Lie dengan penuh cinta membuat Lie berusaha menyembunyikan senyumannya.


“Jadi ayah, kalau menurutku sebaiknya kita memeluk istri masing-masing, apa ayah rela kalau aku memeluk ibu?” Max mengerling jahil pada Jhon yang menatapnya dengan mata melotot mendengar ucapan menantunya tersebut.


“Tidak mau, enak saja kau ini, dia istriku jadi hanya aku yang boleh memeluknya,” Jhon dengan cepat membantah ucapan Max membuat menantunya tersebut tersenyum kemenangan.


“Kalau begitu, ayo kembalikan istriku ayah,”


“Aih, dasar kau ini,” Jhon berdiri mendekat pada Lie, memeluk istrinya itu, sedangkan Stef mengerling kesal pada suaminya tersebut.


“Ehem, bos. Apa kau tidak mengasihani aku yang masih jomblo ini bos?” David tiba-tiba bersuara membuat Jhon dan Max tertawa.


“Makanya, cepatlah kau cari istri, agar bisa juga seperti kami ini,” Max tertawa meledek David membuat lelaki itu mendelik sebal.


“Tentu saja, aku akan mencari istri secepatnya,” David menjawab dengan penuh percaya diri membuat Max kembali mengejeknya.


“Aku tidak yakin padamu David, kau kan takut pada wanita,” David mengerling kesal mendengar ucapan Max, walaupun yang dikatakan oleh bos-nya itu adalah benar.


*"*"*"*"*"


Kini Max dan Stef ada dikamar mereka, setelah drama pertemuan tadi, mereka semua memutuskan untuk masuk kamar masing-masing, yang tentunya David tidak ikut dan lebih memilih untuk keluar saja.


“Apa kau tidak pergi ke kantor lagi?” Stef bertanya pada Max yang duduk sembari melihat pada ponselnya itu.


“Iya, nanti!” ucap Max menjawab singkat membuat Stef mendelik dan ikut duduk disamping Max.


“Kau sedang melihat apa?” tanya Stef sedikit mencondongkan tubuhnya melihat pada layar ponsel suaminya tersebut. Lantas saja Max langsung menjauhkan ponselnya dari Stef membuat wanita tersebut mengernyitkan dahinya heran.


“Kenapa?” tanya Stef dengan nada tidak suka.


“Apa?” Max pura-pura tidak tahu dengan apa yang ditanyakan oleh Stef.


“Apa yang kau sembunyikan?” Stef mencoba merebut ponsel Max membuat laki-laki tersebut refleks menjauhkan tangannya dari Stef.


“Bukan apa-apa!” jawab Max singkat.


“Aku tanya padamu, apa yang kau sembunyikan?” kini Stef bertanya dengan tegas, membuat Max sedikit menciut.


“Ini,” Max menyodorkan ponselnya pada Stef, yang refleks diterima oleh istrinya tersebut.


“Kau mau liburan?” tanya Stef setelah melihat ponsel Max yang berisikan tentang iklan berbagai destinasi wisata disana.


“Iya," jawab Max singkat.


“Kenapa? Kapan? Dengan siapa kau akan pergi kesana?”


“Lusa kita berangkat, aku, kau, ayah dan juga ibu, tentunya David juga ikut,” Max menjawab yakin membuat Stef mengernyit.


“Kemana?”


“Ke suatu tempat yang indah, yang tentunya akan membuatmu senang,”


“Benarkah?”


“Kita lihat saja nanti,”


.


.


.


.


Love ❤️❤️❤️ EgaSri