
“Pantas saja kau tidak mau pulang, An. Disini nyaman sekali.”
Ana mengangguk mendengar perkataan Matt. Dari samping, dia mengamati wajah tampan Matteo.
Garis rahang yang tegas, hidung mancung, dengan mata yang hitam segelap malam, alis yang simetris, dan jangan lupakan bibir yang tipis menggoda itu.
Perubahan Matt terlihat jauh semenjak beberapa tahun belakangan ini. Dia terlihat semakin dewasa dengan otot-otot tubuh yang sempurna yang dibalut oleh kemeja yang di pakai laki-laki itu.
Baju kesukaan Matt masih sama, yaitu kemeja lengan panjang yang di gulung hingga siku. Membuatnya semakin tampan dan gagah.
“Kak, Matt. Apa kita dulu benar-benar sepasang kekasih?” tanya, Ana. Matt menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan gadis itu.
“Hemm, seperti yang aku katakan. Kita bahkan hampir menikah dulu.” mata Ana membola mendengar perkataan Matt.
‘Astaga, aku tidak menyangka, ternyata aku mempunyai calon suami se-tampan ini?!’
Ana menggigit bibir bawahnya, menahan untuk tidak tersenyum.
“Lalu kenapa kita tidak jadi menikah? Apa kak Matt selingkuh?”
Matt mengangkat alisnya mendengar perkataan Ana.
‘Selingkuh katanya?’
“Bukan,” ujar Matt.
“Lalu?”
“Kau yang membatalkannya, kau bilang kita bisa menikah nanti. Tahun depan.”
Ana manggut-manggut mendengar perkataan Matt.
“Itu pasti karena penyakitku itu, ya, kak?” ujar Ana. Ana memandang ke arah bawah dengan sendu. Kini mereka sedang duduk di balkon lantai tiga, di sebuah ruangan.
“Hemm, begitulah!”
“Bibi Stef bilang, dulu aku memiliki rambut panjang, tapi saat aku terbangun, rambutku rontok. Dan kini rambutku pendek sekali.”
“Ya, kau memiliki rambut yang panjang dulu, tapi dengan rambut pendek seperti ini, kau terlihat semakin cantik.”
“Benarkah?” ujar Ana berbinar. Matt tersenyum tipis.
“Ayo kita ke bawah, hari sudah mulai gelap sekarang. Aku yakin kak Matt juga lelah, kan?”
“Baiklah, ayo ....”
Kedua orang itu masuk kedalam ruangan tempat balkon yang mereka duduki tadi, dan kini mereka berjalan menuju tangga untuk bisa sampai di lantai dasar.
“An, bawa Matt ke kamar tamu, ya?” Ana mengangguk mendengar perkataan Ara. Gadis itu menuntun Matt agar sampai di kamar tamu. Ternyata koper Matt sudah ada di sana, dengan pakaian yang sudah tersusun rapi di dalam lemari pakaian yang ada di sana.
“Ana keluar dulu, ya, kak? Selamat istirahat ....” setelah mendapat anggukan kepala dari Matt, Ana keluar dari kamar tamu yang ada di lantai bawah itu, lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya sendiri. Kamar yang sudah dia tempati selama empat tahun terakhir ini.
...*****...
Ana termenung dalam kamar yang bernuansa pink itu. Dia duduk di atas tempat tidur. Lalu dia merebahkan tubuhnya asal, dan menatap langit-langit kamar dengan sendu.
“Aku benar-benar tidak mengingat kak Matt, tapi kenapa dia selalu hadir di mimpiku? Dan sekarang, sosok itu ada disini, di rumah ini.”
Ana menghembuskan napas kasar.
Semenjak Stef memperlihatkan foto Matt kala itu pada Ana, dia selalu saja bermimpi tentang laki-laki itu. Ana sendiri terlihat bahagia di dalam mimpi itu, mimpi yang sama berulang kali.
Ana memejamkan matanya berusaha untuk mengingat kembali semua memori lamanya, tapi nihil. Dia tidak mengingat apapun.
Orangtuanya, orang tua Matt, dan juga paman Justin dan Bibi Aira juga sudah menceritakan masa lalunya. Tentang diri mereka, tapi itupun tidak berdampak sama sekali, selain rasa sakit yang membuat Ana mengeluarkan air matanya.
“Sebaiknya, aku tidak mengingat-ingat lagi, aku tidak mau untuk pingsan lagi.”
Ya begitulah. Di setiap Ana melihat album foto yang di bawa orang tuanya, dan Ana berusaha untuk mengingat semuanya, dia selalu merasa kepalanya sakit, hingga akhirnya jatuh pingsan. Bahkan pernah sampai membuat Justin membawanya ke rumah sakit karena cemas, dan dokter bilang itu karena Ana berusaha untuk mengingat masa lalunya.
