
Pagi ini Ana sudah bisa keluar rumah sakit, badannya yang kemarin lemas sudah tidak terasa terlalu lemas lagi. Dia menatap Matt dengan berbinar, membuat laki-laki itu sedikit merinding.
“Kenapa, sih, Sayang? Apa kau menginginkan sesuatu?” tanya Matt pada istrinya itu. Ana menggeleng, Matt hanya menghela napas. “Lalu?” tanya Matt lagi.
“Aku hanya senang, aku sudah bisa keluar dari rumah sakit!” Matt hanya mengangguk saja. Dia membawa mobilnya dengan fokus. Iya, dia sendiri yang membawa Ana pulang, karena tadi dia sudah menyuruh Arthur untuk ke kantor, dan para orang tua kini sedang di mansion, karena Matt melarang mereka untuk menjemput Ana ke rumah sakit.
Matt dan Ana juga sudah mendengar semua yang dokter jelaskan soal kehamilan. Makanan apa yang baik untuk ibu hamil, juga ibu hamil tidak boleh terlalu lelah. Lagipula, Ana juga tidak bisa menyelesaikan kuliahnya karena penyakitnya dulu, hingga yang dilakukan oleh calon ibu itu hanya di rumah saja, dan Matt bersyukur untuk hal itu.
Mobil hitam metalik itu memasuki komplek mansion tempat tinggal Matt. Cukup lama hingga akhirnya mobil yang di kendarai oleh laki-laki itu berhenti didepan pintu gerbang utama. Gerbang utama yang sudah dilengkapi dengan sensor itu perlahan terbuka, dan Matt menjalankan mobilnya untuk masuk ke halaman luas mansion itu.
Matt dan Ana keluar dari dalam mobil, para pengawal membawa barang-barang yang Matt bawa pulang dari rumah sakit, ia dan Ana berjalan menuju pintu utama.
Martin yang sudah tau kalau Tuan mudanya sudah pulang, membuka pintu lebar nan tinggi itu, dan menundukkan kepalanya saat Matt dan Ana berdiri didepannya.
“Selamat datang kembali Tuan Muda, Nona muda!” sapa Martin menunduk hormat. Baik Matt dan Ana mengangguk.
“Dimana Aletta?” tanya Matt langsung, menanyakan keponakan cantiknya itu.
“Ada di ruang keluarga bersama Nonya dan Tuan besar, Tuan muda!” Matt mengangguk, dia menggenggam tangan Ana. Lalu membawanya wanitanya itu untuk bertemu mereka semua.
“Aunty Anaaa ....” teriakan gadis kecil menyambut kedatangan Ana. Semua orang menoleh pada kedua orang itu. Semuanya melebarkan senyuman mereka. David dan Aira ternyata juga ada di sana. Rupanya kedua orang itu menanti Ana di mansion Max.
“Pelan-pelan, Princess. Aunty Ana masih sakit!” ujar Matt lembut. Dia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan sang keponakan.
Dengan bibir yang mengerucut lucu, Aletta melepaskan pelukan Ana, lalu beralih memeluk Matt, yang langsung diterima dengan tangan lebar oleh pamannya itu.
“Aunty Ana sakit apa?” tanya Aletta memandang Ana sendu. Wanita itu memandang Aletta dengan senyum lebar.
“Tidak apa-apa, Sayang. Aunty hanya tidak enak badan saja!” jawab Ana sekenanya.
“An, ayo duduk dulu, Sayang.” Stef membawa Ana duduk di sampingnya. “Kau menginginkan sesuatu, Sayang?” tanya Stef lagi. Aletta melepaskan pelukannya dari Matt, dan duduk di dekat Ana.
Mattea dan Thomas tidak ada di sana, karena mereka pergi ke suatu tempat atas ajakan Mattea yang tidak dapat di tolak oleh Thomas. Tau sendiri kan, kalau perempuan itu sekarang menjadi lebih sadis, seperti seekor induk singa. Dan tentu saja Mattea menitipkan putrinya pada kedua orangtuanya.
“An, apa kamu ngidam, Sayang?” tanya Aira angkat bicara. Ana yang mendengar perhatian itu hanya menggeleng. Sejauh ini dia belum menginginkan apapun, jadi hanya gelengan kepala yang dia berikan sebagai jawaban dari pertanyaan Mommynya itu.
“No, Mom. Aku tidak menginginkan apapun, hanya mau istirahat sebentar saja nanti!” ujar Ana, dia membelai kepala Aletta. Gadis kecil itu menyandarkan tubuhnya pada Ana. Matt ikut duduk di sofa yang ada di sana.
“Dimana Kevano, Mom?” tanya Matt.
“Dia ada di sekolah,” ujar Aira singkat, Matt mengangguk.
Mereka berbincang seperti biasa, Ana bercerita tentang Indonesia, dan juga menyuruh pelayan untuk mengambil koper yang kemarin sudah sampai duluan di mansion. Untuk mengambil hadiah yang sudah dia siapkan kemarin sewaktu masih di negara eksotis itu.
Saat berbincang, telepon Matt berdering, menyita perhatian laki-laki itu. Matt bangkit, dia berjalan menuju ruang tamu, untuk menerima telepon tersebut.
