
Sepanjang acara pernikahan Matteo dan Ana berlangsung, Mattea terus saja mengalami mual, bahkan dia tidak melihat prosesi pemberkatan saudara kembarnya itu.
“Sayang ....”
Mattea langsung melayangkan tatapan tajam pada laki-laki yang mendekat padanya itu.
“Jangan mendekat, kau bau Uncle!”
“Astaga, dia memanggilku, uncle lagi!” Thomas mendengus dalam hati.
“Sayang, aku tidak bau. Aku bahkan sudah mandi lima kali hari ini, supaya bisa membantumu untuk mengusap punggungmu itu, Sayang,”
“Aku bilang bau, ya, bau! Memangnya hidungku salah?”
“Iya hidungmu yang salah, bukan aku!” Ingin rasanya Thomas mengatakan itu, tapi tentu dia tidak akan se-tega itu. Mattea hamil juga karena dirinya, jadi disini dialah yang bertanggungjawab penuh akan hal ini.
“Ayo kita ke dokter saja, Sayang,” Mattea menggeleng. Wanita itu duduk bersandar di atas tempat tidur. Dia duduk dengan lemas karena mulutnya sudah banyak mengeluarkan makanan yang dia makan sebelumnya.
“Tidak usah. Lagipula ini wajar untuk trimester pertama kehamilan.” Thomas mengangguk, dia juga paham akan hal itu.
“Apa sekarang kau mau melihat pestanya Matt?” Mattea tampak berfikir sebentar. Lalu dia menggeleng.
“Tidak! Pasti di sana mereka itu bau-bau. Dan anakku tidak suka itu!”
Thomas mengelus dada mendengar jawaban Mattea. Andai saja ada orang lain yang mendengar perkataan wanita itu, habislah dia saat ini.
“Lalu sekarang kau mau apa?”
“Aku mau istirahat saja! Uncle temani aku, aku mau tidur dulu.” Mattea membaringkan tubuhnya. Lemas akibat muntah tadi membuat mata Mattea terpejam dengan cepat. Thomas hanya mengamati dari sofa yang sudah berpindah tempat lebih jauh dari sebelumnya, karena sedikit saja dia mendekat, maka Mattea akan langsung marah-marah pada Thomas.
Karena hari yang juga sudah semakin sore, membuat Thomas akhirnya memejamkan mata. Dia tidak akan setega itu membiarkan istrinya sendiri disini, sedangkan dia berkeliaran di pesta Matt.
...*****...
“Hiks ... hiks ....”
Thomas terkesiap saat mendengar suara tangisan istrinya. Dengan langkah sempoyongan, Thomas mendekat pada Mattea yang meringkuk di atas tempat tidur.
“Sayang, ada apa? Kenapa kau menangis?” Thomas hendak mendekat, tapi dia tahan, karena takut Mattea akan marah padanya.
Tangis Mattea semakin kencang. Thomas kalang kabut, tanpa memikirkan apapun, dia langsung mendekat pada sang istri. Dan memeluk Mattea dengan sayang.
“Ada apa, Sayang? Apa kau merasakan sesuatu?” tanya Thomas membelai rambut istrinya. Mattea hanya diam, dia tidak bergerak sedikitpun setelah Thomas memeluknya. Dia menyembunyikan dirinya didalam dada bidang Thomas.
Thomas melihat ke bawah, kedalam pelukannya. Terlihat sang istri kini sedang memejamkan matanya dengan napas teratur.
“Apa ini?” tanyanya pada diri sendiri. Tentu saja Thomas di buat heran, karena tadi dia masih ingat, dan sangat ingat, kalau wanita yang ada di dalam pelukannya ini tidak mau untuk dia dekati, dengan alasan mual dan tidak suka bau tubuhnya.
Thomas kembali membaringkan Mattea dengan hati-hati, seakan wanita itu adalah sebuah lampu kaca tipis yang mudah pecah.
Thomas tidak dapat bergerak karena Mattea memeluknya erat. Membuat laki-laki itu menghembuskan napas kasar.
“Sayang, apa tidak apa-apa, kalau aku ikut berbaring di sampingmu?” Thomas berbisik kecil, tapi tidak ada jawaban. Dia akhirnya merebahkan tubuhnya di samping Mattea yang sedang terlelap.
“Nanti kalau kau bangun, jangan menyalahkan aku, Sayang!” gumam Thomas sebelum memejamkan matanya, dan alam mimpi kembali mendatangi dia.
...****...
Matttea mengerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya dia bangkit duduk. Dia menyadari posisinya, yaitu sedang memeluk Thomas dengan erat.
“Apa-apaan ini? Kenapa dia tidur disini?” gerutu Mattea. Setelah itu dia berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya. Tapi tidak ada yang keluar, karena memang di belum makan, dan setiap makanan yang masuk kedalam perutnya, akan keluar lagi.
Mendengar suara berisik dari dalam kamar mandi, membuat Thomas tersentak. Dia langsung berlari masuk kedalamnya karena pintu kamar mandi tersebut, terlihat terbuka.
