My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. Menikah?!



Mattea di paksa turun dari dalam mobil yang membawanya ke gereja.


Di sana, ya di tempatnya dia turun, tepatnya di depannya sebuah gereja yang cukup besar, Mattea menatap bangunan yang biasa dia gunakan untuk ibadah itu, kini akan menjadi saksi dan tempat paling menyakitkan baginya, karena harus mengikat janji pernikahan yang suci disana bersama dengan orang yang paling dia benci saat ini.


Tidak terlalu ramai orang disana, karena ini sudah mulai menjelang malam. Mattea berusaha untuk melepaskan tangannya yang di pegang kuat oleh Austin.


Austin melihat pada ponselnya yang terhubung dengan mobil yang di kendarai oleh Thomas dan Max. Mobil itu tampaknya masih jauh dari lokasi mereka membuat Austin tersenyum. Berarti, waktunya dia memulai semuanya tanpa ada gangguan yang berarti.


Mattea di pegang oleh dua orang laki-laki, sedangkan Austin mendekat ke arah pastor untuk memulai acara pemberkatan ini.


Mattea menangis membuat pastor itu heran.


“Hentikan tangisanmu, atau semuanya aku akhiri saat ini juga?” nada bisikan berupa ancaman itu, membuat Mattea menatap Austin dengan tatapan tajam yang sudah berada di dekatnya lagi.


Bagaimana laki-laki di hadapannya ini, melakukan semua ini. Ini sangat terencana, karena dia bahkan menyiapkan jebakan untuk Daddy dan Uncle-nya.


Saat mengingat Uncle dan Daddy-nya, Mattea teringat dengan sang Mommy dan Kakak kembarnya, apakah kedua orang itu mengetahui kalau dirinya di culik?


Mattea kembali menangis, saat mengingat bagaimana nanti reaksi Mommy dan Daddy-nya kalau dia menikah dengan laki-laki yang ada di hadapannya ini.


Dan terlebih lagi, Mattea tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi laki-laki yang sangat dia cintai, kalau tau bahwa dirinya menikah dengan orang yang sudah menculiknya.


Rasanya Mattea ingin bisa menghilang dari tempat ini. Tapi dia sadar kalau dia tidak cukup kuat untuk melawan pria-pria berbadan besar yang menjaganya ini.


Mattea ingin lari, tapi tak bisa. Dia tidak ingin Daddy dan Uncle-nya meregang nyawa karena laki-laki laknat yang sudah menculiknya ini, ternyata sudah meletakkan bom di mobil mereka. Mattea tidak tau, kapan laki-laki itu melakukannya.


Para pengawal, dan juga maid yang bekerja di rumah Austin, ikut kesini untuk menjaga agar Mattea tidak kabur.


Setelah mengatakan maksud kedatangannya pada pastor disana, keduanya di sambut baik. Mattea meremas tangan maid yang mengantarkannya pada Austin di atas altar. Rasanya Mattea ingin sekali berlari dan berbalik untuk tidak bisa sampai ke altar, tapi akan ada harga yang harus dia bayar untuk itu.


Mattea menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis. Itu bukan tangis bahagia, tapi itu adalah tangisan kesakitan. Mattea memegang tangan maid yang menuntunnya dengan erat, membuat maid itu menjadi semakin iba padanya. Wanita itu, tidak menyangka kalau hidup wanita cantik yang dia tuntun ini sangat menyedihkan.


Seharusnya, wanita secantik Mattea ini, menikah dengan laki-laki yang dia cintai, laki-laki yang juga mencintainya. Tapi lihatlah sekarang, laki-laki yang akan menikah dengannya itu, adalah laki-laki yang sangat menginginkan kehancurannya.


Mattea melihat senyum mengerikan Austin di atas sana. Laki-laki itu tampak sangat mengerikan dengan senyuman iblis itu. Walaupun dengan badan proposional, wajah yang tampan, tapi tetap saja, Mattea melihatnya sebagai laki-laki paling mengerikan saat ini.


