
Stella, Arthur, Matt dan Ana tiba di rumah sakit. Mereka masuk kedalam ruang rawat Mattea. Tampak wanita yang baru melahirkan itu sedang menimang anaknya yang tampak membuka mata setelah cukup lama tertidur.
“Ini, Tuan.” Arthur menyerahkan sebuah tas pada Thomas, yang langsung diterima oleh laki-laki itu.
“Terimakasih!” Thomas masuk kedalam kamar mandi ruang VVIP tersebut. Fasilitasnya yang lengkap membuatnya mandi dengan tenang.
Sedangkan di luar,
“Kak Atea, Ana mau gendong Baby nya,” rengek Ana yang membuat Matt menggeleng.
“Memangnya kau bisa?” ledek Matt, membuat istrinya itu melayangkan tatapan tajam padanya.
“Tentu saja, aku kan juga mau jadi ibu.” ketus Ana. Mattea menyerahkan Baby Fazio pada Ana, yang diterima dengan senyuman sumringah oleh wanita itu.
“Kalau aku lihat-lihat, kenapa dia mirip aku, ya?” tanya Ana pada dirinya sendiri, sambil berpikir. Matt berdecak kesal.
“Jangan bicara omong kosong. Kau pikir, kau ikut dengannya saat membuat keponakanku ini?” ujar Matt. Ana hanya menampilkan cengirannya.
“Kenapa kau jadi sensi padaku, si?” Matt hanya menghela napas. Mattea memberi kode pada Arthur dan Stella untuk diam saja. Melihat mereka berdebat adalah suatu hal yang menyenangkan. Apalagi di antara mereka berdua, tidak ada yang mau mengalah.
“Karena kau itu menyebalkan!” ujar Matt. Ana mencebikkan bibirnya, menatap Matt dengan nyalang. Wanita itu memberikan baby Fazio pada Stella.
“Coba kau ulangi lagi?! Apa tadi? Aku menyebalkan?” Ana menatap Matt dengan berkacak pinggang. Laki-laki itu mengangguk yakin.
“Lalu, kalau aku menyebalkan, kenapa kau mau menikah denganku? Hah?” Mata kecoklatan itu menatap Matt dengan tatapan permusuhan. Begitu juga dengan Matteo. Dia menatap Ana dengan kesal, entah apa yang sudah dilakukan oleh istrinya itu, sampai dia begitu kesal.
“Tentu saja karena terpaksa!” ujar Matt mendengus.
“Cih, terpaksa kau bilang? Lalu, siapa yang waktu itu memohon-mohon padaku untuk meminta di nikahi, hah?”
“Heii, aku tidak pernah memintamu untuk menikahi ku! Kau yang selalu mengejar ku, kalau kau lupa!”
“Cih, aku tidak lupa. Tapi, kau juga harus ingat, siapa yang datang jauh-jauh dari sini menjemputku ke Indonesia, siapa hah?”
“Cih, aku menyesal melakukan itu!”
“Awwsshh, aakkkhhh....” tiba-tiba Stella berteriak di antara perang mulut itu, semua orang menoleh padanya, sedangkan Arthur langsung menatap wanita itu cemas.
“Kenapa, Sayang?” tanya Arthur khawatir.
“Panas!” ujarnya.
“Hah? Apanya yang panas?”
“Ini, dia buang air kecil!” Mattea yang tadi khawatir langsung tertawa mendengar perkataan Stella, begitupula dengan Arthur.
“Ah, aku kira apa!” ujar Arthur santai. Dia kemudian berjalan duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
“Dia menyukaimu, Stella!” ujar Mattea tertawa. Dia menyuruh Stella untuk mendekat. Dan kebetulan sekali Thomas keluar dari kamar mandi.
“Sayang, ayo gantikan popok Zio.” ujar Mattea, yang membuat suaminya itu menghela napas.
