My Devils Husband

My Devils Husband
33. Kanguru



Saat menjelang malam hari setelah acara pemberkatan selesai, sepasang pengantin baru diiring menuju sebuah kamar hotel milik Luciano Grup. Kamar mewah yang besar itu memiliki fasilitas lengkap, seperti ruang untuk menonton televisi, juga meja makan yang tentunya juga memiliki lemari pendingin, walk in closed yang luas, juga kamar mandi yang memiliki bathtub untuk berendam yang nyaman untuk dua orang yang sepertinya memang dikhususkan untuk pasangan pengantin baru.


Stef berdiri didepan pintu kamar tersebut merasa gugup untuk masuk kedalam. Berbagai hal merasuki pikirannya. Apa yang akan dia lakukan nanti bersama Max didalam kamar ini. pikir Stef.


Stef masuk terlebih dahulu meninggalkan Max dan David diluar yang sepertinya akan membicarakan suatu hal. Stef menatap takjub seluruh isi kamar Presidensuite ini. Kamar yang dikhususkan hanya untuk keluarga pemilik hotel Luciano Grup.


"Ada apa?" tanya Max menatap David yang berdiri mengantarkan ia dan Stef ke kamarnya.


"Apa kau akan melakukannya malam ini?" tanya David menggoda.


"Tentu saja, dia kan istriku!" jawab Max dengan sedikit sombong.


"Ck, dasar pedofil!" jawab David berdecak.


"Aku bukan pedofil, hanya terlalu dewasa saja bagi Stef," jawab Max santai. "Sebaiknya kau juga harus segera menikah!" sambung Max lagi menatap pada David serius.


"Iya, jika nanti aku sudah menemukan Dia!" jawab David singkat, lalu melirik kearah Max. "Sudahlah, sana kau temui istrimu itu, jangan biarkan dia menunggu lama," sambung David mengalihkan pembicaraan.


"Iya baiklah," Max menjawab singkat lalu berjalan kearah pintu yang tertutup, berhenti sebentar ia melirik kearah David yang masih berdiri disana.


"Temukan kebahagiaanmu, jangan pikirkan dia yang tidak memikirkanmu, mulailah cari Dia yang baru untuk menggantikan Dia yang ada dimasa lalu!" setelah mengatakan itu, Max berjalan masuk meninggalkan David yang termenung sendiri memikirkan perkataan Max.


"Tentu Max, tapi dengan melihatmu bahagia aku sudah cukup bahagia." ucap David sebelum pergi dari sana berlalu dengan tersenyum. Karena kebahagiaan Max adalah yang utama baginya, dan Max adalah malaikat bagi David baik dulu hingga sekarang.


****


Max berdiri tegak melihat Stef yang sepertinya sedang kesusahan membuka gaun pengantinnya.


"Perlu bantuan?" tanya Max mendekat, sedangkan Stef langsung menelan Saliva gugup, inilah yang ditakutkan Stef, berdua bersama Max membuat kinerja jantung Stef menjadi buruk. Entah kenapa setiap bersama Max, jantungnya berdetak kencang tak karuan, apalagi setelah ini mereka akan melakukan malam yang panjang. Oh God.


"Tidak perlu Max," jawab Stef singkat dan cepat.


"Tapi kau terlihat kesulitan!" ujar Max menatap Stef. Max tetap berjalan menuju kearah Stef, lalu tanpa aba-aba ia langsung membukakan resleting gaun Stef yang sedari tadi membuat Stef kesulitan.


"Sudah!" ucap Max saat sudah selesai, ia langsung mengalihkan pandangannya dari punggung mulus Stef, dengan menelan salivanya susah payah.


"Terimakasih," ucap Stef langsung berlalu dari hadapan Max lalu menuju ke walk in closed, mengambil handuk dan juga baju ganti yang sayangnya hanya ada lingerie seksi berbagai warna disana, yang membuat wajah Stef kembali memerah setelah tadi ia juga merona saat Max membukakan resleting gaunnya. Oh tuhan, decak Stef tertahan.


Stef masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Max yang menatapnya frustasi. Hanya dengan melihat punggung Stef saja membuat milik Max bereaksi, apalagi nanti. Oh shit.


***


Stef mengintip dibalik pintu kamar mandi yang sedikit dibukanya, melihat apakah Max sudah tidur apa belum. Tapi sialnya ia melihat Max sedang memainkan ponselnya diatas tempat tidur. Stef mengumpulkan keberaniannya untuk berjalan kehadapan Max mengunakan lingerie yang menjadi penyebab kesialannya ini.


