My Devils Husband

My Devils Husband
Eps 50



Masih Flashback.


Lie dan Antonio bingung mau mengejar Henry kemana, karena mobil lelaki itu pergi melesat dengan kencang dan mereka kehilangan jejak.


“Kemana lelaki itu membawa anakku!” ucap Antonio dengan geram, sedangkan Lie menangis disampingnya.


“Kenapa kau tadi tidak mencegahnya Lie?” tanya Antonio pada Istrinya itu.


“Aku sudah mencegahnya, tapi dia terlalu cepat masuk kedalam mobil!” ucap Lie pada Antonio.


“Kenapa dia harus membawa anakku, dan sudah jelas-jelas istri dan anaknya sedang tergeletak tak berdaya dirumah sakit, tapi dia malah membuat masalah dengan menculik putraku!” Antonio merasa sangat geram pada Henry, bahkan pria itu tidak memperdulikan istri dan anaknya yang sudah meregang nyawa dirumah sakit.


“Aku tidak tahu Antonio, tapi dia terlihat sangat ketakutan saat melihat darah, dan menganggap aku adalah istrinya!”


Antonio hanya diam, pikirannya kacau, hingga suara telepon mengalihkan perhatian keduanya.


“Hallo Jhon!” sapa Antonio pada Jhon yang berada di seberang sana.


“Kau ada dimana?” tanya Jhon.


“Aku sedang mengejar pria itu, aku kehilangan jejaknya!” Jhon menghela nafas diseberang sana.


“Aku akan melacak mobilnya!” ucap Jhon.


“Baiklah!”


Sambungan telepon tersebut terputus, Antonio kembali fokus pada kemudi mobilnya, dan Jhon mulai menghubungi rekannya yang lain untuk melacak keberadaan Justin.


★‡★


Sedangkan saat ini Henry pergi ke sebuah apartemen yang ada di tengah kota Milan dengan fasilitas dan penjagaan super ketat.


Justin dan Aira terus saja bertanya pada lelaki tersebut tentang keberadaan mereka.


“Om, kau membawa aku kemana? Kembalikan aku pada ibuku!” Justin berkata seperti itu membuat Henry diam.


“Kau tenang saja, Ayah akan membawa ibumu kesini secepatnya!” ucap Henry memanggil dirinya sebagai ayah yang membuat Justin menggeleng cepat.


“Tidak! Kau bukan ayahku! Ayahku adalah ayah Antonio bukan kau!” Justin berteriak membuat Henry kesal.


“Hei aku ayahmu, kau adalah anakku. Kau Arion ku. Kau tenang saja, aku akan membawa ibumu kesini secepatnya!” Henry masih tetap bersikeras bahwa Justin adalah anaknya dan Lie adalah istrinya.


“Tidak! Kau bukan ayahku! Bukan!” Henry tidak mendengarkan perkataan Justin, lelaki tersebut berlalu dari kamar tempat dia menurunkan Aira dan Justin dari gendongannya, meninggalkan Justin dan Aira yang sedari tadi hanya terdiam melihat perdebatan antara Justin dan Henry.


“Hallo!” ucap Henry pada seseorang diseberang sana, yang ternyata adalah anak buahnya saat dia sudah berada diruang tamu apartemen tersebut.


“Iya bos?” ucap anak buahnya di seberang sana.


“Kau datang ke apartemenku, bawa anggota yang lain!” Henry memberikan perintah pada anak buahnya, yang dengan sigap di iyakan olehnya. Lalu sambungan telepon tersebut pun terputus.


“Tidak! Yang berdarah itu bukan istriku! Ya, istriku tidak mungkin berdarah seperti itu, aku yakin istriku tidak berdarah!”


Yang dialami oleh Henry saat ini adalah phobia terhadap darah. Phobia darah dikenal dengan istilah hemophobia atau hematophobia. Phobia ini termasuk jenis phobia spesifik yang ditandai dengan rasa takut atau cemas luar biasa ketika melihat darah, baik darah mereka sendiri, orang lain, binatang, dan bahkan darah dalam bentuk gambar atau tayangan di televisi.


Karena itulah makanya saat melihat Maira yang bersimbah darah didalam gendongan Antonio membuat Henry tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri, hingga otaknya tidak bisa menerima kenyataan bahwa yang berdarah tersebut adalah istrinya sendiri, dan menganggap Lie dan Justin adalah anak dan istrinya dan melupakan Maira dan Arion yang ada dirumah sakit.


Saat melihat Maira yang bersimbah darah, membuat Henry gemetaran dan berkeringat, dengan rasa cemas yang berlebihan atau panik, dan tubuhnya terasa lemas secara tiba-tiba dengan Jantung yang berdetak cepat


dan napas yang cepat atau terasa berat, membuat otak dan pikirannya berlawanan.


“Aku harus menjemput istriku, kenapa juga tadi aku harus meninggalkan dia sendiri!” Henry mengusap rambutnya kasar, sedangkan Justin dan Aira hanya duduk terdiam didalam kamar tanpa harus tau melakukan apa-apa.


★‡★


Hari berganti, tapi Antonio, lucky dan juga Jhon belum juga mengetahui dimana Justin disembunyikan oleh Henry.


Di apartemen Henry.