“Kenapa aku lagi?” ujar laki-laki itu, dengan wajah nelangsa. Mattea hanya tertawa.
“Ini kan memang tugasmu,”
...****...
Stella, Arthur, Matt dan Ana sedang berada di kantin rumah sakit. Perang besar tadi tidak berdampak apa-apa Matt dan Ana, buktinya sekarang kedua orang itu sudah mesra kembali membuat Stella dan Arthur menggeleng tidak mengerti.
“Oh, iya. Arthur, apa kau mau bulan madu?” Arthur yang sedang mengunyah makanannya itu menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Matt.
“Pergilah, kalau perlu secepatnya. Setelah itu kembali lagi. Aku tidak bisa mengurus semuanya sendiri sekarang. Apalagi dengan keadaan ibu negara yang seperti ini.” Matt menatap Ana dengan mendengus. Sedangkan istrinya itu hanya menyengir dengan mulut yang penuh makanan.
“Aku kenapa? Aku kan calon ibu yang baik!” ujar Ana dengan penuh percaya diri. Arthur dan Stella hanya menggeleng melihat tingkah ibu hamil tersebut.
“Nanti akan saya konfirmasi ulang Tuan muda. Kami perlu menentukan kemana tujuannya dulu!” Matt hanya mengangguk saja.
Mereka menghabiskan makanan dengan cepat. Makanan di rumah sakit ini teruji kebersihannya. Rumah sakit mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk semua fasilitas yang sangat baik ini, dan itu juga atas perintah dari Max.
Setelah selesai makan, mereka semua kembali ke ruang rawat Mattea. Kabarnya, ibu dari dua orang anak itu akan pulang besok, jadi Thomas akan menemani kedua anak dan istrinya disini sampai keluar dari rumah sakit.
“Oh iya, dimana Al?” tanya Matt yang baru menyadari kalau keponakannya itu tidak terlihat dari tadi.
“Pergi menemani Zello beli es krim!” ujar Mattea menjawab pertanyaan Matt. Matt mengangkat alisnya tidak percaya.
“Kau yakin Zello yang mau es krim?” tanya Matt. Mattea tertawa mendengar perkataan saudara kembarnya itu. Lantas setelahnya dia menggeleng.
“Keponakanmu itu pintar sekali membuat alasan!” ujar Mattea. Matt membenarkan perkataan wanita itu.
“Aku bersyukur ada bocah laki-laki itu di dekatnya. Kalau tidak, mungkin Aletta ku sudah mengalami trauma sekarang!” ujar Matt dengan sorot mata sendu. Dia merasa gagal dalam menjaga keponakannya sendiri. Keponakan tersayangnya yang selalu membuatnya tertawa selama ini.
“Heem, kau benar!” Thomas ikut menyahut. Dia sangat berterimakasih pada Zello, karena sudah berhasil menemukan anaknya dan membantunya untuk pulih pasca penculikan itu.
“Oh iya, apa kau sudah membereskan markas kelompok-kelompok itu, Stella?” tanya Thomas pada kedua pasangan pengantin baru itu.
Stella mengangguk mantap. “Sudah Tuan, saya dan Tuan Nicko dan yang lainnya sudah membereskan semuanya!” ujar Stella. Thomas hanya mengangguk saja.
“Aku harus mencarikan Nanny yang baru untuk Aletta, dia butuh pengasuh untuk mengantarkannya ke sekolah!”
“Kenapa kita tidak menyuruh salah satu pelayan yang ada di mansion saja?” ujar Mattea. Karena dia memang membutuhkan pengasuh untuk Aletta, terlebih dengan kondisinya yang baru saja melahirkan.
“Hemm, nanti aku akan bicarakan lagi dengan Max!” ujar Thomas.
Bayi mungil Fazio sudah terlelap kembali saat Thomas mengganti popoknya tadi. Sedangkan kini Mattea sedang memakan makanan yang di siapkan oleh rumah sakit langsung.
