My Devils Husband

My Devils Husband
Exp. Menjadi adikmu?



Mual dan muntah dialami lagi oleh Stella pagi ini. Dengan sedikit tertatih, wanita itu berjalan menuju kamar mandi, untuk mengeluarkan isi perutnya yang bergejolak. Sembari memegangi dadanya, Stella terus memuntahkan cairan putih dari mulutnya, dan itu hanyalah ludah saja. Karena, dia bahkan tidak bisa memakan makanan apapun saat ini.


Arthur yang mendengar suara berisik dari arah kamar mandi, langsung bangun dan bangkit. Menyusul sang istri yang sedang tidak enak badan itu.


Arthur masuk kedalam kamar mandi yang tidak di kunci itu, lalu langsung mengusap punggung Stella untuk bisa sedikit membantu wanita tersebut.


Stella berbalik, dia langsung memeluk Arthur, membenamkan wajahnya di dada bidang tersebut.


“Arthur, aku sangat lemas!” hati Arthur berdenyut sakit saat mendengar suara lirih itu. Dia mengusap kepala Stella dengan penuh kasih sayang. Mencium keningnya dengan lembut, sangat lembut hingga Stella memejamkan matanya, merasakan kenyamanan itu.


Arthur langsung mengangkat tubuh Stella dan berjalan keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu dengan sangat hati-hati meletakkan istrinya di atas tempat tidur.


“Istirahatlah, Sayang!” Arthur mengusap kepala Stella berulang kali. Dia melirik pada jam dinding, ternyata ini masih terlalu pagi.


“Apa ada sesuatu yang kau inginkan? Makanan atau apapun?” tanya Arthur.


Stella menggeleng lemah. “Tidak, aku hanya ingin istirahat saja!” Arthur mendesah. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Hormon kehamilan yang dialami oleh Stella, sangat berbeda dengan Mattea dan juga Ana. Istrinya itu bahkan tidak bisa mencium bau makanan apapun, dan juga teobokki yang kemarin ayahnya bawakan, Aletta keluarkan kembali. Perutnya tidak menerima makanan apapun yang masuk kedalamnya.


“Atau kau mau susu ibu hamil? Aku akan membuatkannya sekarang?” lagi-lagi Stella menggeleng.


“Aku lebih baik tidak makan apapun, dari pada aku makan, tapi semuanya keluar lagi.” Arthur memilih untuk duduk di samping Stella. Laki-laki itu menghela napas berat.


“Aku akan mencoba memasakkan sesuatu untukmu. Mungkin saja, anak kita menginginkan makan yang aku buatkan?” tanpa menunggu jawaban dari Stella, Arthur langsung melesat pergi ke dapur. Berbekal ponsel didalam genggamannya, laki-laki membuka YouTube untuk mencari video tutorial membuat nasi goreng ala-ala.


Video yang berdurasi hampir lima menit itu menunjukkan cara-cara membuat nasi goreng spesial dengan telur mata sapi. Dengan cepat, Arthur menyiapkan bahan-bahan yang di sebutkan itu, yang untungnya ada didalam lemari es nya.


Dengan sesekali mem-pause video tersebut, Arthur membuat nasi gorengnya dengan cukup baik. Aroma yang keluar dari bawang putih yang bercampur bawang merah itu, membuat Arthur rasanya ingin sekali melahap nasi goreng ala-ala tersebut. Tapi dia harus membawakannya untuk Stella dulu, dan makan bersama.


Arthur membuka pintu kamar dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan yang lain memegang nampan, yang di atasnya ada dua piring nasi goreng dan juga air putih.


“Sayang ....” Stella yang sedang berbaring itu menoleh pada Arthur. Bau nasi goreng yang di bawa Arthur menusuk kedalam indera penciuman Stella, tapi anehnya dia tidak merasa mual untuk itu.


“Aku membuatkan nasi goreng spesial untukmu. Aku memasaknya dengan sepenuh cinta, tapi soal rasa aku tidak bisa jamin.” Arthur duduk di sisi ranjang. Dia meletakkan gelas air minum di atas nakas, sedang dua piring nasi goreng ada di atas kasur, nampan Arthur letakkan di samping duduknya.


“Kau yang memasaknya?” tanya Stella berbinar senang. Arthur mengangguk bangga.


“Kau harus mencobanya, Sayang. Aku yakin ini pasti sangat enak, yah walaupun aku sendiri tidak yakin.” Arthur terkekeh dengan kata-katanya sendiri. Dan kekehan itu menular pada Stella.