“Ayah!” Aira mendekat pada Henry yang termenung duduk disalah satu kursi di apartemennya.


“Apa sayang?” tanya Henry pada Aira.


“Bukan kakakmu bagaimana? Jelas-jelas dia kakakmu Arion!” Aira menggeleng cepat.


“Bukan ayah! Dia bukan kak Arion, tapi Justin, namanya Justin!” Henry menatap Aira dalam, menatap mata anaknya itu dalam.


“Apa kau yakin?” tanya Henry memastikan.


“Iya ayah! Kalau ayah tidak percaya, lihat saja foto ini! Jelas wajah mereka sangat beda ayah!” Aira memberikan foto Arion pada Henry yang disambut oleh lelaki tersebut.


“Apa yang aku lakukan?” tanya Henry pada dirinya sendiri setelah melihat foto tersebut. Foto seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengannya dan sangat berbanding terbalik dengan wajah Justin yang mirip dengan Antonio.


“Jadi benar Arion dan Maira yang berdarah itu?” Henry kembali merasa sakit saat mengingat darah tersebut.


“Ayah, ayo kita antarkan dia pulang ayah, lalu kita jemput ibu kerumah sakit!” Henry beranjak dari sana setelah menganggukkan kepalanya pada Aira.


Dia membawa Aira dan Justin ke rumah sakit terlebih dahulu. Tapi karena memang dasar Henry yang memiliki phobia terhadap darah dan itu kumat lagi.


“Ayo ayah!” Aira menarik tangan Henry, sedangkan satu tangannya lagi memegang tangan Justin.


Sedangkan Antonio dan juga Lie yang kembali ke rumah sakit karena mengurus jenazah Maira yang akan segera dikebumikan karena tidak ada konfirmasi dari pihak keluarga membuat mereka harus turun tangan karena Antonio lah yang membawa mereka kesana.


“Antonio, itu Justin!” Lie menunjuk pada Henry membuat Antonio segera melihat kearah lelaki tersebut.


“Hei! Kembalikan putraku!” Antonio bergegas menuju ke arah Henry, sedangkan Henry menatap Lie lama.


“Kau istriku! Kenapa disana? Ayo kesini!” Henry menunjuk pada Lie membuat Antonio menggeram marah yang berdiri tidak jauh dari sana.


“Hei! Dia istriku, bukan istrimu!”


“Ayah, dia bukan ibu! Tapi orang lain ayah!” Aira memberitahu Henry membuat lelaki itu terdiam.


“Ya ampun! Ada apa dengan diriku! Halusinasi macam apa ini!” Henry memijit pelipisnya, lalu melepaskan Justin. Sedangkan Justin segera berlari dari sana menuju kepada Lie dan Antonio. Lie memeluk Justin erat melepaskan segala kerinduannya, mencium anak lelakinya itu.


“Aku harus berhati-hati padanya! Lucky bilang dia sangat berbahaya!” Antonio menatap Henry.l dengan tatapan tidak terbaca.


“Pihak rumah sakit akan segera mengantar


kan istri dan anakmu pulang, mereka akan segera dikebumikan!” Antonio memberitahu Henry membuat Henry kembali terkejut mendengar kenyataan ini.


“Anak dan istriku meninggal?” tanya Antonio tidak percaya.


“Iya, dan kau kemarin malah membawa kabur anakku. Bukannya mengurus mereka!” Henry terdiam, lalu ia segera berlalu masuk kedalam rumah sakit, menyingkirkan rasa trauma yang dideritanya. Dengan penuh perjuangan, akhirnya Henry bisa juga membawa dirinya masuk kesana dengan tangan yang terus menggenggam tangan Aira, dan Antonio beserta Lie dan juga Justin menyusul dibelakang.


Antonio juga memberitahukan kepada Lucky dan Jhon bahwa Justin sudah ditemukan.


★‡★


Perjuangan Henry untuk masuk kedalam rumah sakit sangatlah sulit, kepalanya terasa pusing. Banyak berkas-berkas yang perlu dia tanda tangani, untuk mengeluarkan Maira dan Arion dari sana. Di tambah lagi dia juga harus menerima kenyataan bahwa ternyata istri dan anaknya sudah tidak bersamanya lagi, membuat Henry semakin terpukul.


Supir mobil yang menabrak mereka juga sudah mendekam di penjara, karena kelalaiannya dan juga kecerobohannya karena tidak mengecek kondisi mobilnya yang sudah patut untuk di servis.


Antonio mengikuti setiap prosedur yang dilakukan oleh Henry karena dia yang menjadi saksi dan juga penolong mereka. Sebenarnya Antonio enggan, tapi hati kecilnya menolak untuk tidak peduli.


“Aku masih belum terima ini Maira, kenapa kau meninggalkan aku segitu cepatnya? Kau menghianati aku! Kau meninggalkan aku Maira, kau curang!” Antonio dan juga Lie merasa sangat iba pada Henry yang terus meluapkan rasa sedihnya, dan juga Aira yang terus saja menangis disamping ibu dan kakaknya itu. Gadis kecil nan malang itu harus menerima kenyataan pahit tersebut di usianya yang masih sangat belia.


“Ayo ayah!” ajak Aira berusaha tegar.


“Ayo!”


.


.


.


.


.


Love❤️❤️❤️ EgaSri