
Pergelaran pesta yang di sponsori oleh Matteo itu berjalan lancar. Pesta yang bisa di bilang cukup meriah itu hampir berakhir. Matt dan Ana sudah kembali ke kamar hotel mereka. Begitupun dengan Thomas dan Mattea. Pasangan yang katanya muda itu, juga mau menjalani yang namanya malam pertama. Walaupun itu sudah usang, dan mereka juga sudah berbuntut.
Semua kolega bisnis Max datang untuk menghadiri acara pernikahan itu. Karena Max sendiri juga sudah mengumumkan kalau Arthur sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Semua orang bergembira, terlebih lagi pada dua pasang pengantin baru itu.
“Sayang, apa kau tidak mau menggendongku? Aku ini lelah sekali!” Stella merajuk kesal karena Arthur tidak mengerti, kalau dirinya benar-benar lelah. Dan laki-laki itu tidak romantis sedikitpun. Uhh, menyebalkan!
“Sayang, kau bahkan lebih bugar daripada aku!” mata sang suami mendelik sinis padanya. Sebagai pasangan baru yang baru menikah, mereka itu bisa dibilang tidak ada romantisnya sedikitpun. Karena biasanya pasangan yang baru menikah itu akan bertingkah malu-malu dan juga imut seperti kucing, tapi lihatlah mereka. Tiada hari tanpa bertengkar.
“Cih, laki-laki apa kau ini!” Stella berjalan keluar dari lift. Dia menempelkan access card untuk membuka pintu hotel yang mereka tempati. Arthur ikut masuk. Sama seperti kamar Mattea dan juga Matteo dulu, kini kamar yang di tempati oleh Arthur sama mewahnya dengan kamar dua kakak beradik itu, yah walaupun beda hotel.
Stella mendudukkan dirinya di atas ranjang, dan menatap ke sekeliling kamar yang dia tempati ini. Ada sofa dan juga meja kecilnya, televisi besar, lemari pendingin mini, meja rias besar, mini kitchen, mini bar, balkon juga ada, dengan gorden besar yang menutupi kaca, dan sepertinya juga ada ruang ganti. Jangan lupakan tempat tidur king size yang sedang didudukinya ini.
Setelah puas untuk melihat-lihat, dia bangkit dan berjalan menuju meja rias yang ada di sana. Dan secara perlahan membuka hiasan kepalanya. Arthur yang melihat Stella melakukannya sendiri hanya menghela napas. Lalu melihat ponselnya, sepertinya laki-laki itu masih belum berminat untuk membuka pakaiannya yang melekat di tubuhnya seharian ini.
Stella berjalan menuju kamar ganti, lalu mengambil handuk dan berlalu menuju kamar mandi. Cukup lama gadis itu di dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dan berendam didalam bathub yang berisi air hangat, supaya menyegarkan tubuhnya yang sudah lelah seharian ini, hingga dia memutuskan untuk keluar setelah mengeringkan rambutnya.
“Aaakkkhhh ....” Stella berteriak kaget saat melihat Arthur berdiri di depan pintu kamar mandi. Laki-laki itu menatapnya heran.
“Kenapa kau ada disini?” tanya Stella. Eh? Lupa kah wanita itu kalau dia sudah di persunting oleh laki-laki yang ada di hadapannya ini? Kalau iya, ini sebuah penghinaan besar bagi Author! Ayo serang dia!!!
“Apa kau sudah pikun? Baru tadi kita mengucap janji, dan kau sudah lupa?” Arthur bersidekap dada, melihat wanita yang sudah membangkitkan gairahnya itu. Badan putih bersih yang hanya di balut handuk itu tampak sangat menggoda. Dan lihatlah, yang menjadi objek pembangkit gairah suaminya itu hanya melongo dengan wajah polosnya saja.
“Hehe, maaf, Sayang. Aku lupa! Baiklah, kalau begitu cepatlah mandi, aku mau ganti baju dulu!” mengabaikan Arthur yang masih berdiri di tempatnya, Stella berjalan menuju ruang ganti, melihat isi lemari besar yang ada di sana. Ingin mengambil kopernya, karena pakaiannya berada di sana.
Stella mengambil koper besar itu, lalu membukanya. Matanya membelalak lebar saat melihat isi kopernya itu yang sudah berubah, tidak sama dengan isi koper sebelumnya.
“Apa ini benar-benar koperku?” tanya Stella pada dirinya sendiri. Karena rasanya dia tidak memasukkan baju tidur kurang bahan ini kedalamnya. Karena dia sudah menyiapkan kaos oblong seperti dia tidur biasanya, dan kenapa sekarang jadi berganti.
Stella keluar kamar, dia mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, hendak menelepon ayahnya.
Tapi, pesan dari Ana membuatnya mengernyitkan dahi.
Aku tau kau akan membawa baju sendiri dengan koper yang sudah kau siapakan, Nyonya Arthur, maka dari itu aku mengganti isi kopermu dengan pakaian layak pakai, jadi nikmatilah malam ini dengan baik. Jangan marah padaku, ya. Karena aku sudah minta izin pada kak Matt. ^_^ Selamat bersenang-senang.
“Arrggghhh, Nona muda! Bagaimana ini? Tidak mungkin aku pakai pakaian yang sudah dia ganti itu!” Stella mengusap rambutnya kasar. “Hiks, dia bahkan sudah mempersiapkan semuanya disini. Lalu, dimana pakaianku?”
Cklekk...
