
Sebuah mobil Range Rover hitam melaju membelah jalanan kota Frankfurt. Mobil dengan kecepatan maksimal itu bergerak sangat cepat. Sopir yang memang sudah terbiasa mengemudikan dengan mengebut itu sangat lihai dalam membawanya.
Jalanan yang memang tidak terlalu padat memudahkan laju mobil hitam dengan harga fantastis tersebut. Jam makan siang yang sudah usai, dan itu artinya sudah kembali masuk jam kerja bagi orang-orang yang sedang mencari pundi-pundi kekayaan di gedung-gedung bertingkat puluhan itu.
Mobil yang melaju kencang itu berdecit ketika sang pengemudi menginjak remnya secara mendadak. Kedua laki-laki beda usia itu langsung turun dari dalam mobil, dan melaju ke sebuah bangunan yang menyerupai gudang. Kotor, pengap, dan tidak terawat.
Brak....
Pintu yang sudah usang itu di dobrak paksa. Orang-orang yang ada didalamnya terkejut. Lalu mereka menundukkan kepala saat melihat ketua mereka berdiri angkuh di sana.
“Mana bajing*n kepar*t itu?” tanya seorang laki-laki muda. Masih sangat muda untuk menjadi ketua dari kelompok itu.
“Di sana Tuan!” salah seorang di antara mereka menunjuk sebuah ruangan lagi. Ruangan yang sempit dan juga sangat pengap. Laki-laki itu kemudian berjalan mengikuti arah tangan sang pria dewasa yang berbadan kekar.
Manik mata dengan sorot tajam itu menatap sang tahanan dengan tatapan yang tidak terbaca. Kaki yang masih dalam masa pertumbuhan itu mendekat pada seseorang yang sedang terkulai lemah tidak berdaya itu.
Seseorang dengan wajah yang sudah babak belur, dengan sudut bibir yang robek, mata yang membengkak, dan hidung yang mengeluarkan darah.
“Bangun kau, sialan!” suara keras itu membuat orang yang terkulai lemas itu mengangkat kepalanya. Manik mata kecoklatan tersebut terbuka dengan pelan. Tatapan nyalang di berikan oleh pemuda belia yang berdiri dengan aura seorang penguasa.
Laki-laki dengan wajah hancur itu meringis saat merasakan sakit di seluruh badannya. Dia masih bersyukur karena tidak di habisi untuk sekarang ini, tapi tidak tau nanti.
Laki-laki itu mau bangkit, tapi tubuhnya terasa sangat lemah dan tidak berdaya. Darah mengucur deras dari hidungnya membuat laki-laki muda yang berdiri angkuh itu menyipitkan matanya, setelahnya dia terkejut karena laki-laki itu pingsan tidak sadarkan diri.
“Heiii, bangun kau, sialan! Siapa yang menyuruhmu tidur?!” kaki yang berbalut dengan sepatu kets itu menendang kaki pria yang menutup mata tersebut.
“Dia pingsan, Tuan!” ujar anak buahnya setelah memeriksa denyut nadi laki-laki itu.
“Bawa ke rumah sakit!”
...****...
“Dia menderita kanker darah, Tuan!” laki-laki muda itu sedikit terkejut mendengar perkataan dokter yang merawat pemuda tadi.
Laki-laki muda itu hanya mengangguk setelah mendengar perkataan dokter itu. Dia mengeluarkan ponselnya.
“Siapkan jet sekarang. Kita berangkat, bersama sialan tadi!” tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, pemuda itu mematikan ponselnya. Melirik pada ruang rawat yang didalamnya ada laki-laki dengan tubuh yang sangat lemah, sedang berbaring tidak berdaya di sana.
“Cih, merepotkan saja!” ujar laki-laki itu sinis. Tapi walau begitu, dia tetap berjalan masuk ke dalam ruang rawat itu. Berdiri dengan angkuh sembari bersidekap dada.
Tidak lama setelah itu, orang-orang berbadan besar tiba di ruang rawat itu, mereka membawa brankar yang di atasnya pria lemah tak berdaya itu keluar dari rumah sakit, masuk kedalam ambulans, untuk di bawa ke bandara. Setelah mengurus administrasi dan semuanya mereka meninggalkan rumah sakit tersebut.
“Tuan yakin, akan membawa dia ke negara kita?” tanya seorang laki-laki berbadan besar pada laki-laki muda itu.
“Heem,” deheman singkat itu membuat siapapun tidak berani membuka suara lagi. Semuanya diam membisu.
...****...
Hari ini Mattea dan Baby Fazio sudah keluar dari rumah sakit. Para pelayan menyambut dengan suka cita. Pewaris laki-laki sudah datang ke mansion ini. Semua orang bergembira, mereka merayakannya dengan makan bersama. Para pelayan pun ikut merayakan hal tersebut.
“Al, ayo cium Adikmu dulu,” Aletta mendekat pada Baby Fazio. Dia mencium kening bayi laki-laki yang sedang memejamkan mata itu.
“Daddy, apa dulu aku menggemaskan seperti ini juga?” tanya Aletta dengan berbinar. Thomas tertawa mendengar perkataan anak perempuannya itu.
