
Kondisi Matt dan Ana sudah membaik. Setelah dua bulan melewati perawatan yang cukup panjang, kedua pasangan itu kini benar-benar sudah sembuh total. Dan kini pada bulan ketiga, mereka sudah melakukan aktivitas seperti biasanya.
Max dan David tidak memberitahu siapapun, kalau Kelvan lah yang menjadi dalang di balik kecelakaan dua orang itu. Max dan David juga memberikan kompensasi pada keluarga sopir yang meregang nyawa itu.
Akibat kelebihan muatan, dan dalam keadaaan mengantuk, membuatnya tidak bisa mengendalikan truk yang di bawa oleh sopir naas itu, hingga saat Matt yang mengalami rem blong dan juga truk yang tidak terkendali, membuat dua mobil itu rusak parah, dan sopir truk terjepit karena menabrak pembatas jalan.
Memang keduanya sama-sama salah, tapi tetap saja, Max merasa tidak tega saat Nicko memberitahunya kalau sopir itu memiliki istri dan juga anak-anak yang masih sekolah.
Malam ini, keluarga Matt dan Ana sedang berkumpul di kediaman keluarga besar Alexander.
Matteo duduk berhadapan dengan Ana, menatap gadis yang terlihat sangat cantik dengan baju berwarna hitam dengan belahan dada rendah itu. Dan juga, rok selutut yang membuat tubuh mungil Ana terlihat menggoda.
Di ruang keluarga, semua orang memperhatikan tingkah menggemaskan Aletta yang terlihat menggemaskan saat berbaring di karpet bulu yang ada di bawah. Dengan mengunakan kasur tipis yang lembut, dan berbulu membuat bayi mungil itu tampak sangat menggemaskan saat memainkan tangannya.
Saat sedang asik melihat tingkah Aletta, Max menatap pada Matteo dan Ana.
“Jadi, Matt, kapan kau jadi menikahi, Ana?”
Semua orang menoleh pada Max yang bertanya seperti itu, lalu kemudian menatap pada kedua pasangan yang cukup terkejut karena pertanyaan Max.
“Aku menyerahkan semuanya pada, Ana, Dad. Aku belum bertanya banyak padanya,” ujar, Matt. Manik matanya yang gelap sekelam malam itu menatap Ana dengan tatapan meminta jawaban.
“Bagaimana, An? Apa kau sudah siap, Sayang?” tanya David yang angkat bicara saat melihat anaknya hanya diam dengan duduk yang gelisah.
“Jujur, Ana belum siap, Dad.”
Ana menggigit bibir bawahnya dengan gugup, dia tidak berani mengangkat pandangannya, untuk melihat reaksi terkejut yang tampak jelas di wajah orang-orang yang di sayangnya itu.
“Tapi kenapa, Sayang?” tanya, Aira. Dia menatap Ana dengan tatapan tidak percaya.
Kenapa gadisnya ini menolak untuk dinikahkan dengan, Matt? Bukankah keinginan terbesar Ana adalah menikah dengan seorang Matteo Michaelino Alexander?”
Matteo hanya dia saja saat Ana mengatakan itu. Dia tidak percaya sedikitpun saat mendengar jawaban Ana. Ini sungguh di luar dugaannya. Karena dia tau, seberapa besar perasaan gadis itu padanya.
Mata hitam pekat milik Matteo menatap Ana datar. Seakan mencari jawaban di pancaran gelap itu.
“Aku hanya belum siap saja untuk menikah muda, Mom. Terlebih usiaku baru sembilan belas tahun. Aku merasa tidak sanggup jika menyandang status seorang istri di usiaku yang seperti ini. Aku hanya takut mengecewakan.”
Matt menatap Ana tajam. Ini bukan jawaban yang dia inginkan. Karena dia tahu, saat ini pasti Ana sedang berbohong.
“Tapi ... Bukankah, dari dulu kau memang ingin menikah muda dengan Matt, Sayang? Lalu kenapa sekarang kau berpikir seperti ini?”
David benar-benar tidak habis pikir saat ini. Sungguh jawaban Ana membuatnya terkejut. Ada perasaan senang, dan juga sedih yang ada di hatinya.
Senang karena Ana memutuskan untuk tidak menikah muda, karena itu berarti, waktunya dengan sang putri masih banyak lagi, sebelum ada laki-laki lain yang merebutnya dari dia.
