
Salju pertama sudah turun di kota Frankfurt. Gadis kecil berambut pirang panjang itu, kini sedang berada di rumah sakit, menemui adik keduanya. Ya, anak Ana. Wanita itu sudah melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki.
Aletta memakai mantel tebalnya. Tangan kecil itu memakai sarung tangan tebal. Salju yang sudah memenuhi jalanan, membuat laju kendaraan menjadi terhambat.
“Dad, siapa nama adik keduaku?” tanya Aletta. Dia menjulurkan tangannya pada Thomas, meminta untuk di gendong. Dan di kabulkan oleh laki-laki yang menjadi Daddy nya tersebut.
“Nanti kita tanyakan pada Uncle Matt, atau Aunty Ana, oke?” Aletta mengangguk saja. Dia masuk kedalam ruang rawat Ana bersama dengan Thomas. Wanita itu melahirkan secara Caesar. Tidak mempunyai banyak drama yang harus di ceritakan, karena anak yang ada dalam perut Ana itu dulunya sungsang.
“Aunty, siapa nama adikku?” rupanya Aletta sangat penasaran saat ini. Ana yang sedang menepuk-nepuk dengan lembut bayinya itu tersenyum pada Aletta.
“Jeovanni.” jawab Ana tersenyum.
Aletta bergerak gelisah meminta untuk di turunkan. Dia naik ke kursi di samping brangkar tempat tidur Ana. Setelahnya, gadis kecil itu mencium pipi gembul milik sang sepupu.
“Dia hebat sekali, lahir saat akan menjelang natal!” ujar Aletta. Dia memperhatikan bulu mata lentik itu, meskipun masih pendek, tapi tampak cantik di mata bayi laki-laki yang bernama Jeovanni tersebut.
“Dia hadiah Natal terindah tahun ini bagiku.” Ana tersenyum lembut saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Matt. Laki-laki itu baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
“Apa Arthur sudah sampai?” tanya Matt pada Thomas yang duduk di sofa sembari melihat ponselnya itu.
“Belum, dia bilang sekarang Stella masih belum bisa bangun. Awal-awal kehamilannya begitu berat, aku saja tidak sanggup membayangkannya.” Matt menghela napas. Dia ikut duduk di atas sofa, sesekali tersenyum saat jagoan laki-lakinya menggeliat saat tidurnya terganggu karena Aletta terus menciumi pipi gembulnya.
“Untung Ana tidak begitu,” ujar Matt.
“Hemm, untung Mattea ku juga tidak seperti itu.”
Tidak lama setelah itu, David dan Aira masuk kedalam ruang rawat Ana.
“Sudah siap semuanya?” tanya David. Dia mendekat pada Ana, lalu mengusap puncak kepala anak perempuannya itu. Matanya tersenyum bahagia, saat melihat anak perempuan yang selama ini menjadi gadis kecil kesayangannya, kini sudah menjadi seorang ibu. Ibu dari seorang bayi tampan yang sangat menggemaskan.
“Apa masih terasa nyeri, Sayang?" tanya David pada Ana. Anak perempuannya itu menggeleng.
“Tidak terasa lagi setelah dia lahir, Dad!” ujar Ana tersenyum. Mata benar-benar memancarkan aura bahagia.
“Selamat ya, Sayang. Sekarang putri kecil Daddy sudah menjadi seorang ibu, jadilah ibu yang baik untuk anakmu nanti, Sayang.” Ana memegang tangan David, dia mengangguk yakin. Senyuman di bibirnya tidak pernah surut.
“Baiklah, ayo kita pulang sekarang!”
Matt menggendong Ana, meletakkan wanitanya itu di atas kursi roda. Karena dia tidak ingin Ana kelelahan sedikitpun. Saat melihat perut Ana yang di belah, rasanya Matt yang kala itu menemani Ana di ruang persalinan tidak sanggup. Begitu besar perjuangan istri ini untuk melahirkan anaknya. Dia bahkan jadi mengingat Stef yang sedang menunggu kedatangan mereka di mansion sekarang.
“Aku bisa berjalan, Kak!” ujar Ana gemas. Bahkan, saking posesifnya, Matt bahkan tidak memperbolehkan Ana untuk mengupas kulit jeruk. Cih, bahkan orang patah tulang pun bisa melakukannya.
“Diamlah Ana!” ujar Matt. Rombongan keluarga besar itu berjalan menuju lift. Aletta yang berada didalam gendongan Thomas sepeda sudah terlelap.
Baby Jeo tertidur pulas dalam balutan selimut tebal, supaya hawa dingin tidak masuk kedalam tubuhnya.
