
Thomas mengendarai mobilnya kembali ke apartemen dengan kesal. Sudah satu hari lebih dia menunggu istrinya untuk tersadar, dan kini dia tidak di bolehkan untuk menginap dan tidur dengan istrinya. Pantas saja, si Mommy mertuanya yang kejam itu, menyuruh dia untuk tidak tidur menemani Mattea sewaktu pingsan.
“Cih, dia benar-benar menyebalkan!” gerutu Thomas, melajukan mobilnya menuju apartemen dengan cukup kencang.
Tapi sebelum sampai di area gedung tinggi itu berada, Thomas mendapat telepon dari seseorang.
“Hallo Nicko?” sapa Thomas saat telepon itu sudah tersambung. Dia menepikan mobilnya, lalu siap mendengar apa yang dikatakan anak buahnya itu.
“Hallo Tuan. Maaf menganggu malam anda, tapi apa tuan bisa kemari?” tanya Nicko langsung, tapi dengan nada yang terdengar hati-hati sekali.
Karena dia tau, orang kepercayaan laki-laki pemegang kekuasaan tertinggi Black Devils, itu baru saja menikah. Nicko tidak ingin merusak malam tuannya itu. Padahal sebenarnya, kan tidak begitu.
“Memangnya kenapa? Apa ada masalah dengan bocah kurang ajar itu?” tanya Thomas dengan menggeram marah.
“Hemm, ya, sedikit!” ujar Nicko.
“Baiklah, aku kesana sekarang!”
Thomas memutar kemudi mobilnya untuk pergi ke markas. Laki-laki itu mengingat kembali apa yang sudah dilakukan oleh laki-laki kurang ajar itu.
Untung saja, saat itu Stella mengatakan kalau ada yang tidak beres dengan mobilnya, karena sewaktu dia dan Max, pergi ke kampus, gadis itu melihat gerak-gerik orang yang mencurigakan mendekat pada mobil yang dia dan Max bawa dan masuk kedalam kolongnya.
Sebentar, hanya sebentar saja bagi orang berpakaian hitam itu untuk masuk kedalam kolong itu, lalu memperhatikan sekitar yang heboh dengan kedatangan Max dan Thomas. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menaruh benda kecil berbahaya disana, dan langsung meninggalkan area kampus setelah pekerjaannya selesai.
Awalnya Thomas tidak percaya, karena dia tidak mau mengulur waktu untuk bisa cepat menyelamatkan gadis kecilnya, tapi karena Max yang percaya dengan apa yang dikatakan oleh Stella, membuat dia akhirnya mau untuk menyuruh seseorang memeriksa mobil yang dia dan Max bawa.
Semua orang terkejut dengan apa yang ditemukan oleh salah satu anak buahnya. Dan langsung saja, Max menyuruh Nicko untuk mengirim mobil lainnya, dan menyuruh orang untuk membawa mobil yang dia dan Thomas bawa, untuk membawanya ke tempat yang aman, lalu memanggil penjinak bom.
Stella membawa motornya terlebih dahulu, menuju ke gereja, karena dia harus menghentikan apa yang dilakukan oleh Austin. Dan terjadilah semuanya.
__
Thomas memasukkan mobilnya kedalam area yang menjadi tempat tujuannya itu. Dari luar memang terlihat sederhana dan tak terurus, tapi jika masuk kedalamnya, maka tidak akan ada yang menyangka kalau isinya sangat mewah, tidak seperti yang terlihat di luar. Sangat berbanding terbalik.
Rumah yang dikelilingi oleh pagar tinggi dengan dilindungi oleh kawat berduri itu, dimasuki oleh Thomas.
“Dimana dia?” Thomas yang datang di sambut oleh Nicko, langsung bertanya dimana pria itu. Nicko membawanya masuk kedalam sebuah sel.
Disana, dia melihat ada Stella yang sedang duduk dengan santai sambil memakan apel yang ada di tangannya di sebuah kursi.
“Apa yang dia katakan?” mendengar suara Thomas, gadis itu lekas bangkit, dan membuang sisa apel yang dia makan ke tong sampah yang ada di sudut ruangan itu.
