
Stef dan Justin menangis mendengar cerita Lie. Kenyataan yang diterima oleh keduanya sungguh sangat menyakitkan.
“Jangan menangis! Kalian ini cengeng sekali!” ucap Lie meledek keduanya. Stef tersenyum mendengar perkataan Lie.
“Aku menyayangi ibu!” ucap Justin memeluk Lie, ia juga memeluk Stef.
“Hey kau, jangan peluk istriku!” Max menarik Stef kedalam pelukannya membuat Justin menatap iparnya itu dengan tatapan tajam.
“Hey, dia adikku! Jangan coba-coba untuk merebut dia dariku!” ucap Justin tidak mau kalah, lalu kembali menarik Stef kedalam pelukannya.
“Apa-apaan kalian ini? Hey, tanganku sakit!” lantas saja Max dan juga Justin langsung melepaskan tangan mereka dari tubuh Stef.
Suasana yang seharusnya mengharu biru kini jadi penuh tawa karena kelakuan Max dan Justin, yang membuat Lie yang awalnya menitikkan air mata jadi tertawa bahagia.
“Kalian ini ada-ada saja!” ucap Lie tersenyum.
“Aku suka melihat ibu tersenyum!” ucap Justin menatap Lie dengan tatapan kerinduan.
“Ah, aku merindukan putraku!” ucap Lie kembali memeluk Justin.
“Hey, jangan peluk istriku! Dia milikku!” Antonio ikut mencairkan suasana, membuat mereka semua tergelak.
“Aih, sepertinya aku harus cepat-cepat mencari istri, supaya aku bisa memeluk istriku sendiri!” sontak saja perkataan Justin membuat mereka semua yang berada disana tertawa.
“Menikahlah! Kau sudah tua, jadi cepat cari calon istri!” ucap Lucky.
“Apa paman ada rekomendasi gadis cantik?” tanya Justin yang membuat Lucky tertawa.
“Tidak, karena bagiku yang tercantik hanya istriku!” ucap Lucky memeluk Masseria yang kini sudah memerah mendengar perkataan Lucky, lalu mencubit perut pria yang menjadi suaminya itu.
“Sakit sayang!” ucap Lucky mengaduh.
“Dasar tua bangka! Sudah tua masih saja meng-gombal!” ucap Masseria menatap Lucky tajam.
“Tapi kau suka'kan?” tanya Lucky mengedipkan matanya menatap Masseria membuat istrinya itu tersenyum malu.
“Aih, dasar kalian ini. Hargailah aku yang jomblo ini, sungguh jiwa jomblo ku meronta melihat kalian semua!” ucap Justin memelas membuat mereka semua yang ada disana tertawa terbahak-bahak.
Setelahnya terdengar suara pintu diketuk, Lucky berjalan dan membukanya. Tampaklah David dan Aira berdiri disana.
“Ayo masuklah!” ajak Lucky.
Keduanya masuk dan memperhatikan mereka yang ada didalam sana.
“Ada apa?” tanya David yang merasa diperhatikan dengan intens.
“Kau kemana? Kenapa lama sekali?” tanya Max yang membuat David menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku tidak kemana-mana, hanya menemani Aira saja!” ucap David memberi alasan.
“Kalian semua tidak adil!” ucap Justin tiba-tiba yang membuat semua orang menatap padanya.
“Kenapa dengan kami?” tanya Stef.
“Kalian tidak kasihan dengan aku yang sendiri?” tanya Justin dengan memelas.
Jika diperhatikan lagi, memang semuanya memiliki pasangan masing-masing dan hanya Justin lah yang sendiri.
Lucky dengan Masseria yang terus memeluknya. Lie dengan Jhon yang memeluk istrinya itu posesif. Max dengan Stef yang ada di pelukannya. Sedangkan David dan Aira yang berdiri sejajar, dan hanya Justin yang duduk sendirian dengan wajah yang di tekuk.
“Kau sungguh menyedihkan!” ucap Max meledek membuat semua orang tertawa.
“Awas saja kau Max! Aku akan mencari gadis disini, dan aku akan membawanya pulang ke Italia!” ucap Justin dengan yakin.
“Aku tidak yakin kau akan mendapatkan gadis disini!” ucap Max meremehkan membuat Justin semakin kesal.
“Bagaimana kalau kita bertaruh?” ucap Justin dengan yakin, bahkan dengan sangat-sangat yakin.
“Ayo, aku yakin kau akan kalah!” ucap Max.
“Apa-apaan kalian ini!” ucap Stef melerai.
“Tidak apa-apa sayang! Aku hanya ingin menguji ketampanan kakakmu ini, tapi aku yakin dia akan kalah tampan denganku!” ucap Max dengan yakin.
“Apa maksudmu? Kau juga ingin mencari gadis disini dengan wajah tampanmu itu?” tanya Stef geram yang membuat Max gelagapan.
“Bukan seperti itu sayang! Aku kan hanya mengatakan itu, bukan berarti aku ingin mencari gadis lain,” ucap Max tersenyum kecut, sedangkan semua orang tertawa mendengar perdebatan antara Max dan Stef.
“Jangan percaya padanya Stef, aku yakin dia pasti mau mencari gadis lain disini!” ucap Justin memanas-manasi Stef yang membuat Max menatap tajam pada kakak iparnya itu.
“Diam kau Just!” ucap Max menatap Justin yang dibalas kekehan oleh lelaki itu.
“Aira, kau pesankan lagi satu kamar untuk Max, dia tidak tidur denganku hari ini!” Max terkejut mendengar perkataan Stef.
