My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. Mattea menyebalkan!



Mattea berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju kamar, dengan tangan yang masih memegang cup kotak es krim, Mattea duduk di tepi ranjang mengabaikan Thomas yang menatapnya dirinya frustasi.


“Sayang ... aku tidak marah! Sayang ... Ayo bicaralah!” Thomas mengusap rambutnya dengan kasar saat sang istri masih tetap tidak mau berbicara dengannya. Bahkan wanita itu tampak asik memakan es krimnya dan mengabaikan Thomas yang berbicara disana.


“Sayang ....” Thomas merengek lagi. Tapi Mattea masih tetap acuh. Dia bahkan membelakangi laki-laki itu.


“Oke, aku mandi dulu!” mendengar perkataan Thomas, langsung membuat Mattea mendongak kebelakang dan menatap Thomas dengan tajam.


“No! Tidak boleh mandi!” ujar wanita itu membuat Thomas terkejut.


“Eh?”


“Tidak usah mandi, seperti itu saja!” Mattea meletakkan cup es krim yang sudah dia habiskan itu di atas meja nakas.


“Ta—tapi aku gerah sayang!” ujar Thomas tanpa mempedulikan Mattea yang menatapnya tajam.


Thomas sedang berusaha untuk membuka kancing kemejanya. Tangannya hampir selesai membuka seluruh kancing itu, sebelum suara tangisan Mattea membuatnya terkesiap.


‘Me—menangis lagi?’ batin Thomas terkejut. Berapa kali istrinya itu menangis hari ini, membuat Thomas semakin bingung.


Thomas menatap Mattea dengan takut-takut. Dia menatap pada kancing baju yang sudah dia lepas. Dia cepat-cepat mengancingkan lagi bajunya dan menatap Mattea dengan tatapan heran.


“Sayang....” manik hitam itu berkilat karena air mata. Thomas meringis melihat hidung Mattea yang memerah. Air mata itu terjun begitu saja dari pipi sang istri membuat Thomas merasa bersalah.


“Sayang, aku tidak jadi mandi!” senyum lebar langsung terpantri saat Thomas berkata seperti itu. Air mata yang tadinya sudah menggenang di pelupuk mata Mattea, langsung sirna seketika. Dah kedua tangan yang berjari mungil itu langsung mengusap air mata yang tadi sudah menetes terlebih dahulu.


“Terimakasih sayang ... Ayo kita tidur?!” Mattea naik ke atas ranjang, dia menarik tangan Thomas yang masih berdiri, tapi laki-laki itu menahannya.


“Hah?”


Thomas menatap ke arah balkon. Sinar mentari masih tampak di ufuk barat. Cahaya kemerahan yang ada di langit jingga membuat Thomas semakin heran dengan apa yang kini ada di pikiran sang istri. Tidur? Saat akan menjelang malam seperti? Ini jelas bukan kebiasaan istrinya itu.


“Tapi ini masih terang sayang,” arah pandangan Mattea tertuju pada gorden balkon. Memang benar, ini masih terang, tapi dia ingin tidur dengan Thomas sekarang.


“Kamu tidak mau?” bibir cemberut yang tampak menggoda itu benar-benar membuat Thomas frustasi. Dia menatap nanar Mattea yang kembali akan menangis. Kenapa mudah sekali untuk istrinya itu kini menangis.


“Baiklah, ayo kita tidur.” Thomas naik ke atas kasur mengikuti Mattea, laki-laki itu membawa Mattea kedalam pelukannya. Mereka membaringkan tubuh diatas tempat tidur dengan cahaya kemerahan yang menatap bumi seakan sedang tersenyum manis pada kedua orang itu.


Thomas mengusap kepala sang istri dengan penuh sayang. Laki-laki itu mengecup rambut pirang itu, membuat Mattea nyaman didalam pelukannya. Mattea melingkarkan tangannya di pinggang Thomas dan mulai memejamkan matanya.


“Tidurlah sayang....” Thomas berusaha untuk memejamkan matanya, tapi rasa gerah di tubuhnya membuat laki-laki susah untuk terpejam.


Thomas menatap mata Mattea yang terpejam. Bulu mata lentik dengan kelopak yang tertutup itu membuat Thomas rasanya ingin sekali untuk mengecupnya. Alis yang lurus simetris itu membuat gadisnya tampak lebih dewasa. Bibir tipis yang di poles dengan lipstik yang sedikit lebih gelap itu membuat Thomas tersenyum.


