My Devils Husband

My Devils Husband
Exp. Aku semakin tua saja!



Siang selanjutnya, Ana dan Matt berkeliling Bali untuk membeli oleh-oleh, karena besok mereka akan kembali pulang ke Jerman. Dan Ana tidak mau tinggal diam, dia memborong semua pakaian khas Bali, kaosnya, dan banyak lagi. Matt hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya itu.



“Apa kau tidak lelah, Sayang?” tanya Matt yang melihat Ana masih sangat bersemangat itu. Ana menoleh sekilas, lalu menggelengkan kepalanya.



Matt mendengus, dia memegang banyak paper bag hasil belanja sang istri, sedangkan yang menjadi tersangka utama dalam menghabiskan uangnya itu tampak tidak peduli dan masih memilih-milih semua yang dia inginkan.


“Sayang, nanti kalau kau pegal-pegal lagi, jangan minta pijit padaku, ya!”


Semalam, sehabis mereka jalan-jalan di tepi pantai untuk melihat sunset, Ana merengek pada Matt, mengatakan kalau badannya pegal-pegal karena berjalan, dan jadilah suaminya itu menjadi tukang pijat, dan aktivitas malam mereka menjadi tertunda.


Ana berbalik menatap Matt kesal, lalu dia melipat tangannya di depan dada dan melayangkan tatapan tajamnya.


“Kalau kak Matt tidak mau, ya sudah! Sana pulang sendiri, aku mau lanjut jalan-jalan lagi!” ketus Ana. Matt menghela napas kesal, kalau sudah begini, mana mungkin dia berkomentar lagi, bisa habis dia nanti.


Kalian harus tau, istrinya itu sangat galak sekarang! Heuuhh, Matt saja hampir tidak mengenalinya.


Ana terus melangkah diikuti Matt, masih banyak yang dia mau.


‘Harusnya aku mengajak Arthur juga untuk berlibur disini, supaya aku tidak jadi bodyguard istri galakku itu!’ batin Matt meronta kesal. Karena Ana juga tidak mau Matt menyewa orang untuk membawa barang belanjaannya. Dia bilang, ‘Pokoknya Ana tidak mau, bagaimana kalau nanti belanjaan Ana di curi? Rugi dong!’ Bisa-bisanya istri cerdasnya itu berpikiran seperti itu.


Setelah puas untuk berbelanja, Ana menoleh pada Matt yang sudah berwajah pias.


“Ayo pulang kak!” Dan dengan santainya, nyonya besar melewati Matt begitu saja, setelah membayar semua belanjaannya.


..........


Matt merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, setelah meletakkan semua belanjaan sang istri di pojok kamar. Sedangkan Ana ikut merebahkan tubuhnya di samping Matt.


“Ah, aku lelah sekali!” batin Matt menggerutu. Dia melihat pada jam yang tergantung di dinding kamar mereka, sudah jam empat sore, dan mereka baru pulang sekarang. Berarti sudah lima jam dia menemani nyonya besar berbelanja.


Matt menoleh pada Ana yang berbaring di sampingnya. Tangan gadis itu terulur membentuk pola abstrak di atas dada bidang Matt yang tersembunyi karena memakai kemeja.


“Sayang, terimakasih, ya, sudah mau menemani aku belanja,” Ana mendongak menatap Matt yang kini juga sedang menatapnya. Laki-laki itu selalu luluh saat melihat bola mata kecoklatan itu, membuatnya tidak bisa berkata selain iya.


“Sudah menjadi tugasku untuk membahagiakanmu, Sayang!” Matt berbaring menghadap Ana. Lalu membawa wanita itu kedalam pelukannya. Pelukan yang selalu membuat Ana nyaman, pelukan yang selalu membuatnya terlelap. Pelukan yang selalu menghangatkannya.


Matt menggeram kecil saat Ana dengan sengaja menggerakkan tangan disekitar tubuh Matt.


“Jangan menggodaku, Sayang!” ujar Matt dengan suara yang serak-serak basah. Uhh, sangat menggoda sekali terdengar di telinga Ana.


“Siapa yang menggoda? Ana tidak menggoda!” ketus Ana. Tapi ucapannya tidak sejalan dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu. Dia terus memainkan tangannya hingga sampai pada area terlarang Matt yang sudah bereaksi di bawah sana.


