
Setelah Max selesai dengan semua pekerjaannya, ia menatap pada Stef yang tertidur didepan televisi. Sepertinya istrinya itu kekenyangan dan juga kelelahan seharian ini, walaupun waktunya hanya dihabiskan untuk menonton televisi.
Max sengaja untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, itu semua juga mempunyai alasan, yaitu agar bisa untuk membawa Stef berbulan madu.
Max berjalan ke kamar mandi setelah sebelumnya ia mengambil handuk terlebih dahulu. Max sengaja untuk tidak membangunkan Stef agar ia bisa mandi dengan tenang, dan itupun juga memiliki alasan.
Masuk kedalam bathtub setelah melepaskan pakaiannya Max berendam cukup lama disana, sembari memikirkan caranya untuk dia menghadapi Justin nantinya.
"Sebenernya apa alasan pria itu hingga mengejar aku dan Stef sampai kemari?" ucap Max bermonolog dengan pemikirannya sendiri. "Apa yang aku tidak tahu disini?" ucap Max lagi.
Max menggosok badannya dengan sabun sembari terus berfikir hingga ia teringat akan ayah tiri Stef.
"Oh my goodness, how could I be this stupid? Of course I can find information from the traitor man!(Oh astaga, kenapa aku bisa sebodoh ini, tentu saja aku bisa mencari informasi dari lelaki penghianat itu!)" ucap Max menepuk keningnya sendiri hingga ia di kejutkan oleh suara Stef.
"Apa yang kau katakan?" ucap Stef yang membuat Max kaget setengah mati yang sudah berdiri didekat shower, Max yang membelakanginya hingga membuat ia tidak menyadari keberadaan Stef.
"Astaga, sejak kapan kau masuk?" tanya Max berbalik tanpa menjawab pertanyaan Stef. Ia menatap Stef dengan wajah baru bangun tidur itu, sungguh imut sekali.
"Sejak kau sibuk melamun, apa yang kau pikirkan?" tanya Stef lagi berdiri dengan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Tidak ada apa-apa! Ayo kemari mandi bersamaku," ucap Max mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, kau duluan saja!" ucap Stef menolak.
"Hei, jika kau tidak ingin mandi kenapa masuk kesini? Ah sudahlah salah kau sendiri yang sudah berani masuk kesini," Max langsung berdiri lalu keluar dari bathtub tersebut hingga Stef yang melihatnya langsung memekik kaget lalu menutup matanya.
"Ah kau menodai mataku," ucap Stef dengan wajah memerah menutup matanya.
"Apa kau bilang? Menodai matamu? Aku bahkan sudah menodaimu," ucap Max dengan seenaknya tanpa memikirkan Stef yang sedang tertunduk malu saat ini.
"Ah bicaramu vulgar sekali," ucap Stef.
"Sudah, ayo sini mandi bersamaku," ucap Max tersenyum jahil.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Stef menatap Max curiga.
"Menurutmu aku kenapa?" Max bertanya balik pada Stef membuat istrinya itu merenggut kesal.
"Aku mencium ada sesuatu yang tidak enak akan terjadi disini," ucap Stef mengerling malas.
"Kau sungguh peka sekali sayang," ucap Max berjalan mendekat.
"Mundur!" ucap Stef dengan nada sok tegas, padahal sebenarnya saat ini ia sungguh deg—degan.
"Tidak mau, pokoknya kau harus mandi bersamaku saat ini," Max langsung memeluk Stef lalu membawa wanitanya itu untuk masuk kedalam bathtub, membuat pakaian yang dikenakan oleh Stef basah semua.
"Astaga, apa yang kau lakukan, pakaianku jadi basah semua!" ucap Stef menatap Max kesal. Sedangkan Max hanya menggedikkan bahu membuat Stef mengerling.
"Sini aku bantu lepaskan," ucap Max. Ia lalu membuka resleting baju bagian belakang Stef, menurunkannya dengan hati-hati supaya tidak tersangkut di rambut Stef.
"Sudah?" tanya Stef pada Max membuat lelaki itu gelagapan.
