
“Daddy, where is Momy?(Daddy dimana Momy?)”
“Yes Daddy, where's mommy?(Benar Dad, dimana Momy?)”
“Daddy, answer our questions!(Daddy, jawab pertanyaan kami!)”
“Where did Daddy hide Momy?(Dimana Daddy menyembunyikan Momy?)”
“Daddy, we wants mommy, and meet her'.(Daddy kami ingin Momy, kapan kami bertemu Momy?)”
“Daddy is sorry Dear, but now Mommy is already happy there!(Daddy minta maaf sayang, tapi saat ini Momy sudah bahagia disana.)”
“Where is Momy happy? Why not invite us?(Dimana Momy bahagia, kenapa tidak mengajak kami?)”
“Honey, Momy ... Daddy doesn't know!”
____
“Daddy ... Daddy—”
“Come on baby, Daddy don't know!”
“What? Apa yang Daddy tidak tau?” anak laki-laki Max yang bernama Matteo bertanya bingung. Saat ini Daddy nya sedang tidur di kursi kerjanya dan mengigau menyebutkan nama Momy mereka.
“Hah?” Max terduduk. Mengucek matanya, memastikan dimana dirinya saat ini. Menatap dimana dirinya kini berada yang ternyata di ruang kerja. Dengan dua orang malaikat kecil didepannya yang baru berumur tiga tahun.
“Daddy, bisa jawab kami? Apa yang Dady tidak tau? Daddy bermimpi aneh?” Matteo bertanya lagi pada Daddy nya. Sedangkan sang Adik, Mattea menganggukkan kepalanya sembari memeluk boneka beruang kesayangannya.
Matteo tumbuh menjadi pria kecil menggemaskan dengan kejeniusannya. Dengan wajah yang mirip dengan Max. Sangat tampan. Sungguh perpaduan yang sempurna antara Max dan Stef. Kedua bola mata anak kembarnya berwarna hitam pekat. Dengan rambut Matteo berwarna hitam, dan rambut Mattea berwarna pirang bergelombang seperti Momy nya.
“Oh yeah, Baby. It turns out that Dady is dreaming!”
“Daddy bermimpi apa?” tanya Mattea.
“Momy!”
“Why is Momy?”
“Nothing Baby.”
Ketiga orang itu terdiam. Matteo asik menatap pada sang Daddy membuat laki-laki beranak dua itu mengusap tengkuknya. Tatapan Matteo sama sepertinya, bola mata hitam pekat itu seperti menusuk dadanya mencari tau apa yang kini dia sembunyikan.
“Daddy bermimpi Momy tentang apa?” tanya Mattea yang polos.
“No dear, forget it!”
Tok tok tok...
“Stttt, kalian jangan bilang siapa-siapa kalau Daddy mimpi Momy. Oke?”
“Yes Dad.” jawab kedua malaikat kecil Max menjawab serempak.
Matteo berjalan menuju pintu, untuk membukakan pintu ruang kerja Daddy nya itu. Padahal orang yang ada diluar, bisa membukanya sendiri.
“Hello Baby, apa yang kalian bicarakan?”
“No Mom!”
“Benarkah?” ulang Stef dengan nada tidak percaya.
“Yes Mom. Aku tidak berbohong.” mendengar jawaban anaknya itu, Max menepuk keningnya kemudian menggelengkan kepala. Sedangkan Stef hanya mengangguk lalu menatap pada Max.
“Mattea sayang, apa yang kalian bicarakan?” kini Stef beralih pada anak perempuannya yang berada dalam pangkuan sang Daddy.
“No Mom. Kami tidak membicarakan apapun.”
“Really?”
“Yes.”
“Its okay. Sekarang kalian tidur, ini sudah terlalu malam. Katakan pada Nany untuk menemani kalian dulu, Mom mau bicara dengan Dady.”
“Yes Mom.” kedua makhluk kecil yang menggemaskan itu berlari menuju kamar mereka masing-masing. Sedangkan Stef menatap Max penuh selidik.
“What?” tanya Max yang merasa diperhatikan oleh sang istri. “Aku tidak membicarakanmu!”
“Aku tau kau berbohong Max. Bahkan aku belum bertanya padamu!” kalah telak. Stef kini pandai sekali membalikkan kata-kata.
“No baby. Aku tadi hanya memimpikanmu!” akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Max.
“Memimpikan aku?”
“Yes.”
“What's that about?”
“Tentang kau yang dulu membuat aku takut. Kau benar-benar membuat aku takut Stef. Aku pikir kau akan meninggalkan aku dengan dua malaikat kecil kita.” Max menatap Stef seakan dimatanya itu tergambar jelas kalau dia takut kehilangan sang istri.
“Tapi kan sekarang aku ada disampingmu Max.”
“Yes Baby, Terimakasih karena kau memilih untuk terus bersamaku dan dua malaikat kecil kita, dan tidak meninggalkan aku. Aku sangat mencintaimu!”
“I Love you.” Stef duduk di pangkuan Max dan mencium pipi pria dewasa yang berstatus suaminya itu.
“What?”
“Kau memancingnya!”
“Siapa?” tanya Stef. Sedangkan Max melirik kebawah.
“My Jony!” jawab Max dengan penuh sensual.
“Oh my God!”
_____
Flashback menuju hari ke dua Minggu setelah si kembar dilahirkan.
“Stef, apa yang kini sedang kau mimpikan sayang? Apa kau tidak mau melihat wajah anak kita? Mereka ingin digendong olehmu Stef.”