Ana terkekeh gemas, dia langsung duduk dan menghimpit tubuh Matt, dengan duduk di atas tubuh kekar itu, lalu menatap Matt dengan senyuman menggoda.


“Kau lelah, kan, Sayang?” tanya Ana dengan suara yang mendayu-dayu, membuat Matt menelan salivanya kasar. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ana.


“Tidurlah di bawahku, dan mendesah, Sayang!” mata Matt melotot mendengar perkataan Ana, lalu laki-laki itu menggeleng tidak percaya.


Sejak kapan, istrinya ini berubah liar seperti ini? Dan Matt tentu saja sangat menyukainya. Uuhh, manis sekali.


“Tergantung bagaimana servis mu, Sayang!” balas Matt dengan suara serak, Ana terkekeh gemas.


Dan ya, begitulah. Permainan sore ini di pimpin oleh Ana, dan Matt sungguh bahagia hari ini. Walaupun dia di suruh untuk mengikuti Ana setiap hari berbelanja, kalau dengan bayaran seperti ini, dia tidak akan mengeluh seperti tadi. Dan Matt bersumpah untuk itu, ini bayaran yang paling dia sukai selama hidupnya.


...****...


Bandara Frankfurt kini sedangkan menerima penumpang yang baru kembali berbulan madu dari Indonesia. Mobil-mobil mahal keluaran perusahaan ternama berderet menunggu kedatangan Matt dan Ana, tentunya dibawah mandat Arthur, sang kaki tangan dari laki-laki yang bernama Matteo.


Laki-laki yang menjadi tunangan Stella itu begitu sigap menyiapkan kedatangan tuannya. Dan setelah cukup lama menunggu, jet pribadi yang menjemput kedua orang itu akhirnya mendarat dengan selamat. Arthur menghela napas lega.


Matt keluar dari pintu pesawat dengan mengandeng Ana yang tampak sedikit pucat. Wanita itu memberikan senyuman pada Arthur setelah itu pingsan, yang membuat Matt dan Arthur sangat terkejut.


“Siapkan mobil, kita menuju rumah sakit, Nona muda pingsan!” sambungan telepon mendadak itu terputus, membuat sopir dan pengawal yang mendengar itu ikut panik.


Matt langsung menggendong Ana berjalan keluar. Setelah berjalan cukup jauh, Matt memasukkan Ana kedalam mobil yang sudah siap sedia. Arthur duduk di samping sopir, sedangkan Matt duduk di belakang memangku kepala Ana.


“Cepan sedikit Leon!” ujar Matt kesal pada sopir tidak bersalah itu, karena jalan mobil yang cukup lambat, karena jalanan cukup macet.


“Ana sayang, kenapa kau bisa pingsan seperti ini?” Kekhawatiran tampak jelas di mata Matt, laki-laki itu sudah menduga hal ini, karena semenjak didalam pesawat, dia sudah melihat wajah Ana yang pucat. Tapi wanita itu selalu mengatakan kalau dia baik-baik saja. Untungnya Ana pingsan saat sudah mendarat, bagaimana kalau saat di atas pesawat? Kan gak bisa parkir, buat cari rumah sakit dulu.


Mobil mewah hitam metalik itu menuju rumah sakit besar keluarga Luciano. Arthur sedari tadi sibuk dengan ponselnya, untuk menghubungi anggota keluarga yang lainnya. Laki-laki itu tampak sangat serius dalam pekerjaannya, membuat Matt merasa benar-benar dapat mengandalkan laki-laki itu.


Sesampainya di rumah sakit, dokter yang sebelumnya sudah di hubungi oleh Arthur, menyambut kedatangan mereka. Matt mengendong Ana lalu membaringkan wanita itu di atas brangkar, dan mereka membawa Ana menuju ruang UGD, untuk memeriksa kondisi wanita cantik yang sedang tidak berdaya itu.


“Arthur, apa Ana akan baik-baik saja? Bagaimana kalau penyakitnya kambuh? Dan dia tidak mengingat aku?” Arthur menghela napas kesal mendengar perkataan ngawur Matt. Apa hubungannya pingsan dengan lupa ingatan?