“Kalian pulang saja. Aku akan menjaga Mattea, lagipula Max dan Stef sebentar lagi akan sampai disini.” Thomas tentunya bicara pada kedua pasangan yang sedang duduk di sofa itu. “Aku juga tahu rasanya jadi pengantin baru. Kalian istirahatlah!” sambung Thomas lagi. Arthur dan Stella tertawa malu mendengar perkataan Laki-laki itu.
“Aku juga akan pulang. Pekerjaanku pasti akan menumpuk nanti, aku akan mengerjakannya di rumah!” ujar Matt. Ana menoleh pada laki-laki itu.
“Aku akan membantu!” ujar Ana. Matt langsung menggelengkan.
“Kau membantu dengan cara diam, itu lebih baik, An.” ujar Matt yang membuat mereka yang ada di sana tertawa, kecuali Ana yang cemberut mendengar perkataan suaminya itu.
...*****...
...*****...
...*****...
Mobil yang membawa Aletta dan Zello berhenti di sebuah taman. Aletta berada dalam gendongan Zello, gadis mungil itu mengalungkan tangannya di leher Zello, menatap pada orang yang lumayan ramai itu dengan takut-takut.
Zello mendongak menatap gadis mungil yang benar-benar tampak ketakutan itu.
“Zello, aku takut. Apa mereka orang jahat?” tanya Aletta, dia lebih nyaman dengan tempat yang tidak terlalu ramai. Bersama dengan orang-orang terdekatnya.
“Tidak. Mereka orang baik, tidak akan berbuat jahat padamu!” ujar Zello meyakinkan. Aletta menggeleng tidak percaya.
“Kau yakin? Mereka yang menculik ku kemarin juga terlihat baik, tapi ternyata sebenarnya mereka itu orang jahat!” ujarnya.
Zello membawa Aletta duduk di sebuah kursi taman yang ada di sana. Matahari yang cukup terik membuat orang-orang beristirahat di bawah pohon rindang yang sudah mulai gugur di sana. Mungkin sebentar lagi akan terjadi pergantian musim, dari musim gugur ke musim dingin, karena akan mendekati Natal.
“Tidak semua orang itu jahat Al. Banyak orang baik di sini. Yang menculik mu kemarin itu, baru orang jahat.”
“Bagaimana kau bisa tahu, kalau mereka orang baik?” tanya Aletta.
“Karena aku memang tau segalanya!” ujar Zello enteng. Aletta memukul pundak laki-laki itu membuat Zello terkekeh.
“Kau harus percaya. Lagipula, kenapa kau tidak takut padaku? Padahal aku ini orang asing, kau tidak mengenalku? Belum tentu aku ini orang baik, kan?” Zello mengangkat alisnya, menggoda gadis kecil itu.
“Kau orang baik. Karena kau yang sudah menolongku. Tidak ada orang jahat yang akan menolong orang lain, kan? Pasti orang baik yang akan menolong orang.” ujar Aletta dengan sangat yakin.
“Haha, kau salah Al. Aku bukan orang baik! Aku adalah orang yang kejam, tanpa belas kasih.” kalau orang lain melihat sorot mata Zello, maka orang itu tau, kalau remaja laki-laki ini tidak berbohong, berbeda dengan Aletta yang tidak menangkap serius perkataan laki-laki yang ada di dekatnya ini.
“Jangan bicara omong kosong, kau orang baik.” ketus Aletta merasa tidak terima.
“Aku tidak bicara omong kosong. Aku bahkan lebih jahat dari kelompok yang kemarin menculik mu.” Zello berkata dengan sangat enteng. Seolah-olah memang begitu dirinya.
“Haha, kau itu kalau bercanda memang berlebihan, Zello. Sudah, kau orang baik! Aku percaya, sekarang mereka yang ada disini adalah orang baik. Ayo kita main!” Aletta turun di pangkuan Zello, berlari ke arah orang yang menjual es krim. Zello hanya tersenyum menyeringai mendengar perkataan gadis kecil itu.