Bentuknya tidak terlalu buruk, yah walaupun telur yang ada di atas nasi goreng itu sedikit mengganggu karena sedikit gosong, tapi bagi Stella itu tidak masalah. Selagi perutnya tidak merasakan mual, dia akan sangat senang memakannya.


“Mau aku suapi?” tanya Arthur.


Stella menggeleng. “Aku bisa sendiri. Ayo, kita makan bersama!” Arthur tersenyum senang. Istrinya tampak menyukai masakannya, dan begitu juga dengan bayinya.


Arthur menatap Stella yang memakan makanan buatannya itu dengan sangat lahap. Membuat laki-laki itu tertawa. Dia memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya ... dan.....


“Uhuk ... uhuk ....” Arthur langsung mengambil gelas yang ada di atas nakas, dan langsung meminum air putih itu sampai tandas.


‘Ini asin sekali! Astaga, aku tadi memasukkan berapa sendok garam? Bukannya tadi itu penyedap rasa?' Arthur meringis saat Stella sudah menghabiskan makanannya.


“Sayang, ini sangat enak. Aku tidak mual saat memakan masakanmu.” Stella tersenyum antusias. Dia melirik pada piring Arthur yang masih penuh.


“Kau tidak suka? Apa aku boleh minta?”


“Eh? Ah iya, kau suka? Apa rasanya enak?” tanya Arthur hati-hati. Stella mengangguk. “Sangat enak, makanya aku mau lagi!” Arthur menyerahkan piring yang ada di tangannya pada Stella.


“Apa tidak asin?” tanya Arthur lagi. Stella menggeleng.


‘Ahh, selera ibu hamil memang sulit dimengerti!’ Arthur mendesah. Sekarang dia cukup tenang karena Stella sudah bisa makan, walaupun itu makanan asin. Tapi yang penting, perut wanita itu tidak kosong lagi. Arthur tidak mau, Stella sampai kehilangan cairan akibat mual-mual yang dialaminya.


Satu piring nasi goreng ala-ala kembali ludes oleh Stella. Wanita itu meminum air putih yang sudah disiapkan oleh Arthur.


“Terimakasih, Sayang. Kau sudah menjagaku dengan sangat baik, dan selalu sabar selama aku mengalami ngidam ini. Dan juga, terimakasih untuk nasi gorengnya. Itu enak sekali.” Arthur hanya bisa tersenyum kaku. Dia mengusap tengkuknya.


“Kalau begitu, ayo kita mandi, sekarang sudah pagi. Kau pasti gerah, kan?” Stella mengangguk. Dengan badan yang sudah lebih bertenaga dari sebelumnya, dia beranjak bangkit dari atas ranjang, walaupun itu di papah oleh Arthur.


“Kau masih sedikit linglung. Aku akan memandikanmu!” tidak ada maksud apa-apa dari ucapan Arthur, karena dia sangat mengerti dengan kondisi istrinya saat ini.


“Terimakasih untuk semuanya, Arthur!” Stella yang sudah berada di dalam bathtub itu menatap Arthur dengan sangat dalam. Suaminya itu tersenyum tipis saat mendengar kata terimakasih dari mulutnya.


“Jangan berterimakasih seperti itu, kau adalah istriku, dan kau sedang mengandung anakku, jadi tidak mungkin aku membiarkanmu menjalani ini sendiri!” Arthur menunjukkan senyuman terbaiknya. Dia mengusap kepala Stella dengan shampo, dan juga membersihkan tubuh istrinya itu.


“Aku jadi semakin mencintaimu!” Arthur terkekeh gemas. Dia mencubit pipi istrinya yang lebih tirus dari sebelumnya.


“Aku bahkan lebih-lebih semakin mencintaimu!” Stella tertawa mendengar perkataan Arthur.


“Aku tidak sabar saat anak kita ini lahir, dia pasti akan tampan sepertimu!”


“Tentu saja, aku yang membuatnya, jadi dia memang harus tampan seperti aku,”


“Aku yang berperan penting disitu, kalau kau lupa!”


“Hahaha ....”


...****...


Di meja makan kali ini, Aletta duduk di atas meja, menghadap pada Zello, membuat Thomas, Mattea, Max, Stef, Matt, dan juga Ana menggeleng melihat perlakuan gadis kecil itu. Sedangkan Zello tampak biasa saja dengan apa yang dilakukan Aletta.


