
Kado-kado yang bertumpuk itu tidak membuat Aletta bahagia sedikitpun. Ponsel yang pernah di berikan oleh Zello, dia pegang. Laki-laki itu tidak menghubunginya.
“Awas saja kalau dia ingkar janji!” bibir tipis itu mengerucut. Aletta menoleh pada Fazio yang sudah mulai terungkap. Bayi gembul itu sangat aktif sekarang. Dan Baby Jeo terlihat sangat nyaman dalam tidur nyenyaknya.
Bahkan, sampai malam hari pun, Zello belum juga datang, membuat Aletta benar-benar kesal. Ponsel yang di berikan oleh laki-laki itu, dia matikan dan meletakkannya didalam laci lemari kecil si samping tempat tidurnya.
Aletta duduk di balkon kamar. Dia memandangi langit malam, cuaca yang sangat dingin, membuatnya menghembuskan napas beberapa kali. Salju yang turun sangat lebat.
“Zello, kau berbohong!” Aletta memegang bandul kalung yang diberikan oleh Zello. Hatinya menghangat setelah itu.
Tok ... tok....
“Nona kecil?” suara ketukan pintu dan juga suara Nanny barunya, membuat Aletta cepat-cepat masuk kedalam kamar. Kalau dia ketahuan sedang duduk di balkon malam-malam dengan cuaca ekstrim seperti ini, pasti daddy-nya akan marah nanti.
Cklek...
“Apa?” tanya Aletta dengan raut wajah yang tidak bersahabat sama sekali.
“Nona kecil di minta turun, untuk makan malam bersama!” Aletta menggerutu tidak jelas. Tapi kakinya tetap melangkah mengikuti Nanny tersebut.
Suara langkah kaki mendekat, membuat semua orang yang ada di ruang makan menoleh pada Aletta yang sedang berwajah cemberut.
“Kenapa, Princess?” Thomas mengangkat Aletta untuk duduk di pangkuannya. Gadis kecil itu menggeleng.
“Dia sedang merindukan malaikatnya, Uncle!” Thomas mengalihkan pandangannya pada Matt. Ayah dari dua orang anak itu mengangkat alis tanda tidak paham dengan apa yang di katakan oleh keponakan sekaligus iparnya itu.
“Malaikatnya? Princess, kau punya malaikat?” wajah Aletta semakin masam mendengar perkataan Thomas yang seperti sedang berpura-pura itu. Semua orang yang ada di meja makan hanya tersenyum tipis, mencoba untuk tidak tertawa.
“Uncle, kan malaikatnya itu laki-laki yang sudah menolongnya waktu itu. Siapa namanya? Oh, iya Zello!”
“Uncle, jangan sebut pembohong itu lagi!” Aletta bersidekap dada. Thomas yang sedang memangkunya tertawa lebar.
“Ohoho, pembohong? Apa karena dia tidak mengunjungimu saat Natal?” Aletta semakin berwajah masam.
“Sudah ... sudah, jangan goda princess kita lagi. Biarkan dia makan sekarang, supaya punya banyak tenaga untuk marah-marah nanti!” semua orang tertawa mendengar perkataan Matt. Wajah Aletta semakin masam.
“Grandpa sama saja! Huh!”
...***...
Matt dan Ana kini sedang terjaga di tengah malam. Bukan karena olahraga malam, tapi karena putra mereka masih melebarkan matanya. Tidak mau tidur. Akibat bayi mungil itu siang tadi terus tidur, jadi sekarang dia tidak mau tidur lagi.
“Kak, jaga Jeo sebentar. Aku mau memejamkan mata!” Matt mendengus pada Ana yang sedang terbaring di sisi ranjang.
“Cih, Ana. Temani aku mengobrol! Jeo tidak mau tidur!” Ana bahkan tidak mempedulikan Matteo yang terus mengusiknya. Wanita itu benar-benar memejamkan matanya tanpa mempedulikan Matt yang sedang terjaga bersama sang buah hati.
Cukup lama ayah dan anak itu saling mengobrol tidak tentu arah, hingga akhirnya bayi mungil itu menguap beberapa kali, dan setelahnya dia merengek.
“An, bangun! Jeo minta ASI!” Ana melenguh. Dia membuka matanya dan melirik putranya yang memang tampak mengantuk. Ibu muda itu mengambil bayinya lalu menyusuinya.
Kini, giliran Matt yang tertidur Begitulah kedua pasangan orang tua baru itu, saling menjaga. Berkerjasama untuk menjaga anak mereka. Laki-laki jangan hanya menumpahkan itu semua pada perempuan, karena laki-laki tidak akan tau, bagaimana rasanya menjaga anak seharian. Tapi, ada saatnya juga wanita harus mengerti, kalau laki-laki juga lelah untuk mencari nafkah.
...***...
Hujan salju di luar masih turun, sedangkan satu-satunya princess yang ada di dalam istana megah keluarga Alexander Luciano itu sudah bergelung dalam selimutnya.
Suara langkah kaki mendekat ke arah kamar Aletta dengan pelan.
