My Devils Husband

My Devils Husband
MatteNa: Aku memang mencintaimu!



“Matt?” seorang wanita yang seumuran dengan Matt mendekat pada laki-laki yang baru saja memasuki kafe dengan ornamen mewah itu.


“Hemm? Ada apa lagi?” Matt mengacuhkan perempuan yang bergincu merah tebal di depannya. Dia duduk disalah satu meja yg ada di kafe itu, melipat tangannya di dada dan auranya terlihat sangat mendominasi.


Pemuda dengan pakaian kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku dan berwarna putih bersih itu menarik perhatian banyak perempuan yang makan di kafe tersebut.


Mereka tak berkedip saat Matt melewati meja mereka tadi. Langkah tegap yang di ayunkan Matt tampak sangat seksi dan elegan.


“Akhirnya kau datang juga, aku sangat merindukanmu Matt.” wanita itu hendak memeluk Matt tapi langsung di tepis oleh laki-laki tampan yang sudah dia tunggu. Dan bibirnya yang cemberut langsung menghiasi wajahnya.


“Langsung saja, ada apa kau menyuruhku kemari? Kau tau, kau membuang waktuku yang berharga!” Matt melipat tangannya di dada, mata hitam pekat itu menatap wanita yang duduk didepannya dengan tajam.


“Matt, kau tau kan? Aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak mau mengajakku main atau jalan-jalan?” mengabaikan tatapan Matt, wanita itu menatap Matt dengan berharap.


“Ck, kau menyuruhku kemari hanya untuk mengatakan hal ini?” Matt berdecak kesal. Tadi wanita yang ada di depannya ini memohon untuk menyuruhnya datang kemari, hanya untuk mengatakan hal itu? Sialan!


“Matt, tapi ini sangat penting. Aku memang benar merindukanmu. Aku baru saja kembali ke Jerman, kau tidak menyambutku!” bibirnya yang merah, mengerucut sebal. Dia menatap Matt kesal. Selain Ana, hanya wanita itu, yang mampu bicara seperti ini pada Matt.


“Untuk apa aku menyambutmu?! Dimana pacar kesayanganmu itu?” Matt bicara dengan nada malas. Dia sudah terlanjur datang kesini atas permintaan wanita yang ada didepannya ini.


“Ck, jangan bahas dia!” Matt menatap heran, setelah itu dia menghela napas. Inilah yang di malaskan oleh Matt, jika menjalin hubungan dengan seorang wanita.


Wanita itu menurutnya adalah makhluk yang merepotkan, terkecuali Mommy dan Adiknya tentunya. Dan jangan lupakan, si kecil Ana. Gadis yang sudah merubah hari-hari Matt menjadi lebih berwarna.


“Bertengkar kenapa lagi kalian?” tanya Matt yang sudah tahu kebiasaan kedua orang itu. Wanita yang ada di depannya hanya menghela napas kesal. Dia mengaduk minumannya dengan tidak bersemangat.


“Dia itu terlalu cemburuan Matt, dan aku tidak suka.” jawabnya cemberut.


“Tidak suka kau bilang? Dasar wanita!” tukas Matt sinis. Padahal dulu, gadis yang ada di depannya inilah, yang mengejar-ngejar pacarnya itu.


Tanpa mau mendengar respon wanita itu, “Aku mau pulang dulu! Kau menelpon hanya untuk mengatakan ini? Sungguh merepotkan!” Matt berdiri dari duduknya. Dia hendak membalikkan badan, tapi di tahan oleh wanita yang ada di depannya ini.


“Hei, tunggu. Beri aku ciuman selamat datang dulu!” wanita itu memegang tangan Matt, membuat laki-laki itu kembali berdecak kesal.


“Tidak ada ciuman yang seperti itu!” tukas Matt.


“Ck, lama!”


Wanita itu langsung mencium Matt di pipinya tanpa aba-aba, membuat perempuan yang ada di kafe itu, menahan pekikan mereka. Mereka semua menatap tajam pada wanita bergincu tebal itu, seakan ingin menelannya hidup-hidup.


“Kau memiliki banyak penggemar wanita Matt!” setelah memberikan ciumannya di pipi laki-laki yang sudah menggeram marah itu, wanita cantik yang ada di samping Matt tersebut hanya terkekeh melihat respon gadis-gadis yang ada di kafe itu, saat melihat dia mencium Matt tadi.


“Kau lihat, mereka seperti mau memakanku!” ujarnya tergelak.


“Diam kau!” geram Matt dengan tangan yang terkepal.