“Zello, hadiah apa yang kau bawa untukku?” mengunyah roti yang sudah di beri selai oleh Zello, Aletta bertanya pada laki-laki muda tersebut.


“Hadiah? Hadiah apa?” tanya Zello pura-pura tidak tahu. Aletta langsung berhenti mengunyah sarapannya. Matanya melirik Zello dengan sinis.


“Cih, laki-laki macam apa kau ini. Sudah datang terlambat, dan hampir mengingkari janji, kali ini kau melupakan hadiah untukku!” Zello terkekeh kecil, dia mendekatkan wajahnya ke telinga Aletta, dan membisikkan sesuatu.


“Benarkah?” tanya Aletta tidak yakin. Zello mengangguk. Gadis kecil itu berbalik melirik Daddy nya. Sedangkan laki-laki tua itu terlihat bingung.


“Apa?” tanya Thomas heran. Aletta hanya mendelik sinis tanpa berniat menjawab pertanyaan daddy-nya itu.


“Zello, apa kau mau bermain salju denganku?” Aletta dan juga Zello kini berada di ruang keluarga. Gadis itu duduk sembari menopang dagu dengan tangannya. Zello menggeleng menjawab pertanyaan Aletta.


Bibir kecil itu mengerucut lucu, “Kenapa?” tanyanya. Zello hanya menggeleng saja.


“Di luar sangat dingin. Jadi kau tidak boleh bermain salju. Nanti kau sakit!” Aletta mengerucutkan bibirnya kesal. Mau tetap kekeh, tapi apa yang dikatakan oleh laki-laki itu benar.


“Iya, bukankah kau yang menyuruhku untuk datang ke sini saat Natal?” Zello mengangkat alisnya menggoda Aletta. Gadis kecil itu hanya tersenyum malu.


“Ya sudah, kalau begitu kau pulanglah sana. Lagipula natal sudah usai!” Aletta bersidekap dada, wajahnya melirik Zello sinis.


“Aku akan pulang nanti malam. Orangtuaku juga akan mengajakku untuk berlibur, kami berangkat besok pagi,” Aletta membulatkan matanya. Dia melirik Zello dengan tatapan yang tidak dapat Zello artikan.


“Berlibur? Kau mau liburan kemana?” tanya Aletta.


“Ke negara ibuku, Meksiko.” jawab Zello singkat.


“Apakah itu jauh?”


“Heem,”


“Apa aku boleh ikut?” tanya Aletta dengan berbinar. Zello terkekeh kecil, lalu mengusap rambut pirang tersebut.


“Tidak!”


“Kenapa?” tanya Aletta dengan wajah yang langsung berubah sedih.


“Karena sangat berbahaya disana!”


“Kalau disana berbahaya, lalu kenapa kau mau liburan ke sana?” tanya Aletta memicingkan mata. Gadis kecil itu mendengus.


“Aku hanya ingin saja!” jawab Zello dengan sangat cueknya, membuat Aletta kesal.


“Berbahaya seperti apa yang kau maksud?”


“Di sana banyak orang-orang jahat, dan juga kejam. Aku yakin, kau akan takut saat di sana kalau kau berlibur di sana.” Aletta mengerutkan keningnya. Mencoba untuk memahami apa yang di katakan oleh laki-laki itu.


“Kenapa kau tidak mengajak orangtuamu berlibur ke sini saja?” tanya Aletta. Kalau di sana berbahaya, lalu kenapa harus membahayakan diri? Kenapa tidak mencari tempat yang lebih aman saja, seperti di sini misalnya?


“Tidak bisa, ada yang harus aku kerjakan juga di sana,” Aletta mengangguk-angguk mengerti. “Hemm, baiklah.”


“Aku tidak tau sekarang kita mau melakukan apa. Mau pergi jalan-jalan, tapi cuaca sedingin seperti ini.”


“Kenapa kau tidak bermain dengan adikmu saja?” tanya Zello. Aletta langsung menggeleng. Raut wajah gadis itu sedikit kesal.


“Tidak mau. Dia selalu menangis dan juga tidak mau bicara denganku. Mereka tidak asik sama sekali!” Zello tertawa mendengar perkataan Aletta dan mengacak rambut gadis itu dengan gemas. Tapi setelah itu raut wajahnya kembali berubah.