...***...
“Arthur, aku ingin ikut!” Arthur memijit pelipisnya yang terasa sakit. Bagaimana tidak, istrinya ini merengek untuk minta ikut pergi bersama ke mansion keluarga Alexander. Tapi untuk mengangkat kepalanya saja dia tidak sanggup.
“Sayang, kalau begini aku tidak jadi pergi saja. Aku akan bilang pada Tuan muda nanti!” Arthur kembali duduk di sisi ranjang. Matanya menatap wanita yang tampak semakin tembem itu dengan iba.
“Tidak! Pergilah, aku akan disini saja!” Stella mengalah akhirnya. Wanita itu kembali membenamkan wajahnya kedalam selimut.
“Tidak. Aku akan menemanimu disini.” ujar Arthur. Dia kembali membuka kancing kemeja yang sebelumnya sudah terpasang di tubuhnya.
“Tidak! Pergi saja, aku tidak apa-apa!” ujar Stella.
Arthur menghela napas. “Tapi aku tidak tenang meninggalkanmu di sini sendiri, Sayang!” ujar Arthur. Stella langsung menggeleng.
“Pergi saja,”
“Baiklah. Aku akan kembali dengan cepat!” lagi-lagi Stella mengangguk. Arthur memasang mantelnya, juga memakai syalnya. Laki-laki itu kemudian mendekat pada Stella dan mencium kening wanita itu.
“Aku pergi, aku tidak akan lama. Aku berjanji padamu!” Stella mengangguk. Badannya terlalu lemas untuk banyak bergerak saat ini. Arthur menutup pintu kamar, lalu berjalan keluar. Laki-laki itu berkali-kali menghela napas.
Sudah cukup lama Arthur pergi, tapi Stella tidak juga bisa memejamkan matanya. Hingga bunyi dering ponsel membuat wanita itu berusaha meraih ponselnya yang terletak di dekat bantal.
“Hallo, Ayah? Ada apa?” sapa Stella saat sudah mengangkat telepon tersebut.
“Hallo, Sayang. Tidak ada apa-apa. Ayah saat ini sedang berada di restoran Korea. Sedangkan membeli teobokki. Apa kau juga mau?”
“Ah, makanan pedas itu?” tanya Stella berbinar.
“Iya, apa kau mau. Kalau iya, ayah akan mengantarkannya untukmu!” Stella mengiyakan tawaran ayahnya itu. Dia jadi ngiler sendiri saat membayangkan rasa dari makanan pedas tersebut. Semoga saja perutnya tidak mual saat memakan makanan itu nanti.
Sambungan telepon tersebut terputus. Stella mencoba untuk bangkit dari tidurnya. Badannya benar-benar sangat lelah sekarang. Tidak ada makanan apapun yang masuk kedalam perutnya. Bahkan, dengan air susu saja, Stella mual.
Kepalanya terasa pening, Stella mencoba dengan perlahan untuk mengambil air yang ada di atas meja nakas. Cukup sedikit, karena rasanya gelas kaca itu terasa sangat berat untuk Stella angkat.
Wanita itu menghela napas berulang kali. Disaat seperti ini, dia jadi sangat merindukan Arthur. Suami tampannya yang selalu siap sedia di setiap saat.
Cukup lama Stella terduduk dengan pandangan yang berputar-putar. Hingga suara bel apartemennya berbunyi. Stella meraih ponselnya. Untuk menghubungi ayahnya.
“Hallo, Sayang. Ayah sudah di depan, kau di mana?” Stella menghela napas.
“Ayah masuk saja, password-nya xxxxx. Setelah itu langsung saja ke kamarku.”
Setelah itu sambungan telepon tersebut terputus. Hingga tidak lama setelahnya, pintu kamar besar itu terbuka.
“Apa kau baik-baik saja, Sayang?” tanya Ayah Stella dengan nada khawatir.
“Aku baik-baik saja, Ayah. Ayah tidak usah khawatir!” laki-laki paruh baya itu mengangguk. Walaupun tatapan mata cemas tidak hilang dari kedua bola matanya.
“Dimana suamimu?” tanya ayah Stella.
“Dia ke mansion Tuan Max, untuk ....”
Ceklek....
“Sayang?” Stella tidak melanjutkan kata-katanya yang tadi. Dan melirik terkejut ke arah Arthur.
“Ayah?” tanya Arthur kaget.
“Arthur?” Laki-laki paruh baya itu langsung berdiri.
“Tidak apa-apa, Ayah. Duduk saja!” tahan Arthur saat melihat ayah mertuanya itu berdiri.
