
Hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu di kota besar itu sudah mulai di nyalakan. Tapi, Aletta tidak juga kunjung ditemukan. Thomas semakin frustasi. Semua anggotanya sudah berpencar ke segala penjuru kota, tapi Aletta tidak juga meninggalkan jejak. Sedangkan Stella kini sedang berjibaku dengan tombol-tombol komputer yang ada di depannya, bersama Kevin dan Arthur, untuk membobol satelit keamanan pemerintah. Walaupun ini sangat beresiko, tapi semua harus di lakukan. Nyawa Aletta lebih berharga dari itu semua.
Pemberitaan tentang marahnya kelompok berbahaya itu sudah semakin ramai dibicarakan. Topik utamanya adalah, tentang pencarian besar-besaran pewaris pertama kerajaan bisnis Alexander dan Luciano. Juga putri pertama pemilik perusahaan Achilles.
Orang-orang yang menyaksikan berita itu hanya bisa menghela napas, dan berdoa dalam hati, supaya mereka tidak terlibat dalam kelompok yang sudah lama tertidur itu. Mereka lebih sayang dengan nyawa mereka, daripada harus membuat Black Devils marah.
Kelompok yang menculik Aletta memiliki keamanan situs yang cukup kuat, hingga Kevin sedikit kesulitan dalam membobolnya, tapi keahlian Kevin tidak bisa diragukan.
Semua anggota Thomas, sudah memeriksa seluruh bandara, tentang keberangkatan ke manapun. Dengan segala kekuasaan yang dimiliki oleh laki-laki itu, bisa membuat pihak bandara mengkonfirmasi pada bandara-bandara lainnya yang ada di negara Jerman. Dan hasilnya, Aletta tidak dibawa menuju bandara. Tidak ada jejaknya disana.
Bahkan, kini Max juga sudah meminta bantuan pada orang-orang ayahnya di Italia. Semakin banyak yang mencari semakin bagus. Polisi juga turut turun tangan dalam hal ini, dalam sejarah ini adalah kemarahan terbesar dari kelompok Max dan Thomas.
Dalam pencarian itu, telepon Thomas berdering lagi. Nama Mattea terpampang jelas di sana.
“Halo, Sayang,” rasanya Thomas tidak sanggup mendengar suara Mattea yang serak di seberang sana. Wanita itu menelponnya untuk menanyakan tentang Aletta lagi.
“Aku sedang berusaha untuk mencarinya, Sayang. Kau tenanglah, kita pasti bisa menemukannya!” kalimat yang diucapkan oleh Thomas, nyatanya tidak bisa membuat Mattea lega. Yang bisa dia lakukan, hanyalah menangis. Putri kecilnya yang tidak berdaya, kini sedang bersama orang asing, entah sedang apa dan bagaimana kondisinya.
“Temukan anakku, Thomas!!” teriak Mattea sebelum telepon tersebut mati. Thomas menghembuskan napas kasar, tangannya terkepal karena amarah. Siapapun yang ada di balik ini semua, Thomas bersumpah, akan membunuhnya dengan tangannya sendiri.
Tak lama setelah sambungan telepon dengan Mattea mati, kini ponsel Thomas kembali berdering. Nama Auristella terpampang jelas di sana.
“Apa kau sudah menemukannya?” tanya Thomas langsung, saat dia menjawab sambungan telepon tersebut.
“Iya, terakhir saat ini, Nona kecil terlihat naik ke sebuah mobil dengan plat nomor xxxx, dan menuju ke alamat xxxx, setelah saya mencari tahu, Nona kecil bersama dengan kelompok Weighto.”
“Apaa?!” Thomas terkejut mendengar perkataan Stella. Dia tau kelompok itu. Karena dulu, dia pernah berselisih dengan ketuanya dan menyebabkan anak buahnya melayangkan nyawa. Tapi tidak disangka, kini kelompok itu membalaskan dendam dengan cara licik seperti ini, melibatkan seorang anak kecil yang tidak bersalah sedikitpun.
Kini, Thomas sedang melaju ke arah markas kelompok Weighto. Menjemput Aletta yang ada di sana. Dan semoga memang di sana. Thomas juga sudah memberitahu Max dan Matt, kalau Aletta ada di sana. Kini mobil-mobil mahal itu sedang melaju ke tempat yang di sebutkan oleh Stella. Dan gadis itu juga ikut kesana.