“Apa kau tidak apa, Sayang?” tanya Thomas hati-hati. Mattea berbalik menatap Thomas, dia melayangkan satu telunjuknya pertanda bahwa laki-laki itu tidak boleh mendekat.
“Jangan mendekat, semua ini gara-gara kau!” tunjuk Mattea kesal. Thomas menghela napas pasrah.
“Pasti dia mual lagi karena mencium bauku! Dasar kau jagoan kecil, katakan saja kalau kau cemburu pada Daddy, iyakan? Masih dalam perut saja kau sudah posesif seperti ini terhadap Mommy mu, aku tidak yakin aku bisa memiliki istriku lagi nanti, gara-gara kau!”
Sebagaimanapun Thomas menggerutu kesal didalam hatinya, tapi tetap saja dia tidak bersuara.
“Tadi saja kau menangis karena tidur tidak aku peluk, tapi lihat sekarang, kau malah memarahiku lagi!” setelah berkata seperti itu, Thomas berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Dia duduk di atas tempat tidur.
“Sebaiknya, aku ajak dia keluar saja!”
...*****...
Hari sudah malam, dan kini tamu pesta pernikahan Matt dan Ana sudah banyak yang pulang. Thomas dan Mattea tampak baru turun dengan wajah Mattea yang tampak sedikit pucat.
“Atea, kenapa kau kemari? Lihatlah, kau ini pucat sekali!” Matt yang melihat saudari kembarnya tampak tidak baik-baik saja itu terlebih dahulu menegur Mattea. Tapi wanita yang menjadi kembaran Matt itu masih di sana, berdiri dengan menggelengkan kepalanya.
“Aku mau disini Matt, aku lapar,” Mattea berbisik.
“Kau tidak memberikan adikku makan, Uncle?” tanya Matt dengan memicingkan matanya. Thomas hanya mengangkat bahu.
“Bagaimaha bisa aku memberikannya makan, tapi dia saja tidak mau dekat denganku!” ujar Thomas dengan nada suara yang kesal.
“Itu karena kau bau!” ketus Mattea.
“Sudah, jangan bertengkar disini, Atea sebaiknya kau makan sekarang, jangan sampai keponakanku nanti kurus saat di dalam perutmu itu, sana makan!” Matteo membawa saudari kembarnya ke arah hidangan pesta tersedia.
“Kau mau apa? Biar aku ambilkan?!” Mattea menatap malas pada makanan-makanan yang ada di sana, lalu dia menggelengkan kepalanya membuat Matt menatapnya dengan alis terangkat.
“Aku mau Sushi!”
“Disini tidak ada sushi Mattea!” wanita hamil itu lalu melipat tangannya di depan dada.
Thomas yang sedari tadi hanya mengekor menghela napas.
“Nah, kau sendiri pusing, kan?” tanya Thomas yang di jawab anggukan kepala oleh Matt.
Mata kedua laki-laki itu memicing saat Mattea mendekat pada Nicko.
“Mau apa lagi dia?” tanya Thomas ketus, sedangkan Matteo hanya menyembunyikan bibirnya yang mengkerut.
“Uncle, Nick?” Nicko yang kala itu sedang berbincang dengan Max menoleh. Begitupula dengan Maxim sendiri.
“Mattea, Sayang? Ada apa, Nak?” tanya Max dengan lembut. Mattea menggeleng.
“Aku mau bicara dengan Uncle Nick!” Max mengangguk mempersilahkan. Thomas sendiri ikut berjalan mendekat pada sang istri.
“Uncle Nick, temani aku jalan-jalan!” Mattea bersandar manja di lengan Nicko. Thomas yang melihat hal itu mengepalkan tangannya, sedangkan Max terlihat seperti orang yang sedang menahan tawa melihat menantunya yang kesal.
“Maaf Nyonya, tapi jalan-jalan kemana? Ini sudah malam? Dan kenapa bersama saya?” tanya Nicko heran. Dia sangat berharap semoga Mattea tidak meminta yang macam-macam padanya.
“Aku mau makan sushi yang ada di restoran bersama denganmu! Berdua saja!”
“Atea, tapi kau bisa pergi bersama denganku, Sayang?” Thomas menyela, dia berdiri di samping Max menatap tidak suka pada istrinya.
“Tidak mau! Aku tidak mau denganmu! Aku mau bersama dengan paman Nicko saja!”
Mattea bersudekap dada. Tatapan matanya tampak seperti orang yang sedang kesal.
“Sayang, pelayan bisa membuatkannya untukmu! Kenapa kau harus merepotkan Nicko, lagipula kau bisa makan dengan Aletta nanti! Dan ini juga sudah malam, angin malam tidak baik untuk wanita hamil!”
“Aletta sudah tidur bersama dengan Nanny! Dan lagi pula, kami pergi menggunakan mobil, jadi tidak akan kedinginan. Sudah, ayo paman Nick, kita pergi!” Mattea menarik tangan Nicko berlalu dari sana. Sedangkan Thomas tidak henti-hentinya untuk mengumpat.
“Sialan, jauhkan tanganmu Nick!” seru Thomas yang berjalan di belakang kedua orang itu.
