My Devils Husband

My Devils Husband
Exp. Mendebarkan



Thomas menghubungi anak buahnya yang seorang hacker. Untuk melacak dimana keberadaan Aletta. Anggota kelompok yang diketuai oleh laki-laki yang menjadi menantu Max itu bergerak cepat. Meskipun tidak semuanya, karena mereka tersebar di beberapa kota. Akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bertemu di satu titik, jadi sebagian yang ada di dekat Thomas, bergerak cepat untuk mencari Aletta.


Yang jelas, sekarang mereka harus pergi ke markas kelompok Valder terlebih dahulu. Ada atau tidaknya Aletta di sana, yang jelas, Thomas harus memberikan pelajaran pada orang yang berani main-main dengannya.


Jangan harap, dengan diamnya Thomas selama ini, bisa membuatnya di anggap remeh, itu dilakukan karena dia tidak mau saja berbuat nekat. Ternyata, diamnya selama ini, malah membuat orang lain meremehkannya.


Mobil yang dikendarai oleh Nick itu berhenti tepat di depan pintu utama markas kelompok Valder. Bunyi decitan rem mobil yang di rem mendadak membuat orang-orang yang berjaga di dalam bangunan itu keluar dari sana.


Dengan tangan yang terkepal karena amarah, Thomas diikuti oleh Nick dan Max keluar dari dalam mobil. Wajah kedua laki-laki itu sama bengisnya. Tidak tampak pengampunan di mata mereka. Para anak buah Thomas dan Max juga keluar dari dalam mobil, mereka berjalan mengikuti sang ketua kelompok.


Orang-orang berpakaian hitam keluar dari dalam markas yang bisa di bilang cukup besar itu. Thomas mendekat, dan langsung melayangkan bogeman mentah ke arah salah satu orang yang berbadan kekar seperti dirinya itu. Anak buah Sander yang lainnya langsung berlari untuk lebih mendekat.


“Dimana anakku, kep*rat?!” kawanan kelompok Valder balas menyerang. Begitupun dengan kelompok yang di pimpin Thomas. Mereka baku hantam satu sama lain, belum ada yang mengeluarkan senjata mereka.


“Dimana anakku?!” teriakan suara penuh kemarahan itu kembali menggema. Thomas mengeluarkan pistol yang tadi sudah di berikan oleh Nick padanya. Thomas masuk kedalam bangunan yang menjadi markas kelompok Valder tersebut.


Lalu anggota kelompok Thomas juga ikut masuk kedalam markas kelompok Valder, setelah membuat kelompok Valder sedikit kehilangan tenaga mereka. Mereka mengobrak-abrik ruangan itu, bahkan juga ruangan lainnya. Hingga Thomas masuk kedalam sebuah kamar, tempat dimana ketua dari kelompok Valder sedang bersenang-senang dengan wanita jal*ngnya.


“Cih, kau benar-benar menjijikkan, Sander!” lelaki yang lebih tua dari Max dan Thomas itu sedang mengisap cerutunya, duduk di atas sofa, sedangkan dua wanita panggilan yang sedang tertidur tanpa busana itu langsung terbangun mendengar suara Thomas.


Laki-laki yang Thomas sebut dengan nama Sander itu hanya diam, tidak menanggapi perkataan Thomas. Tapi sudut bibirnya tersenyum sinis melihat kedua laki-laki berkuasa yang ada di depannya. Dia mendengar, suara anak buahnya sedang berkelahi dengan kelompok Max dan Thomas di luar kamarnya.


“Ahh, kau tidak berubah, Sander! Kau masih menjadi bajing*n rupanya!” Max angkat bicara. Manik gelapnya membuat dua wanita panggilan itu menjadi gemetar. Begitupun dengan Thomas. Dua laki-laki itu benar-benar menyeramkan. Kedua wanita panggilan itu berusaha untuk turun dari ranjang, dan meraih baju mereka yang berserakan di atas lantai, lalu berlari cepat menuju kamar mandi dengan langkah yang sedikit terseok-seok. Yang ada dipikiran mereka sekarang adalah, bagaimana supaya mereka bisa keluar dari tempat ini, secepatnya.


“Akhirnya kalian mengunjungiku,” laki-laki yang bernama Sander itu dengan cepat menghabiskan cerutunya. Dia menyilangkan kakinya, duduk dengan angkuh, membuat Max dan Thomas semakin geram. Bahkan Nick saja sudah susah payah menahan emosinya saat ini, tangannya yang kekar terkepal kuat, wajahnya memerah.