Dokter Patricia mengatakan, kalau saat ini kondisi Stef sudah stabil. Dia seperti tertidur, karena alam bawah sadarnya menolak untuk bangun. Dokter Patricia juga mengatakan, kalau Max harus sering-sering mengajak Stef untuk bicara.
Semua orang bahagia dengan kehadiran si kembar. Bahkan dua malaikat kecil Stef itu, tidak terlalu rewel. Mereka hanya akan menangis ketika lapar atau merasa tidak nyaman karena popok mereka yang basah, seakan keduanya mengerti akan kondisi sang Momy yang masih setia untuk memejamkan matanya.
Max mengusap wajahnya kasar. Ini sudah dua Minggu Stef menutup mata. Bahkan Max sendiri tidak tau kenapa Stef begitu lama tersadar.
“Sayang, aku akan pergi keluar. Dan aku tidak tau kapan akan kembali.” Max bicara dengan nada dingin. Dia tau, pasti istrinya itu mendengar perkataannya.
Max keluar dari ruang rawat Stef. Meninggalkan kedua anaknya dengan orangtuanya dan juga mertuanya.
Sesaat setelah ditinggal oleh Max, jari Stef bergerak. Mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin. Stef mungkin merasa kalau dia tidak ingin ditinggalkan orang Max. Dan saat merasa kalau Max meninggalkannya, alam bawah sadarnya menolak untuk itu, dan akhirnya menyerah untuk mengungkung Stef, dah akhirnya perlahan manik indah itu terbuka secara perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk dalam retina matanya.
“Stef... Sayang, kau bangun nak?” Lie yang melihat tangan Stef bergerak dan matanya perlahan terbuka, berlari bahagia pada sang anak. Stef tersenyum. Semua orang mendekat padanya kecuali Max yang saat ini tidak tau kalau sang istri sudah sadar.
“Max..,” suara Stef serak memanggil nama Max. Masseria segera mengambilkan air untuk menantunya itu.
“Minum dulu sayang.” Stef meminum air yang disodorkan oleh Masseria.
Saat ini kondisi Stef benar-benar sudah stabil. Dia mencoba untuk duduk, lalu melihat ke sekelilingnya. Ada dua boks bayi di samping ranjang tidurnya.
“Dimana Max?” tanya Stef yang tidak melihat keberadaan suaminya itu. Justin berjalan mendekat.
“Dia mungkin membeli sesuatu keluar, baru saja, sebelum kau sadar dia masih disini.” jawab Justin. Stef hanya mengangguk.
Justin berjalan keluar, lalu mengeluarkan ponselnya. Dia mencoba untuk menghubungi Max, tapi tidak tersambung. Lalu kakak laki-laki Stef itu mencoba untuk mengirimkan pesan pada Adik iparnya itu.
“Max, Stef sudah sadar. Dia mencari mu, bawakan dia makanan! Cepatlah kembali!”
Setelah mengirimkan pesan, Justin kembali masuk kedalam. Dia melihat, saat ini Stef sedang menggendong anak pertamanya yang sedang terbangun, sedangkan Mattea saat ini masih tertidur pulas.
“Apa yang kau mimpikan Stef, hingga kau tidur terlalu lama!” tanya Justin mendekat.
“Seberapa lama aku tidur?” tanya Stef.
“Dua Minggu!”
“What? Selama itu?”
“Yes!”
“Bagaimana dengan Max?”
“Dia terlihat kacau!”
“Oh yeah?”
“Yes!”
“Dimana dia? Aku merindukannya!” mendengar perkataan Stef, Justin hanya mengerling malas. Dia senang kalau saat ini sang adik sudah terbangun, Justin berjalan pada sofa yang ada disana. Dia duduk setelah itu dia mengeluarkan ponselnya, pesan yang tadi dia kirim pada Max, belum dibalas oleh pria itu, atau mungkin belum dibacanya.
Setelah itu dia mendapat telepon dari Indonesia, dari seorang gadis yang selalu saja mengganggunya.
“Aih, kenapa lagi dengan bocah ini?” tanya Justin kesal. Dia mencoba untuk menolak panggilan itu, tapi dering ponselnya terus saja berbunyi membuat Justin kesal, lalu akhirnya dia menjawab telepon itu.
“Hallo...,”
“Hallo, Om Juju. Om Juju lagi dimana? Kenapa ke luar negeri lama sekali? Om ngapain? Kenapa pesan Ara gak om balas. Hallo om, Om Juju?” Justin menjauhkan ponsel yang dia pegang dari telinganya. Suara cempreng dari gadis diseberang sana bisa saja membuatnya sakit telinga.
“English please?” tanya Justin setelah gadis itu diam.
“Om Juju, kan om Juju tau, kalau Ara gak pinter banget pake bahasa inggris.” Justin menghela nafas. Gadis itu masih menggunakan bahasa Indonesia, dan dia hanya paham sedikit dengan bahasa itu.
“What is wrong?”
“Om Juju, Ara Miss sama om Juju!”
“But I do not!”
“Om Juju bohong kan. Om Juju pasti Miss Ara kan?”
“Whatever!” Justin lalu matikan sambungan telepon tersebut secara sepihak, yang tentunya akan membuat gadis diseberang sana mencak-mencak kesal. Justin menatap kedepan, yang ternyata semua orang sedang melihat ke arahnya.
“What?”
_____