“Zello, aku mau es krim,” teriak Aletta Zello berjalan mendekat padanya.
“Hei, siapa tadi yang bilang, kalau aku yang mau es krim, bukan dia?” sindir Zello yang membuat Aletta tertawa. Zello memesan es krim rasa strawberry pada penjual tersebut.
“Kau tidak mau pesan?” tanya Aletta,. setelah es krim itu ada di tangannya. Zello menggeleng. Dia membayar es krim tersebut dan kembali berjalan menuju tempat mereka duduk tadi.
“Kenapa kau tidak mau?” tanya Aletta, sembari memasukkan es krim yang di tangannya itu, kedalam mulutnya, membuat tenggorokannya terasa segar.
“Aku tidak terlalu suka es krim.” Zello mengangkat Aletta lalu mendudukkan gadis kecil itu di sampingnya. Mulut kecil yang belepotan dengan eskrim itu membuat Zello tertawa.
“Apa yang kau tertawakan?” tanya Aletta memandang Zello heran. Laki-laki itu mengangkat bahunya acuh.
“Di bibirmu ada banyak es krim yang belepotan.” ujar Zello. Dia mengusap sudut bibir Aletta dengan tangannya. Sedangkan gadis itu hanya menyengir lebar.
“Apa kau benar-benar tidak mau? Ini enak sekali? Atau kau mau aku suapi?” Zello lagi-lagi menggeleng, membuat gadis kecil itu menjadi gemas.
“Ayo buka mulutmu!” ujar Aletta, Zello menggeleng lagi.
“Bukaaaa!” Aletta memaksa Zello untuk membuka mulutnya, akhirnya laki-laki itu menurut juga. Dia mengernyitkan dahinya merasakannya mulutnya yang dingin karena es krim yang sudah lumer tersebut.
“Mau lagi?” tawar Aletta.
Zello langsung menggeleng.“Kau saja yang habiskan!” ujarnya.
“Zello, nanti kalau kau kembali ke rumahmu, kau tidak akan bermain denganku lagi?” Zello menoleh pada Aletta yang menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.
“Aku akan mengunjungimu setiap Natal!” ujar Zello tersenyum. Wajah yang selalu datar dan kaku itu menunjukkan senyuman tulusnya.
“Satu tahun sekali?” tanya Aletta.
Zello mengangguk. Gadis mungil itu mencebikkan bibirnya tidak terima.
“Itu terlalu lama. Dan juga, apa kau tidak mau datang di setiap ulang tahunku?”
“Aku akan datang!”
“Benarkah? Memangnya kau tahu, kapan aku ulang tahun?” Zello mengangguk pasti. Sedangkan gadis itu hanya diam.
“Oh iya, dimana pacarmu itu? Kita sudah lama disini, dia tidak sampai juga!” Aletta melirik sekitarnya, tapi yang dia liat hanya beberapa orang anak-anak yang bermain dengan orang tua mereka.
“Kita sedang bersamanya!”
“Mana? Hanya ada kita berdua disini.”
“Iya, memang. Jadi sekarang nikmatilah waktu pacaran ini sebaik mungkin. Sebelum aku kembali.” Zello mengacak rambut Aletta dengan gemas.
“Aku tidak paham maksudmu!” cebik gadis kecil itu.
“Tidak perlu kau pahami. Cukup kau nikmati saja!”
“Hahh, pemikiran orang dewasa memang sulit dimengerti!” Aletta mendesah kesal.
“Maka dari itu cepatlah kau dewasa, biar kau juga cepat mengerti!”
“Aku tidak mau cepat-cepat dewasa. Jadi orang dewasa itu tidak enak, mereka rumit!” Zello terkekeh kecil mendengar perkataan Aletta. Laki-lakinya itu menegakkannya badannya lalu menatap sorot mata abu-abu itu dengan serius.