Matt berdiri dari duduknya, dia berbalik hendak berjalan, tapi langkahnya mendadak berhenti karena melihat tatapan kecewa dari seseorang yang berdiri tidak jauh darinya.


“Hai kak Matt?!” Ana mendekat dengan tersenyum tipis. Dia melihat pipi Matt yang mempunyai bekas lipstik. Lalu Ana menghapus bekas lipstik itu dengan tisu yang dia ambil dia dalam tasnya, lalu tersenyum pada Matt. Sedangkan laki-laki itu hanya terdiam dengan apa yang Ana lakukan barusan.


“Kau sudah lama? Sedang apa disini?” Matt menormalkan ekspresinya. Dia sendiri seperti seorang laki-laki yang sedang tertangkap berselingkuh oleh kekasihnya. Dia ingin mengatakan pada Ana agar tidak salah paham, tapi lidahnya tidak mau untuk di ajak berkompromi.


“Tidak, tadi aku ingin bertemu Jinny disini, tapi sepertinya dia tidak jadi datang.” Ana menjawab dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merasa tidak enak melihat wanita yang ada di dekat laki-laki yang dia cintai itu.


“Benarkah?” tanya Matt memicing tidak percaya.


“Tentu, ya sudah Ana pulang dulu!”


“Hei, kau tidak mau mengenalkan aku padanya Matt?” Ana yang hendak berbalik, mendadak berhenti saat wanita berbibir merah itu menyela.


“Tidak perlu.” jawab Matt ketus. Ana hanya tersenyum kecut saat melihat hal itu. Sepertinya wanita itu cukup dekat dengan Matt.


“Baiklah, Ana permisi.”


Tanpa menunggu respon dari Matt dan juga wanita yang ada bersama dengan laki-laki yang dia cintai itu, Ana melangkahkan kakiku dengan cepat keluar dari dalam kafe tersebut.


“Eh An? Kenapa buru-buru sekali, aku baru sampai!” Jinny yang baru saja sampai di parkiran kafe itu, langsung mencegat Ana yang tampak terburu-buru untuk keluar dari sana.


“Tidak apa-apa. Apa kita bisa cari tempat lain saja?” tanya Ana, dia berusaha untuk tidak melihat lagi ke dalam.


“Kenapa? Apa kau tidak suka kafenya?” tanya Jinny bingung. Karena tadi, Ana lah yang mengatakan padanya kalau sebaiknya mereka bertemu di kafe ini, saat tadi Jinny mengajaknya untuk jalan keluar.


“Tidak! Aku suka, tapi aku malas untuk masuk kedalam.” jawab Ana.


“Kenapa seperti itu?”


Jinny langsung berhenti bicara saat melihat Matt keluar dari dalam kafe itu, bersama dengan seorang wanita, yang menurutnya seumuran dengan laki-laki itu. Jinny langsung tau, apa alasan Ana saat ini, tidak mau untuk masuk kedalam sana.


“Kak Matteo?” cicit Jinny yang langsung kembali menyadarkan Ana. Ana berbalik menatap kedua orang yang baru keluar dari dalam kafe itu.


“Ayo Jinn!” Ana menarik tangan Jinny, dan membuat gadis itu tersentak kaget.


“Ah ya, baiklah.” sahut Jinny mengerti.


“Kami permisi kak!” keduanya pergi dari hadapan Matt.


Matt menatap kepergian Ana dengan raut wajah datar. Bahkan tadi Ana, tidak mau melihatnya saat dia keluar dari kafe tadi.


“Matt, aku rasa gadis tadi menyukaimu?” perkataan perempuan yang ada di sampingnya itu, membuat Matt kembali tersadar. Dia menatap wanita itu dengan manik tajamnya.


“Iya, dan kau sudah membuatnya salah paham!” ketus Matt.


“Hei, kenapa jadi aku?” dengan raut tak bersalah, wanita itu bertanya apa Matt, membuat laki-laki itu mengepalkan tangannya geram.


“Kau menciumiku tanpa izin Cle!” ucap Matt dengan geram.


“Ah, pasti sekarang gadis itu cemburu! Apa kau menyukainya juga Matt?!” Wanita yang bernama Cleopatra itu menatap Matt dengan tatapan tanpa rasa bersalah.


“Hemm!” jawab Matt ketus.


“Eh? Kau menyukai dia?” tanya Cleo membelalakkan matanya kaget. Dia menatap Matt lamat-lamat mencari tahu, kalau yang dikatakan oleh laki-laki itu adalah benar.