“Kenapa kau kembali secepat ini?” tanya Stella.
“Hmmm, aku sudah minta izin pada Tuan Thomas, aku tidak tenang meninggalkanmu sendiri disini.”
Ada rasa haru yang mendera dada laki-laki tua yang duduk di sisi ranjang Stella. Anak perempuannya begitu di cintai oleh laki-laki yang menjadi suami anaknya ini. Tidak salah kalau dia menyetujui hubungan kedua orang tersebut.
“Ayah bawa apa?” Arthur mengalihkan pembicaraan, melirik pada kantong yang belum di letakkan oleh ayah Stella. Laki-laki itu tertawa kecil.
“Aku membelikan Stella teobokki, semoga saja dia tidak mual saat memakannya.”
Arthur ikut tertawa.
“Semoga saja, Yah. Anakku itu sepertinya sangat bandel dan pemilih makanan,” Stella tertawa mendengar perkataan Arthur. Sedangkan ayahnya juga.
“Sewaktu mengandung Stella, ibunya dulu juga seperti itu.” ada nada getir di sana. Stella menyadari itu, ayahnya masih sangat mencintai mendiang istrinya itu. Bahkan, kini laki-laki tua itu memilih untuk tidak menikah lagi, dan membesarkan Stella penuh dengan kasih sayang, seperti seorang ibu dan ayah.
“Ayah, ayo buka kotaknya. Aku sudah tidak sabar sekarang!” Stella mengalihkan pembicaraan. Dia melirik antusias pada plastik yang ada di tangan ayahnya itu.
“Aku akan menghidangkannya!” ujar Ayah Stella. Arthur dan Stella mengangguk. Laki-laki tua itu berjalan keluar kamar.
“Hemm, mau aku gendong?” tanya Arthur tersenyum jahil. Wanita yang menjadi istrinya itu mendengus.
Arthur langsung menggendong Stella keluar kamar, menuju ruang keluarga. Wanita itu tidak sanggup menahan bau makanan yang ada di ruang makan, maka kini mereka akan makan di ruang keluarga saja.
Ayah Stella berjalan dengan beberapa mangkuk di tangannya.
“Ayo habiskan, aku yakin, cucuku itu tidak akan membuat ulah sekarang!”
...****...
Natal tahun ini sangat berbeda bagi keluarga besar Alexander. Ada tiga orang cucu yang ikut merayakan hari besar tersebut. Semua orang sudah berada dalam mansion. Setelah selesai menjalankan ibadah di gereja.
Aletta memakai gaun berwarna pink dengan topi santa. Gadis kecil itu sangat antusias saat membuka kado, maupun menghias pohon natal. Kelap-kelip hiasan di pohon Natal mampu membuat sudut bibir Aletta melengkung. Dia memasang puncak pohon itu dengan senyuman riang karena di gendong oleh Matt.
“Ayo buka kadomu, Princess!” ujar Matt. Laki-laki itu sama bersemangatnya dengan Aletta. Ayah dari satu orang anak itu tertawa lebar. Ana yang melihat tingkah suamiku seperti itu hanya mampu menggelengkan kepala.
“Kekanak-kanakan sekali dia!” ujar Ana tertawa. Mattea yang duduk di samping Ana, sedang menyusui baby Fazio ikut tertawa.
“Kau baru sadar?” ujar Mattea. Ana menoleh pada wanita menyusui yang sama sepertinya itu, lalu mereka tertawa bersama.
“Uncle, apa yang sedang di tertawakan oleh wanita-wanita itu?” Aletta melirik Matt dengan ekor matanya, mulutnya memberi kode yang membuat laki-laki itu tertawa.
“Kau juga wanita, Al!” ujar Matt. Bibir mungil itu mengerucut.
“Aku kan masih kecil, aku masih gadis!” ujar Aletta. Matt tertawa lebar mendengar perkataan keponakannya itu. Dia mengusap topi santa Aletta yang membuat gadis kecil itu merenggut kesal
“Banyaknya kado-kado ini!” Aletta berbinar saat selesai membuka bungkusan kado itu, Matt tersenyum lebar.
“Dari semua kado ini, kado mana yang paling kau sukai?” tanya Matt. Aletta menelisik setiap barang-barang yang sudah dia buka dengan paksa itu. Bibirnya mengerucut sebal.
“Tidak ada!” ujar Aletta ketus.
“Lalu? Kau tidak suka kadonya?” tanya Matt tidak percaya. Aletta menggeleng.
“Aku lebih suka Zello!”
****
Jangan tinggalin buku ini, 😭
Silahkan berkunjung, gaeesss