“Kalau kau tidak mau cepat dewasa, lalu kapan kita akan berkencan secara resmi?”
“Mana aku tau, tanyakan saja pada pacarmu itu!” Aletta kembali memasukkan es krim ke dalam mulutnya, menjawab pertanyaan Zello dengan cuek.
“Aku sedang menanyakannya sekarang, dan sedang menunggu jawabannya!”
“Heii, aku tidak mengerti dengan yang kau katakan. Apa pacarmu itu hantu? Aku tidak melihatnya!” Aletta melirik sekitarnya sekali lagi, bahkan dia sampai mendongakkan kepala menatap pada pohon di atasnya membuat Zello tertawa.
“Tidak, pacarku seorang tuan putri!”
“Waahhh, berarti dia sangat cantik?” tanya Aletta dengan berbinar senang.
“Hemm, dia wanita yang paling cantik!” jawab Zello sekenanya saja.
“Kau tidak perlu merebutku darinya, karena memang saat ini aku milikmu sampai kapanpun!”
“Kaaannn. Perkataanmu itu benar-benar rumit. Aku tidak mau jadi orang dewasa!” Aletta melipat tangannya cemberut, tapi tetap memegang es krimnya.
“Kau harus cepat dewasa, untuk melahirkan anak-anakku nanti!” gumam Zello dengan suara yang pelan.
“Apa yang kau katakan? Aku tidak mendengarnya dengan jelas.”
“Tidak. Ayo cepat habiskan es krimnya. Itu sudah meleleh!” Aletta menghabiskan es krimnya dengan cepat, setelah itu dia turun dari bangku tersebut.
“Kau mau kemana?”
“Membuang ini ke tempat sampah!” Zello hanya mengangguk. Tapi dia kemudian berdiri dan mengikuti Aletta yang sudah berjalan lebih dahulu.
“Kita akan kemana setelah ini?” tanya Aletta. Dia merentangkan tangannya minta di gendong, dan segera di kabulkan oleh laki-laki itu.
“Memangnya kau mau kemana?” tanya Zello setelah Aletta berada didalam gendongannya.
Aletta menggeleng. “Aku tidak tahu!” jawabnya.
“Apa kau mau ke mall?”
“Memangnya ada yang mau kau beli?”
“Iya!”
“Baiklah. Ayo!”
Mereka kembali ke mobil, sopir yang selalu mengantar Zello itu selalu siap sedia di dalam mobil. Zello dan Aletta masuk kedalam mobil.
“Kita ke mall yang ada di dekat sini!” ujar Zello. Sopir tersebut mengangguk.
Perlahan, mobil Range Rover hitam tersebut, keluar dari area taman, membelah jalan kota Frankfurt, menuju ke Mall yang ada di tengah kota tersebut, seperti yang dikatakan oleh Zello.
“Zello, disana pasti akan ada banyak orang, kan?” gadis kecil yang duduk di sebelah Zello itu menatap pada laki-laki remaja tersebut.
“Iya, kau tidak perlu takut. Semuanya akan baik-baik saja!” Aletta hanya mengangguk saja. Zello kembali memeriksa ponselnya. Cukup lama keheningan tercipta selama perjalanan tersebut, hingga akhirnya Aletta buka suara.
“Zello, apa setelah ini kau akan kuliah?” Zello menoleh pada Aletta, lalu menyimpan ponselnya. Laki-laki itu mengangguk.
“Dimana?” tanya Aletta lagi.
“Harvard!”
“Apa Harvard itu jauh?” Zello mengangguk.
“Apa nanti kau benar-benar bisa datang, saat ulang tahunku?” tanya Aletta tidak yakin.
“Aku akan melakukan apapun untukmu. Jangan pikirkan itu, aku pasti akan datang!” Zello mengusap rambut kepala Aletta dengan lembut. Senyuman tipis terbit di kedua sudut bibirnya.