Berjalan mendekat membuat Max mendongak kearah Stef, yang langsung membuat Max menghembuskan nafas frustasi. Oh shit! Berkali kali Max berdecak frustasi.


"Aku akan mandi dulu, kau istirahat saja!" ucap Max meninggalkan Stef berlalu dari sana menuju kamar mandi setelah mengambil handuk terlebih dahulu dan meletakkan ponselnya.


Stef duduk bersandar ditepian ranjang mengatur detak jantungnya. Banyak pertanyaan didalam benaknya. Apa nanti dia akan melakukan 'itu dengan Max? Memikirkannya saja membuat Stef merinding.


~


Max keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, menatap Stef yang termenung diatas ranjang. Ia berjalan mendekat membuat Stef kaget.


"Kenapa sayang?" tanya Max pada Stef yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak apa-apa!" jawab Stef gugup, bagaimana tidak, melihat Max yang hanya memakai celana pendek tanpa atasan membuat Max semakin terlihat seksi. Apalagi nanti saat tubuh kotak kotak itu beradu dengan tubuh mungilnya membuat fantasi liar Stef bergejolak.


"Oh shit, apa yang kau pikirkan Stef," decak Stef dalam hati menatap Max dengan wajah memerah.


"Baiklah," ucap Max berjalan ke tepian ranjang duduk bersebelahan dengan Stef.


"Ya?" jawab Stef cepat dengan nada bertanya.


"Apa aku boleh melakukan 'itu?" tanya Max yang sialnya kembali membuat detak jantung Stef tidak normal.


"Itu apa?" tanya Stef pura-pura tidak mengerti.


"Apa kau tidak ingin memanjakan Kanguruku?" ucapan Max membuat Stef menjadi tidak paham.


"Kanguru?" tanya Stef bingung.


"Iya Kanguruku,"


"Dimana Kanguru? Bukankah kanguru hanya ada di Australia?" tanya Stef membuat Max tergelak.


"Ah kau ini polos sekali," ucap Max tertawa. Max melirik kearah celananya membuat Stef mengikuti arah pandang Max. Setelah itu wajah Stef memerah.


"Dasar mesum!" ucap Stef memalingkan wajahnya sedangkan Max hanya tergelak.


"Jadi?" tanya Max lagi.


"Jadi apa?"


“Jadi apa kau melakukanya?” pertanyaan Max membuat Stef bungkam, masih teringat jelas bagi Stef saat setelah selesai pemberkatan tadi ibunya mengatakan untuk Stef selalu melayani Max kapanpun. Dengan berat Stef menganggukkan kepalanya membuat senyum dibibir Max mengembang.


"Benarkah?" tanya Max memastikan.


"Iya!"


Max mendekat, merapatkan wajahnya dengan wajah Stef, hingga perlahan bibirnya menyentuh bibir tipis Stef, ciuman lembut Max berikan untuk Stef yang belum berpengalaman sama sekali, Stef yang masih kaku dalam berciuman membuat Max tersenyum. Aku yang pertama, pikir Max


Belain lembut lidah Max masuk kedalam mulut Stef, menghisap bibir tipis istrinya itu lembut, lama terbuai akhirnya Stef perlahan bisa mengimbangi ciuman Max yang kian menuntut, hingga tanpa sadar ia sudah berada dibawah kungkungan Max. Stef sudah mulai terpancing oleh sentuhan Max membuat darahnya berdesir merasakan sentuhan yang baru pertama kalinya ia rasakan. Stef menikmati setiap sentuhan Max, hingga perlahan ciuman itu turun pada leher jenjang Stef, dan Max memberikan tandaa kemerahan disana membuat Stef mendesah.


"Nikmati sayang, nikmati setiap sentuhanku!" Max mengucapkannya dengan nada serak.


Stef menyilangkan tangannya membuat Max tersenyum.


"Tak perlu ditutupi," ucap Max lembut.


"Aku malu!" cicit Stef dengan wajah memerah.


"Untuk apa kau malu, kita sudah menikah, jadi tak ada yang perlu ditutupi karena ini semua milikku!"


.


.


.


Ayo berikan Vote dan Like nya, dan juga setidaknya berikan komentar kalian juga, NEXT atau LANJUT saja itu sudah cukup membuat Author semangat.


.


.


.


Love❤️❤️❤️ EgaSri