
Matt mematut seorang perempuan yang baru saja di nikahi-nya tadi pagi, kini sedang ada di depan pintu walking closed, sedang berdiri dengan malu-malu, sembari berusaha untuk menutupi bagian tubuhnya yang tampak jelas di balik lingerie laknat itu.
Ana langsung masuk kedalam selimut begitu dia naik ke atas tempat tidur. Dia menenggelamkan wajahnya kedalam selimut itu membuat Matt tertawa.
“Tidak usah malu, Sayang. Aku sudah melihatnya tadi!” Ana semakin mengeratkan genggamannya pada selimut hangat itu, saat mendengar perkataan Matt.
“Ana ngantuk, Ana mau tidur, kak!” cicit Ana dengan suara terkecil, saat Matt ikut masuk kedalam selimut bersamanya.
“Kau tidak lupa dengan taruhan kita tadi, kan, Sayang?”
Ingatan Ana melayang pada kejadian sesaat setelah dia mengatakan taruhan itu. Dan ternyata Arthur benar-benar melamar Stella, sampai membuat gadis itu pingsan, dan membuat orang-orang kaget, terlebih Arthur sendiri. Dia tidak menyangka, mengalahkan seorang Auristella adalah dengan melamarnya di hadapan banyak orang seperti itu.
“Ana capek, Kak!” Ana menggigit bibir bawahnya gugup. Sungguh dia belum siap saat ini, apalagi dengan dia yang memulainya. Euuhh, Ana menyesal mengatakan hal itu sebagai taruhannya.
“Tapi aku ingin!” ujar Matt dengan suara serak. Sungguh, Matt sendiri sudah susah payah menahan dirinya sendiri untuk tidak menerkam Ana tadi, karena dia ingin meminta baik-baik pada Ana.
Ana berbalik menatap Matt, manik gelap nan tampak sendu berkabut nafsu itu membuat Ana merasa bersalah. Ana sebenarnya sadar, saat tadi Matt berusaha untuk menahan dirinya agar tidak menyerangnya.
“Boleh, ya?” tanya Matt dengan suara serak. Bibir Ana tertutup rapat, dia berusaha untuk meyakinkan dirinya. Bukankah tujuan dari menikah salah satunya adalah melakukan hal ini? Lalu kenapa sekarang dia malah mempersulit suaminya? Bukankah Matt sangat menghormati dirinya, karena tidak mau menyentuh Ana sebelum gadis itu sah menjadi miliknya.
“Ta—tapi, bukan Ana yang di atas!” cicit Ana dengan suara yang serak. Matt tertawa kecil saat mendengar perkataan Ana.
“Baiklah, tapi besok-besok harus kau!” ujar Matt. Menggoda Ana saat ini adalah suatu kebahagiaan untuk Matt, terlebih gadis itu mudah sekali merona.
“Heem, Ana akan memejamkan mata!” alis Matt terangkat.
“Untuk?”
“Supaya tidak melihat, ITU!” tawa Matt pecah saat mendengar perkataan Ana.
“Tidak, Sayang. Kau harus membuka mata, biar kita sama-sama melihat!” Ana menghela napas. Lalu mengangguk.
Permainan di mulai! Harap sabar, dan doakan semoga naskah ini tidak di tolak! Aku ga bakal bikin yang hotters! Kapok😂
Perlahan, dengan sangat lambat, Matt mendekatkan wajahnya yang tampan ke wajah Ana. Bukan hanya wajah, tapi bibirnya kini sudah ada di depan bibir Ana. Hanya sedikit lagi, maka bibir yang sama-sama tipis itu akan bersatu.
Untuk sesaat Ana memejamkan matanya, lalu kembali terbuka saat bibir keduanya kini sudah saling menempel. Hanya menempel, hingga akhirnya Matt menggerakkan bibirnya lalu menyesap bibir tipis Ana.
Kedua orang itu sangat kaku dalam berciuman, karena memang mereka sangat jarang bahkan hampir tidak pernah berciuman bibir. Hanya saling tempel sekilas, lalu terlepas.
Permainan yang sama-sama kaku itu membuat ke-dua menjadi bersemangat, untuk dapat mencapai sensasi baru.
Saat ciuman sudah mulai panas, Matt bangkit. Dia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Ana berada di bawah kungkungan Matt. Bibir mereka tidak terlepas, hingga akhirnya napas kedua orang itu memburu.
Matt menatap Ana yang terengah.
