My Devils Husband

My Devils Husband
60. Ke kampus



Max mengantarkan Stef hingga kedepan pintu gerbang kampus. Lelaki itu masih belum membuka kunci mobilnya. Membiarkan Stef menatapnya dengan kesal.


“Buka Max,” Stef menggoyangkan tangan Max, berusaha membuat lelaki itu menekan tombol yang ada disana.


“Tidak mau.” jawab Max singkat membuat Stef semakin kesal. Sudah banyak mahasiswa yang berlalu lalang didepan mobil mereka. Banyak yang memandang kagum mobil yang terparkir dengan gagah itu. Hitam legam mengkilap menambah kesan mewah pada kuda besi tersebut.


“Mobil siapa itu?”


“Pasti pemiliknya sangat tampan atau sangat cantik.”


“Pasti dia sangat kaya.”


“Kenapa dia belum turun juga ya?”


Banyak bisik-bisik diluar sana yang sayangnya tidak terdengar oleh Max maupun Stef.


“Max, aku ingin turun.” Stef memaksa Max. Lelaki itu masih terduduk manyun dikursi kemudi. Melihat banyaknya lelaki yang berlalu lalang didepan mobilnya, membuat Max semakin gelisah.


“Kau tidak usah kuliah Stef.” Max menatap Stef. Terlihat jelas baginya bagaimana terkejutnya istri kecilnya itu.


“Apa-apaan kau ini. Tidak, aku mau kuliah.” Stef menatap Max sangat kesal. Entah karena apa suaminya ini membuat keputusan seperti itu.


“Atau kau kuliah dirumah saja.” Max kembali membuat Stef terkejut.


“Tidak. Memangnya bisa kuliah dirumah?” tanya Stef yang dengan cepat diangguki oleh Max.


“Tentu saja. Apa kau lupa siapa aku?” tanya Max menyombongkan dirinya.


“Cih. Menyebalkan. Pokoknya aku mau kuliah. Buka pintunya!” Stef bicara tegas. Bisa-bisa nanti dia terlambat untuk masuk kelas. Apalagi dia sudah lama tidak masuk kelas karena beberapa kejadian belakangan ini. Membuatnya harus melapor pada dekan terlebih dahulu walaupun sebenarnya itu tidak perlu karena Max sudah mengurusnya.


“Tapi kau harus janji, tidak akan dekat dengan laki-laki manapun.” Max mengatakannya dengan cemberut. Rasanya ingin sekali Stef mencubit pipi gembung dan bibir monyong suaminya itu. Max benar-benar terlihat berbeda beberapa hari belakangan ini. Apalagi setelah dia pulang dari Lombok kemarin. Perubahan sikap Max semakin menjadi-jadi.


“Aku janji Max, aku tidak akan dekat dengan lelaki manapun.” Max masih cemberut.


“Ciuum,” Max merengek seperti anak kecil yang meminta permen pada ibunya membuat wanita itu tergelak. Lelaki tampan nan gagah juga dewasa itu tampak sangat berbeda. Walaupun usia mereka terpaut cukup jauh, tapi itu tidak terlihat menonjol sedikitpun.


“Apa tadi kau makan sarapan yang salah Max?” tanya Stef tergelak. “Kenapa kau jadi manja seperti ini?” sambung Stef lagi.


“Pokoknya cium.” rengek Max lagi.


Stef mendekat miring, mendekatkan wajahnya pada wajah Max. Mencium pipi, dan juga bibir suaminya ini. Untung saja kaca mobil mereka tidak tembus pandang. Kalau tidak, pasti akan heboh nanti jika ada yang melihat mereka berciuman didalam mobil. Apalagi itu adalah mahasiswa kampus tersebut, walaupun dia berciuman dengan suaminya sekaligus pemilik kampus tapi tetap saja orang-orang tidak tau kalau itu adalah suami dari Stef. Maxim Alexander Luciano.


Stef kembali duduk dengan tegap, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Walaupun sudah beberapa lama dia menikah dengan Max, tapi tetap saja dia selalu merona saat bersentuhan dengan lelaki itu.


Mentari pagi seakan meledek kedua suami istri tersebut dengan senyum cerahnya. Max memiringkan tubuhnya mendekat pada Stef, lalu mencium pipi, hidung, kening dan juga bibir istrinya itu.


“Ingat, tidak boleh dekat dengan lelaki manapun!” sebelum turun Stef lagi-lagi diperingatkan oleh Max, sedangkan Stef hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Banyak yang tidak percaya bahwa Stef lah yang sudah turun dari mobil mewah itu, melangkahkan kakinya dengan santai menuju gedung fakultasnya.


