My Devils Husband

My Devils Husband
Eps 54



David dan Aira memutuskan untuk kekamar masing-masing. Begitu juga dengan Justin, ia sungguh sangat lelah hari ini. Lelah segalanya, lelah fisik, lelah hati dan juga lelah pikiran.


Siapa yang tidak lelah, begitu banyak kenyataan yang harus dia terima hari ini. Mulai dari adik kandungnya yang ternyata adalah wanita yang dia cintai, dan kebenaran tentang kedua orangtuanya yang benar-benar menguras emosi.


Justin masuk kedalam kamar yang sudah di booking oleh David dan Aira.


Kakak lelaki dari Stef itu merebahkan tubuhnya di atas kasur king size yang ada disana. Menatap langit-langit kamar dan menerawang jauh.


‘Apa yang dulu aku lakukan?’ tanya Justin bermonolog dengan dirinya sendiri. ‘Apa aku pantas disebut sebagai seorang kakak?’ tanya Justin lagi.


‘Kenapa jalan hidupku rumit sekali?’ Justin mengusap wajahnya kasar lalu kembali menatap langit-langit kamar. ‘Akan aku pastikan kebahagiaan Stef diatas kebahagiaanku sendiri, dan akan aku jaga Aira seperti adik kandungku sendiri!’ Justin tersenyum. ‘Ah, sekarang aku punya dua adik perempuan,’ Justin lagi-lagi tersenyum.


“Sebaiknya aku mandi sekarang,” ucap Justin berlalu dari kamar mandi.


★‡★


“Kakak,” Aira mengetuk pintu kamar Justin, berkali-kali hingga Justin yang saat ini sedang berbaring setelah selesai mandi merasa terganggu.


“Apa Aira?” tanya Justin saat sudah berdiri didepan adiknya itu.


“Kakak, ayo kita keluar, disini bintang terlihat sangat terang,” ucap Aira mengajak Justin dengan sangat semangat.


“Baiklah, kakak mau ambil jaket dulu!” ucap Justin yang diangguki oleh Aira. Lelaki tampan tersebut masuk kembali kedalam kamar dan mengambil jaket yang sudah dimasukkan kedalam lemari yang tersedia disana.


“Ayo!” ucap Justin. Mereka berdua berlalu dari sana untuk menemui yang lainnya yang sudah menunggu dibawah.


“Kau ikut Max?” tanya Justin.


“Menurutmu bagaimana? Sudah jelas-jelas aku disini kau masih saja bertanya!” ucap Max membuat Justin terkekeh.


“Ya sudah, ayo!” ucap Aira mengajak mereka semua.


Mereka berjalan beriringan, Max dengan Stef, David dengan Aira, dan tentu saja Justin dengan bayangannya sendiri.😂


“Aku sungguh menyesal ikut dengan kalian!” ucap Justin saat mereka sudah tiba di tepi pantai. Deburan ombak menyeru, dengan bintang yang kelap-kelip menghiasi langit malam yang membuat suasana semakin terlihat romantis.


“Kakak, kau tidak boleh seperti itu. Mungkin saja kau disini bisa mendapatkan seorang gadis!” ucap Stef melirik kearah beberapa orang gadis yang ikut menyaksikan bintang malam ini.


“Tapi mereka bukan tipeku!” ucap Justin membuat Max mendelik.


“Iya mereka bukan tipemu, tapi kau juga bukan tipe mereka!” ucap Max mencibir membuat Justin terlihat kesal.


“Hei, kau tidak tau saja pesonaku, jika aku mengedipkan mata saja, pasti para gadis akan langsung histeris saat melihatnya!” Justin bicara dengan penuh percaya diri.


“Hey kakak, jika memang seperti itu, coba buktikan!” ucap Stef menantang.


“Benar kak, ayo buktikan jika memang pesona kakak dapat melelehkan hati para gadis,” Aira ikut menambahkan membuat Justin semakin terpojok.


“Baiklah!” ucap Justin dengan penuh percaya diri.


“Coba kau rayu gadis bule yang ada disana!” ucap Max menunjuk pada seorang wanita yang berambut pirang yang terlihat seperti sedang mabuk ditepi pantai.


“Baiklah! Kalian lihat saja nanti, aku pastikan gadis itu pasti akan jatuh cinta padaku!” ucap Justin.