“Sayang, apa-apaan kau ini? Tidak Aira, kau cukup diam disitu, temani david.” ucap Max menunjuk pada Aira yang memerah mendengar nama David. “Sayang, bukan itu maksudku,” sambung Max yang mencoba untuk menjelaskan pada Stef.
“Sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini? Kami juga ingin bermesraan, jadi keluar lah dari sini, kalau ingin bertengkar sebaiknya di kamar kalian masing-masing!” itu adalah suara Lucky yang melerai pertikaian antara kedua suami-istri beda usia tersebut.
“Baiklah, ayo sayang kita ke kamar. Disana kau bisa marah sepuasnya, tapi setelah itu kau akan tau akibatnya!” Max berbisik pada Stef yang membuat istrinya itu merona merah.
Max masuk kedalam kamar diikuti oleh Stef, begitu juga dengan David, Aira dan juga Justin dengan kamar yang sudah dipesankan oleh Aira dan David.
“Jadi kau masih mau marah sayang?” tanya Max menatap Stef dengan tatapan jahil, yang membuat Stef berjalan mundur karena Max terus berjalan mendekat padanya hingga Stef menabrak tempat tidur dan dan terduduk disana.
“Awas kau! Aku ingin ke kamar mandi!” ucap Stef menatap Max ketus.
“Ya sudah, kalau begitu kita mandi bersama,” ucap Max tersenyum mesum.
“Tidak akan!” ucap Stef ketus.
“Oh ayolah sayang, aku tadi hanya meledek Justin saja, tidak bermaksud untuk mencari gadis lain!” ucap Max dengan memelas.
“Alasan saja kau ini!” ucap Stef cemberut kesal.
“Tidak!” ucap Max dengan yakin.
“Aku tidak percaya,” ucap Stef lagi.
“Astaga sayang, untuk apa aku mencari gadis lain, jika kau saja sudah membuat aku sangat bahagia, aku sangat mencintaimu bahkan melebihi dariku sendiri, jadi tidak mungkin aku mencari gadis lain, jika kau saja membuat aku tidak bisa untuk berpaling.” Stef memerah mendengar perkataan Max. Sungguh kata-kata suaminya ini teramat sangat manis membuat Stef bahagia.
“Kau berkata jujur?” tanya Stef yang dijawab anggukan kepala oleh Max.
“Ya sudah!” ucap Stef membuat Max mengkerut.
“Hanya itu saja? Kau tidak mau mengatakan sesuatu?” tanya Max dibalas gelengan kepala oleh Stef.
“Sudahlah, ayo kita mandi saja!” ucap Max mengajak Stef.
“Tidak, kita mandi sendiri-sendiri, aku yang pertama!” ucap Stef langsung berlari menuju kamar mandi hingga ia lupa untuk mengambil handuk.
“Awas kau nanti sayang!” ucap Max berteriak pada Stef yang sudah masuk kedalam kamar mandi.
Max duduk diatas ranjang, memainkan ponselnya.
Lama menunggu Stef yang saat ini sedang kebingungan karena tidak membawa handuk karena kecerobohannya.
“Bagaimana ini?” tanya Stef pada dirinya sendiri, “Tidak mungkin aku bertel*njang jalan keluar,” sambung Stef lagi.
Stef berjalan mondar-mandir didalam kamar mandi, membuat Max yang sudah menunggunya selama hampir setengah jam merasa heran.
“Stef,” panggil Max, dia berjalan mendekat kearah pintu kamar mandi dan mengetuknya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Max yang membuat Stef menggigit bibir bawahnya gugup.
‘Bagaimana jika dia masuk, lalu melihatku seperti ini. Pasti dia akan menerkam aku nanti!” ucap Stef berjalan mondar-mandir.
“Stef, apa kau baik-baik saja didalam?” tanya Max lagi.
“Iya, aku baik!” jawab Stef.
“Lalu kenapa kau lama sekali? Ayo cepat, aku juga ingin mandi, tubuhku rasanya gerah sekali!” ucap Max memberitahu.
Dengan sedikit keberanian, Stef membuka pintu kamar mandi, memunculkan kepalanya yang membuat Max heran.
“Ada apa? Ayo keluar, aku juga mau mandi!” ucap Max yang dibalas gelengan kepala oleh Stef.
“Ada apa?” tanya Max lagi.
“Ambilkan aku handuk!” ucap Stef tersenyum manis. Max terlihat berpikir sejenak lalu mengangguk. Lelaki itu berjalan dan mengambilkan handuk untuk Stef yang membuat Stef menghembuskan nafas lega.
“Ini!” ucap Max menyodorkan pada Stef yang diterima baik oleh wanita itu. Tapi saat Stef menerima handuk tersebut, Max menarik pintu kamar mandi hingga Stef yang kaget tidak bisa menahannya.
“Kena kau sayang!” ucap Max tersenyum mesum, menatap Stef yang polos tanpa sehelai benangpun.
Stef sudah memerah saat ini.
Max berjalan mendekat membuat Stef mundur kebelakang.
“Ayo kita olahraga sayang,” ucap Max membuat Stef memerah.
“Bukan aku yang salah, tapi kau yang ceroboh!” ucap Max yang dibenarkan oleh Stef.
Jika saja dia tidak terburu-buru masuk kedalam kamar mandi dan tidak melupakan handuknya, ini pasti tidak akan terjadi.
“Terserah kau saja!” ucap Stef pasrah.
“Gadis pintar!”
.
.
.
.
Author no komen hari ini😐