Istrinya berusaha untuk tampil lebih dewasa lagi.


“Cup....” kecupan singkat di bibir sang istri membuat Thomas terkekeh tanpa suara. Dia takut untuk membangunkan wanita itu, yang tampaknya sudah masuk ke alam mimpi.


Tangan Mattea yang memeluk pinggangnya, tak dapat membuat Thomas bergerak banyak. Dia memilih untuk berusaha memejamkan matanya lagi, menyusul sang istri yang sudah cukup lama terpejam.


(....)


“Sayang ... Sayangggg?” sayup-sayup Thomas seperti mendengar suara Mattea yang memanggilnya dengan pelan. Manik tajam itu akhirnya terbuka, dan melihat wajah sang istri yang kini sudah memerah dengan hidung yang juga sudah memerah membuat Thomas langsung kaget.


“Sayang? Kau kenapa?” Thomas langsung mendudukkan dirinya sejajar dengan Mattea yang kini juga sudah terduduk. Lalu membawa Mattea kedalam pelukannya. Tapi wanita itu menolak membuat Thomas heran.


“Ada apa Sayang?” Thomas bertanya dengan nada suara lembut. Mattea menatap padanya dengan memicingkan matanya membuat laki-laki itu sedikit takut.


‘Apa aku salah lagi?’ batin Thomas sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Kenapa Sayang?” tanya Thomas dengan suara terlembut miliknya. Karena kalau bukan seperti itu, dia yakin kalau istrinya itu nanti pasti mengira kalau dia sedang marah lagi.


“Apa Uncle tidak sayang lagi padaku?!”


“Eh?” Thomas kaget mendengar pertanyaan yang diucapkan istrinya itu.


“Benarkan Uncle tidak sayang lagi padaku?” manik gelap itu sudah siap untuk menumpahkan kembali genangan airnya.


“Tidak sayang. Aku sangat menyayangimu, lebih dari siapapun. Kenapa bicara seperti itu Sayang?” Thomas mengusap pipi Mattea dengan lembut.


“Kalau benar Uncle sayang padaku, lalu kenapa tidak mandi? Apa Uncle mau, hidungku sakit karena Uncle yang bau asam?”


“HAH?” Thomas benar-benar kaget mendengar perkataan Mattea. Bukankah tadi, wanita yang ada didepannya ini, yang menyuruhnya untuk tidak usah mandi, dan kini?


“Kau bau Uncle, kenapa tidak mandi?” tatapan tak berdosa yang di layangkan Mattea membuat Thomas serasa ingin gila.


“Sa—sayang?” Thomas meletakkan tangannya di dahi Mattea. Dia berpikir mungkin istrinya itu sakit makanya berubah sikap seperti ini.


“Tidak panas?!” gumam laki-laki itu yang terdengar oleh Mattea.


“Uncle kira aku sakit?” mata yang tadinya sudah mulai mengering itu, kini kembali memerah.


“Oh astaga! Kenapa ini!” Thomas mengusap wajahnya kasar, lalu menatap sang istri dengan senyuman yang dipaksakan.


“Sayang ... Baiklah, aku mau mandi dulu ya? Nanti kita main kuda-kudaan ya?” manik gelap yang memerah itu menatap Thomas dengan berbinar senang, mendengar dia akan bermain kuda-kudaan dengan sang suami.


“Sekarang saja! Ayo sayang, sekarang saja!”


“No ... No sayang! Aku masih bau, nanti kita main ya?” kedipan genit dari Thomas membuat Mattea mengangguk. Laki-laki itu berlalu menuju kamar mandi, menyambar handuk yang ada di dekat lemari.


Thomas terus berfikir kenapa sikap istri kecilnya itu sangat berbeda hari ini.


Tanpa berlama-lama, laki-laki itu memutuskan untuk segera menyelesaikan mandinya dan main kuda-kudaan dengan sang istri.


.


.


_____


“Ayo sayang, mulai!”


“Sayang, batalkan saja ya?”


“Tidak! Ayo cepat!”


Mendengar suara Mattea yang tegas, membuat Thomas terus membawa Mattea berputar di atas karpet persis seperti seorang kuda yang sedang membawa joki-nya. Mattea duduk di atas punggung Thomas yang menunduk sembari tertawa. Wanita itu tampak sangat bahagia duduk di atas punggung suaminya itu.