Cklek....
“Dia sudah tidur?” Zello berdiri di depan pintu, melirik Aletta yang sudah bergelung di bawah selimut. Salju yang turun sangat lebat, membuat pemanas ruangan saja rasanya kurang.
“Hemm, merajuk karena kau tidak datang!” tatapan sinis dari Thomas membuat Zello menyeringai. Melihat seringaian Zello, Thomas mendengus. Laki-laki tua itu tidak habis pikir, kenapa putrinya yang cantik ini, harus berurusan dengan laki-laki menakutkan yang ada di sampingnya ini.
“Tapi sekarang aku sudah datang!” Zello berjalan mendekat ke tepi ranjang. Rasa hangat menjalar di hatinya. Wajah damai yang sedang bergelut dengan mimpi itu, membuat penat yang dirasakannya seketika langsung menghilang.
“Yang diinginkannya itu, kau datang tadi! Bukan saat dia sudah tertidur seperti ini.” Thomas tetap berdiri di posisi semula. Membiarkan laki-laki muda yang di depannya itu, menatap wajah anak perempuannya untuk melepas rindu. Mata Thomas dapat melihat, seberapa besar kerinduan yang di pendam oleh laki-laki muda itu.
“Aku akan menemaninya!” Zello berjongkok di tepian ranjang dengan ukuran sedang itu. Menelisik setiap sudut wajah Aletta. Memeriksa apa saja yang berubah pada gadisnya itu.
“Mau apa kau?” Thomas melotot tidak terima.
“Menemaninya tidur!” ujar Zello dengan sangat santai. Bibirnya membentuk seringai saat Thomas meliriknya tajam. Hingga laki-laki tua itu mendengus beberapa kali karena tersulut emosi.
“Jangan sembarangan kau, ya?!” bentak Thomas menunjuk Zello dengan sangat kesal.
“Hei, apa yang kau pikirkan? Aku ini masih bocah, begitupun dia. Apa salahnya, seperti tidur dengan adik!” Thomas berdecih. Laki-laki muda ini benar-benar pandai bermain kata-kata.
“Cih, kau bahkan sudah menyatakan kepemilikan atas anakku!” dengus Thomas tidak terima, karena anak gadisnya yang masih sangat belia itu, berada di dalam pengawasan Zello. Walaupun Thomas yakin, laki-laki itu sangat bisa diandalkan.
“Hehe, ingatlah Paman. Putrimu itu milikku, jangan pernah memberikan kesempatan pada orang lain!” Zello berdiri dari jongkoknya tadi. Dia berjalan mendekat pada Thomas.
“Hemm....”
“Aku akan menjaganya dengan baik!” Thomas bisa merasakan keseriusan laki-laki muda ini. Dia menghembuskan napas kasar beberapa kali, lalu menghadap pada Zello yang sedang bersidekap dada.
“Jangan pernah membahayakan anakku. Dia kesayanganku, kau harus ingat itu!” Zello mengangguk mantap. Apapun akan dia lakukan untuk Aletta. Gadis kecil itu adalah prioritasnya yang paling utama, keselamatannya adalah harga mati. Jika ada seorang saja yang berani menyentuhnya ataupun membuat gadis itu tidak nyaman, maka bersiap-siaplah untuk berhadapan dengan Donzello.
Thomas keluar dari kamar Aletta, meninggalkan Zello yang sedang berdiri bersidekap dada menatap wajah gadisnya itu di antara pendar cahaya remang-remang lampu tidur.
“Bahkan saat kau tidur pun, kau tetap bercahaya, Letta!” Tangan Zello mengusap surai pirang milik Aletta. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke atas kening gadis kecil itu, dan menghirup aroma bedak yang memabukkan tersebut.
“Aku sangat merindukanmu, Letta.” Zello terus mengusap rambut Aletta dengan penuh kasih sayang. Menumpahkan segala kerinduan selama beberapa bulan ini.
“Kau ini nakal sekali. Sudah aku katakan untuk tidak merindukan aku, tapi nyatanya kau tidak mendengar perkataanku itu.” Zello melepaskan tangan Aletta yang sedang memegang bandul kalung yang dia berikan. Laki-laki muda itu tersenyum lebar. Sebegitu inginnya gadis ini, agar dirinya ada di sini saat ini, hingga pertarungan untuk mempertahankan nyawa, akhirnya Zello menangkan, supaya gadis kecilnya ini bahagia.
Ingatlah, apapun untuk Letta!
“Kau harus memberikan aku hadiah My Letta. Aku sudah bersusah payah untuk bisa sampai disini!” Zello mendekatkan wajahnya pada pipi Aletta yang tembem. Mencium pipi itu dengan sangat lembut. Sangat lembut, sembari menghirup dalam-dalam aroma Aletta. Menghafal wangi gadisnya itu.