Tangan Mattea kini sudah berpindah tempat. Kini tangannya sudah ada di genggaman Austin. Sedangkan pastor membacakan doa sebelum pemberkatan di mulai.


.


.


_____


Gelap, itu yang dirasakan oleh Mattea, sebelum warna gelap itu mulai menampakkan cahaya saat dia berusaha untuk membuka mata. Dia mengusap pelipisnya, agar rasa sakit di kepalanya menghilang.


“Kau sudah sadar Baby Girl?!” Mattea terkejut dengan apa yang dia dengar. Dia sangat mengenal suara itu, suara yang membuatnya selalu rindu, selalu tenang, dan suara orang yang sangat dia cintai.


‘Berhentilah bermimpi Mattea, kini kau sudah menjadi istrinya!’ Mattea kembali mengusap matanya yang mulai memerah menahan tangis. Dia tidak tau, kenapa bisa sampai disini, di sebuah ruangan bernuansa putih dan juga— Pink?


Tunggu-tunggu? Bukankah ini di kamarnya?


Mattea mencoba untuk duduk, tapi sebelum itu, ada seseorang yang membantunya.


“Apa kau benar-benar kuat untuk bangun baby Girl?”


Eh? Suara ini?


Mattea menatap pada Thomas yang ada di sampingnya. Cukup lama gadis itu diam, sebelum dia menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


“Mattea, apa karena kau sangat merindukan dia, hingga kau berhalusinasi seperti ini?” Mattea memukul kepalanya, supaya bayangan laki-laki yang dia cintai itu hilang dari pandangannya. Tapi bukannya menghilang, justru suara kekehan tawa yang dia dengar.


“Apa kau tidak ingin memeluk suamimu ini istriku sayang?” Thomas duduk di ranjang, bersebelahan dengan Mattea yang kini masih syok di dekatnya.


“Hah?”


“Astaga, reaksi macam apa ini? Inikah balasan untuk seorang suami yang menunggu istrinya siuman setelah satu hari pingsan? Aku tidak tau, kau itu pingsan atau tidur!”


Mendengar apa yang di ucapkan oleh Thomas, membuat Mattea memukul dada pria itu. Dan ternyata dia tidak berhalusinasi. Ini nyata? Laki-laki yang sangat dia cintai kini ada di depannya? bukankah—.....?


“Hei? Apa yang kau pikirkan baby girl?” melihat Mattea seperti orang yang sedang berpikir membuat Thomas mengernyit.


“Bukankah aku....? Hemm, maksudnya, pria mengerikan itu......?” tau apa yang di maksud oleh Mattea, laki-laki itu memegang tangan Mattea lembut.


“Dia ada bersama dengan Max! Kau tidak perlu khawatir!” mendengar apa yang dikatakan oleh Thomas membuat gadis itu heran.


“Apa yang Daddy lakukan padanya? Dan apa aku sudah menikah dengannya?” mendengar pertanyaan Mattea membuat Thomas tertawa.


Thomas mengedipkan mata genit pada Mattea, membuat gadis itu merenggut. Dia mencoba untuk mengingat kembali apa yang sudah terjadi padanya kemarin, bukan! Bukan kemarin, tapi kemarinnya lagi!


_


______


_


Flashback on!


Saat Mattea hendak mengucapkan janji suci mengikuti pastor, dia mendengar suara keributan dari luar. Membuat perhatian ke tiganya teralihkan, dan akhirnya janji itu tidak di lanjutkan. Para maid dan anak buah Austin berjalan keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Walau ini sudah malam, tapi terlihat beberapa orang diluar seperti sedang berkelahi. Mattea menatap Austin yang sedang mengepalkan tangannya, dia mengeluarkan ponsel yang dia jadikan untuk alat agar dia mengetahui dimana Max dan Thomas, tapi dia melihat mobil yang menjadi titik merah itu tidak mendekat ke arah jalanan gereja, tapi ke arah jalan lain.


Lalu siapa yang membuat keributan dari luar?


Pastor menatap kedua orang yang ada di hadapannya ini, sebelum akhirnya Austin berjalan keluar meninggalkan altar tanpa mempedulikan Mattea dan pastor.