“Tidak perlu jatuh cinta kakak, membuat dia melirikmu saja itu sudah syukur!” ucap Stef. Sebenarnya David yang sedari tadi melihat Stef memanggil Justin dengan sebutan kakak membuatnya heran, mau bertanya tapi dia segan karena tidak ingin merusak suasana. Jadi David menyimpan rasa penasarannya seorang dari, dan memutuskan untuk bertanya nanti pada Max.


Justin beranjak dari sana menemui gadis berambut pirang yang terlihat seperti dalam kondisi hati yang tidak baik. Justin mendekat membuat wanita itu mendongak.


“Excuse me,(Permisi,)” ucap Justin pada wanita itu.


“Can I sit here?(Apa aku boleh duduk disini?)” tanya Justin yang diangguki oleh gadis cantik tersebut.


“Where does it come from?(Darimana asalmu?)” tanya Justin.


“I'm from Milan!(Aku dari Milan!)” ucap suara lembut wanita itu menjawab membuat Justin terdiam sejenak.


“I'm also from Milan,(Aku juga dari Milan,)” ucap Justin memberitahu membuat gadis itu terkejut.


“Is it true?(Benarkah?)” tanya Gadis itu yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Justin.


“Alright, let's talk in Italian only!(Baiklah, mari kita bicara dengan bahasa Italia!)” gadis itu mengangguk sebagai jawaban dari perkataan Justin.


“Siapa namamu?” tanya Justin menatap gadis yang sesekali terlihat terdiam tersebut.


“Jenna, namaku Jenna!” gadis yang bernama Jenna itu menjawab pertanyaan Justin. “Kalau kau, siapa namamu?” sambung Jenna bertanya.


“Aku Justin!” jawab Justin singkat.


Sedangkan saat ini Stef dan yang lainnya melihat dari kejauhan.


“Apa menurutmu dia bisa mendekati gadis pirang itu?” tanya Max pada mereka semua.


“Tentu saja, aku yakin dia bisa mendekati gadis itu!” ucap Stef dengan yakin.


“Syukurlah kalau seperti itu, tapi aku takutnya nanti dia ditolak!” Max tertawa setelah dia mengucapkan kata-kata tersebut membuat Stef mencubit perutnya. Max mengaduh menatap Stef yang menatap garang padanya.


“Hei kalian berdua, kenapa diam saja dari tadi?” tanya Max pada David dan Aira.


“Tidak, aku hanya melihat kakak mendekati gadis itu!” ucap Aira yang akhirnya membuat pandangan mereka semua terfokus pada Justin yang terlihat seperti sedang berbincang serius dengan Jenna.


Tak lama setelah itu, ponsel David berdering pertanda ada panggilan telepon yang masuk.


“Aku mengangkat telepon sebentar!” setelah mengatakan itu, David berlalu dari sana dan menjawab telepon yang ternyata adalah dari Thomas tersebut.


“Ada apa?” tanya David langsung pada orang yang menghubungkannya diseberang sana.


“Kapan kalian kembali?” tanya Thomas, David terlihat berfikir sejenak.


“Nanti aku tanyakan pada Max,”


“Baiklah,”


★‡★


“Stef, perutku mual,” Max mencoba menutup mulutnya dan hidungnya, sedangkan Stef langsung cemas mendengar perkataan Max.


“Mual? Apa kau sakit? Dimana yang sakit?” Stef menatap Max cemas, sedangkan Max hanya menggelengkan kepalanya.


“Tidak usah, kau saja yang pakai, kasihan nanti kau kedinginan,” Stef hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali memasang jaket yang tadi dibukanya.


“Ayo kita kembali ke hotel,” Stef mengangguk.


“David, Aira, aku dan Stef akan kembali ke hotel duluan, katakan pada Justin nanti jika dia bertanya, kami sudah kembali duluan,” Max memberitahu keduanya, yang dibalas anggukan kepala oleh David.


“Baiklah, hati-hati,” ucap Aira.


Max dan Stef kembali ke hotel.


Mereka berjalan seiring dengan Max yang memeluk pinggang Stef posesif.


“Apa kau mau Teh?” tanya Stef yang dibalas gelengan kepala oleh Max. “Atau mau sesuatu yang lain?” tanya Stef lagi.


“Tidak, aku tidak ingin apa-apa! Ayo kita tidur saja!” Stef mengangguk mendengar perkataan Max, setelah itu dia beranjak naik keatas ranjang dan membaringkan tubuhnya disamping Max.


“Kesinilah, aku ingin memelukmu,” Stef mendekat pada Max, dan melingkarkan tangannya pada tubuh Max.


“Apa kau masih mual? Atau mau aku Carikan minyak angin?” tanya Stef.