Pintu kamar mandi terbuka, Arthur tampak berdiri di sana, melirik pada Stella yang tampak terkejut itu. Handuk masih melekat di tubuhnya yang putih mulus.
“Apa kau berniat untuk tidur dengan handuk, Nyonya?” tanya Arthur dengan nada bercanda. Dia sedang mati-matian menahan dirinya saat ini. Cih, sok-sokan jaim kalian!
Stella memerah padam. Bagaimana ini? Dia bertanya pada dirinya sendiri. Tanpa menjawab pertanyaan Arthur, dia melesat menuju ruang ganti, dan memakai salah satu pakaian pilihan Nona muda, istri dari boss nya itu.
Arthur juga masuk kedalam ruang ganti, untung saja Stella sudah memakai pakaiannya, yah, walaupun tetap membuat laki-laki itu terkejut sih.
“Aku akan tidur duluan!” Stella buru-buru keluar dari ruang ganti, dan berdiri di depan meja rias sebentar. Untung saja rambutnya sudah dia keringkan dengan hairdryer di dalam kamar mandi tadi.
Arthur keluar dari ruang ganti dengan menggunakan celana pendek. Dia melihat pada Stella yang sudah meringkuk di atas tempat tidur dengan berbalut selimut tebal. Laki-laki itu terkekeh gemas, karena dia tau, kalau saat ini, istrinya itu sedang menghindarinya.
“Aku rindu menjahilinya!” Arthur ikut naik ke atas tempat tidur. Dia juga masuk ke dalam selimut, dan memeluk Stella yang membelakanginya.
“Apa kau benar-benar sudah tidur, Sayang?” tanya Arthur dengan suara serak. Dia menghembuskan napasnya di tengkuk Stella, membuat gadis yang sedang berpura-pura tidur itu menjadi merinding.
Stella mencoba untuk menahan diri, agar tidak berbalik. Sia-sia usahanya untuk pura-pura tidur tadi, kalau suaminya ini tau, bahwa dia tidak tertidur.
“Sayang, ini malam pertama kita, loh?!” Arthur mencium tengkuk Stella membuat gadis itu menggigit bibirnya. Stella berbalik, lalu memeluk tubuh suaminya itu.
“Aku lelah sekali, bisa kita tunda besok saja?” gadis itu membenamkan wajahnya didalam dada bidang Arthur. Pelukannya erat, dan matanya terpejam.
“Baiklah, aku juga sangat lelah hari ini. Mari tidur!” walaupun sedikit kecewa, tapi Arthur tau, kalau Stella benar-benar lelah.
Kedua pengantin baru itu memejamkan mata mereka, sedangkan pengantin baru jadi-jadian, kini sedang berperang dengan waktu, dengan tubuh yang basah oleh keringat, dan juga napas yang cepat.
Matt tumbang, dan terbaring di samping Ana. Laki-laki itu mencium kening sang istri, dan menggumamkan kata terimakasih.
“Sayang ....” dalam keheningan, Ana membuka suara.
“Hemm?” jawab Matt seadanya. Dia sedang mengusap-usap perut Ana yang sudah sedikit menyembul itu dengan sayang.
“Aku sungguh penasaran dengan malam pertama Arthur dan Stella!” Matt memutar mata jengah. Sedari tadi, hanya itu yang selalu di sebut-sebut oleh istrinya itu.
“Apa kau bisa berhenti memikirkan malam pertama mereka? Aku tidak peduli Ana, itu urusan mereka, dan juga memang sudah seharusnya mereka melakukan malam pertama, kan? Kita saja juga baru selesai ritual malam pertama!” Ana memukul dada bidang Matt kesal.
“Aku tidak tau, tapi aku sangat ingin mengetahuinya! Apa kita mengintip saja, ya?” Matt memijit hidungnya. Dia menatap Ana gemas dengan ide konyol yang diucapkan oleh wanita itu barusan. Mengintip? Ah, Matt tidak dapat membayangkan seperti apa dia dan Ana mengintip kedua orang yang menurut imajinasi istrinya sedang berpacu dengan kecepatan dan keringat itu. Yang benar saja! Sepertinya istrinya itu sedikit gila.
“Kenapa kau ini pengen tau semuanya, sih? Biarkan mereka, An! Astaga, kau benar-benar membuatku tidak habis pikir!” bibir tipis Ana mengerucut lucu. Keinginannya sangat besar saat ini, tapi tidak mungkin dia mendatangi kedua orang itu kan? Yah, walaupun sebenarnya mereka tidak melakukan apapun malam ini.
“Ini keinginan anakmu, kak!” ujar Ana akhirnya.
“Aku tidak percaya! Anakku tidak mungkin punya keinginan mesum seperti itu! Sudah, sebaiknya kita tidur sekarang. Besok kita tanyakan pada kedua orang itu agar kau puas!”
“Aaa, aku penasaran sekali!” Matt menghembuskan napas kasar. Dia benar-benar tidak percaya, mana mungkin istrinya ini mengidam seperti itu? Tidak masuk akal sekali. Matt berdoa dalam hati, supaya anaknya nanti tidak memiliki sifat seperti Ana sekarang. Masih dalam kandungan saja sudah mesum, apalagi nanti. Hadeehhh.
“Sudah, daripada kau memikirkan malam pertama mereka, sebaiknya kita ulang saja malam pertama kita lagi, supaya kau puas dan tidak penasaran seperti ini! Ayo!”
“Aaaa, tidak mau, aku mau tidur! Jangan ganggu aku!”
****
...dahlah😶...