“Beritahu, dimana anakku sekarang, baji*ngan!” Sander tertawa keras mendengar perkataan Thomas. Laki-laki itu menyilangkan tangannya di depan dada, wajahnya penuh dengan senyum licik, membuat Thomas semakin geram.


“Entahlah, aku tidak tau dimana anakmu, kenapa menayangkannya padaku? Itu anakmu bukan anakku!” darah Thomas semakin mendidih mendengar perkataan Sander. Laki-laki itu berjalan mendekat dan melayangkan sebuah pukulan pada wajah Sander, yang sayangnya di tahan oleh laki-laki tua itu.


“Tidak semudah itu, Tuan Thomas yang terhormat!” Sander dengan santainya menghempaskan tangan Thomas. Lalu berjalan menuju lemari yang ada di sana, untuk mengambil pakaian baru untuknya.


“Kepar*t! Katakan, dimana Aletta ku!” Thomas meraih kerah belakang baju yang baru saja dikenakan oleh Sander, dan menghadiahinya sebuah Bogeman mentah tepat di wajah laki-laki itu. Sander berteriak marah, hidungnya berdarah. Max dan Nick hanya melihat, saat Thomas melampiaskan kemarahannya.


Para anak buah Sander yang tersisa di luar, bergegas masuk kedalam kamar pria itu, saat mendengar teriakkan boss mereka, dan melihat laki-laki tua yang menjadi ketua dari kelompok Valder itu mengeluarkan darah di hidungnya. Para laki-laki berperawakan tegap itu langsung menyerang Thomas tanpa aba-aba. Max dan Nicko juga langsung bersiap, senjata yang tadi sudah disiapkan sebelumnya, mereka keluarkan dan mereka tembakkan membuat satu-persatu anggota kelompok itu runtuh.


Sander menyeka darah yang keluar dari dalam hidungnya, lalu mengambil pistol yang ada didalam lemarinya. Thomas yang melihat pergerakan laki-laki itu, langsung menembak tangan Sander, dan tepat mengenai pergelangan tangannya, membuat laki-laki tua itu menjerit kesakitan.


“Kalau mentalmu selemah ini, jangan coba untuk main-main denganku, sialan!” bentak Thomas. Para anak buah Sander sudah banyak yang terluka kena tembakan dari kelompok Max.


Sander mencoba untuk tertawa, dia memandang remeh Thomas. Walaupun sebenarnya dia sangat ngeri melihat laki-laki menyeramkan ini.


“Anakmu tidak akan selamat di tanganku, sialan!” tangan Sander mengeluarkan banyak darah, laki-laki itu berdecih sinis, yang membuat Thomas semakin marah.


“Apa yang kau inginkan?!” bentak Thomas. Sander melirik pada anak buahnya yang sudah tidak berdaya, akibat dari solidaritas kelompoknya, dia hanya terluka di lengan saja, sedangkan mereka sudah banyak yang meregang nyawa.


“Senjata kalian, yang ada di kapal L.A.A!” Thomas tertawa sarkas mendengar perkataan laki-laki tua itu.


Kapal LAA adalah sebuah kapal pesiar milik keluarga Luciano, rupanya laki-laki itu tau, kalau di dalam brangkas besi kapal mewah itu, terdapat senjata api yang mereka selundupkan.


“Kau tidak akan mendapatkannya!” bentak Thomas penuh amarah.


“Kalau begitu, jangan harap anakmu akan kembali ke tanganmu!” balas Sander dengan mata yang nyalang.


Mata Thomas menatap Sander dengan nyalang. Darah masih menetes di pergelangan tangan laki-laki itu, “Kau mau mati, sialan?!” teriak Thomas lagi. “Katakan dimana anakku!!”


“Jangan harap aku mau memberitahumu! Anak buahku sudah membawanya pergi jauh dari sini, kau tidak akan menemukannya!” Sander meludah di depan Thomas. Satu Bogeman lagi mendarat di wajah tua itu, membuat sudut bibirnya terluka.


“Hahaha, aku bahkan rela mati untuk ini. Aku bersumpah, kau tidak akan menemukan anakmu itu!!” satu tembakan tepat di dada Sander membuat laki-laki itu meregang nyawa. Max adalah pelakunya.


“Lebih baik kau mati dan membusuk di neraka, bajing*n!” teriak Max dengan marah. Laki-laki itu benar-benar tidak dapat menahan emosinya lagi. Tepat di dada Sander, peluru itu bersarang. Merenggut nyawanya dengan cara mengerikan.


Thomas, Max, Nick dan anggota yang lainnya segera berlalu dari kamar tersebut.


