My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. Mari kita berkenalan lagi!



Mattea menggerutu kesal saat di perjalanan menuju mansion. Bagaimana tidak, tadi secara tiba-tiba ada orang yang mengetok kaca mobil Thomas, membuat keduanya kaget, dan Mattea langsung kembali duduk di kursinya dengan gugup, sedangkan Thomas hanya tergelak melihat wajah kesal gadis kecilnya itu.


Perjalanan menuju mansion yang seharusnya hanya memakan waktu dua puluh menit itu, kini berubah menjadi satu jam. Akibat obrolan yang tadi mereka bicarakan.


Mattea turun dari mobil Thomas, tak kala laki-laki itu selesai memarkirkan mobilnya di depan pintu utama mansion megah itu.


Dengan kemeja kebesaran dan sebuah jas melekat di pinggang Mattea, gadis itu melangkahkan kakinya masuk kedalam dengan rasa takut.


Bagaimana jika nanti Daddy-nya bertanya, Mattea jadi semakin takut saat melihat laki-laki paruh baya yang masih sangat tampan itu duduk di kursi tamu, berserta dengan Momy nya yang juga masih sangat cantik. Rupanya kedua orang itu belum berangkat ke kantor maupun ke rumah sakit untuk bekerja.


“Mom, Dad...” Mattea menundukkan kepalanya menghadap Max dan Stef, sedangkan Thomas tampak biasa-biasa saja. Ia bahkan dengan santainya duduk bersama dengan kedua orang tua dari gadis kecil yang baru resmi menjadi pacarnya itu.


Ah, memikirkan tentang dia yang baru jadian dengan Mattea, membuat Thomas merasa geli. Tapi apa mau di kata, tak ada yang bisa melawan kehendak hati, karena dia tidak mau kehilangan gadisnya itu.


“Uncle..” Mattea melotot pada Thomas yang hanya menggedikkan bahunya acuh.


“Bisa jelaskan pada kami Mattea?” nada bicara Max terdengar tidak bersahabat, membuat putrinya itu semakin takut.


Mattea merutuki Thomas yang hanya duduk saja, tanpa mau membantunya menjelaskan pada Momy dan Daddy nya itu.


‘Ck, pacar macam apa itu?!’ batin Mattea menggerutu.


“Hemm, Mom, Dad, aku minta maaf sudah pergi keluar mansion tanpa pamit, di malam hari seperti kemarin..” Mattea mencoba menjelaskan pada Daddy dan Momy nya itu. Kedua orang tua Mattea menatap anak gadisnya itu dengan tatapan datar.


“Sejak kapan kau main ke club'? Apa kau tidak tau, disana berbahaya?” Mattea merinding mendengar pertanyaan momynya itu. Tentu saja dia takut, karena dia sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi mangsa serigala lapar di club itu, sebelum pangeran penyelamatnya datang menolong.


Tapi lihatlah sekarang, laki-laki yang menolongnya itu, malah asik menatapnya dari sofa yang dia duduki sekarang membuat Mattea menggerutu kesal.


“Yes, mom, dad. Atea minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi!” Mattea tertunduk. Karena bagaimanapun ia tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya di tempat laknat itu lagi.


“Hemm, lalu kenapa kau tidak pulang?” tanya Max lagi.


“Salahkan Uncle Thomas, Dad. Dia yang tidak mau membawa Atea pulang?!” Max menatap pada Thomas yang tampak terkejut mendengar pernyataan gadis kecilnya itu.


‘Hohoho, gadis kecil. Kau mau bermain-main denganku?’ Thomas menyeringai menatap Mattea yang terlihat kesal padanya.


“Daddy tidak percaya!” ujar Max yang membuat Mattea kaget, lalu menggerutu kesal. “Pasti kau yang tidak mau pulang kan?” sambung Max lagi.


Mattea menatap Thomas sengit.


Ternyata dia udah ngadu sama Daddy!


gerutu Mattea menatap Thomas yang tersenyum meledek padanya.


