
Pagi ini Max beserta kedua orang tuanya berangkat ke apartemen Stef untuk menemui Lie, ibunda Stef untuk membahas pernikahan Stef dan Max. Karena bagaimanapun juga Lie adalah teman lama Lucky dan Masseria, jadi tidak enak rasanya jika mereka langsung memutuskan sendiri tanpa bertanya pada Lie terlebih dahulu.
Yah meskipun awalnya Max juga yang memaksa Stef untuk mau menikah dengannya, sebelum dia tahu bahwa Stef adalah balita kecil yang dicintainya dulu. Bahkan hingga kini Max rasanya tidak percaya bahwa dulu dia jatuh cinta pada balita kecil saat dia baru berusia empat belas tahun.
Iringan mobil pengawal keluarga Luciano itu memasuki area baseman apartemen. Lucky dan Masseria turun terlebih dahulu diikuti oleh Max di mobil yang ada dibelakangnya.
Hanya mereka bertiga yang turun dari mobil, sedangkan pengawal keluarga Luciano tetap tinggal didalam mobil menunggu majikan mereka hingga selesai. Karena jika mereka ikut turun maka akan menjadi pusat perhatian melihat kostum serba hitam yang menjadi ciri khas dari Luciano dan Alexander.
Tapi ada seseorang yang melihat kedatangan Lucky, Masseria dan juga Max yang berjalan kearah pintu apartemen Stef. Orang itu menatap tajam pada ketiganya. "Stef milikku, ya dia hanya milikku!" ucap orang itu mengepalkan tangannya, setelah itu dia berlalu dari sana dengan langkah kaki cepat memasuki lift.
Max mengetuk pintu beberapa kali. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Max?" ucap Stef setelah pintu terbuka, lalu Stef melihat kearah Lucky dan Masseria yang tersenyum padanya.
"Silahkan masuk!" ajak Stef mempersilahkan sopan. Mereka bertiga berjalan ke ruang tamu lalu duduk disofa yang ada disana.
"Papi dan momy mau minum apa?" tanya Stef bertanya sopan. Ia masih kaget dengan kedatangan kedua orang tua Max yang tiba-tiba.
"Tidak usah Stef, kemarilah duduk dekat momy!" suruh Masseria, sedangkan Stef hanya menurut saja. Ia duduk didekat Masseria bersebelahan dengan Max.
"Apa ibumu ada?" tanya Masseria pada calon menantunya itu.
"Ya, dia ada didalam kamar sedang beristirahat," jawab Stef. "Memangnya ada apa momy menanyakan ibu?" sambung Stef bertanya.
"Ada sesuatu penting yang ingin kami bicarakan dengan ibumu Stef," Lucky yang menjawab bukan Maaseria.
"Sesuatu yang penting apa pi?" tanya Stef.
"Apa sebaiknya kalian langsung kedalam kamarnya saja?" ucap Max memutuskan obrolan itu.
"Ya baiklah, Stef ayo antar kami!" ucap Masseria berdiri diikuti oleh Lucky dan juga Stef, sedangkan Max tetap diam ditempat.
Ketiganya berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamar Lie. Stef membuka pelan agar tidak membuat Lie kaget.
"Ibu," panggil Stef pada Lie yang sedang membaca buku itu. Refleks Lie menoleh, ia tampak terkejut dengan kedatangan Lucky dan Masseria.
"Ya Lie, ini kami!" jawab Masseria duduk disisi ranjang tempat Lie bersender. Masseria memeluk Lie erat begitu pula sebaliknya. Mereka berdua melepaskan rindu hingga meneteskan air mata.
"Bagaimana kabarmu? Kenapa kau menghilang selama ini, apa kau tidak berfikir kalau aku akan khawatir padamu?" Masseria mencecar Lie dengan sederet pertanyaan membuat Lie tersenyum.
"Jadi Max adalah putra kalian?" tanya Lie mengalihkan pembicaraan.
"Iya!" jawab Masseria. "Jawab pertanyaanku dulu!" sambung Masseria.
"Astaga kau ini, masih sama seperti dulu," ucap Lie tersenyum.
"Tentu saja!" jawab Masseria, sedangkan Lucky hanya diam memperhatikan kedua wanita itu. Stef pamit keluar untuk menemui Max yang di iyakan oleh kedua wanita paruh baya itu.
"Jadi kau belum menceritakan semuanya pada Stef?" tanya Masseria setelah Stef keluar. Sebenarnya Lie sengaja mengalihkan pembicaraan agar Stef tidak tahu dan Masseria menyadari itu.
Karena belum saatnya Stef tahu cerita masalalu orang tuanya, dan akan sangat menyakitkan bagi Stef jika mengetahui kebenarannya.
"Aku menunggu saat yang tepat untuk memberi tahu Stef, agar dia kuat mendengar semuanya nanti!"
.
.
.
.
.
TBC.
Love❤❤❤EgaSri