
Matt pergi ke kantor. Karena Arthur mengatakan dia akan pergi ke suatu tempat. Jadi laki-laki itu hanya bisa mengiyakan saja. Matt juga meminta pengawal untuk mengantarkan mobil ke rumah sakit, karena Arthur akan mengendarai mobil sendiri.
Laki-laki itu agak cemas dengan apa yang akan dilakukan oleh Arthur, mungkinkah dia ingin pergi membuat perhitungan dengan cleaning servis itu?
Arthur sedang berada dalam mobil, tujuannya saat ini adalah tempat senam ibu hamil kemarin. Menemui cleaning servis ceroboh yang sudah membuat nyawa istrinya melayang.
Mobil itu melaju cukup lambat, karena jalanan yang sedikit padat, karena ini adalah hari Senin, awal baru bagi Minggu ini.
Setelah cukup lama di jalan, mobil itu berhenti di depan lobi tempat pusat kebugaran itu. Dia masuk kedalamnya.
Petugas yang ada di sana, hanya bisa menelan salivanya dengan cepat, saat menyadari bahwa yang datang adalah suami dari wanita yang kemarin jatuh, dan menyebarkan banyak darah di lantai.
“Tunjukkan dimana ruangan pemilik tempat ini?!” suara dengan nada datar itu terdengar menusuk dan juga mengintimidasi, resepsionis tempat itu merinding saat mendengarkannya.
“Mari saya antar!” ujar wanita muda tersebut. Arthur berdehem, lalu dia mengikuti langkah kaki wanita itu menuju sebuah ruangan di lantai dua.
Tok ... tok ...
“Masuk ....”
Wanita yang mengantarkan Arthur membuka pintu, orang yang ada di dalamnya mendongak, dan melebarkan mata saat melihat siapa yang dibawa oleh resepsionisnya.
Wanita yang sudah cukup umur itu segera berdiri, “Silakan duduk, Tuan.” ujarnya. Dia menunjuk sofa yang ada di sana. Arthur tidak menjawab, tapi dia tetap berjalan dan duduk di sofa sesuai yang dikatakan oleh perempuan itu.
“Hemm, maaf Tuan, mau minum apa?” tanya wanita itu berbasa-basi.
“Jangan terlalu banyak basa-basi, langsung saja! Kau mau aku apakan tempat ini, aku tuntut atau aku tutup?” wanita tua itu tertegun. Dia meremas tangannya yang saling berkaitan.
Wanita itu menatap Arthur dengan tatapan bersalah, “Tapi saya sudah memecat dia, Tuan. Saya bahkan sudah menyerahkan dia ke penjara!” ujar wanita itu takut-takut. Semua ini berawal dari kecerobohan cleaning servis itu, yang tidak memasangkan plang kalau lantainya basah dan licin.
Bahkan cleaning servis itu bekerja saat aktivitas senam berlangsung, karena seharusnya itu dilakukan sebelum senam dan juga sesudahnya
“Kau pikir itu cukup untuk nyawa istriku yang terenggut?” tanya Arthur datar.
DEG ...
W—wanita itu, meninggal?
Wanita itu terkejut mendengar perkataan Arthur. Karena kecerobohan seseorang, orang lain jadi meregang nyawa. Seorang anak kehilangan ibunya. Seorang suami kehilangan pasangannya selama-lamanya.
Apakah kesalahan itu dapat di maafkan? Tapi, bukan dia yang melakukan itu, tapi pekerjanya.
“Maaf, Tuan. T—tapi saya tidak mau menutup tempat ini, ini adalah satu-satunya usaha saya untuk menghidupi anak saya, apalagi suami saya tidak bertanggungjawab dan malah pergi dengan wanita lain. Saya tidak mau menutup tempat ini, Tuan.”
Wanita itu mengatakannya dengan nada bergetar. Arthur tertegun mendengarnya. Sebenarnya ini memang bukan salah wanita di depannya ini, tapi itu adalah kesalahan pekerjanya.
“Antar aku ke kantor polisi!”
Wanita itu langsung mengangguk. Dia dengan cepat bangkit dari duduknya, lalu menyambar tasnya untuk pergi ke kantor polisi.