Mobil yang dikendarai dengan kecepatan maksimal itu berdecit di depan sebuah bangunan yang cukup besar. Rupanya, para anak buah kelompok Weighto juga sudah menunggu di sana.
Mobil-mobil lainnya juga ikut berhenti di depan bangunan itu, kini jejeran mobil-mobil mahal itu memenuhi pandangan. Anggota Thomas sudah bersiap dengan senjata yang ada di balik punggung mereka. Sedangkan, di tangan anggota kelompoknya Weihto, kini mereka sudah memegang senjata mereka.
“Cara kalian sungguh menjijikkan!!” ujar Thomas dengan amarah yang menggebu-gebu. Matanya menatap nyalang pada seorang pria yang sedang berjalan keluar, mendekat pada mereka.
“Ada apa, kau kemari, Thomas?” tanya Megenta. Cerutu di tangannya masih menyala, asap keluar dari sana. Pria yang memang lebih tua dari Thomas itu menatap kelompok Black Devils dengan tatapan sinis.
“Katakan, dimana anakku?!” laki-laki yang bernama Megenta itu tertawa keras.
“Hahaha ... Aku menantikan kehancuranmu, bajing*n!!” mata Megenta menatap Thomas dan yang lainnya penuh dengan amarah.
“Katakan dimana anakku, sialan!!” anggota kelompok Black Devils sudah bersiap-siap untuk menyerang. Begitupun dengan kelompok Weighto.
“Kau membunuh Sander, dan kini masih berani datang kemari?!”
“Hahaha, itu memang pantas didapatkan oleh ******** seperti dia!!” Thomas tertawa keras.
“Anakmu akan mati di tangan anak buahku!” ujar Megenta dengan seringainya. Thomas menatap Megenta dengan tajam. Wajahnya kembali memerah menahan amarah. Laki-laki ini benar-benar sudah melewati batasannya.
“Sebelum anakku mati, kau yang akan mati terlebih dahulu di tanganku, bajing*n!” teriak Thomas penuh amarah.
Megenta mengepalkan tangannya. Matanya menatap pada anak buahnya, memberi kode untuk menyerang. Tapi sialnya, kecepatan kelompok Thomas tidak dapat diragukan, karena buktinya, sebelum kelompok Weight mengangkat senjata mereka, kelompok Black Devils sudah lebih dahulu mengeluarkan senjata dan menembakkan timah panas pada mereka. Hingga tubuh-tubuh kekar itu mengeluarkan darah.
Bahkan, Stella kini juga sudah menembak dengan senjatanya. Thomas dan Max pun demikian. Megenta yang juga memang sudah menyiapkan senjatanya, tidak mau kalah, dan sialnya dia tidak menyangka kalau tembakannya meleset, karena sasaran utamanya mengelak.
Adegan tembak-menembak itu berujung dramatis. Untung saja, markas kelompok Weight tersembunyi dari luar, hingga orang-orang tidak menyadari hal itu.
Thomas mendekat pada Megenta tanpa takut, melayangkan pukulan-pukulan pada laki-laki tua itu. Memang karena Thomas yang lebih unggul dan kuat dari Megenta, membuat laki-laki itu kalah dengan cepat.
“Sial, aku tidak menyangka dia ternyata sangat kuat dan masih sama seperti dulu. ******** itu bilang, kalau Thomas bukan apa-apa dariku saat ini, tapi begini saja aku sudah dikalahkan olehnya. Pantas saja dia mati dengan mudah, dia ingin menjebak ku rupanya. Akkhhh, sial, siaaal, seharusnya aku tidak mengganggunya seperti dulu! ” dalam kesakitan, Megenta terus mengumpat Sander, karena laki-laki itu sudah berhasil memancingnya melakukan hal konyol ini.
Sedangkan kini, David dan Matt sudah masuk kedalam markas Weighto, untuk mencari Aletta. Mereka mencari keseluruhan ruangan. Mereka naik ke lantai atas melalui tangga. Di lantai atas, yang di dapatkan adalah mayat-mayat anggota Weighto yang tergeletak tidak berdaya di sepanjang jalan menuju sebuah ruangan. Perasaan tidak enak langsung menyeruak pada keduanya.
“Ayo Matt!” ujar David berlari. Dan langsung membuka pintu sebuah ruangan. Darah yang berceceran di sana tidak membuat mereka takut sedikitpun. Masih ada beberapa anak buah Weight yang sudah tergeletak tak berdaya karena kehilangan nyawa di sana.