Max, Stef, Matteo dan para pelayan hanya menatap kasihan pada Thomas, dan berusaha untuk menyembunyikan tawa mereka. Laki-laki itu tampak menggenaskan dengan membawa tubuh Mattea yang lumayan berisi berkeliling karpet itu sampai beberapa kali.


Kuda-kudaan yang dimaksud oleh Thomas bukan kuda-kudaan seperti ini, tapi bergerak di atas ranjang dengan Mattea yang mendesah di bawahnya.


Kini mereka sedang ada di ruang tengah mansion, dengan Thomas terbaring lemas diatas karpet bulu yang lembut. Mattea duduk di samping laki-laki itu, sedangkan yang lainnya terduduk di sofa.


“Aku lelah!” jerit Thomas dalam hatinya setelah Mattea turun dari tubuhnya. Pinggangnya terasa sakit akibat berat badan istrinya yang sedikit bertambah. Dia melirik pada Mattea yang tersenyum senang.


“Kalian sebaiknya makan malam dulu! Aku tau kau pasti lapar Thomas!” Thomas mendudukkan dirinya setelah mendengar perkataan Max. Benar, dia sangat lapar. Apalagi ini sudah lewat jam makan malam. Tenaganya terkuras habis oleh permainan kuda-kudaan yang menyebalkan ini.


Cihh! Thomas jadi menyesal karena sudah menawarkan permainan itu pada Mattea. Dia tidak menyangka kalau kuda-kudaan yang dimaksud oleh sang istri adalah kuda yang seperti itu.


“Ayo sayang,” Thomas berdiri mengajak Mattea untuk makan malam, tapi istrinya itu menggeleng menolak untuk makan dengannya.


“Aku mau makan es krim yang dibelikan oleh Nicko saja. Dia sungguh laki-laki yang baik, mau membelikan aku es krim sebanyak itu, berbeda sekali dengan suamiku!” Mattea mendengus meninggalkan Thomas yang ternganga di tempatnya.


“Apa katanya? Hei sayang, aku yang menyuruhnya untuk membelikan es krim itu!” sayang sekali, tapi wanita yang dia tunjuk itu, kini sudah menghilang di balik tembok menuju dapur.


.


.


_____


Thomas mengantar Mattea sampai parkiran kampus. Laki-laki itu mencium kening istrinya sebelum wanita itu turun dari mobil. Tapi, setelah dia mencium kening itu, Mattea tidak juga turun dari sana.


“Kenapa sayang?” tanya Thomas yang menatap istrinya terlihat malas dan juga mengantuk itu.


“Aku mengantuk.” Mattea menguap lebar hingga matanya berair.


“Mengantuk? Bukankah setelah selesai makan es krim semalam kau tidur hingga pagi?” Thomas menatap Mattea yang hanya menggedikkan bahu acuh.


“Aku malas, aku tidak mau ke kampus!” Mattea menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil, dia menguap lagi hingga beberapa kali.


“Tidak Sayang. Kau harus kuliah hari ini!” Thomas hendak keluar, tapi di tahan oleh sang istri. Thomas menatap Mattea dengan menaikkan alisnya tanda bertanya, kenapa?


“Sayang ... Mau apa ikut ke kantor? Kuliah saja ya hari ini? Bukankah sebentar lagi kau mau ikut magang?” Mattea mengangguk, tapi setelah itu dia menggeleng.


“Pokoknya aku ikut ke kantor!” putus Mattea yang tidak dapat di ganggu gugat. Thomas hanya menghela nafas. Dia bingung dengan apa yang terjadi pada istrinya beberapa hari ini.


“Baiklah, tapi kalau nanti dosennya marah, jangan mengadu padaku!” mendengar perkataan Thomas, membuat Mattea mencibir.


“Cih, memangnya siapa yang berani memarahi aku?” Mattea melipat tangannya di depan dada, dia menatap Thomas tajam.


“Baiklah-baiklah. Ayo!” lagi-lagi Thomas memilih untuk mengalah. Laki-laki itu kembali mengemudikan mobilnya keluar dari area kampus. Dia menatap pada istrinya yang tersenyum.


Maserati hitam itu melaju membelah jalanan kota Frankfurt. Kebisingan memang sudah terbiasa terjadi pada pagi hari pada jam pergi kerja.