Ana bangkit dari acara baringnya, lalu dia berjalan menuju kamar mandi setelah mengambil handuk terlebih dahulu.
Dia masuk kedalam bathub yang sudah dia isi dengan air hangat, lalu merendam tubuhnya dengan sabun aroma terapi, yang membuatnya semakin relaks.
Setelah itu dia juga memakaikan shampoo pada rambut pendeknya yang berwarna pirang itu. Lalu dia tersenyum saat mengingat perkataan Matt tentang rambutnya yang membuat dirinya semakin cantik.
Setelah puas berendam dan merasa tubuhnya sudah bersih, Ana keluar dari dalam bathtub lalu membersihkan sisa busanya dengan air shower.
Ana mengambil handuk yang tergantung di dekat gantungan yang ada di sana, lalu memakainya. Ana keluar dari kamar mandi dengan santai, sebelum tubuhnya berdiri beku karena ada seseorang di dalam kamarnya.
“Ka—kak Matt?” tanya Ana terbata-bata. Dia terkejut bukan main melihat Matt yang menatapnya tak kalah terkejut dari dirinya.
“A—an ...?”
“Aaakkkhhhhh ....” Ana langsung berlari kedalam kamar mandi, sedangkan Matt masih terkejut mendengar teriakkan gadis itu.
“Kak Matt, ngapain di kamar Ana?” teriak Ana dari dalam kamar mandi. Matt gelagapan sendiri di tempatnya. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Maaf, An. Aku tadi sudah mengetuk kamarmu beberapa kali, dan tidak ada jawaban, jadi aku pikir kau kenapa-napa, jadi aku masuk, dan saat aku masuk kau juga baru keluar dari kamar mandi, maafkan aku, An.” Matt menjelaskan dengan terbata-bata. Baru kali ini dia melihat tubuhnya Ana yang hanya berbalut handuk. Membuat tubuhnya panas dingin.
“Maaf, An. Aku akan keluar.”
Matt cepat-cepat keluar dari kamar Ana, lalu menuruni tangga untuk masuk lagi ia kamarnya.
“Sial!” ujar Matt pada dirinya sendiri. Laki-laki itu langsung membuka bajunya dengan asal dan masuk kedalam kamar mandi.
“Ah, Ana. Ini menyebalkan!”
Matt menuntaskan kegiatannya di dalam kamar mandi. Tubuhnya yang sudah bersih dan harum, kembali harus merasai sabun dan mandi dalam guyuran air shower yang dingin.
Sedangkan Ana di kamarnya, kini sudah keluar dari kamar, dengan wajah yang memerah. Dia memakai pakaiannya dengan terus menggelengkan kepalanya, karena mengingat kekonyolan tadi.
“Akkhh, kenapa kak Matt harus melihat tubuhku, sih? Ini menyebalkan!” gerutunya, yang sedang mengeringkan rambut pendeknya.
...*****...
“Kalian kenapa?” tanya Stef pada kedua orang yang saling diam itu.
Semua orang kini sedang berada di meja makan, menikmati makan malam dengan menu khas makanan Indonesia.
“Tidak apa-apa, Mom.” ujar Matt, dengan wajah yang memerah karena mengingat kejadian tadi.
“Benar begitu, Ana?” tanya Stef pada gadis yang duduk di hadapannya itu.
“Ya, Bibi.” ujar Ana.
“Kak Ana, tadi saat aku lewat di kamar kak An, kenapa kakak teriak?” gadis yang hampir seumuran Ana itu bertanya padanya.
Ana menatap Jenita dengan gugup.
“Tidak ada apa-apa, Jen. Mungkin tadi karena aku melihat kecoa.”
Mata Matt membola mendengar jawaban Ana. Enak saja, dirinya disamakan dengan kecoa. Matt mendengus.
“Ohh ....” Jenita hanya mengangguk, padahal tadi dia melihat Matt keluar dari kamar Ana dengan terburu-buru. Waktunya pas sekali dengan dia yang baru saja pulang kuliah.
Tapi Jenita tidak bertanya lebih banyak, karena nanti dia akan bertanya sendiri pada Ana.
Ana menghembuskan napas kasar, dia memakan makanannya dengan cepat.
“An, besok ajak Matt keluar, untuk jalan-jalan, ya?” Ana melirik pada Max yang menanyakan itu. Lalu dia mengangguk, belum berani melihat ke arah Matt yang duduk di samping Daddy laki-laki itu.
...*****...
Malam nan gelap di lalui oleh Matt di dalam kamarnya sendiri. Dia duduk di balkon kamar nya yang di lantai bawah, dan menyesap secangkir teh hijau. Setelah itu dia melihat langit malam yang segelap matanya.
