
Mattea berlari menuju kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran Queen size itu.
“Kau jahat Uncle. Kau jahat padaku....”
“Aku hanya ingin mencintaimu, kenapa begitu sulit?”
“Aku mencintaimu tanpa syarat Uncle, aku tidak peduli dengan masa lalumu, aku tidak memandang siapa kau Uncle...”
“Hiks ... hiks... Kenapa kau jahat padaku Uncle?! Hiks...”
Mattea memukul-mukul bantal yang tidak bersalah itu dengan tangannya. Membiarkan air mata menetesi pipinya yang putih mulus.
Lama Mattea menangis, hingga matanya bengkak dengan hidung yang memerah. Suaranya terdengar serak.
Saat sedang menangis, suara dering ponsel Mattea menyadarkannya. Ada nama Harry yang tertera disana.
“Hallo Harry?” sapa Mattea serak, membuat Harry di seberang sana heran.
“Hallo Atea, kau kenapa? Kau menangis?” tanya Harry cemas.
“No. Tidak apa-apa. Ada apa kau menelponku?” Mattea mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya, aku dan teman-teman kita sedang ada pesta di club, apa kau mau ikut?” nada suara Harry terdengar penuh harap. Mattea berfikir sejenak.
“Baiklah. Tunggu aku disana!”
“Benarkah? Kau mau ikut?” tanya Harry kaget dan juga tidak percaya. Gadis kalem kutu buku seperti Mattea mau pergi ke club'. Luar biasa.
“Hemm..” jawab Mattea singkat.
“Baiklah, kami tunggu disini!”
Setelah itu sambungan telepon pun terputus.
Mattea melirik pada cermin besar yang ada dalam kamarnya, melihat sendiri bagaimana pantulan dirinya didalam cermin itu.
“Kau terlihat menyedihkan Mattea!” gerutunya pada diri sendiri.
Mattea bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Dia perlu membasahi tubuhnya dengan air hangat agar sedikit relaks.
Setelah selesai mandi, Mattea memilih pakaian yang menurutnya masih cukup pantas untuk dibawa ke club'. Tidak terlalu terbuka dan tidak juga terlalu tertutup.
Dengan sebuah gaun diatas lutut berwarna merah menyala, dan juga hills setinggi sepuluh cm, Mattea membawa sebuah tas keluaran terbaru dari perusahaan Daddy-nya.
“Setidaknya bersenang-senanglah malam ini Mattea. Jangan jadikan patah hati ini membuatmu menyerah. Kau harus bisa menyadarkan laki-laki tidak peka itu kalau dia sebenarnya mencintaimu! Semangat lah Mattea, karena berpura-pura bahagia itu sangat diperlukan!”
Mattea melangkahkan kakinya keluar kamar. Momy dan Daddy-nya sudah berada di kamar, mungkin mereka sudah tidur, entahlah Mattea tidak mau memikirkannya saat ini.
Mattea yang biasanya keluar menggunakan sopir, kini mengeluarkan mobilnya dari garasi. Sebuah mobil sport berwarna hitam, hadiah dari sang Daddy saat pertama masuk kuliah dulu. Tapi tidak pernah digunakan olehnya.
Mattea membunyikan klakson mobilnya agar penjaga membukakan gerbang, dan itu berhasil. Tapi saat sudah pergi, Mattea tidak sadar ada sepasang mata tajam yang menatap kepergiannya dengan kepalan tangan.
“Mau kemana kau dengan pakaian seperti itu baby Girl?”
_______
Hiruk pikuk suara musik menggema di pendengaran Mattea saat menginjakkan kaki masuk kedalam sebuah club' yang menjadi tempat pesta teman-temannya itu. Bau alkohol menyeruak disana membuat Mattea mual.
Banyak adegan tidak pantas yang terlihat oleh mata polosnya. Laki-laki dan wanita bercumbu di setiap sudut ruangan membuat Mattea jijik. Bahkan banyak yang bergoyang mengikuti irama musik dengan pakaian yang tidak pantas.
Mattea rasanya menyesal sudah datang kemari, tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi.
Mattea naik ke lantai dua sesuai yang di katakan oleh Harry tadi. Sesampainya disana, Mattea melirik sekitar, dan melihat teman-temannya melambaikan tangan padanya.
Mattea berjalan mendekat pada mereka.
“Hai Mattea, aku kira kau tidak jadi kesini?” sapa Harry sangat senang saat Mattea ada dihadapannya. Penampilan Mattea saat ini sungguh sangat menggoda.
“Hemm, seperti yang aku katakan, aku akan datang?!” Harry mengangguk. Laki-laki yang sudah sedikit mabuk itu menyodorkan segelas kecil minuman pada Mattea.
“Minumlah Atea, ini enak!” Mattea menggeleng menolak gelas pemberian Harry membuat laki-laki mengerucutkan bibir sebal.
Dengan terpaksa, Mattea meraihnya tapi tidak meminumnya. Melihat teman-temannya yang sudah teler membuat Mattea bergidik ngeri.
