My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. Bagaimana jika itu uncle?



Jika cinta mampu menyatukan segalanya, maka cinta juga harus mampu menerima apa adanya.


-Ega_Sri


____


Mattea termenung di gazebo belakang rumah David. Sedangkan yang lainnya asik berbincang. Dia memisahkan diri karena mencoba untuk menghindari Thomas.


Memang menurut sebagian orang, mencintai seseorang yang jarak usianya sangat berbeda jauh dari kita, itu tidak mungkin.


Tapi bagi Mattea itu mungkin, karena nyatanya kini dia sedang mengalaminya.


Bukan baru-baru ini Mattea mencintai Thomas, Bukan! Rasa cinta itu sudah cukup lama, dan semakin berkembang sampai sekarang.


“*Uncle, kenapa setiap orang dewasa berpasangan?” Mattea kecil menatap pada Thomas yang duduk di kursi kemudi. Saat itu, dia baru saja pulang sekolah dengan di jemput oleh Thomas, karena Matteo ada ekskul jadi mereka tidak bisa pulang bersama.


“Karena mereka saling mencintai Girl.”


“Oh, apa maksud Uncle seperti berpacaran?” mata hitam pekat itu menatap Thomas dengan penuh ke ingin tahuan. Membuat Thomas gemas lalu mengusap kepalanya membuat Mattea terdiam.


“Ya, anggap saja seperti itu.” Thomas kembali menatap kearah depan.


“Hemm, apa uncle mau jadi pacarku?” Mattea meremas tangannya dengan rok yang dia gunakan. Menatap Thomas dengan penuh harap.


“Hahaha... Girl, yang benar saja. Jangan bicara seperti itu lagi!” Thomas tertawa mendengar pertanyaan lugu yang keluar dari mulut gadis kecil itu.


“Memangnya kenapa uncle?” ada nada kekecewaan disana.


“Hei princess. Kau itu gadis kecilku, jadi sejak lahir pun kau sudah jadi orang yang sangat aku sayangi. Sampai kapanpun!”


“Tapi Uncle, aku ingin jika besar nanti jadi orang yang selalu bersama uncle.”


“Yes Baby, kita akan selalu bersama nanti. Kapanpun itu!” Mattea berbinar senang mendengar jawaban Thomas.


“Really?”


“Yes.. Of course.”


“Apa aku bisa memegang kata-kata uncle?”


“Tentu...”


Dalam pikiran Thomas, itu adalah semacam janji seperti seorang ayah menjaga anaknya, tapi bukan bagi Mattea. Itu adalah janji jika nanti Thomas dan dia bisa bersatu dan saling mencintai.


Gila memang, tapi itulah nyatanya*.


...


“Hei Girl? Kenapa disini sendiri? Bukannya kau ingin bermain bersama Kevan?” Mattea terkejut saat mendapati Thomas sudah duduk di sampingnya. Terlalu asik melamun, hingga dia tidak menyadari kedatangan pria itu.


“Yes Uncle. Aku hanya ingin seperti ini sebentar!” mata Mattea menatap ke arah lain, membuat Thomas heran.


“Hei, apa yang kau liat?” Thomas mengusap puncak kepala Mattea membuat gadis itu membeku seketika, tapi dia mencoba untuk menormalkan ekspresinya kembali.


“Uncle, apa aku boleh bertanya?” Mattea menatap Thomas dengan tatapan yang serius. Membuat laki-laki dewasa itu juga menatapnya serius.


“Yes baby. Kau mau bertanya apa?” tanya Thomas.


Mattea memperbaiki posisi duduknya. Dia menatap Thomas dengan dalam.


“Apa menurut Uncle, aku ini pantas untuk di cintai?”


“Hei, pertanyaan macam apa itu? Ya tentu saja pantas. Kau adalah gadis yang cantik, bahkan sangat cantik, bahkan kau pantas bersanding dengan pangeran, princess.” lagi-lagi Thomas mengusap kepala Mattea membuat gadis itu berdebar, dan kini rasanya semakin membuncah.


“Tapi pangeran yang aku inginkan tidak menginginkan aku uncle.” Mattea tertunduk lesu, membuat Thomas iba. Laki-laki itu membawa Mattea kedalam pelukannya membuat Mattea melotot kaget. Dan dia sangat menikmati itu.


“Mustahil ada pangeran yang menolakmu baby, jadi jika kau benar-benar mencintai dia, maka kau harus menunjukkan padanya,” Thomas mengusap kepala Mattea, lalu melepaskan pelukan mereka.