“Naik mobilku saja!” wanita itu menurut, dia duduk di samping kemudi, Arthur menjalankan mobilnya membelah jalanan menuju kantor polisi. Lagipula dia juga sudah membuat laporan lisan kemarin pada dua orang polisi yang mengejarnya.
Mobil yang dikendarai Arthur berhenti di depan sebuah kantor polisi. Kedua orang itu turun dari sana. Dan menyatakan kunjungan pada cleaning servis kemarin.
***
Cleaning servis wanita itu tiba di depan Arthur, dengan di tuntun oleh sipir. Dia duduk dengan takut-takut di depan Arthur. Laki-laki itu melayangkan tatapan tajam, membuat kedua wanita itu menelan ludah kasar.
“Harus aku apakan, kau? Haruskah aku membunuhmu?” wanita itu menunduk dalam. Dia tidak berani mengangkat kepalanya, menatap Arthur yang duduk didepannya.
“Maaf, Tuan.” cicit wanita itu dengan suara yang pelan, tapi Arthur sanggup mendengarnya. Laki-laki tertawa sinis.
“Kau pikir, dengan kau minta maaf, istriku bisa hidup kembali?” tanya Arthur sinis. Ada nada getir yang tertangkap di sana. Dua wanita itu mampu merasakannya. Wanita cleaning servis itu semakin menunduk dalam. Ia sadar akan kesalahannya.
“M—maaf, Tuan.” cicitnya lagi, dan Arthur semakin tertawa mendengarnya.
“Haruskah aku membunuhmu sekarang?” tanya Arthur sarkas. Bibir wanita itu kelu untuk menjawab, tangannya bergetar.
Semua ini memang kesalahannya. Andai saja dia tidak lalai, andai saja dia lebih memperhatikan hal kecil seperti itu, andai saja dia tidak mengerjakannya dengan terburu-buru, andai saja dia datang lebih cepat untuk bekerja, dan andai saja dia tidak menangkap kekasihnya berselingkuh dengan wanita lain, andai ... andai ... dan andai.
Hanya andai, andai dan andai. Semuanya sudah berlalu, dia pantas menerima semua ini.
“Huuhhh ....” melihat wajah yang tertekuk itu, membuat Arthur muak. Laki-laki itu mendesah kesal. Emosinya yang ia redam, rasanya mau meledak saat melihat wajah wanita ini.
“Mendekamlah disini selama waktu yang sudah di tentukan! Jika kau sudah keluar nanti, cari aku segera!”
Setelah mengatakan itu, Arthur segera bangkit. Sipir penjara dengan cepat menyuruh wanita itu untuk ikut berdiri, supaya kembali ke ruang tahanan. Wanita tua yang datang bersama Arthur hanya diam. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
Sedangkan wanita cleaning servis itu bingung dengan apa yang dimaksud oleh Arthur. Dia sudah berada di sel tahanan, sibuk menerka-nerka apa yang di maksud oleh laki-laki yang berkuasa itu.
“Tuan ....” wanita yang datang bersama Arthur itu buka suara saat sudah di dalam mobil.
“Diamlah! Aku sudah terlalu baik dengan kalian! Jangan membuat aku marah!” wanita itu langsung bungkam.
Ya, Arthur memang terlalu baik pada mereka. Tempatnya tidak jadi di tutup, juga tidak di tuntut. Dan wanita cleaning servis itu tidak di bunuh, tapi hanya di penjara selama dua tahun.
‘Sayang, aku sedang berusaha untuk menjadi orang baik, seperti yang selalu kau katakan. Jadi ... sekarang aku sudah termasuk jadi orang baik, kan? Sayang... kau pasti bangga padaku, kan? Sayang ... aku sangat merindukanmu!’ Arthur berusaha menahan dirinya, agar air matanya tidak menetes. Semuanya masih terlalu menyakitkan baginya, tapi dia tetap harus berusaha mengikhlaskan semua ini.
***
Waktu berlalu begitu cepat, Athanasia yang sudah berumur satu Minggu, sudah boleh keluar dari rumah sakit. Karena kondisi bayi mungil itu sudah sangat baik.