Dihh, pacar macam apa itu? Bahkan disaat kekasihnya di interogasi seperti ini, dia tidak menolongku?! Awas kau nanti Uncle!


Mattea menatap Max dan Stef takut.


“Atea kan takut kena marah Mom dan Dady.” aku Mattea jujur. Dia melihat seringai kemenangan di wajah tampan Thomas.


“Ya sudah, kalau begitu Daddy akan menghukummu!” Mattea terkejut mendengar perkataan Max. Duh, Daddy-nya ini mau menghukum dirinya bagaimana?


“No dad, Atea tidak mau di hukum. Atea janji, tidak akan keluar rumah malam-malam tanpa pamit lagi, apalagi pergi ke club'.” Mattea memohon pada Max, membuat Daddy-nya itu menaikkan alis.


“Hemm, baiklah!” setelah lama terdiam Max akhirnya mau memaafkan anaknya itu, membuat Mattea senang bukan main.


“Thanks dad, Mom. Thanks you.” Mattea memekik girang dengan memeluk kedua orangtuanya itu. Sedangkan dia melayangkan tatapan permusuhan pada Thomas, membuat laki-laki dewasa itu tertawa geli.


“Ya sudah Thomas, berarti selama satu bulan ini, kau tidak jadi mengawasi Mattea. Karena dia tidak mau di hukum!” Mattea terkesiap dengan perkataan Daddy-nya. Dia mendudukkan dirinya yang semula memeluk sang Daddy.


“Maksud Daddy?” tanya Mattea bingung.


“Hemm, sebulan ini Daddy berencana untuk menyuruh Thomas yang mengantar jemput kau kuliah, dan mengawasi tingkahmu itu, ketika keluar rumah!”


Wah ... wah... Bencana ini, kalau hukumannya batal.


“Hehe, dad. Atea mau kok dihukum.” mendengar perkataan Mattea, lagi-lagi Max menaikkan alisnya membuat Mattea tertawa pelan.


“Kenapa? Bukannya kau tidak mau di hukum?” tanya Stef geli.


“Hehe, Mom, dad. Tidak apa-apa, aku mau kok di hukum.” Mattea menunjukkan deretan giginya yang putih, pada kedua orang itu.


“Ya udah, mulai sekarang aku dihukum kan. Fiks, hukuman diterima. Mom, dad, and Uncle, Mattea ke kamar dulu. Sampai bertemu nanti Uncle handsome,” Mattea mengedipkan mata genit pada Thomas, dan berlalu meninggalkan ketiga orang itu yang terkekeh gemas melihat kelakuan polos sang tuan putri itu.


“Anakmu Max!” ujar Stef geli.


“Anak kita sayang..” Max mencium puncak kepala istrinya itu, membuat Thomas jengah. Ah, dia jadi pengen cepat-cepat menikahi gadisnya itu.


“Kenapa kau?” tanya Max pada Thomas yang terlihat kesal melihat keduanya.


“Masalahnya denganmu apa? Aku kan hanya bermesraan dengan istriku!” Thomas memalingkan wajahnya mendengar perkataan Max.


“Kau tenang saja Max, sebentar lagi aku akan menikah!” ujar Thomas kesal, membuat Max terkekeh.


“Aku tunggu lamaranmu!”


________


Setelah berganti pakaian, dengan pakaian yang sopan, Mattea keluar kamar.


Matteo sang kembaran ada jadwal pagi hari ini, sedangkan dirinya masuk siang. Mattea berjalan riang menuruni tangga mansion yang megah itu.


Rupanya Max dan Stef sudah berangkat, setelah memberikan hukuman indah pada dirinya tadi. Tapi, Thomas tidak terlihat disana.


Mattea melihat ke sekeliling mansion, memutari bangunan mewah itu, dan akhirnya menemukan laki-laki yang dia cintai itu ada di luar, sedang berbicara dengan para penjaga.


“Uncle...” Thomas dan penjaga itu mendongak pada Mattea yang sedang tersenyum manis pada mereka, lebih tepatnya pada Thomas.