“Seharusnya kau beruntung, karena memiliki adik. Bahkan dua orang, sedangkan aku tidak memiliki adik!” ujar Zello. Aletta diam mendengarkan. Tapi setelah itu dia menghembuskan napas kasar. “Kasihan sekali kau ini.” ujarnya melirik Zello itu, laki-laki remaja itu tersenyum tipis.


“Jadi mulai sekarang kau harus menyayangi adik-adikmu. Oke?” tanya Zello. Aletta mengangguk bersemangat.


“Oke.”


“Gadis pintar!” entah kenapa, tapi Zello sangat suka mengacak rambut Aletta, bahkan tangan refleks terangkat tanpa dia sadari.


“Oh iya, kalau kau mau adik, aku mau untuk jadi adikmu. Aku janji tidak akan nakal!” Zello menoleh pada Aletta, melihat gadis itu dengan tatapan yang sedikit membuat Aletta takut.


“Tidak! Kau tidak bisa jadi adikku!” ujar Zello ketus. Aletta cemberut mendengar penolakan secara langsung itu.


“Kenapa? Apa karena aku perempuan?” tanyanya kesal. Kenapa kalau dia perempuan? Bukannya adik itu bisa laki-laki atau perempuan?


“Iya, karena kau perempuan!” ujar Zello. Manik kelamnya menatap Aletta dalam.


“Jadi kau mau adik laki-laki?” tanya Aletta.


“Terserah saja. Mau laki-laki atau perempuan!” laki-laki itu mengangkat bahu acuh, sedangkan Aletta diam karena tidak mengerti dengan jalan pikiran Zello.


“Kalau terserah, lalu kenapa kau tidak mau menjadikan aku adikmu?” tanyanya.


“Karena aku mencintaimu bukan untuk menjadi adikku!”


“Apa?”


...***...


Aletta sekarang sedang tidur siang. Zello berada di lantai bawah, setelah dia menidurkan bayi perempuan kecilnya itu, duduk di dekat kolam renang dengan sebuah ponsel di tangannya.


“Hallo ....” sapa Zello saat telepon tersebut di angkat oleh seseorang di seberang sana.


“Bagaimana keadaannya? Apa sudah membaik?” tanya Zello. Kemudian laki-laki itu diam mendengarkan orang itu.


“Baguslah, pantau terus kondisinya. Jangan sampai kalian lengah. Aku mau dia segera pulih!”


“Bagus!” ujar Zello tersenyum senang.


Sambungan telepon tersebut terputus. Zello menyandarkan tubuhnya dengan hati-hati. Sedikit merasa nyeri pada punggung dan juga pinggulnya. Sebenarnya Zello mau saja untuk bermain salju dengan Aletta, tapi kondisinya kini masih kurang stabil, dan sedikit tidak memungkinkan.


“Cih, bahkan demi dia aku rela seperti ini.”


Ingat dengan orang yang waktu itu babak belur, lalu mimisan dan kemudian pingsan, dan di bawa ke rumah sakit, yang ternyata memiliki riwayat penyakit kangker darah? Dan dia membutuhkan donor sumsum tulang belakang. Dan orang baik yang berhati malaikat, yang kebetulan sumsumnya cocok dengan laki-laki itu adalah Zello.


Zello bangkit dari duduknya, dia berjalan masuk kembali kedalam mansion tersebut. Dan naik ke lantai atas, tempat dimana kamar Aletta berada. Laki-laki itu membuka pintu kamar gadis kecilnya dengan pelan. Lalu dengan perlahan berjalan masuk setelah menutup pintunya.


Zello kembali berjongkok untuk melihat wajah damai itu terlelap. Senyuman tulus terbit di wajahnya.


“Kau sangat cantik, Aletta.” tangannya mengusap surai pirang milik Aletta. Membuat gadis kecil itu semakin nyaman dalam tidurnya.


“Cepatlah kau besar, temani aku untuk mengarungi dunia ini bersama-sama. Karena aku tidak mau siapapun selain kau.” sebuah kecupan di pipi Zello berikan pada gadis yang sedang terlelap itu. Laki-laki itu tersenyum samar.


“Aku akan sangat merindukan aroma ini. Aku harus pergi sekarang, my Letta. Maaf tadi membohongimu. Aku harus kembali memeriksakan keadaan ku! Jangan rindukan aku!” Kecupan kedua kembali Aletta dapatkan dari Zello.


“Ingatlah, jangan rindukan aku. Hanya aku yang boleh tersiksa rindu, dan kau jangan!”


***


😆