Banyak yang sudah dilalui oleh gadis itu. Banyak rintangan yang dia hadapi.
Pembengkakan di kepala Ana karena kecelakaan itu, benar-benar membuat Ana terluka. Matt tidak ingin mengingat cerita Mommy dan Daddy-nya kemarin, tapi ingatan itu tidak mau berpaling darinya.
“Aku laki-laki yang tidak berguna, An. Di titik terendahmu, aku bahkan tidak menemanimu. Aku merasa menjadi laki-laki yang benar-benar tidak berguna, An.”
Manik gelap itu, menatap sendu pada langit malam yang sama gelapnya dengan kemelut hatinya saat ini. Langit kini seakan sedang mengejeknya, karena menjadi laki-laki bodoh yang tidak berguna. Bahkan, sepertinya, langit enggan memberikan cahayanya sedikit saja pada Matt. Malam nan kelam itu, semakin menambah rasa sesal di hati Matt.
“Padahal waktu itu aku sempat kecewa padamu, karena membatalkan rencana pernikahan kita, dan pergi dari negara kita, tapi sungguh, aku tidak akan menyangka alasan di balik itu semua, An.”
Tenggorokan Matt terasa tercekat, dia mengambil teh hijau yang tadi dia nikmati.
“Bahkan, aku dengan bodohnya mengikuti kemauanmu, agar aku tidak menyusulmu. Padahal, aku tau sendiri, kau pasti tidak akan mungkin membenciku, kan, An?”
Matt terkekeh sendiri saat mengatakan hal itu. Mengingat kebodohannya dengan mengikuti kemauan Ana. Padahal, dia tahu sendiri dengan perasaan gadis itu.
Apalagi yang paling menyakitkan, dari pada sebuah rasa penyesalan?
Penyesalan, karena tidak ada di samping gadis tercinta, disaat terlemahnya. Penyesalan karena tidak ada pada saat gadisnya pertama kali membuka mata, saat perjuangan hidup dan matinya.
Walau Matt sudah berusaha untuk bersikap biasa saja pada Ana. Tapi, tidak bisa di pungkiri, bahwa dadanya sesak karena melihat tubuh kurus dengan rambut pendek itu yang tersenyum padanya.
“Tapi sungguh, dengan rambut pendekmu, kau terlihat semakin dewasa, An.” Matt kembali tertawa kecil. Lalu dia mengambil cangkir tehnya, lalu bangkit dari duduk.
Matt keluar dari dalam kamar, dia ingin mengantarkan cangkir teh itu ke dapur.
Setelah meletakkan cangkir itu ke tempat kosong, Matt kembali ke dalam kamar. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan mulai memejamkan mata.
...****...
Pagi yang cerah, di sambut dengan senyuman oleh seorang Matteo. Biasanya, pagi-pagi begini, dia segera berkemas untuk pergi ke kantor dengan pakaian formal. Tapi, kini dia memakai kemeja santainya.
Dengan celana jins biru dongker, Matt memadukannya dengan kemeja biru langit, sangat tampan, apalagi dengan sepatu kets putih. Siapa yang akan dapat menolak pesonanya? Bahkan, Ana pun terlihat sangat mengagumi laki-laki itu.
“Kak Matt, tampan banget si,” ujar Ana dengan senyuman genit, membuat Jenita yang duduk bersamanya mendengus. Semalam gadis itu sudah menceritakan kejadian di kamar pada Jenita, membuatnya tertawa terbahak-bahak.
“Aku memang selalu tampan, An.” ujar Matt dengan penuh percaya diri. Jenita mengerlingkan mata jengah, lalu mendengus.
Dia menyenggol siku Ana untuk mengingatkan rencana mereka malam. Ya, mereka sudah menyusun rencana semalam. Membuat Ana gelagapan.
Jika ada yang bertanya, apakah Ana bisa bahasa Indonesia? Jawabannya adalah bisa. Jenita mengajarkannya.
Setelah mereka selesai sarapan, Matt mengeluarkan mobil yang sudah di siapkan oleh sopir keluarga Justin. Matt juga sudah diberikan surat izin oleh Max. Untuk mengendarai mobil di negara ini.
Ana menuntun jalan mobil Matt untuk keluar dari komplek perumahan elit itu.
******
“An, kalau ke mall seperti ini, aku juga sering,” ujar Matt mendengus, saat dia memarkirkan mobilnya di basemen mall tersebut.
“Tapi Ana pengen ke Mall, kak.” jawab Ana. Matt hanya bisa mendengus.
Baiklah, demi Ana-nya, Matt rela melakukan ini semua.
Ana berjalan beriringan bersama dengan Matt, banyak yang menatap kagum pada laki-laki yang berjalan di sampingnya itu.