“Kau harus memegang ucapanmu. Kalau tidak aku akan marah nanti!” Aletta melipat tangannya di depan dada, menatap Zello dengan tegas, tapi malah membuatnya tampak semakin menggemaskan.
Zello terkekeh. “Aku berjanji padamu!”
Mobil mewah itu masuk kedalam area mall, sang sopir langsung membawa mobil tersebut menuju basemen.
“Kau pergilah istirahat, kami mungkin akan sedikit lama!” ujar Zello. Sopir itu mengangguk. Istirahat itu mencakup semuanya, bisa menjadi makan siang, tidur sebentar atau yang lainnya.
Zello dan Aletta turun dari dalam mobil. Aletta memilih berjalan, dan memegang jemari laki-laki yang menuntunnya itu.
“Kau mau membeli apa?” tanya Aletta saat mereka kini sudah tiba di lantai dua.
“Sesuatu yang berharga!” ujar Zello singkat. Aletta kemudian berhenti. Dia mengantungkan tangannya meminta untuk di gendong. Zello langsung menggendong gadis kecil itu.
“Apa kau tidak lelah menggendongku?” tanya Aletta. Gadis kecil itu mengalungkan tangannya di leher Zello.
“Tidak.” jawab Zello singkat.
Mereka naik ke lantai tiga, kemudian pergi ke sebuah toko besar yang ada di sana.
“Kau mau membeli perhiasan?” tanya Aletta. Matanya berbinar menatap banyaknya perhiasan mewah dengan model-model yang sangat cantik didalam toko tersebut.
“Iya!”
“Untuk siapa? Mommy mu?”
Zello menggeleng. “Bukan!”
“Apa untuk pacarmu itu?” tanya Aletta lagi.
“Benar!” Zello menjawab singkat. Aletta hanya membulatkan mulutnya tanda mengerti.
“Selamat datang di Louis jewelry, Ada yang bisa kami bantu?” pelayan toko yang melihat kedua orang itu bertanya dan menyambut Aletta dan juga Zello dengan ramah.
Seorang remaja laki-laki yang terlihat seperti sedang menggendong adiknya, dan melihat isi toko mereka, tentu saja itu sedikit aneh.
“Aku mau mengambil pesanan atas nama Donzello!” ujar Zello dingin. Pelayan toko tersebut langsung membelalakkan matanya mendengar nama yang di sebutkan oleh Zello. Dia menunduk hormat pada laki-laki yang ada didepannya itu.
“Akan saya ambilkan. Silahkan duduk, Tuan muda!” ujarnya dengan sopan. Setelah itu, pelayan toko tersebut masuk kedalam sebuah ruangan dengan tergesa-gesa. Lalu dia keluar bersama dengan manager toko tersebut dengan sebuah kotak paper bag di tangannya.
“Tuan muda,” sapa Manager tersebut dengan sopan dan menundukkan kepalanya. Zello hanya berdehem.
“Mana barang yang aku minta?!” tanya Zello. Manager tersebut langsung meraih kotak yang ada di tangan perempuan yang tadi melayani Zello terlebih dahulu, dan menyerahkannya pada remaja laki-laki tersebut.
Zello menerima kotak tersebut, lalu melihat isinya. Setelah memastikan itu sesuai dengan barang yang dia inginkan, laki-laki itu kemudian bangkit.
“Terimakasih!” ujarnya singkat. Kedua orang itu mengangguk saja. Zello membawa Aletta keluar dari dalam toko tersebut.
“Apa kau tidak membayar barangnya?” tanya Aletta heran.
“Tidak!”
“Kenapa? Apa kau mencurinya?”
“Heh, gadis bodoh. Kalau aku mencurinya, lalu kenapa mereka tidak mengejar ku!” ujar Zello gemas. Aletta hanya menyengir.
“Lalu kenapa kau tidak membayarnya?”