“Bernapas, Ana! Jangan tahan napasmu!” Ana mengangguk mendengar perkataan Matt.
Ciuman kedua terjadi, kini tangan Matt tidak bisa diam, dirinya yang memang sudah di balut nafsu, langsung menarik kain tipis itu hingga robek membuat Ana terkejut.
“Kak Matt! Kenapa di robek?” tanya Ana, dia melihat pada lingerie yang sudah tidak berdaya itu tergeletak di lantai yang beralaskan karpet.
Matt mendekatkan tangannya pada dada Ana, lalu sedikit menekan dan mer**asnya.
Ana menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah. Matt yang melihat Ana menggigit bibirnya kembali menempelkan bibir mereka berdua.
Bibir yang terus bekerja, sejalan dengan tangan Matt yang juga bekerja untuk membuka pengait bra yang digunakan oleh Ana. Kini bra hitam itu juga tergeletak tidak berdaya di atas lantai. Matt menyeringai melihat Ana yang bersemu merah sembari menyilangkan tangannya di depan dada gadis itu.
“Jangan di tutupi, Sayang, mereka milikku!” Ana memalingkan wajahnya, sungguh dia sangat malu. Matt hanya tersenyum dengan reaksi Ana yang seperti itu.
Kini, tangan Matt juga sedang berusaha untuk membuka celana dalam Ana, dan kain tipis itu juga ikut-ikutan tidak berdaya karena tergeletak di atas lantai. Kini tubuh Ana sudah polos tanpa sehelai benangpun. Tapi Matt masih menggunakan celananya. Tapi kini celana itu terasa sesak karena ada sesuatu di baliknya.
Permainan yang memancing gairah itu terus berlanjut hingga Matt ikut menanggalkan celananya. Mata Ana membola saat melihat alat tempur suaminya itu. Ana tidak dapat berkata-kata, tapi yakinlah bahwa kini wajahnya sudah memerah karena malu.
“Bisa kita mulai? Aku rasa pemanasannya sudah cukup!” Ana hanya mengangguk patuh, dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
“Ta—tapi pelan-pelan ya, kak. Soalnya Ana belum pernah melakukan ini!”
Tawa Matt pecah mendengar perkataan Ana yang seperti orang linglung. Dia mencium kening gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.
“Aku tau, Sayang. Maka dari itu, aku sangat berterimakasih kasih padamu karena sudah menjaga ini untukku!” ciuman di kening, pipi, hidung, dan bibir sebagai penutup di dapat oleh Ana.
Kini, di tengah gelapnya langit malam yang di hiasi bintang-bintang kecil, dengan lampu yang berkelap-kelip di sepanjang mata memandang menemani permainan kedua insan yang di mabuk cinta dan gairah itu.
Suara teriakan yang kemudian menjadi desahan itu memenuhi kamar yang bernuansa serba putih itu. Desahan yang terdengar lirih itu kini menjadi alunan merdu di telinga Matt.
Perjalan panjang cinta Matt dan Ana akhirnya menemukan tempat berlabuh. Kini penyatuan itu menjadi bukti bahwa perasaan mereka benar-benar sudah terikat satu sama lain. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang perempuan, saat dia menyerahkan dirinya dengan setulusnya pada laki-laki yang sangat dia cintai, di ikat dengan ikatan sah pernikahan.
“Terimakasih, Ana, terimakasih. Aku sangat mencintaimu, An!” napas yang naik turun secara tidak teratur itu mengucap lirih. Matt mencium Ana di keningnya cukup lama, Ana memejamkan matanya saat merasakan ciuman itu. Ciuman yang terasa sangat sejuk, menenangkan, dan membahagiakan.
“Ana juga mencintai kak Matt!” balas Ana. Dia menyembunyikan tubuh polosnya didalam dekapan seorang Matt, yang kini menjadi suaminya. Tubuh yang basah itu menyatu di dalam hangatnya selimut.
“Kak ....” cicit Ana dengan suara terkecil.
“Hemm?” dehem Matt.
“Di—dia bangun lagi?”
“Hemm, dan kau harus bertanggungjawab karena sudah membangunkannya!”
“Apa salahku? Aku tidak membangunkannya!”
“Kau memelukku dengan tubuh polosmu, Ana!
.......
.......
...*****...
...Aku tau ini ga greget, tapi ya mau gimana lagi, aku kapok di tolak🤣 Rasanya seperti anda menjadi iron Man. Uwauu banget!...