Arthur membawa Atha ke rumah yang sudah dia beli. Meletakkannya di kamar yang sudah di rias oleh Stella, mendiang sang istri.
Mengingat itu semua, membuat Arthur rasanya tidak mampu untuk memijakkan kakinya ke rumah yang penuh dengan kenangan itu. Walaupun baru menempatinya selama satu bulan, tapi sudah banyak kenangan manis yang terukir di sana.
Di sofa itu, saat Stella menunggu Arthur pulang dengan senyuman merekah. Di ruang keluarga saat Stella memakan banyak sekali cemilan, tanpa memikirkan berat badannya, tapi setelah itu dia akan langsung menjerit saat menyadari kalau dirinya menghabiskan banyak sekali keripik kentang yang dia beli dengan Arthur di supermarket.
Di meja makan, saat Stella berdebat dengan Nemi, saat wanita itu menggerutu ketika Nemi mengingatkannya untuk tidak makan berlebihan. Di dapur, saat Stella di marahi oleh Nemi, karena dia menjangkau sesuatu yang tinggi, hingga wanita tua itu menyuruhnya untuk duduk diam, dan dia mengambil apa yang diinginkan oleh sang majikan.
Di tangga, saat Arthur dan Nemi memarahi Stella agar turun dengan pelan. Dan juga ... di kamar mereka. Saat wanita itu menggodanya saat wanita itu berkaca dan pipinya terlihat lebih bulat, di kamar mandi saat Stella berteriak meminta handuk, dan di atas tempat tidur. Saat mereka berbagi keringat bersama-sama.
Kenangan manis itu terasa sangat menyakitkan sekarang. Arthur memegang dadanya yang berdebar. Ini benar-benar menyakitkan.
Belum lagi dengan kenangan yang ada di apartemen, apakah Arthur masih akan sanggup untuk ada di negara ini?
Tok ... tok ....
Suara ketukan pintu, menyadarkan Arthur dari lamunannya. Laki-laki itu masih memegang dadanya yang berdebar kencang. Dia melirik pada bayi kecilnya yang sedang tertidur pulas didalam boks bayi yang sudah ia beli bersama dengan istrinya.
Tok ... tok ...
Suara ketukan pintu lagi, Arthur segera berjalan mendekat pada pintu itu. Dan menarik gagangnya.
Di sana, terlihat Nemi berdiri dengan sebuah nampan di tangannya. Wanita itu tampak berbeda dengan biasanya. Dia sedikit lebih kurus dan juga terlihat tidak bersemangat. Bahkan, matanya terlihat bengkak karena menangis. Arthur paham dengan apa yang terjadi pada wanita yang sudah menganggap Stella sebagai anaknya itu.
“Ayo dimakan dulu, Tuan. Tuan pasti belum makan siang, kan?” suara serak dan lemah wanita itu membuat Arthur menghela napas berat. Dia menerima nampan yang disodorkan padanya.
“Aku ingin makan di meja makan. Dan kau ikut makan bersama denganku. Ayo, selagi Atha masih tidur!” ujar Arthur.
“Tapi, Tuan ...”
“Jangan membantah, atau aku akan memecatmu dan mengadukanmu pada Stella, kalau kau menyakiti dirimu sendiri. Aku yakin, dia pasti akan sangat marah nanti!” Nemi tidak dapat banyak bicara. Dia mengekor mengikuti Arthur yang berjalan menuruni tangga.
Arthur duduk di meja makan. Makanan yang di siapkan oleh Nemi di atas nampan segera di pindahkan oleh wanita itu ke atas meja.
“Ambil makananmu, cepat!” ujar Arthur dengan nada memerintah. Nemi tidak punya pilihan lain saat mendengar perintah tersebut. Dia segera mengambil makanan yang sebelumnya sudah dia masak, dan ia hidangkan di atas meja, agar Arthur lebih leluasa untuk memilih.
Kedua orang itu makan dalam diam. Arthur rasanya sulit untuk menghabiskan makanan ini, karena dia benar-benar tidak berselera untuk makan saat ini.
Bahkan badan laki-laki itu tampak sangat berbeda dengan sebelumnya. Kini dia lebih kurus, wajahnya kusam, dan juga jambangnya sudah tumbuh memenuhi dagu pria itu. Matanya cekung karena kurang istirahat. Sebelas dua belas dengan Nemi yang tidak jauh berbeda dengannya.
