
Selama kelas berlangsung, Ana hanya tersenyum-senyum membuat Jinny yang duduk di sampingnya menatap gadis itu heran.
“Kenapa?” tanya Jinny pada sang sahabat.
“Nothing!”
“Huh....” Jinny mengabaikan Ana yang masih tersenyum. Gadis itu menggeleng menatap sahabatnya yang seperti itu.
Setelah kelas selesai, dan dosen keluar dari kelasnya, Ana langsung berdiri dan merapikan buku-bukunya yang ada di atas meja dengan terburu-buru.
“Jinn, aku duluan ya?” Jinny hanya mengangguk mendengar ucapan Ana. Dia menggelengkan kepalanya saat sahabat cantiknya itu sudah keluar dari dalam kelas dengan sedikit berlari kecil.
Ana berjalan dengan cepat menuju parkiran kampus. Dia melihat pada jam yang ada di tangannya. Sebentar lagi!
Mobil Matt terlihat masih berada di parkiran. Ana mendesah lega karena itu. Dia duduk di salah satu bangku yang tersedia disana. Sembari menunggu Matt dia memainkan ponselnya untuk mengusir kebosanan.
Cukup lama Ana menunggu hingga rombongan ketiga laki-laki itu tampak dimatanya. Ana berbinar senang. Dia berjalan mendekat pada Matt yang sedang berjalan dengan Arion dan Erick.
“Hai calon suami....” Matt mendesah kecil melihat Ana yang kini sudah ada di depannya. Dia mengabaikan Ana yang masih tersenyum padanya.
“Hei An, mau pulang bersama Matt?” Erick bertanya pada Ana padahal dia sendiri sudah tahu jawabannya. Laki-laki itu terkekeh kecil saat gadis yang ada di hadapannya mengangguk dengan semangat.
“Aku tidak bisa pulang bersamamu, An!” Matt memberi tahu, sebelum Ana menyampaikan keinginannya pada laki-laki itu.
Ana mengerucutkan bibirnya kesal.
“Kenapa kak Matt?” tanya Ana dengan suara pelan.
“Aku ada urusan!” Matt menjawab singkat. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak mau menatap binar mata yang kecewa itu.
“Urusan apa?” Matt mengangkat bahunya acuh, dia tidak menjawab pertanyaan Ana membuat gadis kecil itu mendesah kesal.
“Aku mau ikut!” Ana menatap Matt penuh harap. Dia sudah menunggu laki-laki itu lama hanya untuk bisa pulang bersama. Sia-sia sekali usahanya.
“Tidak bisa!” jawab Matt kekeh.
“Kak Matt! Aku pulang sama kak Matt ya?”
“Ana....?” mendengar ada seseorang yang memanggilnya, Ana menoleh kebelakang. Ada Jinny, Rico, dan juga Kelvan yang berjalan mendekat ke arah mereka.
“Ya Van?” Ana berbalik dan menjawab sapaan Kelvan, dia berdiri di dekat Matt.
Sedangkan Arion dan Erick berdehem untuk menyembunyikan senyuman mereka saat kedua orang itu melihat rahang Matt mengeras tidak suka ketika melihat kedatangan teman-teman Ana. Terlebih saat melihat laki-laki yang bernama Kelvan itu tersenyum hangat pada Ana dan Ana membalasnya.
“Mau pulang bersama?” Ana menggigit bibir bawahnya bingung. Dia menatap Matt yang langsung mengalihkan pandangannya saat dia menoleh pada laki-laki itu.
“Ayolah An? Kak Matt tidak bisa mengantarmu kan?” Ana mengangguk mendengar perkataan Jinny.
Ana masih diam. Padahal dia berharap Matt akan mencegahnya dan melarangnya pulang bersama Kelvan. Tapi nyatanya laki-laki itu hanya acuh, membuat Ana tersenyum kecut.
“Baiklah, Ayo....” putus Ana akhirnya. Kelvan tersenyum senang pada Ana yang mau pulang bersama dengannya.
“Bye kak Matt, selamat berkencan!” Ana melambaikan tangannya pada Matt. Dia berjalan menjauh dari Matt yang mengepalkan tangannya. Gadis itu berjalan di samping Kelvan.
“Matt, jangan terlalu memperbesar ego! Kau bisa kehilangan dia untuk yang kedua kalinya jika kau terus seperti ini. Tidak hanya satu orang saja yang menyukai dia Matt, tapi banyak laki-laki disini yang menyukai Ana. Dia gadis yang cantik, dan juga ceria, kau benar-benar akan menyesal nanti jika kau terlalu lambat!”