"Kenapa aku tidak bisa menahan diri?" ucap Max dalam hati kepada dirinya sendiri. "Oh tuhan tolong kuatkan aku," ucap Max menggigit bibir bawahnya.
"Ada apa?" tanya Stef lagi membuat pikiran Max buyar.
"Oh tidak, ini sudah selesai!" ucap Max mencoba menahan diri. Sesuatu bagian bawahnya menegang dan membuat Max menelan salivanya kasar.
"Terimakasih," ucap Stef singkat. Wanita itu lalu membuka bajunya, dan Stef dengan sengaja meliukkan tubuhnya menggoda Max membuat lelaki itu frustasi.
"Rasakan kau," ucap Stef tersenyum jahil, setelah itu selesai membuka pakaiannya.
"Ada apa?" tanya Stef berpura pura tidak tahu. Padahal sebenarnya ia merasakan sesuatu yang mengganjal dibawahnya.
"Tidak ada apa-apa, sudahlah sebaiknya kau cepat selesaikan mandimu!" ucap Max dengan nada frustasi.
"Kenapa?" tanya Stef berpura-pura bodoh.
"Oh ayolah, apa kau kini sedang menggodaku?" tanya Max akhirnya.
"Siapa juga yang menggodamu," ucap Stef mengelak, padahal sebenarnya ia ingin sekali untuk tertawa melihat wajah Max yang kini sudah memerah.
Max langsung berdiri keluar dari dalam bathtub mengguyur badannya dengan air shower yang dingin, lalu terburu-buru mengambil handuk untuk keluar dari kamar mandi, meninggalkan Stef yang tergelak melihatnya.
"Makanya, siapa suruh untuk menggodaku," ucap Stef tertawa jahil.
*"*"*"*"
Max dan Stef berjalan kearah lift, rencananya mereka akan makan malam di restoran hotel, setelah menjahili Max tadi Stef terus saja tertawa dan menggoda suaminya itu.
"Kau ingin makan apa?" tanya Max saat mereka sudah ada di private room restoran tersebut. Karena Max adalah anak dari pemilik hotel tersebut jadi ia bisa dengan seenaknya makan dimana pun yang dia mau, tidak akan ada yang berani menolaknya.
"Apa saja, yang penting enak!" jawab Stef seadanya.
"Disini makanannya enak semua," ucap Max gemas.
"Ya sudah, kalau begitu pesan semuanya saja," ucap Stef singkat tanpa mempedulikan akibatnya nanti, karena ia sedang fokus pada ponselnya bermain game Ludo.
"Baiklah," jawab Max singkat. "Tapi nanti kau harus menghabiskan semuanya!" ucap Max tersenyum jahil.
"Tentu, aku tidak suka membuang makanan," ucap Stef yakin dengan tatapan yang tidak lepas dari ponselnya membuat Max kesal.
"Jangan menyesal nanti," setelah mengucapkan itu Max memanggil pelayan restoran tersebut.
"Ich habe alle Menüs hier bestellt,(Aku pesan semua menu yang ada disini,)" ucap Max membuat pelayan tersebut mengernyitkan keningnya. Tapi dia memilih bungkam. Pelayan tersebut lebih sayang pekerjaannya dari pada rasa penasarannya.
"Was ist dein Getränk?(Minumannya apa tuan?)" tanya pelayan tersebut.
"Alles!(Semuanya!)" jawab Max yang kembali membuat pelayan itu terkejut.
"Okay, bitte warten Sie, Sir Luciano,(Baiklah, silahkan di tunggu tuan Luciano,)" setelah itu pelayan tersebut pun pergi, kini tinggallah hanya ada Stef yang menatap heran pada Max.
"Kenapa kau memesan banyak sekali?" tanya Stef saat ia sudah meletakkan ponselnya diatas meja.
"Bukankah tadi kau ingin memakan makanan yang enak?" tanya Max.
"Iya," jawab Stef singkat.
"Itu sudah aku pesankan semuanya yang enak disini, tapi kau kini masih saja bertanya," ucap Max dengan santainya tanpa memperhatikan wajah Stef yang menatapnya tidak percaya.
"Apa? Astaga, kau benar-benar menyebalkan!"
.
.
.
TBC.
Love❤️❤️❤️ EgaSri.