“Iya, Sayang. Kau dulu sangat menggemaskan!” ujar Thomas mengusap rambut Aletta dengan penuh kasih sayang. Mattea yang duduk di sebelah laki-laki itu tersenyum mendengarnya.
“Dulu? Berarti sekarang tidak?” tanya Aletta cemberut kesal. Bibirnya maju satu centi seperti bebek. Tangannya terlipat di depan dada. Sepertinya, mood gadis kecil itu sedang tidak bagus saat ini.
“Tentu saja, Sayang. Bahkan kini kau semakin menggemaskan!” Thomas mencubit pipi tembem itu, tapi tetap sang gadis kecilnya tidak tersenyum juga.
“Ada apa, Sayang? Apa ada yang menggangu pikiranmu?” Baby Fazio yang berada dalam ayunan sangat tenang menutup matanya, mengabaikan suara berisik orang-orang yang sedang membicarakan ketampanannya itu.
“Zello tidak menghubungiku, Dad.” akhirnya terjawab sudah, apa yang menjadi buah pikiran gadis kecil ini. Thomas melirik Mattea yang duduk di sampingnya, wanita itu hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.
“Kenapa kau tidak menghubunginya duluan saja, dan tanyakan kabarnya?” Aletta menggeleng cepat. Bibirnya masih mengerucut. Thomas gemas sendiri dengan anak perempuannya ini.
“Apa kau sangat merindukan laki-laki itu? Kenapa jadi uring-uringan begini?” tanya Thomas sembari tertawa, mencoba merubah mood gadis kecilnya.
“Hem, aku merindukannya, apa kita bisa ke sana untuk melihatnya?” Thomas tertawa mendengar perkataan Aletta, sedangkan gadis itu langsung memukul lengan Thomas. Merasa tidak terima karena di tertawakan. Dia merasa tidak ada yang lucu sedikitpun.
“Tidak bisa, Sayang. Daddy bekerja di sini, kita tidak bisa ke sana!” Aletta melipat tangannya di depan dada. Thomas melihat ada kalung yang tergantung di leher anak perempuannya itu.
“Darimana kau mendapatkan kalung ini, Al?” tanya Thomas memicingkan mata, memegang kalung mahal tersebut. Mattea ikut menoleh pada benda yang sedang di pegang oleh suaminya itu. Matanya membulat melihat kalung yang sangat indah tersebut.
“Zello yang memberikannya padaku!” ujar Aletta santai, yang langsung membuat Thomas menghembuskan napas lega. Ayah dari dua orang anak itu melihat model kalung yang ada di leher putrinya itu. Matanya menyadari jenis kalung apa yang di pakai anaknya itu.
“Aku kira kau mencurinya!” ujar Thomas terkekeh akhirnya. Dia melepaskan tatapan matanya dari kalung itu, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Aku juga mengira seperti itu awalnya, Dad. Tapi Zello bilang, toko itu miliknya. Padahal kalau aku tau toko itu punyanya, aku pasti akan meminta kalung yang lebih mahal lagi!” Aletta tertawa kecil saat mengatakan hal itu, tawa itu menular pada Thomas.
Louis jewelry adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang berlian. Barang-barang berkilau. Perusahaan itu sangat berkembang pesat, sudah membuka cabang di mana-mana. Kantor pusatnya ada di Milan, Italia. Dan kantor kedua ada di kota Frankfurt, Jerman.
“Memangnya kau tau, berapa harga kalung ini, Sayang?” tanya Thomas. Aletta menggeleng. Mana mungkin dia tahu harga kalung itu, dia tidak menanyakannya pada Zello kemarin.
“Ini sangat mahal. Keluaran dari Louis Jewelry, di desain khusus hanya untuk satu jenis ini. Aku sempat melihat model ini di majalah fashion, aku tidak menyangka, dia memberikan ini secara cuma-cuma padamu!” Thomas sangat tahu tentang ini. Dia sering membuka majalah Bisnis dan juga Fashion. Karena dia sedang berencana untuk membuka usaha di bidang fashion.
“Kau sangat tahu tentang perhiasan, tapi tidak pernah membelikan aku perhiasan!” Thomas menoleh pada Mattea yang tiba-tiba membuka suara. Wanita yang baru melahirkan itu, menatap suaminya dengan sinis. Di balas sinis juga oleh sang pria.
“Perhiasan yang seperti ini!” ujar Mattea mendengus. Rupanya, wanita itu sedang cemburu pada anak gadisnya sendiri.
“Heii, ini langka. Hanya ada satu di dunia, dan sekarang anak kita yang memilikinya! Kau masih saja cemburu pada anak kita sendiri!” Thomas menggeleng tidak habis pikir. Istrinya ini benar-benar menakjubkan.
“Zello itu laki-laki yang sangat loyal! Tidak seperti dirimu! Beruntungnya anakku!” perang itu masih berlanjut, hingga suara Stef menghentikan keduanya.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Stef ikut duduk di atas sofa. Max mengekor saja di dekat istrinya itu.