Erick yang melihat Matt mengepalkan tangannya, mengingatkan Matt.
“Dan juga, seorang wanita itu butuh kepastian.” tambah Arion, dan Erick mengangguk membenarkan perkataan laki-laki itu.
Arion dan juga Erick, menepuk bahu Matt secara bergantian. Setelah itu mereka berjalan masuk kedalam mobil masing-masing. Matt masih berdiri disana menatap Ana yang sudah masuk kedalam mobil Kelvan.
“Huh!” Matt berjalan menuju mobilnya dan membuka pintu mobil miliknya dan masuk kedalam.
***
Didalam perjalanan pulang, Ana hanya diam duduk di samping Kelvan.
“Aku masih heran, kenapa kau sudah bicara pada Matt lagi, aku kira kau akan terus mendiaminya An?” Kelvan membuka pembicaraan, saat kedua orang itu sudah mulai larut dalam diam. Dia menatap Ana saat menanyakan hal itu.
“Aku hanya salah paham Van! Aku tidak bermaksud untuk mendiamkannya, tapi aku terpaksa.” Kelvan menatap ke arah Ana. Dia menaikkan alisnya tanda belum mengerti dengan perkataan gadis itu.
“Salah paham kenapa?” tanyanya bingung.
Ana mulai bercerita sedikit pada Kelvan membuat laki-laki itu tersenyum kecut.
‘Kak Matt, mencintai Ana?’ batin Kelvan. Tanpa sadar, dia mengepalkan tangan saat Ana mengatakan hal itu.
“Kalau memang seperti itu, lalu kenapa dia tidak mau mengantarmu pulang? Dan juga tadi kau bilang, dia akan pergi berkencan?” Kelvan masih menatap Ana dengan penasaran.
“Haha, soal itu aku hanya asal. Aku tidak tau dia mau kemana, jadi aku sebut saja di pergi berkencan.” Ana tertawa canggung. Dia sendiri tidak yakin dengan jawabannya, karena dia hanya tidak ingin, kepalanya memikirkan hal yang tidak-tidak seperti itu, karena dia tidak akan sanggup jika itu benar-benar terjadi.
“Dan kau meyakini itu?” Ana menganggukkan kepalanya.
“Tentu saja!”
“Kenapa?”
“Karena aku tau, dia tidak akan melakukan itu. Dia mencintai aku, jadi itu tidak akan mungkin.” nada suara Ana mengecil saat dia mengatakan hal itu. Dia berharap, kalau ucapannya benar-benar terwujud.
“Kenapa tidak mungkin An? Bukankah kau sudah mendiamkan dia beberapa lama, kenapa tidak mungkin, kalau dia dekat dengan seorang perempuan, selama kau menjauhinya!” Ana tersenyum kecut saat kembali mengingat kesalahan yang sudah dia perbuat beberapa waktu belakangan ini.
“Kalau memang seperti itu, aku akan berjuang lagi Van.” Ana menjawab dengan senyum tipis. Kelvan hanya menghela nafas, saat melihat pancaran cinta untuk laki-laki yang bernama Matteo itu begitu besar di mata Ana. Dan Kelvan berpikir, kalau Matt sungguh adalah laki-laki yang beruntung karena mempunyai seorang wanita yang sangat mencintainya, terlebih dia adalah seorang Anastasya.
“Ana, berjuang itu untuk sesuatu yang mau kau perjuangkan. Dia saja tidak mau kau perjuangkan, lalu kenapa kau masih membuat hatimu lelah karena perjuanganmu sendiri?!”
“Tak apa Van, dari awal aku sudah bersalah. Setidaknya aku mencoba lagi, karena cinta memang butuh perjuangan.”
“Ya kau benar, cinta butuh perjuangan!” Kelvan mengangguk membenarkan perkataan Ana.
‘Karena itu, aku juga mau berjuang untuk mendapatkanmu An.’
Mobil yang di bawa Kelvan, masuk dalam area komplek perumahan Ana.
“Eh? Kau tau alamat rumahku?” Ana bertanya dengan heran pada Kelvan, sedangkan laki-laki itu hanya mengangguk lalu tersenyum.
“Darimana kau tau alamat rumahku?” Kelvan terkekeh gemas melihat gadis itu masih menatapnya heran. Dia lalu mengacak rambut Ana membuat Ana cemberut, dan membuatnya tampak semakin menggemaskan dimata Kelvan.