Keduanya sama-sama syok dengan kepergian Stella yang sangat mendadak. Apalagi sebelum pergi, Nemi sempat berdebat dengan wanita itu, karena dia memakai pakaian yang terlalu terbuka, dan wanita itu menurut untuk menggantinya.
Makanan yang ada di atas piring masing-masing itu habis, Nemi segera mengemas kembali piring makannya dan juga Arthur dan membawanya menuju dapur untuk di cuci.
Arthur beranjak dari ruang makan. Dia pergi ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar sang putri.
Laki-laki itu duduk di atas ranjang, menatap langsung pada kaca meja rias yang menampilkan betapa tidak terawatnya dirinya saat ini.
“Sayang, aku akan membersihkan diri dulu. Aku tau, kau akan marah kalau aku dekil seperti ini, kan? Tenang, Sayang, aku tidak akan membuatmu marah lagi. Aku berkemas sekarang!”
Arthur bermonolog dengan dirinya sendiri. Setelah itu dia lekas berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Membersihkan jambangnya yang sudah panjang, membersihkan wajahnya yang benar-benar berminyak, dan tubuhnya yang sudah mulai kurus dengan kulit kering.
Arthur melakukan semuanya sendiri, jika sebelumnya Stella yang membantunya bercukur, maka sekarang dia harus bisa menenggelamkan kenangan saat wanita itu marah karena dia menoleh kesana-kemari saat ia mencukurnya.
Cukup lama Arthur di dalam kamar mandi. Setelah itu dia keluar dengan wajah dan juga tubuh yang lebih segar. Mengenakan pakaiannya, dia melihat pantulan dirinya di cermin. Sudah lebih baik dari sebelumnya.
Arthur membuka pintu yang terhubung dengan kamar putrinya. Bayi kecil itu rupanya masih tertidur pulas, Arthur duduk di sisi ranjang yang tersedia di sana. Melirik Bayi mungilnya yang sangat mirip dengan dirinya. Perpaduan antara dia dan Stella benar-benar terbentuk pada bayi mungil itu.
“Bagaimana keadaanmu, Atha?” bayi mungil itu tidak merespon, masih sibuk dengan mimpinya hingga sesekali dia tersenyum. Mungkin sang ibu sedang datang ke mimpinya, untuk menjadi bunga tidur bayi itu.
Arthur tertawa kecil saat bayi mungil itu tersenyum-senyum sendiri. Dia kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang lumayan besar itu, memiringkan tubuhnya ke arah boks bayinya.
Arthur masih memperhatikan Athanasia, hingga akhirnya laki-laki itu tidak tersadar lagi dan masuk ke alam mimpi.
Tidur Arthur tampak sangat lelap. Dia yang selama beberapa hari ini tidak bisa tidur dengan nyenyak, akhirnya benar-benar bisa tertidur pulas, di dekat putrinya yang juga sedang tertidur.
Kedua orang berbeda usia itu sama-sama bertanding tidur, sang ayah yang sangat lelap, dan sang anak yang senyum-senyum dalam tidurnya.
Nemi yang membuka pintu kamar Athanasia itu, tertegun saat melihat dua orang yang tertidur itu. Dia mendekat pada Atha dan mengelus pipi mungil itu, sembari tersenyum tipis.
“Tidurlah yang nyenyak, Atha. Aku akan menjagamu sampai aku menghembuskan napas ku yang terakhir. Aku sangat menyayangi ibumu dan juga dirimu.” mata tua itu memerah, dia segera keluar dari kamar itu, dan menutup pintunya dengan pelan.
Isak tangis yang coba ia redam, akhirnya tidak tertahan lagi saat dia sampai di kamarnya. Wanita tua itu benar-benar sudah menganggap Stella seperti anaknya sendiri, apalagi majikannya itu, memperlakukan dirinya dengan sangat baik, hingga dia seperti memiliki keluarga.