Bangunan menjulang tinggi entah berapa lantai itu menghiasi suasana kota Frankfurt. Aksen mewah pada bangunan itu benar-benar mengagumkan.


Thomas memasukkan mobilnya pada area kantor pribadi miliknya. Dia tidak ke Alexander corp pagi ini, melainkan kantor miliknya sendiri.


Thomas menghentikan mobilnya di depan lobi gedung itu. Satpam yang ada disana langsung membukakan pintu mobil pemilik tempat dia bekerja itu.


Thomas keluar terlebih dahulu, lalu membukakan pintu samping tempat Mattea duduk.


“Ayo sayang!” Thomas meraih tangan Mattea untuk membantu wanita itu turun dari mobilnya. Setelah Mattea tegak, Thomas menatap pada satpam yang bertugas disana.


“Parkirkan mobilku!” satpam itu mengangguk. Lalu Thomas memberikan kunci mobilnya, dan berjalan masuk menuju lift.


Resepsionis kantor menyambut kedatangan Thomas dan Mattea dengan senyuman.


Mattea memicing melihat pakaian yang digunakan oleh perempuan bergincu agak tebal itu. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya dan berjalan mendahului Thomas membuat laki-laki itu heran.


Thomas dan Mattea sama-sama masuk kedalam Lift khusus Presdir. Raut wajah Mattea masih datar, membuat Thomas heran.


“Kenapa sayang?” tanya Thomas saat mereka berada di dalam lift. Tapi wanita yang di ajak bicara itu hanya diam. Bukankah tadi, wanita yang ada di sampingnya ini yang sangat bersemangat sekali untuk ikut ke kantor?


Lift berdenting, tanda mereka telah tiba di lantai teratas letak ruangan Thomas. Mattea keluar terlebih dahulu diikuti oleh laki-laki yang menjadi suaminya di belakang.


“Selamat pagi Nona, ketua.” Nicko yang sudah lebih dulu berada disana menyambut kedatangan Mattea dan Thomas.


“Nick....” Mattea berlari mendekat pada Nicko membuat kedua laki-laki yang ada disana kaget. Thomas menatap Nicko dengan tajam membuat laki-laki itu takut.


“Ada yang bisa saya bantu nona?” Nicko bertanya dengan takut-takut. Dia menatap Thomas yang sedang mengepalkan tangannya penuh amarah.


“Mattea! Lepaskan!” sentak Thomas yang membuat wanita itu kaget.


Manik gelap itu menatap Thomas dengan marah, lalu semakin mengeratkan tangannya pada Nicko, membuat laki-laki itu serba salah.


“Bisa lepaskan nona? Saya takut, nanti ketua marah!” Nicko berbicara lembut pada Mattea membuat wanita itu mendongak. Dia menatap pada Thomas dengan tajam, lalu berbalik dan masuk kedalam ruangan Thomas meninggalkan kedua laki-laki yang terbengong oleh ulahnya itu.


“Maaf ketua, tapi tadi saya tidak bisa menolak keinginan nona muda.” Nicko menundukkan kepalanya sebentar. Setelah itu kembali tegak lurus dan menatap orang yang dianggap ketua itu dengan kening berkerut.


“Aku pusing dengannya Nick. Tingkahnya membuatku sakit kepala!” Thomas memijit keningnya tanda dia lelah dengan sikap Mattea yang berubah akhir-akhir ini.


“Kenapa nona muda ikut ke kantor ketua?” Nicko bertanya seperti itu, karena tidak biasanya Mattea ikut dengan Thomas ke kantor. Karena gadis itu sangat malas dengan urusan kantor. Dia lebih suka menggambar desain, atau membaca buku kalau waktu luang. Dan kini, wanita itu ikut dengan suaminya ke kantor, sewaktu jam kuliah masih berlangsung.


“Entahlah, aku juga pusing memikirkannya. Entah kenapa dia mau ikut! Sudahlah, aku masuk dulu!” Nicko mengangguk mendengar perkataan Thomas. Setelah itu Thomas masuk kedalam ruangannya dan menatap Mattea yang sedang duduk di sofa yang ada disana.


“Sayang....” Thomas duduk di samping Mattea, lalu melingkarkan tangannya pada pinggang wanita itu.