“Pengeran itu kau Uncle! Kau! Kenapa kau tidak peka juga?”


Mattea meringis dalam hatinya, menertawakan dirinya sendiri yang jatuh cinta pada pamannya, sahabat dari dadynya.


“Jika orang itu adalah Uncle, apa Uncle akan percaya?” Mattea bertanya penuh harap, dan menantikan jawaban dari mulut Thomas.


“Bukankah aku memang pangeranmu dari dulu princess? Kau gadis kecilku.”


Deg...


“Apa maksud Uncle?”


“Tidak apa-apa. Jadi ayo katakan, siapa pangeranmu itu?” Thomas bertanya lagi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


“No. Aku tidak akan memberitahu sekarang. Nanti pasti akan aku ceritakan pada Uncle.”


“Hemm, baiklah. Ayo kita kembali kedalam. Bukannya kau mau bermain dengan Kevan?” Mattea mengangguk menjawab pertanyaan Thomas. Lalu keduanya berjalan beriringan masuk kedalam rumah untuk menghampiri yang lainnya.


“Hei, Beby. Kemana saja? Bukannya tadi kamu yang paling bersemangat sekali untuk datang kemari?” Max menatap Mattea yang menyunggingkan senyuman mempesonanya.


“Yes dad. I'm sorry. Aku tadi di gazebo.” Mattea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu berjalan menuju Aira untuk menggendong Kevano.


“Hallo pangeran kecil.” Matre mencium Kevano membuat balita itu senang. Dan menunjukkan deretan giginya yang rapi.


“Kakak Mattea darimana?” tanya Kevano.


“Hem, aku dari gazebo.” Kevano duduk di pangkuan Matteo.


“Daddy, apa aku terlihat sudah pantas untuk menggendong anak?” Max terkejut mendengar perkataan Mattea.


“Kau tidak berniat untuk menikah muda kan Baby?” tanya Max penuh selidik. Sedangkan Mattea hanya menggedikkan bahunya acuh.


“Hemm, aku sih memang ingin seperti itu, tapi sampai saat ini pangeranku masih belum peka.” Max menatap pada Thomas membuat laki-laki itu bingung.


“Uncle Max, aku mau menikah muda!” Ana yang sedari tadi hanya diam bersuara membuat semua orang menoleh padanya.


“Hei bocah, sekolah yang benar. Kau masih SMA dan sudah memikirkan menikah muda.” Ana menampilkan senyuman polosnya pada sang Dady.


“Tapi aku serius Dady. Aku ingin menikah muda, dengan kak Matt.” Matteo tersedak ludahnya sendiri mendengar pernyataan Ana. Dia menatap gadis kecil itu dengan tatapan tajam. Sedangkan yang di tatap seperti itu hanya cengengesan tidak jelas.


“Hahaha ... Ana, kau serius mau menjadi menantuku?” Max tertawa saat mengatakan itu. Sedangkan Ana menganggukkan kepalanya dengan semangat membuat Matteo semakin kesal.


“Yes Uncle. Aku mau berusaha untuk bisa menjadi menantu Uncle.” Ana mengatakan itu dengan semangat, membuat Matteo memalingkan wajahnya.


“Hei kakak. Jangan seperti itu, kalau kakak bersama dengan kakak Matt, lalu bagaimana aku dengan kakak Mattea,” Kevano yang berada di atas pangkuan Matteo bersuara. Balita menggemaskan itu membuat semua orang tertawa dengan perkataannya.


“Hei Boy, kalau kau mau bersama dengan Mattea, kau harus melangkahi aku dulu.” Mattea menatap pada Thomas yang dengan ringan saat mengatakan itu.


“Kenapa begitu Uncle?” tanya Kevano yang polos.


“Karena aku pangerannya. Jadi kau harus mengalahkan aku dulu.” runtuhlah pertahanan Mattea, dia berdebar kencang saat Thomas selesai mengatakan hal itu.


“Iya ... iya benar. Kak Mattea dengan Uncle Thomas saja, biar aku bisa dengan kak Matt, iya kan kak Matt?” Ana tersenyum menggoda pada Matteo yang menggertakkan rahangnya.


Semua orang tertawa mendengar perkataan Ana.


“Kedua anakmu sangat bersemangat untuk menjadi menantuku David.” Max dan David tertawa setelah itu.


Matteo menatap Ana dengan tajam.


“*Dasar gadis kecil menyebalkan!”


_______


Salam sayang semuanya 🤗*