Dan perasaan sedih, karena Ana menolak Matt, pria yang sangat di cintainya, bahkan dari gadis itu kecil. Karena David tau, sedalam apa perasaan Ana pada Matt.
“Yes, Dad. Aku ingin menikah, tapi tidak untuk sekarang. Lagipula, Ana baru memulai kuliah, dan Ana masih ingin merasakan masa muda Ana, Dad!”
Air mata Ana sebenarnya hendak tumpah saat dia mengatakan itu. Dia benar-benar tidak mengangkat pandangannya. Tidak mau melihat tatapan kecewa dan juga senyum dingin Matt.
“Kenapa, An? Kenapa kau tidak mau nikah denganku? Apa terjadi sesuatu?”
Ana menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Matt.
“Angkat kepalamu, An! Tatap aku, dan jawab pertanyaanku!” suara Matteo yang terdengar tegas dan dingin itu, mampu membuat Ana menahan napas untuk sesaat.
Ana menormalkan ekspresinya, lalu mengangkat wajahnya dan menatap Matt dengan tersenyum.
‘Sembunyikan senyuman palsu-mu, Ana! Jangan perlihatkan padaku!’ Matt menggertak kesal dalam hati. Manik hitam itu menatap Ana nyalang. Ada kebohongan disana.
“Kak, Matt. Ana memang hanya belum siap saja. Saat ini, Ana masih mau kuliah dan merasakan bebas dulu, jika nanti kita sama-sama siap, kita akan menikah!”
Matt menajamkan matanya mendengar perkataan Ana. Senyuman tipis yang tidak surut dari wajah gadis itu membuatnya semakin kesal.
“Aku yakin, ada alasan lain, Ana. Jujurlah!”
Semua orang, menatap pada kedua orang yang sedang bersitegang itu dengan kening berkerut. Tidak ada yang bersuara sedikitpun, hanya suara ocehan Aletta yang terdengar.
“Alasan lain apa? Ana berkata jujur, Kak!”
“Jadi, aku tanya sekali lagi padamu, kau benar-benar tidak mau menikah denganku sekarang?” suara tajam dan mengintimidasi itu membuat Ana bergetar. Matanya menatap Matt dengan raut wajah tak terbaca.
“Tidak, Kak. Untuk saat ini, tidak. Tapi, walau bagaimanapun, aku sangat mencintaimu, dan janjimu aku tagih lima tahun lagi.”
“Persiapkan dirimu, Kak. Lima tahun lagi, kita akan menikah! Jangan coba-coba untuk menghianatiku dan menikah dengan perempuan lain!”
“Aku masih tidak percaya ini, Ana!”
“Dan semua orang yang ada disini adalah saksinya. Kami akan menikah lima tahun lagi, di tanggal yang sama.” ujar Ana tegas. Dia berdiri.
“Aku pergi!”
...*******...
“Dad, aku akan pergi!”
“Ana, pergi kemana, Sayang?” tanya David heran. Dia menatap pada tampilan Ana yang sudah rapi dengan koper yang ada di tangannya. Sebenarnya, sudah beberapa hari ini Ana mengatakan akan pergi, tapi David tidak tahu, kalau Ana akan pergi kemana.
“Ke tempat Uncle Justin.” ujar, Ana singkat.
“Hah? Untuk apa ke sana, Sayang. Itu jauh, apa yang kau pikirkan, Baby?” David terkejut mendengar perkataan Ana.
“Aku serius, Daddy. Aku mau ke tempat Uncle Justin, aku sudah mengurus semuanya!”
“Mengurus apa?” tanya David heran.
“Paspor, dan Visa,”
“Ap—apa?”
“Aku sekarang hanya butuh izin Mommy dan Daddy, karena sebentar lagi aku berangkat,”
“Ana! Apa-apaan kau ini. Ini bukan perkara sembarangan, Ana. Bagaimana bisa kau memutuskan ini sendiri, kau bahkan tidak bertanya pada kami sedikitpun!” Aira yang sedari tadi terdiam dan terkejut karena mendengar perkataan Ana akhirnya angkat bicara. Dia menatap pada anak gadisnya dengan marah. Bagaimana bisa, anaknya ini memutuskan semuanya sendiri?
“Mo, Dad. Aku mohon, untuk kali ini, kabulkan permintaanku ini. Aku hanya ingin melanjutkan kuliahku di sana. Aku ingin pergi dari negara ini. Aku mohon, Mom, Dad. Aku hanya meminta ini pada kalian.”