“Tidur nyenyaklah malam ini, aku akan menjagamu!” walaupun dengan sedikit malas karena warna bedcover motif Barbie yang di pakai Aletta, tapi Zello tetap membaringkan tubuhnya di samping gadis kecil itu, memeluknya dengan erat, seperti enggan untuk melepaskannya. Di tambah lagi dengan tempat tidur yang lumayan kecil, membuat Zello semakin mendekap erat Aletta.
***
“Kyaaaa ....”
Lengkingan suara Aletta yang bisa merusak gendang telinga, membuat Zello terkejut. Laki-laki itu bahkan sampai terjatuh dari atas tempat tidur.
“Aletta, apa yang kau teriakkan?” tanya Zello kesal. Pantatnya terasa sakit saat ini. Bahkan kepalanya terasa sedikit pusing, karena terbangun tiba-tiba seperti ini.
“Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau ada di sini? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamarku?” Aletta berdiri seberang ranjang. Mendekap kedua tangannya menatap Zello sinis. Sedangkan laki-laki muda itu hanya tertawa kecil. Zello kembali naik ke atas tempat tidur Aletta, dan membaringkan tubuhnya yang masih terasa lelah itu.
“Kyaa, siapa yang mengizinkanmu naik ke atas tempat tidurku?” Aletta memukul Zello dengan penggaris buku gambarnya. Laki-laki itu berusaha untuk mempertahankan diri dengan cara memohon pada Aletta, walaupun rasa sakit dari pukulan itu tidak dia rasakan.
“Kenapa kau kemari, hah? Natal itu kemarin, bukan sekarang!” Zello sedikit meringis melihat sisi garang seorang Aletta. Laki-laki itu mengambil selimut Barbie milik Aletta, dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tersebut.
“Heii, siapa yang mengizinkanmu memakai selimutku! Keluar sana, aku marah padamu!” Aletta menarik-narik selimut yang digunakan oleh Zello untuk bersembunyi.
“Letta, kau tidak kasihan padaku. Kau tau, demi kau, aku menyebrangi badai salju supaya bisa sampai di sini!”
Aletta menutup mulutnya tidak percaya.
“Kau menyebrangi salju dengan kereta berkuda putih?” tanya Aletta berbinar. Zello membuka mulut bingung.
“Berkuda putih?” tanya Zello.
“Iya, seperti santa, apakah kau menggunakan kereta kuda putih untuk sampai ke sini? Bukankah kau memiliki jet seperti punya Daddy?” gadis itu sudah mulai tenang. Dia duduk di sisi Zello. Mengusap tangan Zello yang sudah mulai kekar itu. Laki-laki muda itu tersenyum saat sapuan lembut tangan Aletta terasa di kulitnya.
“Hemm, jet ku rusak karena salju. Jadi aku menggunakan kuda supaya bisa menemui mu!” eits, tapi boong. Mana mungkin Zello ke sini dengan kereta berkuda putih, ingatlah dia bukan malaikat.
“Apa kau serius? Kau tidak berbohong?” tanya Aletta lagi. Well, sepertinya Zello harus menyuruh anak buahnya untuk mencarikan kuda putih, dan juga keretanya saat ini juga, karena Aletta nya tampak sangat berbinar saat mengatakan tentang kuda putih.
“Hemm, kenapa kau sangat menyukai kuda kereta berkuda putih?” tanya Zello mengalihkan pembicaraan.
“Hemm, sebenarnya aku sangat menyukai Pangeran berkuda putih. Aku nanti ingin punya pacar seorang yang memiliki kereta berkuda putih.” Zello mendengus tidak suka saat mendengarkan hal itu.
“Kau memimpikan di lamar Pangeran berkuda putih?” sindir Zello dengan sinis. Tanpa di duga, Aletta malah menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias membuat laki-laki itu semakin mendengus tidak suka.
“Impianku saat besar nanti adalah, di lamar oleh seorang pangeran berkuda putih, di depan Katedral besar dan juga rintik salju. Pasti akan sangat romantis!”
“Apapun untukmu My Letta!” gumam Zello tersenyum tipis.
...***...
Dengan langkah ceria penuh dengan semangat dan juga rambut yang sudah di kepang cantik, Aletta dan Zello menuruni anak tangga. Para pelayan seperti sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing
“Kenapa kau bahagia sekali, Letta?” Zello bertanya pada Aletta yang sedang menggenggam tangannya. Senyuman tidak pernah surut dari kedua sudut bibir mungil tersebut.
“Karena aku berhasil merebutmu, dari pacarmu itu!” jawab Aletta yang membuat Zello cukup terkejut.
“Eh? Apa maksudnya?” tanya Laki-laki itu.
“Kau baru saja mengepang rambutku. Dan juga aku baru saja membuat pacarmu itu cemburu. Karena bukan hanya dia yang kau kepang rambutnya, tapi aku juga!” jelas Aletta dengan bersemangat.
“Ahh, begitu?” Zello mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Zello, rambut pacarmu itu warnanya apa?”
“Pirang!”
“Sama sepertiku?”
“Iya,”
“Apa kau mengepang rambutnya setiap hari?”
“Tidak. Hanya setiap Natal, mulai hari ini!”
...***...
Stay terus ya🤗