My Devils Husband

My Devils Husband
61. Buah Ceri



Max melajukan mobilnya meninggalkan area parkir. Jalanan pagi ini cukup padat, karena banyak kendaraan yang berlalu lalang mengantarkan pemiliknya menuju tempat tujuan masing-masing, baik itu bekerja atau sebagainya.


Entah angin apa, rasanya Max ingin sekali makan buah Ceri, membayangkan bagaimana buah kecil berwarna merah itu masuk kedalam mulutnya dan rasa manis dari buah itu meluber di mulutnya, membuat Max rasanya ingin cepat-cepat memakannya.


“Aku harus cepat-cepat tiba di kantor!” ujar Max menambah laju kendaraannya.


****


“Bianca, apa David dan Thomas sudah datang?” tanya Max pada sekretarisnya. Wanita itu berdiri menyambut kedatangan Max. Dia menundukkan kepalanya sopan.


“Sudah Tuan, tidak lama sebelum tuan datang, mereka tiba disini.” ujar Bianca menjelaskan dengan sopan. Dia menatap Max tersenyum, tapi tidak dibalas oleh lelaki itu.


“Baiklah, terimakasih!” setelah mengatakan itu Max berjalan menuju ruangannya, lalu membuka pintu. Ia melihat David dan juga Thomas disana yang duduk di atas sofa dan mereka terlihat fokus pada berkas-berkas yang ada di tangan masing-masing.


“Hei kalian,” ujar Max yang membuat keduanya langsung menoleh pada lelaki itu.


“Ada apa?” tanya David melirik sekilas. Setelah itu matanya kembali fokus pada berkas yang ada di tangannya, mengabaikan Max yang masih berdiri disana dengan wajah kesal.


“Carikan aku buah Ceri!” ucap Max yang membuat kedua laki-laki itu langsung menoleh lagi padanya.


“Apa?” tanya David mengulang pertanyaannya, memastikan kalau dia tidak salah dengar.


“Iya, Carikan aku buah Ceri!” ucap Max lagi. Laki-laki itu berjalan menuju kursi putar kebesarannya yang terlihat mahal. Ia mendudukkan tubuhnya disana dan meletakkan tangannya dibelakang kepala.


“Buah Ceri? Untuk apa?” tanya Thomas bingung. Sejak kapan Max menyukai buah Ceri? Bukankah laki-laki itu tidak menyukai buah kecil tersebut.


“Ya untuk aku makan lah! kalian ini, kalau bertanya itu yang berbobot sedikit dong.” Max malah memarahi kedua lelaki tak berdosa tersebut. Thomas dan David saling berpandangan, mereka bingung dengan perubahan sikap Max akhir-akhir ini.


“Bukankah kau tidak menyukai buah Ceri?” tanya David yang tau kebiasaan Max. Ucapan David itu juga diangguki oleh Thomas.


“Benar Bos, sejak kapan kau suka makan buah Ceri?” tanya Thomas bingung.


“Sejak hari ini. Pokoknya kalian Carikan aku buah ceri.” titah Max yang tidak mungkin untuk dibantah.


“Tapi dimana kami akan mencari buah Ceri Max, astaga.” David berdecak kesal. bukannya malah memikirkan perusahaannya yang sedang terkena masalah, kini Max malah menyibukkan dirinya untuk mencari buah Ceri.


“Kau cari saja, banyak di sekitar sini aku melihat pohon Ceri.” ujar Max dengan seenaknya.


“Kenapa tidak kau saja yang mencari buah itu? Kan kau yang menginginkannya, kenapa kau harus menyuruh aku?” tanya David dengan kesal.


“Tapi aku ingin kalian berdua yang mencarinya!” ujar Max membuat David dan juga Thomas menghela nafas kasar.


“Aih, sudahlah. Kau membuatku kesal!” David berjalan keluar diikuti oleh Thomas. David terlihat menggerutu disepanjang perjalanan mereka. Bagaimana tidak, disaat genting dan gawat seperti ini, Max malah meminta yang aneh-aneh padanya dan juga Thomas.


“Apa kau memikirkan seperti yang aku pikirkan David?” tanya Thomas pada David yang dari tadi selalu saja mengoceh.


