
Suster membawa Max, Lie, Jhon dan juga David menuju ruang bayi. Bayi Max diletakkan diruang khusus tidak bercampur dengan bayi lainnya. Karena pihak rumah sakit tidak mau mengambil resiko. Tak lama mereka tiba disana, Thomas dan juga Aira juga sudah ada disana.
Dua bayi yang masih merah itu tertidur didalam boks bayi. Stef tidak bisa memberikan inisiasi menyusui dini pada mereka karena dia yang sudah tidak sadarkan diri terlebih dahulu.
Semua yang ada disana meneteskan air mata bahagia melihat bayi mungil yang ada didalam sana, terkecuali Max. Dia sedih memikirkan nasib sang istri yang kini masih ditangani oleh dokter Patricia.
Suster memperbolehkan mereka masuk. Max menggendong bayi laki-lakinya dan Lie menggendong cucu perempuannya. Max memberikan ciuman di kening bayi mungil itu.
“Matteo Michaelino Alexander Luciano.” gumamnya ditelinga sang anak. Mendengar namanya, bayi kecil yang baru diberi nama Matteo itu, bergerak seakan dia menyukai nama yang diberikan oleh sang Daddy.
Max menyerahkan baby Matteo pada Jhon. Lalu dia mengambil bayi perempuannya di gendongan Lie.
“Hello Baby? Mattea Martha Alexander Luciano.” menggumamkan nama anak perempuannya, Max mencium kening bayi yang masih merah itu. Bayi kecil itu menggeliat lucu dalam matanya yang terpejam.
_____
Max beserta yang lainnya sudah kembali keluar. Mereka berdiri didepan ruang rawat Stef. Awalnya Max tidak mau memberitahu kondisi Stef, pada Lie. Tapi wanita itu curiga karena dokter tak kunjung keluar dan akhirnya memaksa Max untuk mengatakan padanya kondisi sang anak.
Lie yang mendengar kondisi Stef dari mulut Max hanya mampu menangis dan berdoa, supaya anaknya cepat melewati masa kritis dan bisa melihat kedua bayi kecilnya dan memberikan mereka ASI.
____
Sedangkan saat ini Masseria dan Lucky sudah tiba di bandara Frankfurt bersiap untuk naik mobil yang menjemput mereka. Penerbangan yang menghabiskan waktu lebih dari satu jam itu akhirnya bisa membawa mereka menemui dua malaikat kecil yang sangat mereka nantikan.
Lucky juga sudah menelepon anak buahnya yang ada di Jerman, dan kini mereka sudah menaiki mobil menuju rumah sakit tempat Stef melahirkan tentunya dengan sedikit pengawalan. Keduanya sudah mendapat kabar dari David kalau cucu-cucu mereka terlahir dengan selamat. Tapi David tidak memberitahu kondisi Stef. Sedangkan Justin kini masih dalam perjalanan, karena bagaimanapun perjalanan dari Indonesia menuju Jerman membutuhkan waktu yang cukup lama.
Dokter Patricia keluar dari ruangan Stef. Dia menatap pada Max yang seakan meminta jawabannya.
“Pendarahan Nyonya Stefani sudah kami hentikan, tapi kini Nyonya Stef masih belum sadarkan dan juga kondisinya lemah. Saya tidak tau kemungkinan apa saja yang bisa terjadi, tapi kami akan berusaha sekuat mungkin untuk bisa menyelamatkan Nyonya Stefani. Untung saja stok kantong darah yang sesuai dengan darah Nyonya Stef masih tersedia. Jadi kami bisa memberikan penanganan lebih cepat pada Nyonya Stef.”
Dokter Patricia menjelaskan secara detail pada Max dan juga yang lainnya. Max mengusap matanya yang memerah. Sedangkan Lie memeluk Jhon, menumpahkan tangisannya.
Sedangkan dokter Patricia hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Inilah yang dia takutkan dari awal. Kondisi fisik Stef yang masih terlalu muda untuk menjadi ibu, apalagi untuk dua orang bayi sekaligus, dan untung saja kedua bayinya kuat, tapi itu berakibat tidak baik bagi Stef sendiri. Tapi dia bisa apa, itu semua adalah kehendak Tuhan. Dia kini cuma bisa berdoa supaya Nyonya muda dapat kembali sehat, kalau tidak dia yakin, Max akan menggila disini.