Matt, menyukai seorang gadis? Wow.


“Ya, dan kau membuat urusanku jadi rumit! Sudah, pergilah, kau benar-benar menyebalkan!”


“Maafkan aku, Matt. Aku kan tidak tau!” Cleo menatap Matt dengan tatapan bersalah.


“Huh....”


“Hati-hati Matt, wanita yang sedang cemburu itu sangat ganas!” goda Cleo saat Matt berjalan meninggalkannya.


“Diam kau Cle!” tawa Cleo pecah saat Matt menjawabnya dengan kesal.


Matt memperlebar langkahnya untuk melihat Ana yang berjalan menuju ke kafe seberang jalan. Dia berdiam di dekat mobilnya sejenak, setelah itu memasuki mobilnya dan pergi dari sana.


“Dia sudah pergi!” Jinny yang melihat ke arah mobil Matt yang sudah melaju meninggalkan kafe itu, memberitahu Ana. Dia bisa melihat, kalau saat ini Ana sedang memikirkan apa hubungan laki-laki yang dia cintai itu dengan wanita bergincu merah tadi.


“Hemm, aku tau itu!” jawab Ana singkat.


“Ana, menurutmu perempuan yang tadi itu siapa? Apa mungkin pacarnya?” Ana terlihat berpikir sejenak saat Jinny bertanya seperti itu padanya.


“Entahlah, tapi aku rasa tidak!” Ana sendiri tidak yakin dengan apa yang dia katakan. Karena, dia melihat sendiri saat wanita itu mencium Matt, dan juga laki-laki itu tampak tidak marah saat di cium seperti itu.


“Kenapa seperti itu. Kau tau dari mana kalau dia bukan pacarnya kak Matt?” tanya Jinny heran. Dan Ana juga tidak memberitahu pada Jinny kalau tadi dia melihat wanita yang kini mereka bicarakan itu, mencium Matt.


“Aku hanya menebak saja!” jawab Ana.


“Jadi, ada apa kau mengajakku untuk bertemu?” Ana mengalihkan pembicaraan. Dia menatap Jinny, karena tadi sahabatnya ini mengajaknya untuk bertemu, dan dia mengiyakan karena merasa cukup bosan di rumah, tanpa melakukan apa-apa. Terlebih ini adalah akhir pekan, dan dia tidak mempunyai jadwal apa-apa kecuali tidur dan bermain dengan adik kecilnya.


“Apa kau mau untuk ikut bersama denganku dan juga Kelvan untuk nonton?”


“Kapan?” tanya Ana antusias.


“Besok!”


“Kenapa kau tidak bilang di kampus atau di telpon saja sih?”


“Tidak, aku juga ingin mengajakmu untuk pergi ke toko buku sebentar!” mendengar kata toko buku, Ana langsung berbinar senang. Sebenarnya dia beberapa hari ini juga sudah berencana untuk pergi ke toko buku, tapi tidak jadi-jadi. Maka dari itu, saat Jinny mengajaknya ke sana, dia langsung antusias.


“Habiskan dulu minumannya Ana!” Jinny terkekeh saat melihat reaksi dari sahabatnya itu.


“Baiklah!”


‘Setidaknya dengan pergi ke toko buku, dan membeli beberapa novel, aku bisa menghentikan pikiranku yang selalu tertuju pada Kak Matt dan wanita itu!”


*****


“Kau membeli novel banyak sekali An?!” Jinny menatap tumpukan buku novel yang di pilih oleh Ana itu terletak di atas meja kasir. Mungkin itu mencapai sepuluh buku.


“Hemm, aku akan menghabiskan malamku dengan membaca buku-buku ini!” Ana menjawab dengan semangat, sedangkan Jinny hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu. Bahkan, dia yang mengajak Ana ke toko buku ini pun, hanya membeli dua buku, karena memang cuma dua itu yang dia inginkan.


“Baiklah, aku akan menelpon paman Crish dulu.” saat Ana hendak mengeluarkan ponselnya, Jinny langsung menahan tangan gadis itu.


“Tidak usah, aku sudah menelpon Rico tadi, dan dia akan mengantarkan kita pulang.” Ana memicingkan matanya menatap Jinny. Sedangkan gadis itu, bertanya dengan tatapan matanya heran.


“Apa?” tanya Jinny akhirnya.


“Dan aku akan menjadi obat nyamuk saat melihat kau dan dia berpacaran? Huh?” Jinny tergelak mendengar perkataan Ana.