“Apa?” tanya David tidak paham.


“Tentang permintaan Max yang aneh-aneh ini?” tanya Thomas. David terlihat mengangguk sebentar.


“Dia terlihat sedikit berbeda beberapa hari ini.” ujar David memikirkan segala perbuatan Max yang sedikit aneh menurutnya. Mereka sudah tiba dilantai dasar Alexander Corp.


“Kau yang menyetir!” ucap David diangguki oleh Thomas.


Keduanya masuk kedalam mobil yang terparkir di parkiran khusus gedung Alexander Corp, kedua lelaki tampan itu melihat-lihat jalanan sekitar kota Frankfurt, untuk melihat apakah mereka melintasi pohon Ceri.


***


“Kenapa aku sangat menginginkan buah kecil itu?” tanya Max pada dirinya sendiri. Karena bosan menunggu kedatangan David dan juga Thomas yang lama menurutnya, Max memutuskan untuk membuka Laptop dan mengambil berkas yang tadi dikerjakan oleh kedua laki-laki yang disuruh untuk memenuhi perintahnya yang aneh-aneh itu.


“Kenapa semuanya jadi ribet begini?” kesal Max frustasi.


***


“Maria, ayo kita keluar?!” ajak Stef pada teman barunya itu. Maria lantas mengangguk lalu membereskan buku-bukunya dan berjalan mengikuti Stef.


“Apa kau sudah lama kuliah disini?” tanya Stef heran. Pasalnya sebelumnya selama dia kuliah disini dia tidak pernah melihat Maria sekalipun.


“Tidak. Aku baru, mungkin aku masuk ketika kau libur.” jawab Maria seperti yang dikatakan oleh Max padanya. Stef terlihat mengangguk mendengar penjelasan Maria yang masuk akal.


“Apa kau ingin ke kantin?” tanya Maria, Stef mengangguk sebagai jawaban. Kedua wanita cantik itu berjalan beriringan menuju kantin kampus. Saat melihat ada bangku kosong, keduanya pun duduk disana.


“Kau mau apa? Biar aku yang pesan.” ujar Maria membuat Stef tidak enak hati.


“Tidak usah, biar aku saja.” ujar Stef yang langsung mendapat gelengan kepala dari Maria.


“Tidak! Biar aku saja, kau mau apa?” tanya Maria lagi.


“Aku mau, Nasi goreng saja, dan juga jus lemon.” ujar Stef akhirnya. Maria mengangguk lalu berjalan memesan makanan yang diinginkan oleh majikannya itu dan juga untuk dirinya.


***


“Ini!” ucap David menyodorkan sebuah kantong pada Max yang disambut baik oleh laki-laki itu. Max membuka kantong pemberian David, lalu tersenyum senang.


“Terimakasih.” ucap Max tulus. Laki-laki itu mulai memakan buah kecil berwarna merah itu dengan lahap, membuat David dan juga Thomas meringis.


“Aku masih heran, bukankah kau tidak menyukai buah itu?” tanya David lagi. Dia masih merasa penasaran pada Max yang tiba-tiba menginginkan buah itu.


“David, apa kau sudah mandi?” bukannya menjawab pertanyaan David, laki-laki yang bernama lengkap Maxim Alexander Luciano itu malah menanyakan hal lain pada David membuat orang yang ditanya menjadi semakin kesal.


“Tentu saja aku mandi! Kau tidak lihat, aku tampan dan juga wangi seperti ini?” ujar David kesal. Sedangkan Thomas yang duduk disebelahnya itu hanya menggelengkan kepalanya dan tetap fokus pada berkas yang ada di tangannya.


“Tapi kau bau!” ujar Max membuat David terlihat semakin kesal.


“Ya... Ya.. Ya, suka-suka kau.” ujar David pasrah.


“Thomas, kau gantikan posisi David, duduk di sebelahku, dan kau,....” Max menunjuk pada David. “Pindah ke posisi Thomas.” perintah Max yang semakin membuat David kesal.


“Kau.....,” tunjuk David pada Max


“Apa?” tantang laki-laki itu.


“Kau menyebalkan! Seperti wanita hamil saja!” gerutu David lalu pindah posisi dengan Thomas.


.


.


.


.


Miss you guys😗