“Jangan sentuh aku!” sentak Mattea yang membuat Thomas kaget. Wanita itu mengalihkan pandangannya pada arah lain, dan menampilkan wajah masam pada sang suami.


“Ada apa sayang? Apa aku membuat kesalahan lagi?” Thomas bertanya dengan hati-hati.


“Tidak!” mendengar jawaban Mattea, membuat Thomas mendesah lega.


“Lalu?”


“Lalu apanya?”


“Lalu kenapa kau marah? Apa aku membuat kesalahan tanpa aku sadari?”


“Iya!”


“Apa sayang? Katakan! Jangan membuatku pusing seperti ini.”


“Kesalahanmu itu, kenapa memperbolehkan karyawanmu memakai pakaian seperti tadi? Disini kantor, buka bar!” Mattea mengatakan itu dengan berapi-api. Mantap tajam pada Thomas.


“Pakaian seperti tadi apa maksudnya?” Thomas mengernyit bingung dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.


“Iya, seperti pakaian resepsionis genitmu itu! Aku melihat dia menatapmu dengan lapar! Apalagi pakaiannya seperti seorang jal*ang!”


“Sayang!” mendengar perkataan Mattea yang berlebihan seperti itu, membuat Thomas sedikit kesal pada wanita itu.


“Kau membentakku?” tanya Mattea dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“No, sayang. Tidak! Bukan seperti itu, aku hanya tidak suka kau menyebut karyawan yang bekerja disini, seperti seorang jal*ang. Itu tidak baik sayang!” Thomas menatap Mattea dengan senyumannya, berharap sang istri mau mendengarkan.


“Kalau memang mereka bukan seperti itu, lalu kenapa memakai pakaian seperti itu. Apalagi belahan dadanya rendah, dan rok yang dia pakai itu terlalu pendek!” Thomas menghela nafas. Baiklah, sepertinya dia memang harus menegur karyawannya itu. Karena sudah membuat istrinya menjadi singa seperti ini.


“Baiklah ... Baiklah! Nanti aku akan menegur mereka semua.” jawab Thomas akhirnya.


“Janji?” tanya Mattea dengan senyuman berbinar senang.


“Iya sayang, sudah sebaiknya kau istirahat saja, aku mau bekerja sebentar.”


“Hemm, baiklah.” Mattea mengangguk mendengar perkataan sang suami.


Mattea merebahkan tubuhnya di atas sofa membuat Thomas menggeleng.


“Di kamar tidur saja sayang.” ujar Thomas dengan gemas.


“Dimana?” Thomas menunjuk pada pintu yang berwarna senada dengan dinding ruangannya. Mattea bangkit lalu berjalan ke kamar yang di tunjuk oleh suaminya itu.


Kamar yang berwarna dominan abu-abu dan hitam itu membuatnya benar-benar tampak maskulin. Mattea merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang berukuran besar disana.


Matanya menatap ke sekeliling kamar itu, terdapat lemari yang cukup besar dan juga meja rias. Dan ada sebuah pintu di sudut ruangan yang Mattea yakini itu adalah kamar mandi. Juga ada lemari berisi dokumen-dokumen penting disana. Banyak dokumen yang berderet-deret memenuhi lemari kaca yang terkunci itu.


Sedangkan diluar Thomas memanggil Nicko untuk datang kedalam ruangannya.


“Ya ketua?”


“Buat pengumuman pada seluruh karyawan wanita, untuk memakai pakaian tertutup. Suruh memakai blazer yang tertutup dan juga rok span sebatas lutut. Aku tidak mau tau, pokoknya setelah makan siang, mereka semua sudah berganti pakaian!”


“Baik ketua!” Nicko menunduk. Lalu berlalu dari sana. Walaupun heran, tapi dia memilih untuk tidak bertanya, karena ini pasti berkaitan dengan nona mudanya.


Thomas memijit pelipisnya. Dia benar-benar kewalahan dengan sikap istrinya ini.


“Apa dia sakit ya? Sebaiknya aku memeriksakan dia ke dokter setelah pulang dari sini nanti. Kenapa sikapnya berubah seperti itu? Benar-benar menyebalkan!”


.


.


.


_____


Panjang ga?😷




Buat si Uncle, cocok ga?



*Si Mattea, cocok ga?


**Susah bener cari visual mereka 🥴🥴


Kalo ga cocok, bayangin sendiri-sendiri aja yah😷😔***