
Max, Stef, beserta yang lainnya turun dari Jet, mereka mendarat dengan selamat di bandara kota Frankfurt. Max merangkul pinggang Stef posesif dengan menggunakan kacamata. Dengan pakaian casual Max menarik banyak pasang mata untuk terus menatapnya juga dua orang lelaki bujang nan tampan mengiringi jalannya.
Setiap mata wanita menatap pada tiga lelaki tampan tersebut. Ketiganya memiliki pesonanya masing-masing yang mampu menarik perhatian kaum hawa. Tapi melihat pinggang Stef yang dirangkul posesif oleh Max, membuat wanita disana harus menelan pil kekecewaan, tapi tak apa. Karena masih ada dua lelaki tampan lagi dibelakangnya.
Stef begitu risih dengan tatapan memuja para wanita pada suaminya, dia tidak rela rasanya jika Max diperhatikan banyak orang. Ingin Stef mengarungi suaminya ini, jika saja tidak dosa.
“Kenapa mereka memperhatikan kalian sampai begitu?” tanya Stef jengkel, Max tersenyum membuat Stef semakin jengkel, dan para wanita yang ada disana makin terkagum-kagum pada suami Sah dari Stefani tersebut.
“Mungkin, dia memandang kami karena kami terlalu tampan,” jawab Justin dibelakang yang cepat di angguki oleh Max, setelah itu Stef mencubit perut suaminya itu, lalu melangkah terlebih dahulu. Sedangkan para Orang tua hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
“Hei, tunggu aku,” Max mengejar Stef, lalu kembali memeluk pinggangnya. Karena jika ia berada jauh dari Stef, rasa mual langsung menjalar ke tenggorokannya. Entah karena sebab apa, tapi itu sungguh tidak nyaman. Membuat Max selalu ingin berada di samping Stef.
Mereka semua keluar bandara, naik kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh Thomas. Stef akan langsung diantar pulang, sedangkan Max akan ke kantor terlebih dahulu bersama dengan David.
“Sayang, kau masuk ke mobil ini bersama Aira, dan juga Justin. Aku akan kekantor sebentar terlebih dahulu. Stef mengernyit lalu menatap Max dengan penuh selidik.
“Memangnya apa yang akan kau lakukan disana?” tanya Stef, Max menghembuskan sejenak lalu kembali menatap Stef.
“Ada pekerjaan penting yang harus aku urus sayang, jadi kau pulang dulu bersama Mom and Dad,” Stef mengangguk, lalu Max menutup pintu mobil setelah ia mencium kening Stef terlebih dahulu.
“Ayo David!” ucap Max mengajak David. David mengangguk lalu berjalan menuju mobil yang juga sudah disediakan untuk dia dan Max. Sebenarnya Keduanya lelah habis perjalanan jauh, tapi istirahat mereka harus tertunda akibat suatu hal yang dikatakan oleh Thomas.
Limousin keluaran terbaru tersebut melaju terlebih dahulu dengan satu buah mengikuti dari belakang, yaitu anggota Black Devils yang menjaga keduanya.
Dikarenakan mereka tiba saat hari sudah menjelang siang, semua pegawai mengangguk hormat pada keduanya saat Max maupun David melalui loby dan masuk kedalam Alexander Corp. Max hanya mengangguk sekilas, sedangkan David memberikan senyumannya. Semua orang bernafas lega saat kedua pria yang memiliki aura mendominasi tersebut masuk kedalam Lift.
Tidak ada seorangpun disana yang tahu bahwa Max sudah menikah, karena memang pernikahannya dengan Stef digelar tertutup. Jikalau pun diumumkan, pasti nanti dampaknya tidak akan baik terhadap Stef, karena Max memiliki banyak saingan musuh bisnis maupun musuh Black Devils, pasti orang-orang itu akan mengincar istrinya untuk disakiti.
Max, lelaki tersebut jika berada di kawasan kantor atau di luar rumah, dia akan bersikap datar dan dingin, bahkan dengan mata tajamnya yang hitam saja sudah membuat musuhnya ataupun orang yang belum mengenalnya akan ketakutan. Sedangkan David, pria itu tidak se-kaku Max, ataupun se-datar Max. Tapi, jika urusan kejam, mereka setingkat, dan tentu saja sama-sama kejam.
Pernah dulu, Max, menghabisi musuhnya dengan menggunakan senjata api yang terselip dibelakangnya, karena orang tersebut mencoba untuk mencelakai dirinya dengan aksi kejar-kejaran, pada saat itu David tidak ada disamping Max karena suatu urusan yang ditugaskan oleh Max. Mungkin orang itu hanya suruhan saja, tapi karena dia berurusan dengan orang yang salah, dia menjadi kehilangan nyawa karena mencoba mengusik seorang Maxim Alexander.
Ting...