Masih ingat dimana Stef kuliah dan jurusannya apa? Pasti ingat dong?


Iya, dia kuliah di salah satu universitas di Frankfurt dengan mengambil jurusan kedokteran Gigi. Tak banyak yang menjadi temannya karena selama ini dia selalu bekerja paruh waktu hingga ia tidak memiliki waktu untuk berkumpul bersama dengan teman-temannya yang lain yang selalu menghabiskan waktu bersama.


“Halo.” Sapa Max pada orang yang diseberang sana.


“Halo Bos." sapa seorang gadis menjawab sambungan telepon tersebut.


“Jaga istriku baik-baik. Jangan sampai ada yang menyakitinya sedikitpun.” jelas Max bicara dengan tegas. Dia sangat khawatir dengan kondisi Stef, karena dia yakin banyak musuh yang mengincar istri kecilnya itu. Apalagi kini perusahaannya sedang mengalami kondisi yang cukup rumit untuk dijelaskan. Itu bisa dijadikan alasan untuk menghancurkan bisnisnya.


“Baik Bos.” gadis itu menjawab sigap. Setelah itu Max mematikan sambungan teleponnya. Sebelumnya gadis itu sudah diberitahu apa tugasnya dan dia juga sangat berkompeten sama seperti David dan Thomas. Sangat sigap dengan segala tindakan juga sangat lihai memainkan senjata.


Dibalik wajah cantik dan Ayunya, terselip senjata api di balik bajunya yang terlihat sedikit tomboy, untuk berjaga-jaga jika nanti ada suatu kejadian tidak terduga. Max jugalah yang memasukkannya kedalam fakultas kedokteran gigi untuk tugasnya menjaga Stef. Sungguh Max sudah mempersiapkannya dengan sangat baik.


Stef berjalan menuju kelasnya, dia melihat berbagai tatapan menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda. Ada yang terlihat biasa saja, ada juga yang melihatnya dengan tatapan benci dan juga iba.


Stef duduk di bangkunya, karena sebelumnya dia sudah keruang dekan untuk memastikan kelasnya yang dulu, dan ternyata itu semua juga sudah diurus oleh Max.


Stef duduk di bangku bagian tengah, tidak di depan tidak juga dibelakang. Mengeluarkan ponsel yang ada didalam tasnya. Banyak yang menatap takjub pada ponsel yang berlogo Apel yang sudah tergigit tersebut. Itu adalah jenis ponsel merk iPhone dengan model keluaran terbaru dan baru beberapa orang saja yang memilikinya, dan mereka heran kenapa Stef, si gadis miskin itu bisa memiliki ponsel dengan harga selangit itu. Sudah tidak masuk beberapa lama, kini dia kembali dengan dandanan yang berbeda. Semua pakaiannya dari merek terkenal membuat teman-teman wanitanya menjadi iri.


Seseorang duduk di sebelah Stef, wanita yang sudah tidak perawan itu menoleh kesamping. Dia mendapati seorang gadis cantik disana sedang tersenyum padanya.


“Hallo.” sapa gadis itu membuat Stef tersenyum manis.


“Hallo.” sapa Stef lagi. Menyambut uluran tangan yang tadi diulurkan oleh gadis itu.


“Siapa namamu?” tanya gadis itu. “Aku baru melihatmu disini.” sambungnya lagi.


“Hehe, iya. Aku Stefani. Panggil saja Stef. Aku baru masuk kuliah lagi setelah beberapa waktu belakangan ini aku ada urusan yang sangat penting.” gadis itu mengangguk. Sebenarnya dia sudah tau, tapi demi membuat Stef tidak curiga, dia harus berpura-pura tidak tahu seperti apa yang dikatakan oleh Max.


“Oh iya, namamu siapa?” tanya Stef lagi. Karena gadis itu belum memperkenalkan dirinya.


“Kenalkan aku Maria.” sapa gadis yang bernama Maria itu dengan sopan. Iya dia harus bersikap sopan pada Stef, karena bagaimanapun Stef adalah istri dari Bos-nya. Maxim Alexander Luciano.


“Baiklah Maria.” ucap Stef tersenyum.


“Apa aku bisa menjadi temanmu?” tanya Maria lagi.


“Tentu saja. Kenapa tidak. Mari kita berteman.” ucap Stef dengan sangat sopan. Maria tersenyum.


“Pantas saja Bos sangat mencintaimu, kau ternyata wanita yang sangat baik dan juga lembut.” batin Maria tersenyum, menatap pemilik pipi kemerahan itu.


“Baiklah Teman.” ucap Maria. Setelah itu mereka tertawa bersama-sama.


.


.


.


.


Salam Sayang Li.