***
***
Tidur nyenyak Arthur terganggu dengan suara tangis bayi yang terasa sangat dekat dengannya. Perlahan mata yang semulanya tertutup itu, terbuka. Arthur menoleh pada bayinya yang tampak sudah menangis cukup lama. Saat dia bangun, tampak pintu kamar di buka oleh Nemi yang datang ke sana dengan tergesa-gesa.
“Hei, Tuan putri. Kenapa terbangun?” Nemi mendahului Arthur mengangkat Athanasia yang rupanya sudah basah. Wanita tua itu tersenyum tipis.
“Saya akan menggantikan popoknya, Tuan.” ujar Nemi. Arthur mengangguk saja, jujur dia belum terbiasa dengan situasi ini, apalagi dia tidak bisa mengganti popok bayi.
Dengan menggunakan tissue basah, Nemi membersihkan tubuh Atha. Lalu memakaikan popok yang bersih. Setelah itu Nemi segera mencium pipi yang menggemaskan itu, saat sang Tuan putri tertawa melihat tingkahnya.
“Silahkan, Tuan.” Nemi memberikan Atha pada Arthur. Tampak laki-laki itu sedikit gugup saat menerima Atha.
“Tidak apa-apa, Tuan. Nanti juga akan terbiasa,” Nemi meyakinkan Arthur, laki-laki itu tersenyum lebar membalas senyuman sang anak. Sungguh, putrinya ini bukan putri yang cengeng. Bayi mungil itu seakan mengerti dengan keadaan ayahnya. Dia terus menghibur Arthur dengan mulutnya yang tertawa, tapi tidak mengeluarkan suara.
“Kau sangat cantik. Sama seperti ibumu.” Arthur mencium hidung mungil itu. Mata bulat dengan bulu mata yang memang sudah lentik itu mengerjap lucu. Arthur tertawa gemas, Nemi ikut tertawa kecil saat melihat pemandangan itu.
“Saya akan menyiapkan makan malam dulu, Tuan.” Arthur menoleh pada Nemi, lalu laki-laki itu mengangguk. Arthur membaringkan Atha di atas tempat tidur. Bayi itu tidak menangis sedikitpun.
“Oh iya, saya juga akan membuatkan Nona kecil susu dulu, Tuan.” Nemi yang semulanya akan membuka pintu, berhenti. Arthur mengangguk, pasti putrinya ini haus sekarang.
Pintu tertutup, Nemi sudah keluar dari kamar itu. Tinggal Arthur sekarang yang sedang berbaring dengan putrinya yang menghentak hentakan kaki. Laki-laki itu tersenyum.
“Kau benar-benar sudah kuat, ya, sekarang?” tanyanya. Tak ada jawaban, hanya ada hentakan kaki yang semakin aktif.
Athanasia yang benar-benar anteng membuat Arthur benar-benar bahagia. Anaknya ini benar-benar tidak banyak mau. Arthur yang saat ini masih memperhatikan Atha, membuatnya merasa lebih baik.
Setidaknya, dengan adanya putri kecilnya ini, dia bisa sedikit demi sedikit melupakan kesedihannya.
Pintu kamar terbuka, tampak Nemi di sana dengan memegang sebotol susu. Dia mendekat, dan memberikannya pada Arthur.
“Masih sedikit hangat, Tuan. Tunggu sebentar lagi saja!” ujarnya. Arthur mengangguk. Setelah itu Nemi segera keluar dari sana.
***
Nemi sudah selesai memandikan Atha. Wanita tua itu selalu cekatan melakukan semuanya. Sekarang dia sedang memakaikan Atha baju.
Arthur sekarang sedang berada di ruang kerja. Laki-laki itu tadi menerima telepon dari Max, kalau dia sudah memberhentikan masa hukumannya.
Max sekarang menyuruh Arthur untuk memegang perusahaannya sendiri. Tidak bekerja lagi dengan Matteo. Halmington group sudah jauh lebih baik saat Max mengelolanya. Laki-laki tua itu benar-benar berjasa sekali bagi Arthur.
Dan juga, kalau bukan karena hukumannya, Arthur yakin, kalau sekarang dia pasti tidak akan bisa mengurus semuanya sendiri. Kini, Max mengganti Arthur dengan Kelvan yang juga sedang menjalani masa hukuman. Laki-laki muda itu sebelumnya di latih dengan ketat oleh anggota Black Devils, bela diri laki-laki itu sudah sangat baik. Sekarang Max menugaskannya untuk menggantikan Arthur.