“Sial, ada seseorang yang sudah membawa lari Aletta!” ujar David dengan tangan yang mengepal. Ada sebuah jendela yang terbuka di sana. Mereka berdua yakin, Aletta di bawa lari melalui jendela itu.
“Cepat Matt!” David kembali berlari keluar. Thomas sudah berhasil masuk kedalam ruangan, dan tampak David juga Matt berlari menuruni tangga dengan cepat.
“Seseorang membawa Aletta lari!” ujar David cepat.
“Aku menemukan bajunya di sana, mungkin dia menggantikan baju Aletta!” Matt menyerahkan sebuah baju anak perempuan pada Thomas. Dan dia mengenali baju tersebut.
“I—ini, baju Aletta ku!” ujar Thomas. Dia menggenggam baju itu dengan erat. Max mendekat pada Thomas. Dia melihat baju itu dengan jelas. Benar, itu adalah baju yang di pakai oleh Aletta tadi pagi.
“Kita tidak punya banyak waktu, ayo!” teriak Max. Semua orang kembali keluar untuk mencari Aletta lagi.
Saat keluar, Megenta yang sudah tergeletak tidak berdaya, mengambil pistol yang ada didekatnya. Dan menembakkannya pada Thomas. Tepat mengenai bahu laki-laki itu. Thomas berbalik, dia melihat pada bahunya yang mengeluarkan darah.
Megenta tersenyum sinis. “Setidaknya, sebelum aku mati, aku berhasil membuatmu terluka dan membalaskan dendam ku!” senyuman itu hilang, setelah dia menembaki kepalanya sendiri. Timah panas bersarang di otaknya. Matanya melotot lebar dan hembusan napasnya berhenti.
“Dasar pengecut!” Thomas menembaki tubuh Megenta dengan pelurunya. Hingga tubuh kekar itu hancur karena berlubang-lubang.
“Membusuklah di neraka, bajing*n!” tembakan terakhir bersarang di dadanya. “Nick, urus sialan ini!” ujar Thomas dingin. Nick mengangguk. Dia memberi kode pada anak buahnya yang tidak terluka untuk mengurus mayat-mayat tidak berdaya itu. Sedangkan anak buahnya yang terluka, sudah dibawa menuju markas untuk di obati oleh dokter yang ada di sana. Cukup banyak yang terluka, tapi untungnya tidak ada yang tewas.
****
“Kak, kita akan kemana?” suara imut itu memecah keheningan. Kini gadis kecil yang sedang menjadi tranding topik pemberitaan itu sedang berada di gendongan seorang remaja laki-laki berambut pirang, dengan sebuah tindikan di telinganya. Penampilan acak-acakan, tapi barang-barang yang di pakainya adalah barang mahal.
“Tentu saja pulang,” ujarnya menjawab. “Tapi sebelum itu, kita makan dulu. Kau lapar, kan?” tanyanya. Aletta mengangguk. Dia memang sudah sangat lapar saat ini.
Laki-laki yang membawa Aletta itu mengenakannya sebuah pakaian anak laki-laki, dan juga topi yang menyembunyikan rambut panjangnya. Laki-laki itu juga menggunakan topi dan juga jaket. Sekilas, mereka terlihat seperti dua orang anak laki-laki, seperti adik-kakak.
“Kita akan makan dimana, Kak?” tanya Aletta lagi.
“Di restoran depan sana.” mobil yang dikendarai oleh supirnya itu berhenti di sebuah restoran yang cukup besar.
“Dan, kau jangan memanggilku, kakak. Aku bukan kakakmu!” ujar laki-laki itu. Aletta mengerutkan keningnya.
“Lalu aku harus memanggilmu apa? Siapa namamu?” gadis yang berada di dalam gendongan laki-laki itu mengeratkan pelukan di lehernya. Senyum tipis terbit di antara wajah yang biasanya dingin itu.
“Namaku Donzello. Kau bisa memanggilku Zello, atau apapun yang kau mau, selain kakak!” Zello masuk kedalam restoran cepat saji itu bersama dengan Aletta.
Dia mencari tempat duduk di pojok.
“Iya, Zello. Darimana kau tau, aku ada di sana, bersama orang-orang jahat itu?” tanya Aletta. Zello mendudukkan di kursi tepat di depannya. Laki-laki itu tersenyum lebar.