“Tidak, ada Kelvan juga yang ikut bersamanya. Jadi kau tidak akan jadi nyamuk.” jawab Jinny yang membuat Ana mengangguk setuju.


“Oh, baiklah. Kita tunggu di luar saja!” Ana berjalan keluar dari dalam toko buku itu, setelah dia membayar belanjanya.


“Ayo!”


Ana dan Jinny menunggu di sebuah tempat duduk yang tersedia di depan toko buku tersebut. Keduanya memainkan ponsel mereka untuk mengusir kebosanan saat menunggu jemputan mereka datang.


Sebuah mobil mendekat dan parkir di depan toko buku tempat Ana dan Jinny belanja tadi, setelah itu, Rico dan juga Kelvan keluar dari dalam mobil membuat kedua wanita itu tersenyum senang.


“Pulang sekarang Baby?” Jinny mengangguk senang saat mendengar perkataan Rico. Sedangkan Ana hanya mendengus saat melihat kemesraan kedua pasangan yang dimabuk cinta itu, membuat Kelvan terkekeh.


“Sabar An, mereka memang sering membuat orang lain iri!” Ana terkekeh membenarkan perkataan Kelvan.


Ana pulang bersama dengan Rico, Kelvan dan Jinny tentunya. Ana duduk di depan bersama Kelvan yang menyetir. Sedangkan Jinny dan Rico duduk di belakang, asik bermesraan membuat kedua pasangan jomblo di depan mereka hanya mendengus.


Ketiga orang itu mengantar Ana sampai ke depan rumahnya.


“Apa kalian mau mampir dulu?” tanya Ana saat sudah turun dari dalam mobil. Dia berdiri didekat kaca mobil.


“Maaf Ana, aku rasa tidak bisa. Karena aku hanya izin untuk beli buku pada Mommy tadi.” Jinny menjawab, membuat Ana mengangguk.


“Baiklah, kalian hati-hati!”


“Dan aku akan menjadi sopir dan juga nyamuk sendiri disini An!” Ana terkekeh mendengar perkataan Kelvan, begitu juga dengan kedua pasangan yang duduk di kursi belakang itu.


“Hati-hati Van, perbanyak sabar!”


*****


“Kak Matt....” Matteo yang sedang bersantai di gazebo itu, terkejut saat mendengar suara Ana yang berteriak memanggilnya siang-siang begini.


“Astaga bocah, kenapa teriak-teriak? Ini bukan hutan!” jawab Matt saat gadis itu sudah ada di depannya. Ana duduk di samping Matt.


“Hehe, maaf kak. Ana mau bilang sesuatu!” Matteo menatap Ana sekilas. Dia tidak terlalu antusias dengan apa yang akan di katakan oleh gadis yang duduk di sampingnya ini. Karena itu pasti hal yang membuatnya kesal lagi.


“Apa?” tanya Matt acuh. Dia meminum jus lemon yang di buatkan oleh bibi pelayan yang di antar saat Ana belum menemuinya tadi, karena dia merasa butuh tenaga dan minum yang cukup saat bicara dengan Ana. Karena jika tidak, dia bisa dehidrasi menghadapi gadis bar-bar yang duduk didekatnya ini.


“Nikah yuk....” ujar Ana dengan sangat semangat.


“Mpppffftt, uhuk ... Uhuk....” Matteo menyemburkan jus yang dia minum ke arah depan, untung saja tidak ke arah Ana. Ana menepuk pundak Matt penuh perhatian, dia tidak sadar, kalau Matt seperti itu karena ucapannya. Ckckck.....


“Dasar bocah, jangan mikir macam-macam!” ujar Matt saat batuknya sudah mulai reda. Tenggorokannya sakit saat ini. Dia menjitak kepala Ana membuat gadis itu mengaduh dan cemberut.


“Sakit kak!” cicit Ana yang tidak di hiraukan oleh Matt. Bahkan tenggorokan laki-laki itu masih terasa perih.


“Ana serius kak Matt, di novel yang Ana baca, mereka itu nikah dulu walaupun gak saling cinta, tapi akhirnya saling cinta juga. Jadi ayo kita nikah, kita cobain kak!” saat Ana membaca novel yang dia beli bersama dengan Jinny waktu itu, Ana terus berpikiran seperti itu. Bukannya malah bisa melupakan Matt dan wanita di kafe waktu itu, dia malah semakin tidak bisa mengalihkan pikirannya dari sana.


