My Devils Husband

My Devils Husband
56. Max aneh



Hari ini adalah hari kepulangan mereka semua ke Jerman, menggunakan pesawat jet milik keluarga Luciano, mereka semua terbang dari bandara Lombok menuju kota Frankfurt.


Berada didalam pesawat selama hampir 24 jam membuat semua orang menjadi bosan. Meskipun itu adalah pesawat jet dengan desain modern dan fasilitas yang Wah. Tapi tentu saja perjalanan ini terasa membosankan jika terlalu lama.


*


“Max!” ucap Stef yang sudah merasa geram pada suaminya itu.


“Apa?” tanya Max pura-pura tidak bersalah.


“Lepaskan!” ucap Stef. Karena sedari tadi suaminya itu tidak henti-hentinya mengikuti kemanapun dia pergi, dan memeluknya membuat semua orang merasa heran dan tentu saja Stef merasa jengkel.


“Tidak mau!” ucap Max menggelengkan kepalanya membuat Stef menghembuskan nafas kasar.


“Kau ini kenapa?” tanya Stef lagi, merasa heran dengan tingkah suaminya itu.


“Tidak! Aku tidak kenapa-napa!” jawab Max.


Justin, Aira dan juga David mendekat pada mereka berdua.


“Kau ini, didalam pesawat pun kau masih saja memeluknya!” ujar Justin meledek membuat Max mendelik.


“Suka-sukaku, kenapa kau yang sewot.” ucap Max menatap Justin tajam.


“Kau tidak mandi ya?” sambung Max lagi membuat Justin mendelik.


“Enak saja kau ini! Aku bahkan mandi sudah tiga kali hari ini!” ucap Justin melebihkan membuat Max mendelik tidak percaya.


“Kalau kau memang benar mandi, kenapa masih bau?” tanya Max membuat Justin kaget. Lelaki itu lalu menciumi badannya, tapi dia tidak merasa bau sedikitpun.


“Kau yang benar saja Max, tidak ada yang bau disini!” ucap David yang sedari tadi hanya diam membuat Max menatapnya.


“Tapi kalian semua bau! Kecuali istriku!”


“Enak saja kau ini!”


“Tapi kami disini sudah mandi! dan tidak ada yang bau!” ucap Justin yang di angguki oleh David dan Aira.


“Apa kau perlu aku periksa ke dokter? Kau ini aneh-aneh saja!” ucap David.


“Iya! Sepertinya dia memang perlu dibawa ke dokter untuk diperiksa, apakah dia memang benar memiliki masalah dengan otaknya itu!” ucap Justin.


Max beranjak dan memukul kepala Justin, tidak keras tapi tetap saja membuat lelaki itu mengaduh.


“Aku tidak sakit! Tapi memang kalian saja yang bau!” ucap Max membuat mereka jengkel.


“Sudahlah! Jika kami bau sebaiknya kau pergi saja dari sini! Kenapa masih disini?” ucap Justin.


“Hei, kenapa jadi kau yang menyuruhku pergi! Kau saja sana yang terjun kebawah sana!”


“Astaga, kau ini sensitif sekali! Apa semalam kau tidak dapat jatah?” perkataan vulgar dari Justin membuat Stef memerah. Yang benar saja, Max tidak dapat jatah! Bahkan lelaki itu selalu memaksanya.


“Tentu saja aku dapat!” ucap Max sombong tidak mempedulikan wajah istrinya yang kini sudah memerah.


“Sudahlah! Apa yang kalian bicarakan ini, Max lepaskan aku! Aku mau ke toilet!” ucap Stef, Max hanya menggelengkan kepalanya.


“Kau benar-benar membuatku kesal!” ucap Stef. “Lepaskan!” sambung Stef lagi.


Max terpaksa melepaskan tangannya yang semula memeluk Stef. Stef beranjak dari sana berjalan meninggalkan Max yang cemberut menuju kamar mandi. Aira juga beranjak dari sana melihat wajah serius laki-laki yang ada disana.


“Apa?” tanya Max pada David, sedangkan Justin duduk didekatnya.


“Aku heran padamu Max!” ucap David.


“Kenapa kau jadi posesif sekali pada Stef?”


“Entahlah! Aku tidak tau,” jawab Max singkat.


“Kau ini,” ujar Justin, lalu mengambil kue yang ada disana yang terletak diatas meja.


“Hei, jangan kau ambil! Itu kue milikku!” ujar Max membuat Justin mendelik.


“Pelit sekali kau ini! Aku hanya makan kue ini,” ujar Justin mendelik kesal, tapi tetap memakan kue nya.


“Astaga, itu kue ku, jangan kau makan!” ujar Max lalu merebutnya dari Justin.


“Astaga, kalian ini!” David beranjak berdiri dan berjalan menjauh dari sana.


“Kau tau Max, setelah aku mengenalmu, kata Devils yang selama ini tersemat padamu membuat aku ragu!” ucap Justin panjang lebar.


“Kenapa?”


“Diluar sana kau sadis, menghabisi siapa saja yang melakukan kesalahan padamu, tapi kini aku melihat sendiri kau itu ternyata adalah seorang suami yang sangat manja!” Justin bicara dengan nada meledek membuat Max mendelik kesal.


“Kau ini, jangan bicara seperti itu disini! Karena Stef tidak tau tentang itu!” Max melihat sekitar, tapi tidak ada orang membuatnya menghembuskan nafas lega. Karena jika Stef mendengar perkataan Justin tadi, pasti istrinya itu akan marah.


“Kau...,” tunjuk Justin pada Max.


“Apa?” tanya Max lagi.


“Kau berpura-pura konyol didepan Stef, agar dia tidak tau siapa kau?” tanya Justin yang diangguki oleh Max.


“Astaga, kau ini!” ucap Justin tak percaya.


“Sudahlah! Aku tidak ingin istriku mendengar semua tentang aku! Apalagi sebentar lagi dia akan melanjutkan kuliahnya, jadi aku tidak ingin dia ada dalam bahaya!” Justin mengangguk sebagai jawabannya.


“Lalu apa rencanamu setelah ini?” tanya Max pada Justin.


“Rancana apa?” ucap Justin balik bertanya.


“Apa kau akan ke Italia atau menetap di Jerman?” tanya Max, sedangkan Justin terlihat berfikir sebentar.


“Yang jelas, aku ingin minta kebenaran pada ayahku dulu, baru setelah itu aku akan memikirkan apanya nanti akan aku lakukan!”


“Baiklah! Aku akan selalu mendukungmu!”


“Mendukung apa?” tanya Stef yang baru saja kembali dari kamar mandi.


“Mendukung dia untuk pergi dari sini! Hei kau ini bau, menjauhlah!” ucap Max membuat Justin mendelik.


“Kau ini!” ucap Justin.


“Sudahlah! Aku mau menemui ayah dan ibu dulu!” ucap Justin berdiri sembari membawa piring berisi kue yang tadi dimakan Max, membuat lelaki itu mengumpat kasar.


“Sialan kau Just!” ucap Max.


“Hei kau ini, dia itu kakakku, jadi kau harus sopan padanya!” tegur Stef membuat Max mendelik.


“Tidak akan!” ucap Max.


“Terserah kau saja!”


★‡★