“Cepat kalian bereskan sampah itu!” perintah Nicko yang di sambut anggukan kepala oleh anak buahnya yang lain. Saat akan keluar, ketiga orang itu bertemu dengan David dan juga Matt yang baru sampai di sana.


“Bagaimana?” tanya David khawatir.


“Tidak ada disini. Keparat itu tidak mau memberitahukannya!” sembari berjalan menuju mobil, Thomas menjawab. Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar. Dia sangat mencemaskan putrinya. Apa yang akan dia katakan pada Mattea nanti, jika Aletta tidak dapat di temukan.


Tiba-tiba, hp Thomas berdering, tanda ada telepon masuk.


“Ada apa?” tanya Thomas langsung.


“Aku menemukan lokasi Nona kecil, Tuan.” suara Stella menyahut dari seberang. Thomas melebarkan matanya.


“Kau yakin, Stella?” tanya Thomas langsung dan sedikit ragu. Karena, hackernya saja belum bisa menemukan dimana lokasi anaknya, dan sekarang, pengantin baru itu menemukannya.


Setelah sambungan teleponnya terputus, Stella segera mengirim lokasi yang ditemukan oleh Stella.


“Ah, sudah lama aku merindukan pekerjaan ini. Tapi aku tidak menyangka, yang harus aku tangani saat ini, bersangkutan dengan Nona kecil!” Stella menggeleng. Lalu dia menelepon yang lainnya untuk segera berangkat menuju lokasi yang sudah dia sebar.


“Arthur, ayo!” Arthur yang sedang mengambil senjata itu mengangguk. Dia mengikuti Stella yang berjalan tergesa-gesa keluar dari markas Black Devils. Sedangkan Kevin tetap di sana untuk memantau lokasi tersebut.


Sedangkan, kedua wanita panggilan yang tadi masih di dalam kamar mandi itu, keluar setelah anggota Thomas membersihkan mayat-mayat yang tidak berdaya tersebut. Kedua wanita itu melirik sekitar.


“Akhirnya, tua Bangka itu mati juga,” ujar salah satunya, yang berambut pirang panjang.


“Kita akan hidup tenang setelah ini. Sebaiknya kita cari barang-barang berharga yang ada disini, sebelum pergi!” ujar salah satunya lagi, yang berambut hitam. Kedua wanita itu akhirnya mengobrak-abrik apa saja yang di sana, untuk mendapatkan sesuatu yang berharga.


****


Lokasi yang di kirim Stella, berada di pinggiran kota Frankfurt. Tepatnya di sebuah bangunan tua yang tidak terurus. Tapi, yang membuat orang-orang itu terkejut bukanlah bangunan jeleknya, tapi pada api yang berkobar disana


“Sialaaannnn! Alettaaaa....” Thomas hendak berlari masuk, tapi segera di tahan oleh Max dan David. Sedangkan yang lainnya sudah menelpon pemadam kebakaran. Untung, pos pemadam kebakaran tersebut tidak jauh dari sana.


“Lepaskan aku, Max! Anakku ada didalam!” teriak Thomas dengan nada yang mengiris hati. Stella mengepalkan tangannya.


“Cepat cari Nona kecil, pada bagian yang belum terbakar!” teriaknya. Para anggota kelompok yang diteriaki oleh Stella itu langsung berlari untuk masuk. Mereka seperti semut di dalam kobaran api itu. Karena bangunannya sudah tua, jadi api mudah sekali untuk membesar.


Mobil-mobil pemadam kebakaran berdatangan, serinenya membuat suasana semakin gaduh. Para orang-orang kuat itu segera turun dari dalam mobil untuk mengeluarkan selang air, untuk disemprotkan pada api yang berkobar itu.


Thomas terus memberontak, dia terlepas dari pegangan Max dan David. Para anak buahnya yang lain sudah masuk kedalam, dan dia ikut masuk. Hampir di seluruh bangunan itu sudah habis di lalap api. Mobil-mobil pemadam kebakaran yang lainnya berdatangan lagi.


Tidak mau tinggal diam, Max, David, Arthur, Matt juga ikut masuk kedalam, walaupun sudah di tahan oleh petugas pemadam kebakaran yang lainnya.


Hingga api besar itu di padamkan, dan mereka terluka, tapi Aletta tidak juga ditemukan.


“Geledah lagi tempat ini.” teriak Thomas. Dia tidak terima dengan semua ini. Air mata keluar juga dari matanya. Bahkan napasnya kini masih sesak karena asap yang cukup banyak di hidupnya.


Sekali lagi, orang-orang itu masuk kedalam, untuk mencari jejak Aletta, walaupun napas mereka sesak, tapi mereka semua bisa menahannya.