Arthur memeriksa semua berkas-berkas yang diantarkan oleh pengawal keluarga Alexander tadi.
Berkas-berkas itu berisi tentang data perusahaan Halmington group. Juga data-data keuangan yang dikelola oleh Max dan juga David selama ini. Keuntungan itu masuk kedalam rekening Arthur, membuat laki-laki itu merasa benar-benar berhutang pada keluarga itu.
Hari sudah cukup larut, Arthur keluar dari ruang kerjanya. Dia ingin melihat putrinya di kamar atas yang tadi sedang bersama dengan Nemi.
Arthur membuka pintu kamar, dia melihat Nemi yang sedang menidurkan Atha. Laki-laki itu mendekat.
“Apa dia sudah tidur?” tanyanya. Nemi mengangguk. Arthur menghela napas.
“Apa kau lelah, karena harus mengurus rumah ini sendiri, dan juga harus mengurus Atha?” tanya Arthur tiba-tiba. Nemi mengangkat kepalanya, lalu wanita tua itu menggeleng.
“Tidak, Tuan!” ujarnya. Arthur lagi-lagi menghela napas.
“Aku akan mencarikan tambahan asisten, kau cukup menjaga Atha saja. Biar mereka yang mengurus rumah.” ujar Arthur. Nemi segera menggeleng.
“Tapi Tuan, saya bisa melakukannya sendiri!” ujar wanita itu.
“Tidak! Kau hanya perlu mengurus Atha. Menjaga cucumu. Jaga dia seperti kau menjaga istriku. Sayangi dia seperti kau menyayangi istriku. Kau mau?”
Nemi terdiam mendengar perkataan Arthur. Cucunya?
Kebaikan apa yang sudah ia lakukan, hingga laki-laki di depannya ini, mau menjadikan dia sebagai nenek dari bagi mungil ini? Tentu Nemi tidak akan menolak, karena dia juga sangat menyayangi bayi kecil ini.
“Iya, Tuan.” ujar Nemi. Arthur mengangguk. “Anggap juga aku seperti anakmu sendiri, jangan panggil aku tuan!” ujar Arthur. Nemi meneteskan air matanya. Wanita tua itu terharu dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang ada didepannya ini.
Di saat anaknya sendiri tidak mau mengakui dia sebagai ibunya, tapi ada orang lain, yang mau mengakui dia sebagai ibu. Bahkan ia menyuruhnya untuk menganggap dirinya sebagai anaknya sendiri. Nemi benar-benar terharu mendengar perkataan Arthur.
Dia bersumpah, akan menjaga anaknya ini dan juga cucunya dengan sangat baik. Sampai dia menghembuskan napas terakhirnya. Itu adalah janji seorang ibu untuk anaknya.
“Kau mau memelukku? Ayo peluk anakmu ini?” Nemi terkekeh kecil, dia mendekat pada Arthur. Memeluk laki-laki itu seperti anaknya sendiri. Dia merindukan dekapan seorang anak, dan dia mendapatkan sekarang.
“Aku ... aku tidak tau, kebaikan apa yang aku lakukan di kehidupan sebelumnya, sehingga aku mendapatkan seseorang yang mau mengakui aku sebagai ibunya, di saat anakku sendiri tidak mau mengakui aku,” Nemi menumpahkan rasa bahagianya. Arthur tertegun mendengar perkataan wanita tua itu.
Jadi, anak wanita itu tidak mau mengakui dia sebagai ibunya? Kurang ajar sekali. Arthur berjanji untuk memperlakukan Nemi seperti ibunya sendiri, dia tidak akan membiarkan ibunya ini di sakiti oleh orang lain.
“Sudah, sekarang ibu tidak boleh menangis. Kasihan Atha dia akan terbangun nanti.” Nemi terkekeh. Dia menghapus jejak air mata yang menetes di pipinya. Bayi kecil yang terjepit antara dia dan dan anaknya itu, masih lelap dalam tidurnya.