“Tentu saja aku tau, aku tau semuanya!” bola mata Aletta berbinar.
“Benarkah? Apa saja yang kau tau?” tanyanya lagi.
“Pokoknya, semua! Dan, apa kau tidak takut padaku?” pelayan menghampiri Zello, dia memberikan buku menu. Setelah menunjuk menu apa saja yang diinginkannya, Zello kembali menatap Aletta setelah pelayan tersebut berlalu dari sana.
“Tidak. Aku tidak takut padamu,” ujar Aletta. Zello mengerutkan kening.
“Kau yakin? Aku bukan orang baik,” Aletta tertawa mendengar perkataan Zello, membuat laki-laki itu mencubit pipinya gemas. “Apa yang kau tertawakan gadis kecil?” tanyanya.
“Kau itu lucu, kalau kau orang jahat, lalu kenapa kau menolongku!” Aletta masih tertawa. Sudut bibir Zello terangkat membentuk sebuah senyuman.
“Oh iya, Zello. Berapa usiamu?” tanya Aletta. Laki-laki itu tampak seperti berpikir membuat Aletta tertawa lagi. “Apa kau sudah pikun? Usiamu saja, kau bersusah payah mengingatnya!”
“Haha, aku baru Lima belas tahun!” ujar Zello.
“Wahh, kau sudah tua, ya. Aku saja, baru lima tahun.” Aletta bersungut-sungut. “Apa kau sudah punya pacar?” tanya Aletta lagi. Zello menarik sudut bibirnya membentuk seringai.
“Sudah.” jawabnya singkat. Mata Aletta berbinar.
“Dimana pacarmu? Apakah dia cantik sepertiku?” Zello tertawa lebar mendengar pertanyaan Aletta. “Iya, dia cantik sepertimu!” jawab Zello singkat.
Pelayan kembali menghampiri mereka dengan beberapa wadah makanan di tangannya. Zello melirik televisi yang menayangkan berita tentang Aletta, sudut bibir pria itu kembali terangkat.
“Ayo cepat habiskan, makananmu. Kita akan pulang.” Aletta mengangguk antusias. Dia memakan makanannya dengan cepat. Ya, walaupun masih sedikit berlepotan, tapi Zello mengusapnya dengan menggunakan tissue.
“Pelan-pelanlah, aku tidak akan meminta makananmu!” Aletta menurut, dia memakan makanannya dengan pelan.
“Zello, apa kau akan mengantarkanku pada Daddy?” tanya Aletta di sela makan mereka. Zello mengangguk sebagai jawaban.
“Makanmu banyak juga, ya?” sindir Zello membuat Aletta tersipu malu.
“Aku sangat lapar, jadi aku makan semuanya. Kau mengatai aku banyak makan, tapi kau sendiri juga banyak makan.” Aletta cemberut. Zello tertawa gemas.
“Aku banyak makan, karena aku membutuhkan banyak tenaga untuk menggendongmu!” Aletta tertawa mendengar perkataan Zello.
“Apa aku berat?” tanyanya. Zello mengangguk.
“Kau tenang saja, nanti aku akan diet, jadi saat kau menggendongku lagi, aku tidak akan berat!” Aletta mengatakannya dengan penuh semangat.
“Heii, dari mana kau tau diet itu? Kau tidak boleh diet, kau masih kecil, dasar gadis nakal!” Zello mengusap topi yang dikenakan oleh Aletta dengan gemas.
“Aunty Stella sering mengatakan kalau dia sedang diet, supaya tubuhnya bagus. Jadi, aku tertarik mencobanya.” Zello menggelengkan kepala mendengar perkataan Aletta. Gadis kecil ini ada-ada saja. Padahal tadi ia hanya bercanda mengatakan kalau dia berat. Tapi malah ditanggapi serius oleh Aletta.
“Kau ini ada-ada saja. Kau tidak boleh diet, kau masih kecil. Makan apa saja yang kau suka sekarang, selama masa pertumbuhanmu!” ujar Zello serius.
“Baiklah, kau ini cerewet sekali. Padahal, tadi kan kau yang mengeluhkan kalau aku berat!” Aletta cemberut, membuatnya tampak semakin menggemaskan di mata Zello.
“Walaupun kau berat aku masih sanggup menggendongmu.” ujar Zello enteng.