“Tentu saja aku tau.” Kelvan tersenyum tipis.
Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah pagar besi berukuran besar yang menjulang tinggi.
“Aku turun disini saja Van, terimakasih sudah mengantarku!” Kelvan hanya mengangguk lalu tersenyum.
Ana turun dari dalam mobilnya lalu memencet bel.
Pintu gerbang itu terbuka secara otomatis, Ana berbalik menatap mobil Kelvan yang masih berdiri disana, dia melambaikan tangannya pada laki-laki itu, membuat Kelvan tersenyum. Lalu menjalankan mobilnya saat Ana sudah berjalan masuk ke halaman rumahnya.
Seorang pria paruh baya yang memakai pakaian sopir berjalan tergesa-gesa mendekat pada Ana.
“Maaf Nona, kenapa tidak menghubungi saya, saya bisa menjemput Nona tadi, saya kira Nona akan pulang bersama dengan tuan.” laki-laki itu membungkuk pada Ana, membuat gadis itu cepat-cepat memegang tangannya dan menyuruh laki-laki itu untuk segera berdiri tegap.
“Santai saja paman Crish, Ana tadi juga pulangnya bersama teman.” Ana tersenyum pada laki-laki itu. Dia sangat menyayangi dan juga menghormati laki-laki itu.
“Tapi tetap saja saya khawatir, kalau tau begini saya tadi pasti akan menjemput nona.” laki-laki paruh baya yang bernama Crish itu masih merasa tidak enak pada Ana.
“Tidak apa-apa paman. Lagipula dia teman Ana, sudah Ana masuk dulu ya?” Ana menepuk pundak laki-laki itu. Dan memberikan senyuman termanisnya. Sedangkan Crish yang tersenyum karena nona mudanya itu tidak mempermasalahkannya.
Ana berjalan menuju pintu utama, dan membukanya.
Kepala pelayan, bibi Joan menyambut kedatangan Ana.
“Selamat datang Nona muda.” bibi Joan sedikit membungkuk sedikit pada Ana.
“Terimakasih bibi Joan.” Ana tersenyum. Karena wanita paruh baya yang menjadi kepala pelayan itu masih saja bersikap formal padanya.
“Apa Nona mau makan dulu?” tanya bibi Joan, mengikuti Ana berjalan ke tengah rumah.
“Tidak, Ana mau istirahat saja sebentar.”
“Baiklah, silahkan Nona.”
Ana berjalan cepat menuju tangga rumah besar itu. Dia menaiki tangga lalu berjalan menuju pintu kamarnya yang berwarna putih.
Ana membuka pintu, lalu masuk kedalam kamar, dan menutup kembali pintunya.
Kamar besar dengan dominasi warna pink itu langsung menyambut Ana saat dia berbalik.
Ana langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur Queen size miliknya.
Dengan baju dan juga sepatu yang belum dibuka, Ana menatap langit-langit kamar. Ingatannya langsung tertuju pada Matt.
“Huh, dia masih saja dingin padaku!” Ana mendesah kecil lalu tersenyum kecut.
Tanpa sadar, Ana memejamkan matanya dan tertidur dibawah belaian AC yang menyala, membuatnya sejuk dan nyaman dengan pakaian yang belum di ganti.
***
“Ana...?”
Tok ... Tok ... Tok....
“Ana?”
Cklek...
Aira berjalan masuk kedalam kamar anak gadisnya. Wanita paruh baya yang masih cantik itu hanya bisa menggeleng melihat Ana yang tertidur secara asal dengan pakaian yang belum di ganti.
“Ana....?” Aira menepuk pipi Ana dengan pelan untuk membangunkan anak gadisnya itu. Kelopak mata cantik itu mengerjap pelan dan mulai terbuka.
“Holla Mom?” sapa Ana dengan suara serak khas seperti seorang baru bangun tidur. Aira tersenyum pada Ana.
“Bangun Baby. Ganti pakaianmu!” Ana melirik pada pakaiannya yang belum diganti.
“Eh? Hehe, baik Mom.” Ana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tersenyum kaku. Gadis itu lalu berjalan menuju ruang ganti yang terpisah dengan kamar tidurnya, di dalam walk in closed.
Aira menggeleng melihat kelakuan anak gadis satu-satunya itu.
“Cepat ke bawah An, ada Matt menunggumu dibawah!” Aira berteriak kecil saat Ana sudah masuk kedalam ruang ganti. Setelah itu dia keluar dari kamar Ana dengan tertawa kecil.