“Itu, Aletta mendapatkan hadiah dari ... Eh, mana gadis kecil itu?”
Thomas dan Mattea menoleh pada tempat Aletta duduk tadi, dan ternyata gadis itu sudah tidak ada di sana.
“Ini karena kau!” ujar Thomas ketus.
Sedangkan, disisi Aletta, gadis itu menggerutu tidak jelas. Merasa kesal dengan kedua orangtuanya. Karena lebih memilih bertengkar karena kalung pemberian dari Zello. Malaikat penyelamatnya.
Aletta berjalan menuju ruang makan, mencoba membuka lemari pendingin, walaupun dengan susah payah. Gadis kecil itu berjinjit bahkan sampai naik ke atas bangku, untuk bisa mengambil susu kotak rasa strawberry yang diinginkannya.
Aletta cukup lama duduk di meja makan, hingga bunyi telepon rumah membuatnya melihat ke atas meja hias. Kaki mungilnya turun dari atas bangku, lalu berjalan untuk menjawab telepon tersebut.
“Hallo?” sapanya sopan. Tapi orang yang di seberang sana hanya diam, tidak menjawab sapaan gadis kecil itu.
“....”
“Hallo? Apa kau mendengarku?” suara gadis itu terdengar sedikit kesal. Bibirnya mengerucut karena sebal. Moodnya benar-benar buruk hari ini.
“Kalau kau tidak bicara, aku matikan!” nada ancaman itu membuat sang pemilik suara di seberang sana cepat-cepat menyambar.
“My Letta, ini aku!”
“Zello? Ini kau?” tanya Aletta yang mengenali suara malaikatnya. Mata ke abuan itu berbinar bahagia. Suaranya terdengar sangat bersemangat, hingga Zello yang di seberang sana terkekeh geli.
“Heem, bagaimana kabarmu?” tanya Zello setelah beberapa saat.
“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah sampai di rumahmu?” jauh dari tempat berpijaknya Aletta, Zello sedang tersenyum mendengar suara menggemaskan itu.
“Haha, tentu saja. Perjalanan ke sini hanya satu setengah jam dengan jet. Aku sampai dari kemarin.” jawab Zello tertawa kecil.
“Kalau kau sampai dari kemarin, kenapa tidak langsung menghubungiku?” Aletta bertanya dengan kesal. Gadis kecil itu sudah uring-uringan karena memikirkan Zello sudah sampai atau belum, nyatanya laki-laki itu sampai sudah dari semalam. Huh, menyebalkan!
“Haha, aku kira kau tidak akan merindukan aku?” Zello bertanya dengan nada menggoda. Walaupun dia tidak bisa melihat wajah menggemaskan yang sangat dirindukannya itu, tapi dia yakin, Aletta sedang menggerutu kesal saat ini.
“Kau gila? Tentu saja aku merindukanmu!” nada bicara yang ketus itu benar-benar membuat Zello tertawa. Tapi dia segera menahan tawanya saat mendengar suara Aletta mendengus.
“Bukankah sudah aku kasih penangkal rindu, lalu kenapa kau masih merindukan aku?” tanya Zello menggoda
“Penangkal apanya?” tentu saja Aletta bingung, dengan kata penangkal yang di maksud Zello.
“Itu, kalung yang aku berikan!”
“Ah, aku tidak ingat. Kau tau, Daddy dan Mommy ku berdebat karena kalung yang kau berikan!”
“Ahaha, sudah ku duga. Itu kalung langka. Dan cuma ada satu di dunia, kau harus menjaganya dengan baik.” Aletta mengangguk-angguk. Dia pasti akan menjaga kalung itu dengan sangat baik. Dia berjanji.
“Pasti!”
“Oh iya, aku tidak akan bisa sering-sering untuk menelpon mu. Karena ada banyak yang harus aku kerjakan disini.”
“Iya, aku mengerti.”
“Aku akan mengirim ponsel untukmu. Kemarin aku lupa membelikanmu ponsel. Aku akan menghubungimu ke ponsel itu nanti!”
“Baiklah, aku tunggu. Kau ingat, ya. Natal sebentar lagi!”
“Masih lama, Letta! Sudah, kau lanjutkan saja pestanya. Kau harus bersenang-senang!”
“Tunggu dulu, dari mana kau tau, kalau di sini ada pesta?”
“Terdengar, berisik sekali di sana,”
“Pantas saja!”
“Baiklah, aku tutup telponnya. Jangan merindukan aku, biar aku saja yang merindukanmu. Oke?”
“Oke!”
“Gadis pintar.”
...****...
Ceritanya si Zello sama Aletta udah aku kirim, tapi belum review, mungkin agak lama, karena ini karya baru. Mungkin agak sedikit asing, ya, karena di sana ceritanya mereka udah dewasa. Karena kalau di buku ini, cerita tentang Zello mengunjungi Aletta setiap Natal dan ulang tahun, kalau di sana gak ada ya. Jadi, kalian harus baca dari dua buku. Oke, janji, ya. Jangan tinggalin buku ini, minimal sampai bulan baru😜