“Nona muda tidak apa-apa Tuan. Mungkin Nona muda hanya kelelahan saja, karena perjalanan jauh!” Matt yang mondar-mandir di depan pintu UGD itu mengangguk. Dia membenarkan perkataan Arthur. Karena Ana pasti kelelahan sebab servis menyenangkan yang dia berikan kemarin.


...****...


“Maaf tuan Matt. Saya sarankan, sebaiknya Nona Ana di bawa pada spesialis obgyn!” Dokter yang keluar setelah memeriksa Ana itu memberikan saran.


“Kenapa tidak langsung kalian bawa saja? Kenapa harus bertanya dulu? Kalau sampai istriku kenapa-napa, kalian akan aku pecat!” Dokter muda itu menunduk takut, dia kembali masuk kedalam UGD setelah mengatakan permisi pada Matt, untuk membawa Ana ke dokter obgyn. Dan dia menyuruh Matt untuk ikut bersama dengannya.


Dokter Patricia yang tampak masih muda di saat usianya sudah lebih dari setengah abad itu menanti kedatangan Matt. Ana tampak masih berbaring di atas brangkar karena belum sadarkan diri. Matt mendekat pada Ana dan menggenggam tangan istrinya itu.


“Tidak usah cemas tuan muda, Nona Ana baik-baik saja!” ujar Patricia sedikit terkekeh. Dia tidak menyangka, akan memeriksa Ana hari ini.


“Cepat periksa istriku Dokter!” ketus Matt. Patricia mengangguk, dia menyingkap sedikit baju Ana dan mengoleskan gel pada permukaan kulit perut wanita itu.


“Sudah aku duga,” ujar Dokter Patricia tersenyum melihat pada layar monitor yang tersambung dengan alat yang dia tempelkan pada permukaan perut Ana itu. Ada bintik kecil di layar segi empat itu, membuat Matt yang tidak mengerti mengernyit heran.


“Duga apa, Dok?” tanya Matt kesal, karena dokter itu malah tersenyum melihat istrinya terbaring tidak berdaya itu.


“Nona muda hamil, Tuan muda!” jelas dokter yang sudah berumur itu singkat. Matt melotot tak percaya mendengar perkataan dokter Patricia.


“Jangan bercanda dokter!” geram Matt dengan nada tidak percaya. Dokter Patricia menggeleng tidak percaya.


“Nona muda sedang hamil, kemungkinan baru tiga Minggu!”


Matt tidak dapat berkata-kata mendengar kabar bahagia ini. Dia memeluk Ana yang sedang tidak sadar itu.


“Kau serius Dokter? Istriku hamil?” tanya Matt memastikan. Dokter Patricia mengangguk.


“Akhirnya, perjuanganku membuahkan hasil!” pekik Matt dengan senang, sedangkan suster dan dokter yang ada di sana hanya geleng-geleng kepala.


Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, Ana dibawa menuju ruang rawat, karena wanita itu masih belum membuka mata, akibat kelelahan.


Max, Stef, David dan Aira yang sudah mendengar kabar Ana pingsan itu tiba di rumah sakit, Arthur langsung mengarahkan semua orang tua itu menuju ruang perawatan VVIP yang dikhususkan untuk anggota keluarga Luciano.


Mereka semua terkejut melihat kondisi Ana yang masih menutup mata saat ini. Mereka juga menyesalkan ide bulan madu ini, karena membuat Ana seperti ini.


“Tenanglah Mom, Dad, Ana sekarang sedang istirahat, karena dia kelelahan akibat perjalanan jauh, di tambah lagi dia sedang hamil!” Matt yang melihat reaksi berlebihan dari para orang tua itu memberitahu. Karena dia pusing sendiri mendengar kehebohan dan juga pernyataan yang menyalahkan dirinya karena tidak menjaga Ana dengan baik, sampai menyebabkan wanita itu pingsan.


“APA? Hamil?” tanya Stef kaget. Matt mengangguk mengiyakan dengan senyum lebar secerah mentari, walaupun udah redup. Stef sangat bahagia mendengar hal itu, dia memeluk Max yang berada di dekatnya.


“Aaaa ... Aku akan jadi nenek?!” pekik Aira sangat bahagia.


“Heuuh, ternyata aku semakin tua!” delik David kesal.


...****...


...Lanjut gak nih?😂...