“Sudah, ayo.” Zello meletakkan uang di atas meja dengan bill yang ada di sana. Dia kembali menggendong Aletta dan keluar dari restoran tersebut.
Zello kembali ke mobilnya, dia duduk di kursi belakang bersama dengan Aletta. “Ayo jalan,” ujarnya pada sopir yang sedari tadi sudah diam di dalam mobil. Sopir itu mengangguk. Dia menyalakan kembali mesin mobilnya dan segera berlalu dari sana.
“Oh, iya. Zello, dimana rumahmu?” tanya Aletta. Dia duduk di samping Zello.
“Rumahku jauh dari sini,” ujar Zello singkat. Pria itu tampak sedikit sibuk dengan ponselnya.
“Dimana? Apa kau mau mengajakku ke sana?” tanya Aletta. Zello lantas mengalihkan pandangannya pada Aletta. Dia tersenyum kecil.
“Ya, aku tinggal di Italia. Nanti aku akan mengajakmu ke sana!” Zello mengusap rambut Aletta. Topi yang tadi melekat di kepalanya sudah di lepas.
“Italia? Di tempat buyutku?” tanya Aletta. “Itu sangat jauh!” ujar gadis kecil itu lagi. Zello hanya mengangguk.
“Kapan kau akan mengajakku ke sana?”
“Nanti. Saat aku membawa pacarku ke sana. Sudah, kenapa kau jadi banyak tanya seperti ini, sih?” Aletta mengerucutkan bibir mungilnya dengan kesal.
“Aku mau bertemu dengan pacarmu!”
“Kau sudah bertemu dengannya. Sudah, sebentar lagi kita sampai, kau lebih baik diamlah!” Aletta tidak bersuara lagi, dia memilih diam. sedangkan Zello terlihat sibuk dengan ponselnya.
“Apa yang kau lakukan dengan ponselmu?” akhirnya, karena tidak dapat menahan mulut mungilnya untuk bertanya, Aletta akhirnya bersuara. Zello menoleh sekilas. “Mengirim pesan pada Daddymu!” ujar Zello. Aletta membulatkan bibirnya tanda mengerti.
“Darimana kau tau nomor ponsel Daddy ku?” memang anak kecil syarat akan keingintahuan bukan?
“Aiihh, kau ini cerewet sekali,” Zello mematikan ponselnya, lalu mengacak-acak rambut Aletta dengan begitu gemas.
“Bukankah sudah aku katakan, kalau aku tau semuanya?” Aletta mengangguk saja sembari berpikir.
“Kalau begitu, apa kau tau, apa yang sedang aku pikirkan?” tanya Aletta antusias. Zello tampak seperti berpikir sebentar dengan jari yang di ketukkan. “Mommymu?” jawab Zello santai, membuat Aletta membekap mulutnya sendiri.
“Apa kau peramal?” tanyanya dengan mata berbinar. Sopir yang mengantar perjalanan mereka hanya diam, dan sesekali tersenyum mendengar keingintahuan Aletta yang membuatnya tampak menggemaskan.
“Anggap saja begitu!” ujar Zello. Aletta tampak mengerutkan keningnya lagi, memikirkan pertanyaan apa yang ingin dia katakan.
“Apa kau tau, Mommy ku, baik-baik saja atau tidak?” tanya Aletta lagi.
“Hemm, baik-baik saja. Mungkin kau akan secepatnya bertemu dengan adikmu!”
“Waahhh, darimana kau tau, kalau aku akan memiliki adik?” tanya Aletta. Perjalanan pulang itu menjadi sesi tanya jawab antara Aletta dan Zello. Laki-laki itu dengan sabar menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Aletta.
“Apa kau lupa, kalau aku mengetahui semuanya?” Aletta mengangguk membenarkan.
“Apa kau kehabisan pertanyaan?” tanya Zello dengan nada menyindir. Aletta tertawa mendengar perkataan laki-laki itu. Dia malu sendiri dengan dirinya. Dan mengusap-usap hidungnya karena malu.
“Kau tau, Uncle Matt bilang, aku itu orangnya cerewet!” Aletta berkata dengan nada bangga.