“Sekarang ibu istirahat saja, biar aku yang menjaga Atha.” ujar Arthur. Nemi menggeleng.
“Aku akan tidur di sini, untuk menjaga dia. Kau tidurlah, lagipula kau besok pasti akan kembali bekerja, kan?” Arthur tidak menjawab, tapi dalam diam dia membenarkan perkataan wanita tua itu.
Dia memang benar-benar butuh istirahat saat ini, apalagi beberapa waktu belakangan ini, dia kurang istirahat.
“Baiklah, terimakasih sudah menjaga Atha.” ujar Arthur tulus. Nemi tersenyum tipis, Arthur segera berlalu dari sana menuju kamarnya.
Nemi melihat Atha yang tertidur pulas di dalam boks nya, bayi itu sudah kenyang karena minum susu tadi. Nemi benar-benar sangat bahagia sekarang, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, miring menghadap Athanasia.
Sedangkan Arthur di kamarnya, laki-laki itu segera mengambil ponselnya.
“Hallo ...”
‘Selamat makam, Tuan.’ jawab seseorang di seberang sana.
“Malam. Aku ingin kau mencarikan tiga orang wanita untuk menjadi asisten rumah tangga di rumahku, aku harap besok pagi mereka sudah kesini!” laki-laki yang di seberang sana menggigit bibirnya, bagaimana caranya dia mendapatkan tiga orang asisten rumah tangga malam-malam begini, apalagi harus ada besok pagi?
‘Baik, Tuan!’ laki-laki itu memilih jalan aman dengan mengiyakan perintah Arthur.
Setelah itu, sambungan telepon tersebut terputus. Arthur meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu duduk berselonjor bersandar di kepala ranjang.
Kamar kenangan ini. Rasanya Arthur masih belum bisa untuk tidur nyenyak di kamar ini, tapi tidak mungkin dia tidur di kamar Atha sekarang, karena ada ibunya di sana.
“Aku terlalu kesulitan dengan semua kenanganmu, Sayang,” ujar Arthur dengan nada miris. Laki-laki itu rasanya benar-benar sulit untuk tidur, tapi dia harus bisa tidur, karena besok harus datang ke perusahaan.
Arthur merendahkan bantal yang menjadi sandaran punggungnya. Berusaha untuk memejamkan mata, agar bisa terlelap dengan segera.
****
Pagi-pagi sekali, Arthur sudah bangun. Tidurnya cukup pulas semalam, meskipun tidak sepulas saat dia tidur di kamar Atha.
Arthur keluar dari kamarnya, dan masuk kedalam kamar Atha yang berada di sebelahnya. Laki-laki itu membuka pintu, bayi mungil itu rupanya masih tertidur, tapi Nemi tidak ada di sana.
Arthur melihat Atha sebentar, setelah itu dia segera keluar dari kamar putrinya itu. Dia butuh air putih sekarang.
Di dapur, Arthur melihat Nemi sedang memasak sarapan. Laki-laki itu tersenyum kecil, ibunya ini benar-benar. Padahal Arthur sudah melarangnya, tapi wanita tua itu tetap saja mengurus semuanya sendiri.
“Ibu, nanti akan ada pelayan baru yang datang. Jadi ibu tidak usah memasak lagi,” ujar Arthur. Nemi cukup terkejut mendengar suara laki-laki itu. Dia menoleh pada Arthur yang sedang minum air putih itu.
“Aku hanya sedang menyiapkan semua keperluan anakku.” ujar wanita itu. Arthur terkekeh kecil, dia meletakkan gelas bekasnya itu di atas meja makan.
“Terserah saja. Tapi yang jelas, nanti ibu tidak boleh mengerjakan semuanya sendiri lagi. Percuma aku buang-buang uang kalau ibu melakukannya!” Nemi benar-benar tertawa. “Ya sudah, terserah kau saja. Aku akan ke kamar Atha sekarang, dia perlu mandi!” Arthur mengangguk.
Setelah percakapan singkat itu, Arthur berlalu dari sana, naik ke lantai atas menuju kamarnya. Dia juga harus mandi sekarang.
***
Arthur keluar dari dalam mobil. Kali ini dia tidak mengendari mobilnya sendiri. Dia di antar oleh supir, atas perintah Max.