“Hei, ini dunia nyata, bukan di novel khayalanmu itu An!” jawab Matt, saat tenggorokannya sudah tidak terasa perih lagi.


“Tapi kan Ana beneran pengin nikah sama kak Matt!” cicit Ana dengan bibir yang mengerucut lucu.


“Kuliah yang benar! Jangan asal bicara saja!” Matt berdiri dari duduknya, lalu berjalan meninggalkan Ana.


“Kak Matt....” Ana juga ikut berdiri dan mengejar laki-laki itu.


“Diamlah Ana! Jangan bicara omong kosong!” bentak Matt saat berjalan masuk kedalam mansion. Entah hanya untuk mengatakan hal itu, gadis yang mengikutinya ini, datang ke mansion hari ini.


“Tapi itu bukan omong kosong Ana kak!” sahut Ana yang masih kekeh dengan apa yang dia katakan.


“Astaga, anak ini!” Matt memijit keningnya frustasi. Dia berdiri di depan Ana.


“Tidak semudah itu Ana. Lagipula, kau masih kecil. Jangan berpikiran terlalu jauh. Selesaikan kuliahmu dulu!” Matt berbicara dengan lembut pada Ana. Dia berharap Ana bisa mengerti dengan apa yang dia katakan ini.


“Hemm, baiklah.” ujar Ana akhirnya. Matt tersenyum mendengar respon yang di berikan oleh gadis itu.


“Gadis pintar!” Ana menepuk pipi Ana beberapa kali sebelum meninggalkan gadis itu.


“Maafkan Ana kak Matt.” Matteo terdiam dan menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Ana. Dia berbalik menatap gadis cantik yang berdiri tidak jauh darinya itu.


“Maaf untuk apa?” tanya Matt heran.


“Ana tidak akan menganggu kak Matt dan juga pacar kak Matt yang waktu itu lagi. Maafkan Ana, Ana tidak akan menganggu kak Matt lagi.” Ana menundukkan kepalanya. Menyembunyikan matanya yang memerah. Dia mencengkeram ujung baju kaos yang dia gunakan. Pandangannya menatap ke arah lantai yang bersih mengkilap itu.


“Ana, bukan itu maksudku,” Matt berjalan mendekat, tapi langsung berhenti saat Ana berjalan mundur menghindarinya.


“Tidak apa-apa kak. Ana tau, kak Matt pasti risih dengan sikap Ana. Ana kira yang dikatakan oleh Kak Arion dan Kak Erick itu benar. Ternyata Ana salah. Kak Matt sudah memiliki pacar ternyata. Maafkan Ana kak.” Ana tersenyum kecut dengan apa yang sudah dia katakan.


Matt mengerutkan kening mendengar perkataan Ana. Temannya mengatakan sesuatu? Pada Ana, tanpa dia ketahui? mengatakan apa mereka itu?


“Apa yang dikatakan oleh Arion dan Erick?” tanya Matt penasaran. Dia menatap Ana dengan penuh selidik.


“Tidak ada apa-apa kak. Lupakan saja!” jawab Ana, masih dengan senyuman tipisnya.


“Katakan An, apa yang dikatakan oleh kedua orang itu?” Matt sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya itu.


“Mereka hanya mengatakan kalau kak Matt suka pada Ana. Dan maaf, karena Ana percaya dengan itu!” Ana mengangkat wajahnya, lalu tersenyum pada Matt.


“Ana pulang dulu kak. Maaf karena Ana sudah menganggu waktu kak Matt. Sekali lagi, Ana minta maaf!”


Ana meninggalkan Matt yang masih terdiam. Gadis itu tersenyum kecut, saat laki-laki itu tidak mengejarnya. Berarti apa yang dia katakan itu memang benar.


Ah, bodohnya kau Ana. Hanya karena kata-kata Matt yang menyukai dia dari kedua teman laki-laki itu, membuat Ana senang bukan kepalang.


“Haha, bodohnya kau Ana. Dia tentu tidak menyukaimu, dan kau juga bukan tipenya!” Ana keluar dari pintu utama mansion, dia berjalan menuju mobilnya yang dikendarai oleh paman Crish.


“Ana!”


Tangan Ana masih menggantung saat akan membuka pintu mobil. Dia menoleh ke belakang, Matt berdiri dengan tegak di depan pintu utama yang besar itu.


“Ya kak?” tanya Ana yang masih mempertahankan senyumannya.


“Aku memang mencintaimu!”


“Eh?”


.


.


.


.


_____


Iya, ilopyutu Matt. Otor juga cinta kamu😚