Ana menatap kedua orangtuanya dengan lirih. Dengan tatapan tak berdaya, dan juga kesakitan. Aira dan David tidak tega melihat anaknya seperti itu. Kedua orang tua itu menghela napas secara bersamaan.
Permintaan Ana terlalu mengagetkan mereka berdua.
“Tapi kenapa, Ana? Ada apa? Kenapa kau berubah? Apa ada sesuatu yang menganggumu? Lalu bagaimana dengan Matt?!” David masih benar-benar tidak habis pikir dengan Ana. Putrinya bahkan sampai menyiapkan semuanya sendiri, bahkan tanpa sepengetahuannya.
“Tidak, Dad. Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin pergi ke sana saja.” ujar Ana lirih.
“Dan untuk kak Matt, katakan padanya jangan mencari ku sebelum empat tahun ke depan. Jika dia mencari ku, maka aku akan marah padanya!” Ana menatap kedua orangtuanya dengan tegas. Seakan dia benar-benar ingin menghilang sesaat dari mereka semua.
Bagaimana mungkin anak gadisnya ini akan meninggalkan dirinya dan sang suami, bahkan tanpa pembicaraan terlebih dahulu.
Dia tidak sanggup melepaskan Ana begitu saja. Negara tempat tinggal Justin itu terlalu jauh. Walaupun Justin adalah kakaknya, tapi tetap saja rasanya Aira tidak rela kalau Ana jauh darinya.
“Mom ... Dad ... Percayalah kepadaku, aku akan kembali lagi nanti. Aku butuh izin dan doa kalian, aku benar-benar ingin segera pergi, Mom, Dad. Aku mohon, izinkan aku,” Ana menatap Aira dan David dengan tatapan memelas.
Sungguh, baik Aira maupun sang suami, tidak sanggup melihat tatapan Ana yang seperti itu.
“Baiklah, Sayang. Kami mengizinkanmu. Kami akan selalu mendoakanmu, Sayang. Ingat pesan Daddy, jadilah gadis yang baik, jangan merepotkan Uncle Justin dan Aunty Ara. Apa kau paham, Sayang?”
Ana mengangguk dengan semangat mendengar perkataan David.
Sedangkan David dan Aira menghela napas mereka.
“I love you, Mom, Dad.” Aira langsung memeluk David dan Aira secara bersamaan, membuat ketiganya saling memeluk erat.
“Apa aku tidak di ajak?” tanya Kevano kecil pada ketiga orang itu. Lantas mereka terkekeh mendengar pertanyaan polos itu. Sejak kapan bocah kecil itu ada di sana?
“Oh my Boy, Come here, aku akan merindukanmu.” Ana memeluk Kevano, mencium pipi adiknya yang gembul itu, membuat sang adik berusaha melepaskan pelukannya karena geli.
“Baiklah, aku akan pergi ke bandara sekarang, Mom, Dad.” ujar Ana saat acara peluk-pelukan itu selesai.
“Kami akan mengantarmu, Sayang.” Ana hendak menjawab tidak, tapi tatapan memerintah itu membuatnya langsung bungkam.
“Ayo ....” ke empat orang itu berjalan keluar rumah, lalu David meminta kunci mobil pada paman Crish, karena dia sendiri yang akan menyetir mobil.
Ke empat orang itu berlalu dari gerbang besar kediaman mereka. Mobil hitam itu membelah jalan kota Frankfurt menuju ke bandara.
Ana menyuruh David untuk mengemudikan mobilnya dengan cepat, karena takut akan ketinggalan pesawat. Rasanya, sampai saat ini, baik David maupun Aira masih tidak percaya, kalau Ana akan pergi meninggalkan mereka, bahkan gadis itu mengatakannya dengan tiba-tiba dan dia juga sudah menyiapkan segalanya dengan baik.
Cukup lama mereka di perjalanan, hingga akhirnya mobil hitam itu tiba di bandara. David memarkirkan mobilnya, lalu membuka bagasi untuk mengambil koper Ana.
Laki-laki itu membawa koper Ana, sedangkan sang anak berjalan bersama dengan istrinya mengekor dibelakang.
Kedua orang itu, tiba di terminal keberangkatan. Merek berdiri karena Ana melihat jam terbang pesawatnya masih sekitar satu jam lagi.
“Ana, apa kau juga sudah memberitahu Uncle Justin?” tanya, Aira. Ana mengangguk mendengar pertanyaan Aira, membuat kedua orang itu menggelengkan kepalanya.