“Tidak! Tidak usah, aku sudah mendingan!” jawab Max.


“Ya sudah, ayo kita tidur!”


“Night my wife,”


“Night hubby,”


★‡★


Di pantai.


“Apa kau akan kembali ke Italia?” tanya David pada Aira yang duduk disebelahnya, memandang langit malam yang cerah, secerah hati keduanya.


“Iya, aku akan ikut dengan kakakku,” jawaban Aira membuat David tersenyum, lalu menatap gadis itu.


“Kau yakin?” tanya David.


“Iya, aku yakin!” setelah itu keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Langit malam yang indah, suara deburan ombak yang menenangkan, dengan lampu kelap-kelip disekitarnya membuat suasana ini sangat romantis.


“David,” panggil Aira singkat memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


“Hum? Ada apa?” tanya David menoleh pada Aira yang kini juga sedang menatapnya.


“Apa kau pernah jatuh cinta?” tentu saja pertanyaan Aira membuat David berfikir sejenak, menyelam pada masa lalu menuju masa depan, hingga dia ada di titik ini.


“Pernah!” jawab David dengan yakin membuat Aira mengangguk.


“Seperti apa rasanya?” tanya Aira lagi menatap David penasaran akan jawaban yang diberikan oleh lelaki tampan itu.


“Apa ini perlu aku jawab?” tanya David yang tentu saja dibalas anggukan cepat oleh Aira.


“Iya, karena aku ingin tau seperti apa rasanya jatuh cinta, agar aku tidak salah dalam menilai perasaanku,” jawaban Aira membuat David terdiam sejenak. ‘Dia sedang jatuh cinta?’ batin David.


“Persaanmu? Apa kau kini sedang jatuh cinta?” ucap David bertanya, karena tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


“Entahlah, aku tidak tau. Makanya aku bertanya padamu!” jawaban polos dari Aira membuat David mengangguk.


“Aku sendiri juga tidak bisa mendeskripsikan seperti apa itu jatuh cinta, karena bagi diriku pribadi, saat aku dekat dengan seorang wanita, lalu jantungku berdetak cepat jika ada disampaikan, dan saat aku tau tentang dia aku takut untuk kehilangannya, saat aku berjalan berdua dengannya aku merasa bahagia tak terkira, dan saat aku menghabiskan waktu bersamanya aku merasa seperti orang paling bahagia disini!” ucap David panjang lebar, mendeskripsikan perasaannya saat ini.


“Benarkah seperti itu?” tanya Aira yang diangguki oleh David.


“Iya,” jawab David singkat. ‘Iya, seperti saat ini. Aku merasa jadi orang paling bahagia saat duduk bersamamu disini.’ batin David menatap Aira.


“Siapa gadis beruntung yang menjadi orang terpenting dalam hidupmu itu?” tanya Aira penasaran membuat David bingung harus menjawab apa.


“Apa aku harus menjawabnya?” tanya David yang diangguki cepat oleh Aira.


“Tentu saja, siapa dia?” tanya Aira lagi.


“Aku tidak bisa menjawab sekarang, karena aku sendiri tidak tahu perasaannya padaku seperti apa.” Aira cemberut mendengar perkataan David membuat wanita itu terlihat menggemaskan Dimata David.


“Yah..., ayo beritahu aku siapa dia?” ucap Aira lagi memaksa David tapi tak membuat lelaki itu membuka mulut.


“Sudahlah, tidak usah dipikirkan.” ucap David yang membuat Aira semakin cemberut.


“Jadi, apa benar kau kini sedang jatuh cinta?” tanya David hati-hati.


“Sepertinya begitu!” jawab Aira singkat yang membuat David menelan liur kekecewaan.


“Siapa lelaki beruntung itu?” tanya David penasaran.


“Ah, kau ini kepo sekali!”


“Hey, aku bukan kepo tapi hanya bertanya saja!”


“Sama saja,” keduanya tertawa akan pembicaraan mereka itu.


“Apa kau mau menunggu Justin sampai selesai disini? Bagaimana kalau kita kembali ke hotel duluan?” Aira menatap Justin yang terlihat sedang berbicara serius dengan Jenna, gadis yang tadi berkenalan dengannya.


“Kita kembali saja, biarkan kak Justin disini, semoga saja dia mendapatkan wanita yang diincarnya.” David mengangguk mendengar perkataan Aira.


“Ya sudah, ayo!”


“Ayo!”


.


.


.


.


Salam sayang ❤️❤️❤️ EgaSri