“Hemm?” dehem Thomas menaikkan alisnya bertanya.


“Ayo antar aku ke kampus!” Thomas melihat pada jam tangannya yang mahal itu. Dia sendiripun tidak mengerti kenapa Max malah menyuruhnya untuk menjaga Mattea. Apalagi dengan alasan memberikan hukuman pada gadis itu.


“Ya sudah ayo.” Thomas menepuk pundak penjaga itu sekilas, sebelum dia berjalan menuju mobil yang tadi dia bawa untuk mengantarkan Mattea.


Kedua orang itu, terlibat obrolan ringan selama didalam perjalanan, hingga akhirnya mobil Thomas memasuki pekarangan kampus.


“Mau di antar sampai fakultasnya tuan Putri?’ tanya Thomas dengan nada bercanda membuat Mattea terkekeh gemas.


“Tidak usah uncle. Biar aku sendiri saja!” Thomas mengangguk. Tapi dia heran kenapa Mattea masih tidak beranjak dari duduknya.


“Kenapa lagi baby?” Mattea menatap Thomas dengan tatapan puppy eyes nya membuat Thomas bingung.


“Sun...” ujar gadis itu dengan suara kecil, membuat Thomas terkekeh gemas, lalu mengusap kepala Mattea dengan sayang.


Thomas mencium bibir Mattea sekilas, memenuhi permintaan gadis itu.


“I love you Pacar.” Wajah Mattea memerah, dia keluar dari dalam mobil dengan perasaan bergemuruh senang, tanpa mendengar jawaban Thomas.


“I love you too baby Girl.”


Setelah Mattea dirasa hilang dari pandangannya, Thomas mengemudikan mobilnya keluar dari area kampus. Dia sudah sangat terlambat untuk datang ke kantor, tapi itupun sepengetahuan Max, karena dialah yang memberikan pekerjaan baru ini padanya.


_______


Sore hari, setelah jam kampus Mattea selesai, gadis itu sudah mengatakan pada Matteo agar tidak menunggunya, karena tentu saja Thomas yang akan menjemputnya.


Thomas menatap tajam Mattea yang berjalan beriringan dengan Harry dan temannya yang lain. Mattea terlibat perbincangan dengan mereka.


“Hallo uncle.” sapa Mattea riang. Sedangkan Thomas hanya diam menatap Harry dan temannya.


“Mattea, apa ini pamanmu?” Harry bertanya pada Mattea, tanpa menunggu jawaban dari kedua orang itu, dia langsung menyodorkan tangan pada Thomas.


Padahal waktu itu kan mereka sudah berkenalan. Sewaktu Thomas menjemputnya. Mungkin itu karena Harry merasa, dia perlu untuk berkenalan lagi dengan paman kawan baiknya itu.


“Hai Uncle, kenalkan aku Harry, teman dekat Mattea.” Thomas menyambut tangan Harry dengan dingin. Dia menatap Mattea yang terlihat biasa saja.


“Teman dekat?” nada suara Thomas penuh dengan penekanan membuat laki-laki itu menganggukkan kepala gugup.


“Ayo!” tanpa banyak bicara lagi, Thomas membukakan pintu mobil untuk Mattea. Gadis itu berjalan dan masuk. Thomas mengitari mobil lalu membuka pintu kemudi, tapi sebelum itu dia menatap pada Harry dan temannya.


“Kau teman dekat Mattea?” suara berat Thomas, dijawab anggukan kepala oleh Harry.


“Yes, Uncle!”


“Kalau begitu mari kita berkenalan lagi! Kenalkan, aku Thomas, calon suami Mattea!”


_______


*Iya iya, gw tau😒


Oh iya, di season ini, aku bakal fokus sama Thomas dan Mattea ya. Kalau Matteo nanti aja, soalnya belum waktunya, wkwkwk.


Dukungannya sayangku 😍😍


Bonus nih, buat hari ini, wkwk*