“Hei, kenapa kau ikut?” tanya Mattea ketus. Entah ada apa dengan wanita itu, tapi sepertinya dia terlihat sangat kesal pada Thomas. Mungkin itu bawaan bayi dalam perutnya. Dan juga dia tidak tahan dekat-dekat dengan suaminya itu. Cih, dia tidak tau saja kalau tadi saat tertidur dia memeluk suaminya itu dengan erat.
“Aku ikut dengan kalian, atau kau tidak boleh pergi sama sekali?!” Mattea sedikit terkejut mendengar nada suara Thomas yang sudah mulai kesal. Memang sih, kelakuannya sudah melewati batas, tapi kan itu bukan keinginannya sendiri, tapi itu keinginan dari bayinya.
“Ayo, pilih! Aku ikut denganmu atau kau tidak boleh pergi sama sekali?!” Mattea meremas tangannya saat melihat tatapan kemarahan Thomas. Sedangkan Nicko yang berada di antara perdebatan kedua suami istri itu hanya diam menyaksikan.
“Ka—kau marah padaku?” cicit Mattea dengan takut-takut. Thomas menghela napas.
“Sudahlah! Lupakan saja, kalian pergi saja berdua, aku tidak akan ikut! Nick, jaga istriku dengan baik!” Thomas menepuk pundak Nicko sekilas, setelah itu dia berbalik untuk kembali ke gedung.
“Paman Nick, apa aku salah?” tanya Mattea dengan bahu yang bergetar. Nicko yang melihat itu tidak tahu harus melakukan apa.
“Sebenarnya memang salah Nyonya, tapi bukan sepenuhnya salah Nyonya juga, karena itu pasti bawaan dari bayi!”
Mattea semakin menunduk dalam saat mendengar jawaban Nicko.
“Baiklah, kita tidak jadi pergi. Aku akan kembali kedalam!” Nicko menghela napas sangat lega. Dia berjalan mengikuti Mattea yang sudah lebih dulu di depannya.
“Sayang ....” Thomas berbalik menatap Mattea yang sudah kembali. Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Tapi mengabaikan Mattea, dan memilih untuk tetap diam.
“Sayang, maafkan aku. Aku tidak jadi pergi!”
“Lalu? Kalau kau tidak jadi pergi, aku harus apa? Berteriak? Atau melompat?” Mulut Mattea ternganga. Suaminya benar-benar marah.
“Mau kah kau meminta pelayan untuk membuatkan aku sushi?” tanya Mattea lagi.
“Kau bisa menyuruh Nicko melakukannya!”
“Sayang ....”
“Thomas, pergilah! Istrimu sedang hamil!”
Thomas menghela napas. Kalau Max sudah angkat bicara maka dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Baiklah! Ayo!” Thomas berjalan lebih dulu, sedangkan Mattea mengejar di belakang.
“Hei, kenapa jalanmu cepat sekali, Sayang?” Thomas berhenti sebentar.
“Aku hanya sedang berusaha supaya kau tidak mual lagi! Sudahlah, ayo!” Thomas berjalan lagi, sedangkan Mattea berjalan dengan kesal mengikutinya.
“Kenapa sekarang dia tidak bau lagi? Dan juga aku tidak mau di tinggal! Huaaaa ....”
...*****...
“Sudah kenyang?” tanya Thomas. Tadi dia sudah meminta pada pelayanan hotel untuk mengantarkan sushi ke dalam kamar tempat dia menginap.
“Hemm, aku sangat kenyang. Itu enak sekali!” Mattea menjilat sudut bibirnya membuat Thomas mengalihkannya pandangannya.
“Kau mau istirahat sekarang?” tanya Thomas lagi, dan Mattea mengangguk.
“Baiklah, aku akan tidur di sofa, kau tidurlah sekarang!” Mattea menatap Thomas dengan tatapan berkaca-kaca.
“Ada apa lagi, Atea sayang?”
“Kau tidak mau tidur denganku?”
“Ha? Bukankah kau yang tidak mau aku tidur di dekatmu?!”
“Iya, tapi sekarang aku mau kau tidur denganku.” cicit Mattea dengan suara yang kecil.
“Hei, kita tidak akan menandingi malam pertama Matt dan Ana, kan?” Matters terkekeh mendengar perkataan Thomas.
“Kenapa hanya mereka saja? Aku juga mau lah! Ayo temani aku,” mau tidak mau, Thomas harus mengabulkan permintaan sang istri.
.
.
.
.
...***...
Ada yang sadar, gak? Kalau ternyata MALAM PERTAMA nya Mattea dan Thomas ternyata gak ada? Buat yang udah baca waktu itu, kalian beruntung ya😂Karena ternyata setelah beberapa hari lolos review, ternyata naskahnya di Tolak🤣 Astaga, aku gak nyangka, kalau aku bikin editor MT panas dingin, 😂aku baru sadar beberapa hari belakangan ini, pas kepikiran buat Malam pertamanya si Matt sama Ana, eh ternyata oh ternyata udah gak ada😂
Buat yang enggak baca waktu itu, berarti kalian tidak beruntung. Dah kayaknya, MP nya si Ana sama Matt, ga bakal se Hot Mattea dan Thomas 🤣😭