Duda tampan dan juga kaya raya itu berjalan dengan langkah tegap masuk kedalam perusahaannya. Di sana, Max dan David sudah menanti.
Arthur memberikan senyum kakunya, dua laki-laki tua itu terkekeh. Arthur mendekat ke sana. Semua karyawan yang memang sengaja untuk di kumpulkan pagi ini, berdiri berjejer di sana.
Arthur mengangkat kepalanya, menatap pada wajah-wajah baru itu. Dia belum cukup terbiasa saat mendapat perhatian seperti ini, karena biasanya dia selalu berjalan di belakang Matt.
“Selamat pagi, semuanya. Hari ini saya mengumumkan pada kalian semuanya, pewaris satu-satunya dari mendiang Tuan Halmington, yaitu Arthur Adelardo Halmington. Pemilik Halmington group yang sah!” semua orang yang ada di sana melebarkan mulut mereka. Laki-laki tampan, gagah dan juga berkarisma yang ada di depan mereka itu, adalah Presdir baru mereka?
Ya ampun, seksi sekali.
Tampannya.
Aku pasti betah bekerja di sini, kalau Presdir nya seperti ini.
Tapi Tuan Max, masih tampan seperti dia.
Arthur menundukkan kepalanya sesaat, dia memberikan senyum kaku pada seluruh karyawannya.
“Saya Arthur, Presdir baru Halmington group. Mohon kerjasamanya!”
Semua karyawan yang ada di sana mengangguk. Tidak hanya tampan, tapi dia juga ramah. Begitu pikir mereka.
Huuhh, mereka tidak tahu saja bagaimana Arthur yang sebenarnya, apalagi setelah istrinya meninggal.
Setelah acara penyambutan itu, semuanya di bubarkan. Arthur mengikuti langkah Max dan David berjalan menuju lift khusus.
Kalau ada yang bertanya, kenapa para karyawan Halmington group tidak mengenal Arthur sebelumnya, itu karena laki-laki itu tidak memegang perusahaannya. Perusahaan Halmington sebelumnya berada di tangan pamannya. Hingga akhirnya Max mengambil alih perusahaan itu, apalagi dengan persetujuan Arthur.
Ketiga laki-laki itu masuk kedalam ruang kerja Arthur. Sangat berbeda dengan ruang kerja dia sebelumnya, karena ini merupakan ruang utama di gedung Halmington tersebut.
“Kau sudah tau apa yang kau kerjakan, bukan?” tanya Max buka suara. Arthur mengangguk. Dia memilih untuk duduk di sofa, melirik pada dua laki-laki tua itu.
“Baguslah, aku harap kau tidak mengecewakan aku!” ujar Max. Arthur hanya diam. Sanggupkah dia membanggakan laki-laki yang ada di depannya ini? Laki-laki yang sudah seperti ayahnya ini? Arthur hanya berdoa dalam hati, semoga dia dapat melakukan sesuatu yang membanggakan Laki-laki di depannya ini.
“Saya akan melakukan yang terbaik, Tuan.” ujar Arthur berucap yakin. Max mengangguk-angguk.
“Baguslah, kalau begitu kami akan pergi.” Max dan David berdiri. Arthur ikut berdiri, dia mengantar dua laki-laki itu menuju pintu ruangannya.
“Oh iya, aku sudah menyiapkan sekretaris untukmu!” ujar Max. Arthur melirik pada meja kerja di depan ruangannya yang sudah terisi.
“Terimakasih, Tuan.” hanya itu yang dapat Arthur ucapkan sekarang. Max mengangguk. Lalu kedua laki-laki tua itu segera berlalu dari sana dan masuk kedalam lift.
Arthur segera masuk kembali kedalam ruangannya. Laki-laki itu duduk di kursi kebesarannya.
“Aku benar-benar berharap, semoga aku bisa menjalani semua ini, tanpa dirimu, Sayang!” gumam Arthur saat melihat pada layar ponselnya, yang menampilkan foto pernikahannya dengan Stella.
“Aku benar-benar merindukan dirimu, Stella.”
***
🥀🥀
Chap terpanjang 🥀