“Hallo, Arthur? Ada apa?” tanya Matt langsung pada penelepon, yang tidak lain adalah asisten pribadinya itu.
“Maaf, Tuan Matt. Saya ingin memberitahu, ada klien yang ingin bertemu langsung dengan Tuan Matt, mereka pihak ABS company, ingin membicarakan proyek yang waktu itu, Tuan.” Matt menghela napas. Dia memijit pelipisnya karena sedikit pusing. Semenjak kepulangan dari Indonesia, laki-laki itu belum ke kantor sama sekali, dan dia sudah cukup lama meninggalkan pekerjaannya.
“Jam berapa?” tanya Matt, dia melihat pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Saat ini sudah jam sepuluh pagi.
“Saat jam makan siang, Tuan.” ujar Arthur.
“Oke, aku bersiap dulu!”
...***...
Kini Matt sedang dalam perjalanan menuju kantor. Untuk bertemu dengan kliennya. Tadi dia berdebat dengan Ana terlebih dahulu sebelum ke kantor, karena wanita itu memintanya untuk tetap tinggal, tapi Matt benar-benar tidak bisa karena ABS company adalah perusahaan dengan kontrak kerja yang diincarnya.
Mobil hitam metalik itu berhenti tepat di depan lobi, Matt dengan langkah lebar keluar dari dalam mobil, dan seorang satpam menyambut dengan sigap kunci mobil yang dia lemparkan untuk memarkirkannya di parkiran khusus.
Walaupun berkemas dengan keadaan yang tergesa-gesa, Matt tetap tampil menawan dengan setelan jasnya. Dia melewati para pegawainya yang menatap kagum.
Matt berjalan menuju lift khusus untuk dirinya, sang Daddy, Uncle dan juga Arthur-Stella. Saat lift berdenting dan lift terbuka, Matt keluar dari dalam lift dan berjalan menghampiri Stella dan Arthur.
“Selamat siang Tuan,” sapa Stella sopan. Dia menundukkan kepalanya hormat.
“Siang Stella, apa semuanya sudah siap?” tanya Matt. Kedua orang itu mengangguk.
“Baik, tunggu disini sebentar!” Matt masuk kedalam ruangannya, sedangkan Arthur dan Stella menunggu di luar.
“Ahh, dia sungguh tampan.” celetuk Stella tiba-tiba, membuat Arthur memandang kepada kekasihnya itu dengan memicingkan mata. Dan Stella memang sengaja mengucapkan hal itu.
“Apa katamu, Sayang?” tanya Arthur dengan memicingkan matanya.
“Aku bilang dia sangat tampan!” ujar Stella enteng. Aah, dia sangat menikmati wajah kesal kekasih yang sudah menjadi tunangannya ini. Uhh, terlihat imut-imut menggemaskan, gimanaaa gitu.
“Iya, Tuan muda memang tampan sekali. Dan resepsionis Amanda juga sangat cantik ....” wajah yang semula tersenyum kecil itu jadi menatap Arthur kesal.
“Apa katamu?” tanya Stella kesal.
“Aku bilang, resepsionis Amanda cantik!” ujar Arthur singkat. Stella langsung meraih kerah jas Arthur dan mengangkatnya.
“Coba kau bilang sekali lagi, Sayang?” tanya Stella dengan menekan kata-kata. Dia sudah hendak melayangkan pukulannya di depan wajah Arthur, sebelum suara Matt membuatnya terkejut.
“Astaga, Stella, jangan KDRT seperti itu, tidak baik! Kalau mau bertengkar itu di rumah, jangan di kantor! Ckck,” Matt berjalan terlebih dahulu tanpa mengabaikan ekspresi kedua orang yang sedang melongo itu. Dan saat kesadaran kembali mengambil alih, Stella menatap tajam Arthur.
“Berani kau memuji wanita lain lagi, aku patahkan lehermu itu!” Stella meninggalkan Arthur yang menggelengkan kepalanya menatap takjub sang kekasih.
“Ck, wanita memang seenak mereka sendiri. Kalau mereka memuji laki-laki lain, itu tidak apa-apa, tapi kalau laki-laki yang memuji wanita lain mereka segarang singa! Miris sekali nasib kami!”
Arthur mengikuti langkah kaki Stella dan juga Matt. Lift terbuka dan mereka semua masuk kedalam lift tersebut.
Pintu lift kembali terbuka, ketiga orang itu berjalan beriringan menuju lobi. Tapi sebelum itu, Stella melayangkan tatapan tajam pada resepsionis cantik tidak bersalah itu, membuat sang resepsionis heran.
Tatapan permusuhan itu membuat sang resepsionis menelan ludah.
“Aa—apa? Kenapa dia menatap seakan ingin menelan aku hidup-hidup?” tanyanya dengan terbata-bata. “Aku tidak menggoda Tuan Arthur!” bisiknya pada diri sendiri.
Sedangkan Arthur yang melihat hal itu, hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Sepertinya aku salah lagi ....” gumamnya dengan wajah nelangsa saat Stella kembali menatapnya tajam.
...***...
Maapin semuanya, kalau gak maksimal^_^Atit akutuh^_^