“Toko itu milikku!” jawab Zello singkat.
“Benarkah?” tanya Aletta, dia sampai mendongakkan wajahnya sejajar dengan kepala Zello yang sedang menggendongnya.
“Heem,”
“Kenapa kau tidak bilang. Tau begitu, aku mau mengambil perhiasan juga tadi!” mendengar perkataan Aletta, Zello langsung berhenti. Lalu lalang orang yang berbelanja di mall tersebut tidak mempedulikan kedua orang itu.
“Apa ada yang kau sukai tadi?” tanya Zello dengan raut wajah serius.
“Haha, tidak-tidak! Aku hanya bercanda,” Aletta mengatakannya dengan tertawa, Zello menyentil kening gadis itu dengan gemas.
“Kalau ada yang kau inginkan, katakan saja!”
“Heem, aku akan meminta sesuatu padamu saat Natal dan juga ulang tahunku nanti!”
“Baiklah, terserah kau saja! Kau bisa meminta apapun yang kau mau padaku kapanpun!” ujar Zello. Aletta tersenyum lebar mendengar perkataan laki-laki itu. “Baiklah!” jawab Aletta dengan tersenyum senang.
Zello membawa Aletta ke sebuah restoran untuk makan siang. Gadis itu menurut saja. Para pengawal yang sedari tadi mengawasi mereka, berdiri di depan pintu masuk restoran itu, Zello hanya tersenyum tipis melihat orang-orang berbadan besar tersebut.
Setelah keduanya selesai makan, Zello membawa Aletta kembali ke mobil. Dan ternyata, sopir yang tadi mengantar mereka, sudah standby di sana.
“Kita kembali ke mansion keluarga Aletta.” sopir tersebut mengangguk. Sedangkan Aletta menyandarkan kepalanya pada tubuh Zello, dan kemudian memejamkan matanya.
Zello memperbaiki cara tidur Aletta, dengan merebahkan tubuh mungil itu dan meletakkan kepalanya di atas pahanya.
Tanpa adanya ocehan yang keluar dari mulut Aletta, membuat perjalanan ini terasa sedikit lambat. Hingga akhirnya mobil Range Rover tersebut masuk kedalam komplek mansion Max. Setelah mengkonfirmasi kedatangan Zello, akhirnya gerbang besar itu terbuka, dan sopir kembali melajukan mobil melewati halaman luas mansion tersebut.
Saat Zello ingin mengangkat Aletta, gadis kecil itu sudah terbangun terlebih dahulu. Dia mengusap matanya lalu menoleh pada Zello.
“Kita sudah sampai?” tanya Aletta sedikit linglung. Zello mengangguk saja. Kedua orang itu turun dari dalam mobil. Martin sudah terlebih dahulu membuka pintu utama menyambut Aletta dan Zello.
Aletta dan juga Zello langsung berjalan menuju lantai atas, karena gadis itu menyeret Zello bersamanya menuju kamarnya sendiri.
Kamar yang bernuansa serba pink itu menyambut kedatangan Zello. Tempat tidur kecil yang bersprai motif boneka Barbie itu membuat mata Zello terasa sakit.
“Kau istirahatlah! Aku akan pulang setelah ini!” Aletta menatap Zello sebentar. Setelah itu dia duduk di atas tempat tidurnya.
“Kau pulang bersama siapa?” tanyanya.
“Bersama orang-orangku!”
“Dimana mereka? Kenapa aku tidak melihatnya?” memang benar, Aletta tidak melihat ada seorang pun yang mengikuti laki-laki itu.
“Kau tidak melihatnya, tapi aku melihat mereka!” ujar Zello.
Zello mengeluarkan isi paper bag yang sedari tadi dia jinjing. Setelahnya, laki-laki itu membuka kotak yang ada didalam paper yang sedari tadi dia pegang.
“Cantik sekali!” ujar Aletta dengan berbinar. Zello tersenyum tipis.