“Dia bilang karena dendam tuan!” gadis cantik yang seumuran dengan Mattea itu, menatap tajam Austin yang terlihat sangat mengenaskan.
Dengan wajah yang sudah penuh dengan luka pukulan, dan tangan, kaki, serta badan yang terluka. Dia menatap sinis pada Thomas.
Sudut bibirnya yang terluka itu menampilkan senyuman kebencian.
“Bagaimana rasanya ada didalam sini, Bocah?!” Thomas duduk di kursi yang ada disana, di tempat duduk Stella tadi. Dia menatap pada Austin yang berkilat marah padanya.
“Cih..” laki-laki muda yang babak belur itu mendecih, membuat Thomas kesal. Dia beranjak bangkit dan berjongkok di depan bocah itu.
“Apa yang membuatmu mempunyai dendam pada kami? Jelaskan!” nada tajam yang mengintimidasi itu membuat Austin memalingkan wajahnya. Sedangkan Stella yang ada disana sudah menduga, kalau ini akan terjadi.
Mata yang sama-sama tajam itu, saling menatap dan memancarkan kemarahan.
“Apa kau benar-benar tidak mengingat aku Tuan Thomas yang terhormat?” Thomas bisa mendengar nada mengejek disana, tapi melihat mata laki-laki yang ada didepannya ini penuh dengan kemarahan membuat Thomas juga menanggapinya dengan mata tajam miliknya.
“Siapa kau?” tanya Thomas dengan nada yang mengintimidasi.
“Cih, kau benar-benar tidak mengenalku ternyata!” Austin memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Katakan saja siapa kau! Aku ingin mendengarkannya langsung dari mulut sampahmu itu!”
“Aku Austin!” jawab Austin singkat membuat Thomas kesal.
“Aku juga tau namamu Austin bodoh!”
“Austin Adelardo Halmington!”
Thomas terdiam menatap laki-laki yang ada didepannya ini. Setelah mendengar nama lengkapnya, Thomas tahu alasan kenapa dia membalaskan dendam pada dia dan Max! Kesalahpahaman ternyata!
“Kau sudah besar sekarang bocah?” Thomas bangkit, lalu duduk di kursi sebelumnya yang dia duduki. Dia menatap Austin sekilas lalu mengalihkan pandangannya. Tatapannya yang tajam tadi, kini sudah sirna, dia menatap bocah yang ada di depannya ini dengan iba.
“Alasan apa yang membuatmu balas dendam? Apa semua yang kamu makan selama ini belum cukup?” tanya Thomas dengan nada dan juga senyuman yang mengejek.
“Apa maksud anda paman?” Austin bertanya heran.
“Hahaha ... Kau benar-benar membuang waktu kami!”
“Cih, sombong sekali kau!” Austin berdecih, membuat Thomas terkekeh.
“Karena kalian, ayah dan ibuku meninggal!” tatapan mata yang penuh dengan kebencian itu, menatap Thomas dengan tajam.
“Apa kau yakin karena kami?”
“Tentu saja, semua bukti mengatakan kalau kalian yang melakukannya!”
“Dasar bocah tidak tahu terima kasih kau!”
“Terimakasih untuk apa? Terimakasih untuk kau dan laki-laki itu, karena sudah membunuh orang tuaku?”
“Apa tidak sebaiknya kau pikirkan kembali ucapanmu itu bocah! Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal bodoh ini! Kau kira, selama ini kau bisa hidup itu karena apa? Hah?”
“Apa maksudmu?!”
“Kau melakukan hal yang salah, kepada orang yang salah, Boy!” setelah mengatakan kalimat penuh tekanan itu, Thomas berlalu dari sana, meninggalkan Austin yang penuh dengan rasa penasaran akan kalimat yang diucapkan oleh laki-laki dewasa itu.
“Jelaskan kepadaku! Hei...!” Austin meronta, tapi rasa sakit yang ada di tubuhnya, membuat dia tidak dapat bergerak banyak.
“Diam lah kau, jangan merusak ketenangan ku!” Stella kembali duduk di kursi yang sudah dia duduki tadi. Dia meletakkan tangannya didepan dengan menyilangkannya, lalu menatap Austin dengan angkuh.