Mattea ikut berjalan turun, dia ingin melihat keributan apa yang terjadi di luar.


Saat tiba di luar, Mattea melihat Stella sedang berkelahi dengan anak buah Austin. Gadis itu terlihat sangat pandai berkelahi membuat Mattea takjub.


Tak lama setelah itu, tampaklah mobil yang tidak Mattea ketahui itu milik siapa mendekat. Mobil itu berhenti di dekat pertarungan adu otot itu terjadi.


Keluarlah Thomas dan Max dari sana berserta dengan Matteo membuat Austin melotot. Dan juga ada mobil lainnya yang berhenti, hingga tampaklah anak buah Thomas keluar dari dalam mobil yang terlihat asing itu.


‘Bukankah mobil itu tidak menuju kemari? Dan kenapa jadi mobil lain yang membawa mereka kemari? Tidak mungkin mereka tahu, kalau ada bom di mobil itu kan?’ batin laki-laki itu mengepalkan tangannya.


Thomas mendekat pada Austin dan langsung menghadiahi laki-laki itu sebuah kepalan tangan yang membuatnya mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.


Untung saja hanya sebuah kepalan tangan, bukan sebuah pistol yang kini bersembunyi dibalik pinggang laki-laki itu yang Thomas keluarkan, yang siap kapan saja menembus tubuh Austin.


Karena Thomas masih menghargai, bangunan suci yang berdiri didepannya, yang tidak patut di aliri dengan pertumpahan darah!


Austin kalah jumlah kali ini, dia menatap anak buahnya yang sudah terkapar karena seorang gadis! Astaga, sungguh mereka tidak bisa di andalkan! Hanya karena seorang gadis, membuat mereka mengerang kesakitan seperti itu? Ckckck.


Dan Austin juga tidak bisa mengerti, kenapa mobil yang dia pasangi bom itu, tidak menuju kemari dan Thomas berserta dengan Max ada di mobil lain?!


Austin mencoba untuk melawan Thomas, tapi kekuatan dan teknik bela diri laki-laki itu jauh di bawah Thomas, hingga dengan mudah pria itu di lumpuhkan.


Sedangkan Max dan Matteo langsung mendekat pada Mattea. Max membawa anak gadisnya itu kedalam pelukannya. Mattea membalas pelukan Max dengan tenang. Kini dia tidak takut lagi.


Austin dan anak buahnya yang sudah babak-belur itu di bawa oleh Nicko menuju markas tanpa diikuti oleh Thomas, karena ada sesuatu yang harus diselesaikan oleh bos mereka disini!


Stella mendekat pada Mattea, membuat gadis itu langsung memeluknya.


“Maafkan aku Mattea, tidak bisa menjagamu dengan baik.” Stella menatap Max dengan penuh hormat. Dia memberikan ketenangan pada Mattea.


“Terimakasih sudah menolongku disaat-saat terakhir.” Stella membalas pelukan Mattea.


Iringan mobil yang membawa Austin menuju markas, mulai meninggalkan area Gereja.


“Hemm, apa aku juga boleh memeluknya?” Thomas yang dari tadi melihat adegan peluk peluk itu, akhirnya membuka suara.


Stella menjauh dari Mattea, dan memberikan ruang untuk Thomas mendekat dan memeluk gadisnya itu.


.


“Daddy, bagaimana kalian bisa kemari? Bukankah mobil itu ada bomnya?” Mattea menatap kepada ke empat orang itu meminta jawaban. Semuanya tersenyum pada Stella, membuat Mattea bingung. Matteo hanya diam, dia senang adiknya yang menyebalkan ini, sudah di temukan dan selamat.


“Hahaha, nanti kami jelaskan baby girl, sekarang ayo kita masuk.”


“Untuk apa?” pertanyaan macam apa itu?


“Tentu saja untuk menyelesaikan apa yang sudah di mulai laki-laki itu?!”


“Hah?”


_


________


Dahlah, mau bobo aja.


Ga ada yang dukung😐