“What?”
***
“Hai calon suami?” Ana menyapa dan berjalan mendekat pada Matt yang duduk disofa. Setelah itu dia duduk di sofa samping Matt.
“Tumben sekali kak Matt kemari?” Ana menatap heran pada Matt yang memasang wajah dingin saat dia menghampiri laki-laki itu.
“Tidak, aku hanya ingin memastikan mu pulang dengan aman.” Matt bicara dengan ketus.
“Benarkah?” binar Ana dengan nada tidak percaya. Dia menatap Matt dengan tersenyum.
“Ya, aku sudah menelponmu, tapi tidak aktif, lalu aku pergi kemari!”
“Ah, maaf kak Matt. Mungkin ponselku lowbat. Aku belum sempat mengisi dayanya.” Ana menatap Matt dengan pandangan bersalah. Dia ingat, tadi baterai hp nya sudah lowbat, dan dia lupa untuk me-richarge ponselnya.
“Bagaimana tadi? Apa laki-laki itu melakukan sesuatu padamu?” Matt menatap Ana dengan pandangan menyelidik. Baju santai, dengan kaos kebesaran dan celana di atas lutut, sangat kontras untuk kulit Ana yang putih bersih membuat Matt langsung mengalihkan pandangannya.
“Melakukan sesuatu apa maksudnya kak?” Ana bertanya polos, dia tentu tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang ada di sampingnya ini.
“Ah tidak! Lupakan saja, aku pulang dulu!” Matt mengalihkan pembicaraan. Dia menatap jam tangannya sekilas, lalu langsung bangkit dari duduknya.
“Kenapa kak Matt buru-buru sekali? Kita makan dulu?” Ana juga ikut bangkit mengikuti Matt.
“Tidak, terimakasih. Aku masih ada urusan.” Matt berjalan menuju pintu utama, Ana mengikutinya dari belakang.
“Hemm, apa tadi kak Matt benar-benar berkencan?” Ana mencengkeram bajunya saat menanyakan hal itu.
“Maksudmu?” laki-laki itu berhenti saat mendengar pertanyaan Ana.
“Tadi kak Matt kemana? Kenapa tidak mengantarku pulang?” bibir cemberut itu terlihat sangat menggemaskan. Matt rasanya ingin sekali mengecup bibir sensual itu, tak apa walau hanya sekilas. Laki-laki itu langsung tersadar dan menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran kotornya barusan.
“Bukannya kau pulang bersama laki-laki itu!” Matt menatap Ana tajam, setelah bisa mengendalikan dirinya sendiri.
“Dia punya nama kak. Namanya Kelvan!”
“Aku tidak peduli!”
“Lagipula, aku pulang bersama dia, karena kak Matt tidak mau pulang bersama denganku kan?” Matt terdiam, dia membenarkan perkataan Ana. Bukannya dia tidak mau mengantar Ana pulang, tapi ada sesuatu yang harus dia selesaikan tadi.
“Sudah lupakan saja. Oh iya, mulai besok aku akan jarang berada di kampus. Karena aku sedang magang di kantor Daddy. Kau hati-hati, jangan dekat-dekat dengan laki-laki itu!”
“Kenapa?” tanya Ana.
“Apanya?”
“Kenapa Ana tidak boleh dekat dengan Kelvan?” Ana tersenyum menatap Matt yang tampak kesal.
“Karena dia bukan laki-laki baik!” jawab Matt ketus.
“Kak Matt, tau darimana dia bukan laki-laki baik?”
“Aku hanya menebak saja! Sudah aku pergi!”
“Buru-buru sekali sih?”
“Bilang pada Bibi Aira, aku pulang.”
“Iya. Hati-hati dijalan calon suami masa depan. Ingat Ana terus ya....” Ana mengedipkan matanya menggoda, membuat laki-laki itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Cih, bocah!” dengus Matt, tapi dia tetap saja tersenyum setelahnya.
Ana mengantarkan Matt sampai ke depan mobil laki-laki itu. Dia melambaikan tangannya saat mobil yang dibawa Matt sudah berjalan meninggalkannya dan keluar dari pintu gerbang besar rumah Ana.
“Sial! Kenapa aku malah datang kemari? Pasti gadis itu berpikir yang tidak-tidak padaku!” Matt memukul stir mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat membelah jalanan sekitar Frankfurt.
.
.
***
Huahh, pusing aku😐😥