‘Daddy, maafkan aku karena sudah datang ke tempat ini.’ batin Mattea cemas.
Melihat pada banyaknya laki-laki yang menatap penuh minat pada tubuhnya membuat Mattea takut.
Mattea menyesali keputusan yang dia ambil saat kecewa ini, ternyata sangat berdampak tidak baik padanya.
Saat semua temannya sudah mulai tidak sadar, terlihat ada seorang laki-laki mendekat padanya.
“Hai cantik?” sapa laki-laki itu, mencoba untuk menyentuh lengan Mattea, tapi langsung di tepis oleh gadis itu membuat laki-laki itu marah.
“Jangan sok jual mahal cantik. Ayo kita bersenang-senang malam ini?!” laki-laki itu kembali mencoba untuk merangkul Mattea tapi di lawan oleh gadis itu.
“Hei, jangan sok jual mahal jal*ng. Ayo temani aku!” laki-laki itu mulai kesal dengan penolakan Mattea.
“Enyahlah kau, aku bukan jal*ng! Pergi!” Mattea berteriak ketakutan saat laki-laki itu mencoba untuk memeluknya. Bau alkohol sangat terasa keluar dari mulut pria itu.
Sedangkan Harry dan teman-temannya sudah terkapar karena kebanyakan minum. Air mata menetes dari kedua mata Mattea. Sungguh dia sangat takut saat ini.
“Daddy, Momy, maafkan aku. Aku jadi anak nakal.” Mattea terisak saat laki-laki itu berupaya menyeretnya. Tapi setelah itu, laki-laki itu terkapar jatuh saat sebuah tangan kokoh melayangkan pukulan pada wajahnya.
“Uncle?” ujar Mattea saat melihat orang yang menolongnya itu adalah Laki-laki yang sangat dia cintai.
Mattea menghambur kedalam pelukan Thomas, yang di sambut hangat oleh laki-laki itu.
“Ayo kita pulang baby girl!” Mattea menggeleng saat Thomas mengatakan itu.
“No Uncle, aku tidak mau pulang. Pasti nanti Momy dan Daddy akan marah padaku!” Mattea menggeleng. Dia memeluk Thomas semakin erat, karena masih ketakutan.
“Nick, urus laki-laki brengsek ini. Aku akan membawa Mattea keluar!” Thomas memberikan perintah pada Nicko untuk membereskan laki-laki yang sudah terkapar tidak berdaya itu. Nicko pun menganggukkan kepalanya.
Thomas membawa Mattea keluar dari tempat laknat itu. Membawa gadis kecilnya itu masuk kedalam mobil. Sedangkan kunci mobil Mattea, Thomas berikan pada Nicko untuk di antarkan pulang.
“Uncle, aku tidak mau pulang!” rengek Mattea saat sudah duduk didalam mobil Thomas.
“Lalu kau mau kemana lagi Mattea. Ayo kita pulang!” Thomas sudah kesal dengan gadis kecilnya ini. Kesal karena Mattea sudah berani menginjakkan kakinya di tempat laknat itu. Kalau saja tadi dia terlambat, maka Thomas tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada gadisnya ini.
“No Uncle, kenapa tidak ke apartemen uncle saja. Aku takut, nanti Daddy marah!” Mattea merengek pada Thomas membuat laki-laki itu menghela nafas kesal.
“Kalau kau takut daddymu akan marah, kenapa datang ke tempat ini?” tanya Thomas kesal.
“Itu kan karena kau uncle. Karena kau membuatku patah hati!” Mattea memalingkan wajahnya membuat Thomas terdiam.
“Sudahlah, aku antar kau pulang.”
“No Uncle, No. Aku tidak mau pulang ke mansion. Aku belum siap kena marah daddy.”
“Aih ... Baiklah, kita pulang ke apartemenku!” putus Thomas akhirnya. Mattea menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Uncle, kenapa membuatmu jatuh cinta sesulit ini?” Mattea memandang Thomas dengan intens, membuat laki-laki itu sedikit risih. Bagaimanapun dia laki-laki normal yang memiliki hasrat ke lelakian. Apalagi dengan pakaian yang kini digunakan Mattea, sungguh membuat Thomas mengumpat dalam hatinya.
“Atea, bisa kau fokus saja melihat ke depan?” tanya Thomas mengalihkan pembicaraan.
“No, aku lebih suka begini!” jawab Mattea enteng.
“Iya, kau suka. Tapi aku yang tersiksa jadinya!” gerutu Thomas kesal.
“Kenapa?”
“Lupakan! Lebih baik kau diam saja, jangan menganggu konsentrasiku!” Mattea mengangguk patuh mendengar perkataan Thomas. Saat keduanya terdiam, tanpa sadar Mattea menguap dan tertidur, membuat Thomas sedikit lega.
“Ah, kau membuatku frustasi baby Girl!”
_______
Wkwkwk, ga paham aku😂
Lopeyu sayang-sayangku 😍