“Hemm, tapi pemiliknya lebih cantik dari ini!”
“Siapa? Oh iya, pacarmu itu ya?” tanya Aletta. Zello mengangguk.
Dia mengambil isi kotak itu, dan menatapnya cukup lama.
“Angkat rambutmu!” ujar Zello. Aletta mengernyit bingung.
“Untuk apa?”
“Aku mau memakaikan ini!”
Sebuah kalung yang terlihat sederhana, tapi terlihat sangat cantik dengan batu permata kecil yang menjadi bandul kalung tersebut. Gaya kalung yang elegan membuat semua orang tau, kalau itu adalah kalung yang sangat mahal.
“Bukankah ini milik pacarmu?” tanya Aletta.
“Heem, maka dari itu aku mau memakaikannya padamu!” tanpa menunggu Aletta kembali bersuara, Zello langsung memakaikan kalung tersebut di leher Aletta membuat gadis itu berbinar senang.
“Zello, katakan pada pacarmu, kalau aku merebutmu darinya!” Aletta tertawa lebar saat mengatakan itu, dan tawa tersebut menular pada Zello.
“Jaga kalung ini dengan baik. Jika kau merindukan aku, kau pegang bandul ini, lalu bayangkan aku. Maka kau pasti tidak akan merindukan aku lagi!” setelah mengatakan itu Zello mengusap rambut Aletta. Dia kembali menata rambut pirang itu. Aletta tampak semakin cantik saat memakai kalung tersebut.
Aletta tersenyum lebar saat memperhatikan kalung yang melingkar di lehernya itu. Zello mengangkat Aletta untuk duduk di pangkuannya. Gadis kecil itu menatap Zello heran.
Cup ...
Sebuah kecupan singkat di bibir Aletta membuat gadis itu ternganga.
“Kenapa kau menciumku?” tanya Aletta melotot.
“Ini adalah ciuman perpisahan. Dan itu adalah ciuman pertamaku, dan juga ciuman pertamamu! Jaga bibir ini dengan baik, jangan biarkan laki-laki lain menyentuhnya. Aku tidak akan rela kalau itu terjadi! Karena yang menjadi milikku hanyalah milikku, orang lain tidak boleh menyentuhnya!” sorot mata serius itu menatap Aletta dengan dengan dalam.
“Hemm, karena kau akan pergi, maka aku tidak akan marah.” ujar Aletta. Dia menjawab perkataan Zello yang hanya dia mengerti saja. Karena pemikiran orang dewasa itu rumit, menurut Aletta.
“Baiklah, kau istirahatlah! Aku akan pergi sekarang! Daddy mu akan menjemput nanti!”
“Aku mau mengantarmu!”
“Tidak, aku harus menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu, lebih baik kau istirahat sekarang! Kau pasti lelah!” tidak ingin membantah, akhirnya Aletta menurut saja. Dia kemudian berbaring di atas tempat tidurnya. Lalu memejamkan mata. Zello menunggu Aletta sampai terlelap. Setelah gadis kecil itu benar-benar tidur, dia mendekati ranjangnya.
“Aku akan mengunjungimu saat Natal dan juga ulang tahunmu, My Letta! Jaga dirimu untukku!” kecupan singkat di kening Zello berikan. Setelah itu dia mengusap rambut pirang itu, dan berlalu dari sana.
“Aku akan selalu menjagamu dari jauh. Kau milikku, kekasihku, dan masa depanku!”
...****...
...Gak nyambung, ya? Maaf ya😵...
Entah kenapa, pas nulis Zello sama Aletta ini aku gak ingat waktu, gak liat berapa katanya, eh pas di cek ternyata banyak banget😵Mohon di maklumi aja, kalau banyak typo atau ada kata-kata yang enggak nyambung. okey? See u guys, sampai bertemu lagi dengan Zello di lain waktu 😂