Matt yang melihat Ana tampak biasa saja saat orang-orang menatapnya lapar, menjadi bertanya-tanya dalam hati.
‘Apa Ana tidak cemburu?’
Sadarlah Bung, dia sudah melupakanmu!
Ana membawa Matt ke toko Es krim. Dia menyuruh laki-laki itu untuk menunggunya membeli es krim. Matt hanya menurut saja.
Setelah mendapatkan apa yang di inginkannya, Ana membawa Matt menuju ke bioskop untuk membeli tiket film yang ingin dia tonton nanti.
Setelah membeli tiket, dan berkeliling, akhirnya Matt membuka suara juga.
“An, sebenarnya tujuan kita kemana?” tanya laki-laki itu kesal.
“Tidak tahu, Kak. Ana juga kurang hapal tempat.” ujar Ana jujur. Matt menghela napas.
“Kenapa tidak bilang dari tadi, sih, An?” ujar Matt sedikit kesal. Ana mengangkat bahunya, membuat Matt lagi-lagi mendengus.
“Sebaiknya, kita makan dulu ....” Ana mengangguk mengiyakan ajakan Matt, dia berjalan beriringan dengan Matt, matanya menatap sekitar dengan acuh. Mengabaikan tatapan memuja kaum hawa pada laki-laki yang ada di sampingnya itu.
Mereka masuk kedalam sebuah restoran cepat saji yang ada di mall itu, Ana memilih untuk duduk di pojok, dan diikuti oleh Matt.
Pelayan menghampiri mereka, Matt hanya diam saat melihat berbagai menu yang menurutnya asing itu. Sedangkan Ana terlihat bersemangat saat membacakan pesanannya.
“Mau pesan apa, Mas?” tanya pelayan itu sopan, tapi tatapan kagum benar-benar tidak bisa lepas dari matanya.
Matt heran dengan apa yang di katakan oleh pelayan itu, dia lalu menatap Ana.
“Aku tidak mengerti bahasanya, An.” ujar Matt berbisik pada gadis yang duduk di dekatnya itu. Ana menghela napas.
“Dia bertanya, kakak mau pesan apa.” ujar Ana balas berbisik. Matt membulatkan mulutnya lalu berkata O tanda mengerti.
“Samakan saja denganmu.” Ana mengangguk.
Setelah mencatat pesanan kedua orang itu, pelayan tersebut pergi dari sana.
“Ana ...?”
Matt menatap seseorang yang mendekat pada mereka berdua. Laki-laki dengan menggunakan kaos yang di lapisi jaket jeans itu menyapa Ana dengan akrab. Matt mengerutkan kening pertanda heran.
“James ....” ujar Ana dengan berbinar senang. Dan Matt tidak suka dengan reaksi Ana yang seperti itu.
“Hei, kau sedang apa disini? Dan, siapa dia?” dengan lancangnya, James ikut duduk di meja mereka, membuat Matt mendengus dalam hati.
“Ya tentu saja kami sedang makan, dia kakakku,”
Sungguh, Matt benar-benar tidak senang dengan jawaban Ana yang menyebutnya sebagai kakak gadis itu. James tersenyum lebar mendengarkannya.
“Hai, kenalkan aku James.” James menyodorkan tangan pada Matt, dan di sambut dengan malas oleh Matt.
“Matteo ....” ujar Matt singkat. Setelah itu jabatan tangan mereka terlepas.
“James, kau sendiri sedang apa disini?” tanya Ana.
“Hemm, membeli sesuatu sebagai hadiah, karena aku akan pulang kampung.” ujar James terkekeh.
“Wahh, benarkah? Kapan?” tanya Ana antusias. Dia benar-benar melupakan Matt yang duduk di dekatnya.
“Tiga hari lagi,” ujar James. “Dan kau, kapan kembali?” tanya James.
“Entahlah, aku lihat nanti saja.” James mengangguk mengerti.
Pelayan yang tadi melayani mereka, kembali dengan membawa nampan makanan pada mereka.
“Apa mau menambah pesanannya, Mas?” tanyanya. James mengangguk, lalu mengatakan pesanan yang diinginkan.
Tentu Matt semakin jengkel karena laki-laki itu ikut makan bersama dengan mereka.
“Ana, aku akan ke toilet sebentar.” ujar Matt. Ana mengangguk mengiyakan. Matt pergi dari sana, entah kemana. Dia berusaha untuk mencari letak toilet, hingga akhirnya berhasil menemukannya.
Matt masuk kedalam toilet laki-laki, lalu berdiri di depan kaca besar yang ada di sana. Tidak ada yang dia lakukan selain mencuci mukanya yang terasa panas.
“Sungguh, aku tidak suka melihatmu dekat dengannya Ana. Kau bahkan tidak tertawa seperti itu padaku,”
“Ini benar-benar menyebalkan!”