“Iya, aku tau kalau kau cerewet. Aku sudah membuktikannya sendiri!” Aletta tertawa dengan keras. Membuat Zello menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
“Oh iya, darimana kau tau, kalau aku ada bersama dengan orang-orang jahat itu?” tanya Aletta penasaran lagi. Karena tadi, laki-laki itu tidak menjawabnya, hanya mengatakan, ‘aku tau semuanya’
“Hemm, aku mencaritahunya.”
“Darimana kau mencaritahunya?” tangan Zello rasanya gatal kalau tidak mengusap rambut panjang itu.
“Dengan sebuah alat!”
“Bagaimana bisa kau mengalahkan penjahat itu sendiri?” Aletta mengubah posisi duduknya menghadap Zello, dengan kaki yang di lipat di atas tempat duduk. Tatapan matanya penuh dengan keingintahuan.
“Karena aku belajar beladiri!” jawab Zello enteng.
“Apa kau mau mengajarkan aku?” tanya Aletta antusias.
“Sepertinya tidak bisa,” jawab Zello singkat, tapi mampu membuat senyuman Aletta menghilang dari sudut bibirnya.
“Kenapa? Apa karena aku perempuan?” tanyanya dengan nada kecewa.
“Bukan, karena aku harus pulang ke rumahku!” Aletta mengangkat kepalanya yang semula tertunduk.
“Kenapa kau tidak tinggal di rumahku saja? Kau tau, rumahku sangat besar!” Aletta memperagakannya dengan merentangkan kedua tangannya, seakan dengan itu dia bisa menggambarkan seberapa besar rumahnya.
“Heem, tapi rumahku lebih besar!” jawab Zello singkat. Dia melihat ke arah jalan, sebentar lagi mereka akan sampai.
“Benarkah? Apa seperti istana kerajaan?” tanya Aletta lagi.
“Ya, bisa jadi begitu!”
“Berarti rumah kita sama besar, rumahku juga seperti istana! Kau tau, pelayan di rumahku sangat banyak, bahkan aku sampai kesulitan untuk mengingat nama mereka. Halamannya juga luas, kau pasti akan terpesona nantinya.” Aletta melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Zello angkuh. Membuat laki-laki itu terkekeh lalu mengacak rambutnya dengan gemas, bahkan sampai berulang kali.
“Baiklah, rumahmu yang paling besar.”
Mobil hitam mewah itu berbelok ke arah halaman rumah sakit. Orang-orang berbaju hitam sudah standby di sana. Thomas tampak dari salah satu orang itu. Aletta berpindah kedalam pelukan Zello, mengalungkan tangannya ke leher laki-laki tersebut.
“Apa kau senang?” tanya Zello berbisik. Aletta mengangguk antusias. Zello kemudian membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Para anak buah Thomas yang semula sudah bersiap siaga, langsung melemaskan bahu mereka saat melihat Zello dan Aletta keluar dari dalam mobil.
“Aletta ....” Thomas berlari mendekat dan mengambil alih Aletta dari dalam pelukan Zello. Laki-laki yang menjadi Daddy Aletta itu mencium setiap sudut wajah Aletta, membuat anaknya itu tertawa geli.
“Daddy, stop it!” ujarnya.
“Daddy senang kau baik-baik saja, Sayang. Syukurlah kau tidak terluka sedikitpun!” Max mengambil alih Aletta, dia juga mencium cucunya itu dengan penuh kasih sayang. Membuat gadis kecil itu geli karena bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahangnya.
“Grandpa, stop it!” ujar Aletta sembari tertawa. Zello hanya tersenyum melihat pemandangan tersebut. Aletta kini juga beralih pada David. Sama seperti Max dan Thomas, laki-laki itu juga menciumi Aletta dengan gemas.
Para anggota Black Devils yang ikut bersama orang-orang berkuasa itu, terkekeh geli melihat kelakuan mereka. Siapa yang menyangka, kalau laki-laki yang tampak sayang pada gadis kecil ini, adalah orang yang membantai habis kelompok Valder dan Weighto tadi.
“Siapa kau? Bagaimana kau bisa bersama dengan anakku?” Thomas menatap Zello penuh selidik, remaja laki-laki itu hanya tersenyum tipis.
“Donzello!” ujar Zello singkat.
“Donzello?” tanya Thomas mengulang perkataan Zello.
“Donzello Louis Gigante.”
.
.
...****...
...*Haha, lemes jariku 😂...
Bagi yang nanya, siapa itu Donzello, bisa lihat part awal, ya. Bab ke 9.