****


“Max, anakku! Bagaimana aku mengatakannya pada Mattea nanti!” kini Thomas sedang berada di rumah sakit, tanpa memberitahu Mattea. Laki-laki itu terlalu banyak menghisap asap, membuatnya tidak sadarkan diri, begitupun dengan yang lainnya, walaupun tidak separah Thomas.


“Kita akan mencarinya lagi, Thomas. Aku yakin, Aletta baik-baik saja, dia anak yang kuat, kita akan menemukannya!” melihat kondisi Thomas yang seperti ini, membuat Max semakin iba. Sampai kini, Mattea masih berusaha untuk menelpon mereka, tapi jawabannya selalu sama. Aletta belum di temukan. Bahkan, di dalam bangunan tua tadi, tidak terdapat tanda apapun, meski hanya sebuah tulang yang gosong.


“Aku sudah mengerahkan anggota yang masih tersisa untuk terus mencari Aletta, kita akan menemukannya, aku yakin, Thomas!” mendengar perkataan David, tidak membuat Thomas tenang sedikitpun. Pikirannya masih berkecamuk.


“Tuan, aku akan keluar untuk mencari titik keberadaan Nona kecil, aku akan memantau kamera pengawas di kota ini!” Stella diikuti Arthur keluar dari ruangan perawatan itu setelah mengatakan.


Thomas yang sedang terbaring itu, berusaha bangun. Dia melepaskan alat yang membantu pernapasannya itu. Rasanya Max dan David mau melarang, tapi tidak bisa. Max juga sudah menelpon pada koleganya yang lain, untuk membantu mencari Aletta, begitupun dengan David, tapi belum ada satupun dari mereka yang membuahkan hasil.


“Aku akan mencarinya lagi!” Thomas keluar dari ruangan itu tanpa mempedulikan kondisinya.


Saat keluar dari rumah sakit, telepon Thomas berdering. Ada satu panggilan dari Nick.


“Ada apa?” tanya Thomas langsung.


“Aku menemukan Nanny yang menjaga Nona kecil, tewas mengenaskan di dekat tempat kejadian kebakaran tadi!” jelas Nick langsung. Dia harus memberitahu informasi ini.


“Cari Aletta ku cepat, pasti dia ada di sekitar sana!” ujar Thomas berteriak. Bahkan dadanya kini masih terasa sesak. Setelah mendengar jawaban dari Nicko, panggilan telepon tersebut terputus.


“David, kau ikutlah bersamanya. Kita ke titik yang berbeda, aku mau Aletta segera di temukan!” David mengangguk saja. Anggota Black Devils yang tersebar di di kota Frankfurt sudah melakukan pencarian besar-besaran.


Mereka benar-benar marah. Bahkan, kini mayat Sander dan anggotanya yang lainnya, sudah habis di makan api. Karena Nicko menyuruh anak buahnya untuk membakar keparat-keparat itu.


Banyak dari warga kota yang ketakutan melihat kemarahan anggota Black Devils. Mereka benar-benar menakutkan. Bahkan, mobil-mobil besar dan anti peluru itu memenuhi jalanan kota. Mereka menggeledah bandara, stasiun kota, dan tempat-tempat lainnya.


Kini, Black Devils menunjukkan taringnya lagi, setelah sekian lama tertidur, dan tidak melakukan sesuatu yang tercium publik. Karena Max tidak ingin membuat masalah lagi, tapi kini, ada orang yang memancing amarah dari Singa tidur tersebut.


Bukan karena apa-apa, tapi yang mereka culik ini adalah anak kecil, cucu pertama Maxim Alexander Luciano, putri kesayangan dari Thomas Jenafi Achilles. Cucu buyut pertama Dari Lucky Luciano.


“Aku yakin, bukan hanya Sander yang terlibat disini, ada orang besar di balik ini semua! Dan menjadikannya kambing hitam.”


.


...***...


Gila, aku takut sendiri dengan part ini. Takut dengan respon kalian yang enggak begitu menyukai ini, nantinya. Ahhh, pokoknya aku takut dengan reaksi kalian🥺Tolong nanti di kasih tau, ya, kalau ada kesalahannya. Jujur, aku baru kali ini, nulis yang begini, soalnya kemarin-kemarin, aku bikinnya yang ketawa terus.😭Engga bakal lama kok, soalnya ini beneran mau tamat, soalnya Story' (Max-Setf), (Thomas-Mattea),(Matt-Ana) udah abis. Jadi tinggal Stella-Arthur doang. Kalau Aletta ini, cuman bumbu penyedap aja😖