“Diam kau, gadis kurang ajar! Lepaskan aku!” Austin masih menatap ke arah pintu keluar. Setelah itu menatap Stella dengan kesal.
“Apa katamu? Lepaskan? Mimpi! Untung saja, tuan Thomas tidak menghabisimu, kalau tidak, pasti kini aku sedang mengurus mayatmu yang tidak berharga itu!”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Stella membuat Austin menggeram marah, tapi dia tidak dapat berbuat banyak.
“Jaga bicaramu gadis!” desis Austin dengan marah. Dia menatap Stella dengan sangat kesal.
“Diam kau, jangan merusak Mood ku!”
“Cih, untung kau cantik. Kalau tidak, sudah aku habisi kau!” gerutu Austin yang dapat di dengar oleh Stella itu, membuat gadis angkuh didepannya ini menatapnya dengan kesal.
“Apa katamu? Menghabisi aku? Bergerak saja kau tidak mampu, apalagi melawanku waktu itu! Cih, sebenarnya kau ini laki-laki macam apa!” dengan kesombongan diatas rata-rata, Stella menatap Austin meremehkan membuat laki-laki menggeram marah, menahan emosinya.
“Kau ... kau....!” kata-kata yang tertahan itu, mendapat tantangan dari Stella membuat Austin semakin kesal.
“Apa?”
“Hei, kalian berdua, diamlah! Kalau tidak, aku nikahkan kalian!” Nicko yang sedari tadi mendengar perdebatan mereka akhirnya buka suara. Dia yang sedang bicara dengan Thomas itu, menjadi terganggu mendengar ocehan kedua bocah itu, membuat Thomas terkekeh.
“What?” ujar keduanya kaget.
“Stupid!” ucap Stella yang mendapat pelototan tajam dari Austin, karena gadis itu mengatainya bodoh.
“You stupid!” balas Austin.
“Shut up! Kenapa kalian jadi bertengkar? Hah! Dan kau bocah, bersiaplah, Tuan Max akan kemari!” mendengar apa yang di katakan oleh Nicko, membuat Austin dan juga Stella terdiam.
Laki-laki itu, masih cukup tau diri karena sudah membuat keributan didalam keluarga Max. Tapi yang ada didalam hatinya saat ini hanyalah, dendam yang harus dia tuntaskan segera.
“Cih, aku tidak takut!” ujar Austin dengan sombong, membuat Stella mencibir padanya.
___
“Max, apa kau bisa kemari?” telepon yang baru dijawab oleh Max itu, membuat Thomas langsung mengajukan pertanyaan padanya.
“Hemm, kemana malam-malam begini?” tanya Max dengan malas. Dia yang sudah berbaring di ranjang kamar tamu itu, kembali duduk untuk menjawab telepon Thomas.
“Markas, kau cepatlah kemari. Aku tau, kau tidur di kamar tamu lagi hari ini kan, masa hukumanmu masih beberapa hari lagi?!” nada mengejek dapat Max dengar dari menantunya itu, membuat Max berdecak kesal.
“Sialan kau menantu kurang ajar!” desis Max, yang membuat Thomas tergelak.
“Cepatlah kemari Max, ada yang harus kau jelaskan!”
“Pada bocah itu?!” tanya Max, yang membuat Thomas kaget.
“Kau tau?” tanyanya.
“Tentu saja. Baiklah, aku kesana sekarang. Lagipula aku juga bosan disini sendiri. Hahh, Mommy mertuamu itu, benar-benar kejam!” Max mendesah berat, dia bangkit dari ranjang untuk berganti pakaian.
“Hei, jaga bicaramu, kalau dia dengar bagaimana?”
“Ah iya juga. Baiklah, aku jalan sekarang!”
Sambungan telepon itu, akhirnya terputus. Max langsung menuju Walk ini closed yang ada dikamar yang biasa di gunakan oleh Thomas itu, untuk berganti pakaian. Dia menggunakan wardrop berwarna hitam malam ini, membuat auranya benar-benar menegangkan.
Setelah memasang jaket Hoodie hitam yang biasa di gunakan oleh Thomas, Max keluar dari kamar tamu itu untuk langsung menuju markas.