Kini banyak terjadi pernikahan muda, dengan ibu-ibu muda yang masih dibawah umur. Walaupun Stef sudah masuk dalam kategori perempuan yang diperbolehkan untuk menikah, tapi tetap saja ada bahaya yang akan menimpa kemudian hari.
Max dan yang lainnya menuju ruang yang tadi dikatakan oleh Dokter Patricia. Sebuah ruang VVIP dengan fasilitas yang sangat mewah disana. Ada sofa, lemari pendingin, televisi, dan juga sebuah tempat tidur disudut ruangan yang diperuntukkan untuk orang yang menjaga pasien. Baby Matteo dan Mattea pun sudah dipindahkan untuk bisa bersama dengan Momy mereka.
Walaupun Momy mereka belum juga membuka mata, tapi Max berharap dengan hadirnya dua malaikat kecil itu disisi istrinya, bisa membantu Stef untuk terbangun. Hanya deru nafas lemah yang terdengar dari balik alat bantu pernafasan yang dipakaikan pada Stef, membuat Max merasa frustasi.
Kini Max juga terpaksa harus memberikan kedua bayinya susu formula, karena kondisi Stef yang belum bisa menyusui.
___&&&&&___
Sudah tiga hari semenjak kelahiran baby Matteo dan Mattea, Stef masih setia memejamkan matanya. Justin juga sudah berada disana menemani sang adik. Mereka semua cemas akan kondisi Stef yang tidak kunjung membaik.
“Heii adik kecil!” Justin duduk dibangku disamping ranjang yang kini ditempati oleh Stef dengan mata terpejamnya.
“Kenapa kau tidak mau bangun? Kau tidak mau ya aku disini? Padahal aku mau bercerita banyak padamu!” Justin memegang tangan Stef yang terpasang infus. Tangan itu dingin, membuat mata Justin memerah.
“Heii adik kecil, bangunlah. Ada yang mau aku ceritakan padamu.” Justin terdiam. Semua orang yang ada di ruangan itu hanya diam menyaksikan kedua adik kakak itu. Lie memeluk Jhon, Masseria memeluk Lucky, sedangkan David, Thomas dan Aira hanya menatap dalam diam. Sedangkan Max duduk sendirian dengan mata memerah.
“Kau tau, karena paman Lucky menyuruhku untuk mengurus bisnisnya yang ada di Indonesia, kini aku bisa berbahasa Indonesia walaupun sedikit-sedikit.Dan ternyata di Indonesia memang benar-benar menyenangkan. Dan kau tau? Ada seorang anak kecil menyebalkan seperti dirimu disana yang terus saja menggangguku!” Justin berhenti sejenak. Tapi tidak ada reaksi yang ditunjukkan oleh Stef. Matanya masih setia terpejam. Justin mengembuskan nafas sedih.
“Kau benar-benar tidak mau mendengar ceritaku ya?” Justin mengerucutkan bibirnya sedih.
“Ya sudahlah, sepertinya kau tidak tertarik mendengar ceritaku. Nanti saja aku ceritakan lagi. Dan aku yakin, kau pasti senang mendengar ceritaku nanti!” Justin mencium kening Stef lama. Matanya memerah, walaupun dia baru tau adiknya adalah Stef beberapa waktu belakangan ini, tapi rasa sayangnya sangatlah besar untuk Stef.
“Aku keluar sebentar!” Justin berdiri dari duduknya. Dia menatap semua keluarganya yang ada disana. Matanya memerah.
Sebelum keluar, dia menatap pada Stef yang masih setia menutup mata. Bibir adiknya itu pucat, tangannya terasa dingin, dan Justin tidak mau untuk memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak.
___
Bagaimana ini?🥺
Justin oh Justin, ngapain lu di Indonesia? Gangguin anak gadis orang ya? Hayo ngaku gak lu!