Setelah bunyi itu, pintu Lift pun terbuka. Max keluar terlebih dahulu disusul oleh David dibelakang. Disana sudah ada sekretaris baru Max yang menyambut mereka berdua. Iya, sekretaris baru karena yang lama sudah mengundurkan diri, itu informasi yang didapatkan oleh Max selama di Lombok.
“Siapa namamu?” tanya David.
“Saya Bianca tuan, sekretaris baru anda.” sekretaris baru Max yang bernama Bianca tersebut memandang Max dengan terpesona. Baru kali ini dia bertemu langsung dengan pemilik Alexander Corp, dan aslinya memang terlihat lebih tampan daripada di majalah.
Majalah? iya, Max termasuk dalam deretan pria muda tampan dan juga sangat sukses di urutan pertama, dengan bisnis di berbagai bidang. Dan bisnis otomotif adalah kerajaan bisnis Max yang paling tinggi.
“Dimana Thomas?” tanya Max, dia melirik pada pintu ruangannya yang tertutup.
“Tuan Thomas belum datang Tuan, saya akan mengabari jika anda sudah datang padanya,” Bianca hendak mengambil telepon kantor untuk menghubungi Thomas, tapi suara Lift berdenting menghentikan gerakannya.
“Ah, dia sudah datang Tuan Max,” Bianca melirik pada Thomas yang berjalan keluar dari lift mendekat pada keduanya.
“Ayo masuk,” David menyuruh mereka berdua untuk masuk, karena sedari tadi dia melihat Bianca terus melirik Max dengan tatapan genit dan juga tatapan terpesona. Membuat David jadi berdecih.
Mereka bertiga berjalan masuk kedalam ruangan Max. Pemilik perusahaan tersebut duduk dikursi kebesarannya dengan David dan juga Thomas duduk disofa yang ada disana.
“Ada apa Thomas?” tanya Max langsung.
Terkejut? Ya tentu saja dia terkejut, siapa lagi kalau bukan pemilik dari Alexander Corp ini.
Apa-apaan ini? 2,6 juta mobil itu bukan jumlah yang sedikit, dan mereka harus menarik ulang kendaraan mereka.
“Kenapa kau tidak langsung mengatakan padaku Thomas?” tanya Max kesal.
“Aku tau kau akan kepikiran, makanya aku akan mengatakan jika kau sudah sampai disini,” jawab Thomas, dia merasa bersalah karena harus menyembunyikan hal tersebut dari Max, tapi dia juga tidak ingin Max kepikiran saat liburannya bersama Stef.
“Sebaiknya kita pikirkan caranya kini Max, kita harus mengatasi ini, jika tidak perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar, karena 2,6 juta unit itu bukan sedikit,” David memberikan saran, Max dan Thomas mengangguk.
“Sekarang kau belikan aku Masker,” suruh Max pada salah satu mereka.
Hah? apa ini? Disaat seperti ini Max malah menyuruh untuk membeli masker, kenapa?
“Untuk apa?” tanya David bingung.
“Kalian ini bau, jadi aku harus pakai masker,” ucap Max seenaknya.
“Enak saja kau ini, aku sudah mandi dan memakai parfum,” ucap Thomas yang diangguki oleh David.
“Pokoknya belikan aku Masker, kalian bau!” titah Max yang membuat mereka bungkam.
“Biar aku saja,” ucap Thomas, lalu ia berjalan keluar meninggalkan Max dan juga David disana.
“Masa' sih, aku bau? Ada apa dengan Max? Padahal aku tidak bau sedikitpun,” Thomas menciumi ketiaknya tapi ia tidak merasa bau sedikitpun, ia melewati Bianca begitu saja tanpa mau menoleh, dan ia masuk kedalam lift untuk bisa sampai dilantai bawah Alexander Corp untuk membelikan Max masker.
“Max, aku rasa kita harus mengatakan ini pada Paman Lucky,” ucap David. Max berfikir sejenak.
“Aku rasa ayah sudah tau,” jawab Max, David mengiyakan karena tidak mungkin rasanya jika Lucky maupun Luciano Grup belum tau tentang hal ini.
“Baiklah, tapi kau mandi sana, kau bau!” David mendelik kesal pada Max.
Bisa-bisanya lelaki itu berkata seperti ini saat situasi genting seperti ini. Ah, sepertinya ada yang salah dengan Max.
.
.
.
.
.
Makasih loh ya, buat yang udah koment kemarin, berkat kalian aku jadi semangat lagi, dan juga novel ini lanjut lagi.
Ternyata bisa kan buat 100 like lebih. Makasih banget yah🥰
Nanti kalau bisa tembus 130 aku bakal Crezy Update, minimal 4 Chapter 😂
Haduh, panjang itu😂 ini aja 1,5 k, jadi nanti berapa itu😳? Itupun kalau bisa tembus yah😂kalau gak ya berarti enggak 😁😂😂