“Kau benar-benar menyiapkan segalanya dengan cepat, Sayang.” Aira menghela napas lemah. Dia menatap anak gadisnya sendu.
“Maafkan aku, Mom, Dad. Tapi memang ini adalah pilihanku.” ujar Ana.
“Baiklah, sekarang kau pergilah untuk cek-in. Pesawatmu sebentar lagi berangkat, kan?” tanya, David. Ana mengangguk.
“Selamat tinggal, Mom, Dad, dan kau Kevano. Aku sangat menyayangi kalian. Aku akan menelpon jika tiba di sana nanti.”
Mereka berpelukan lagi untuk melepaskan segala sesak di dada.
Setelah pelukan mengharukan itu terlepas, Ana berjalan meninggalkan mereka dengan membawa kopernya.
Ana menyerahkan tiket yang sudah di beli beberapa waktu yang lalu pada petugas untuk di periksa. Setelah ia yang juga di periksa, gadis itu berjalan menuju pesawat yang akan di tumpangi.
Ana duduk di kursi sudut, sesuai dengan nomor tempat duduknya yang ada di tiket. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, lalu menatap layar itu dengan gusar.
‘Kak Matt, aku pergi. Jangan cari aku sebelum empat tahun ke depan. Jika, kau mencari ku, aku akan marah padamu. Aku sangat mencintaimu, dan juga sangat menyayangimu. Aku harap, kau memegang teguh janjimu. Aku menanti empat tahun lagi. Selamat tinggal, I love you ❤️’
Dengan berat, pesan itu Ana kirim pada Matt. Terlihat di sana centang satu, itu tandanya pesannya sudah terkirim, tapi mungkin pria itu sedang tidak memainkan ponselnya.
Ana kemudian mematikan ponselnya, lalu memasukkannya kedalam tas jinjing yang cukup besar yang dia pakai. Sebuah tas dengan harga yang fantastis.
Ana juga mengeluarkan earphone dari dalamnya dan mulai menikmati suara-suara merdu yang keluar dari benda itu.
Seseorang duduk di samping, Ana. Dia menatap Ana yang hanya menatap kosong keluar. Melihat pada aktivitas bandara yang padat.
Ana bahkan sampai tidak menyadari orang itu, sebelum orang itu meletakkan barangnya di depan dan sedikit menyenggol Ana.
“Maaf, aku tidak sengaja menyenggolmu," ujarnya kaget saat Ana menoleh padanya.
“Tidak apa-apa,” ujar Ana tersenyum.
“Kau mau ke Indonesia juga?” tanyanya. Ana menganggukkan kepala tanda membenarkan.
“Siapa namamu? Perkenalkan, aku James,” Ana menatap pada tangan laki-laki muda yang tersodor padanya itu. Lalu Ana menyambutnya dengan ramah di sertai senyuman.
“Holla James, aku Ana.” jawab Ana. Setelah itu, jabatan tangan tanda perkenalan itu terlepas.
“Senang mengenalmu, Ana.” ujar, James.
“Begitupun aku, James.” balas Ana.
Ana lalu kembali memasang earphone yang sempat dia lepas itu ke telinganya. Dia menikmati lagu-lagu yang terdengar merdu itu. Sedangkan James menyibukkan dirinya dengan melihat majalah-majalah bisnis yang ada di tangannya.
“Tuan Maxim itu sungguh hebat, ya?” ujar James bertanya pada dirinya sendiri. Dia tersenyum menatap orang yang menjadi inspirasinya itu.
Ana memejamkan matanya untuk sesaat karena merasakan sesuatu yang membuatnya merasa lain.
Sedangkan James yang tampak ingin memperlihatkan Max pada Ana, menoleh pada gadis itu.
“Astaga, Ana. Hidungmu berdarah!” ujar James kaget. Begitupun dengan Ana.
James segera mengambil tissue yang ada di sana dan memberikannya pada Ana dengan tergesa-gesa.
“Ana, kenapa hidungmu bisa berdarah?” tanya James panik.
Ana masih sibuk membersihkan hidungnya, lalu tersenyum pada James.
“Aku tidak apa-apa, James. Aku baik-baik saja. Kau tenanglah, mungkin ini karena aku melihatmu yang terlalu tampan, hingga membuatku mimisan.”
“Aku tidak begitu tampan, sampai harus membuatmu mimisan, Ana!”
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...*****...
...Ava-avaan ini?...