
Max berjalan menuju ruang makan. Disana terlihat David dan Thomas sudah menyelesaikan makan mereka.
Max menutup hidungnya saat mencium aroma masakan yang membuatnya mual.
“Apa yang kalian masak?” ucap Max dengan nada suara yang tinggi. Kepala pelayan mendekat padanya.
“Kami memasak makanan seperti biasanya tuan. Dan juga memasak makanan seperti yang tuan minta tadi,” jawab Marko dengan jujur.
“Aihhh, singkirkan makanan itu. Aku tidak mau mencium baunya yang tidak enak sama sekali.” Marko mengangguk, lalu para pelayan lainnya menyimpan kembali makanan yang tadi terhidang diatas meja makan.
David dan Thomas hanya menatap Max aneh. Kenapa dengan pria ini? Kenapa dia terlihat tidak suka sekali dengan makanan itu?
“Max, kau ini kenapa? Bukankah kau menyukai makanan itu?” tanya David pada Max yang masih menutup hidungnya.
“Tidak tahu. Aku hanya tidak suka baunya, karena membuatku mual.” ujar Max jujur, mengatakan apa yang kini dia rasakan.
“Aih...., Kau benar-benar seperti orang hamil Max.” ujar Thomas yang diangguki oleh David.
“Jangan asal bicara kalian ini. Bagaimana mungkin aku bisa hamil, aku ini pemilik batangan, jadi mustahil aku hamil!” jawab Max kesal. Karena David dan juga Thomas terus saja mengatainya hamil.
“Sudahlah. Jangan berdebat, jadi sekarang kau mau makan apa? Jika kau menyuruh untuk menyingkirkan makanan itu.” tanya David lagi. Max terdiam sebentar.
“Aku ingin sekali makan Iga bakar.” ujar Max membayangkan, mengusap liur yang merembes dimulutnya.
“Kau ini jorok sekali Max! Dan apa tadi kau bilang? Iga bakar?” tanya David memastikan.
“Iya, Iga bakar.”
“Kau yang benar saja Max, dimana ada orang yang menjual Iga bakar malam-malam begini.” ucap Thomas yang diangguki oleh David.
“Mana aku tau, pokoknya aku mau Iga bakar!” ucap Max kekeh pada keinginannya.
“Kau menyuruh siapa?” tanya David. Dia melirik pada Max dengan was-was.
“Tentu saja kalian berdua,” jawab Max dengan seenaknya. David dan Thomas saling berpandangan.
“Enak saja. Tidak! Aku tidak mau, dimana orang yang jual iga bakar malam-malam begini, kau saja Thomas.” jawab David cepat. Bagaimana mungkin Max menyuruhnya membeli Iga bakar malam-malam begini. Restoran pun sudah banyak yang tutup.
“Eh? Kenapa aku? Aku juga tidak tau dimana orang yang jual iga bakar sekarang.” ujar Thomas yang juga menolak permintaan Max.
“Aishhh, kalian ini benar-benar menyebalkan. Pokoknya aku mau Iga bakar, sekarang juga kalian berdua pergi beli sana.” titah Max yang tidak dapat dielakkan. Para pelayan yang ada disana hanya menatap kasihan pada kedua pemuda lajang itu.
“Max, aku seharian ini lelah. Banyak yang harus aku urus. Jadi Thomas saja ya?” David meraih berusaha untuk membujuk Max, tapi hanya dibalas gelengan kepala oleh laki-laki itu.
“Ehh? Aku juga tadi sibuk David! Kau tau berapa banyak pekerjaanku tadi? Kau saja yang pergi.” Thomas juga menolak.
“Kenapa kalian jadi saling menyalahkan begini? Aku menyuruh kalian berdua, jadi ya harus berdua. Pokoknya kalian pergi beli sekarang, aku tunggu disini.” Max membetulkan duduknya, lalu menatap kedua orang itu dengan tajam.
“Kaauu...,” ucap David tertahan merasa sengat kesal pada Bos sekaligus temannya itu.
“Apa?” tanya Max dengan nada menantang.
“Max, aku lelah. Aku juga udah ngantuk.” David masih berusaha untuk merayu Max, tapi tidak didengarkan sama sekali oleh laki-laki bernama Max itu.
“Aku gak mau tau. Cepat cari sekarang.” titah Max lagi. David dan Thomas sudah tidak bisa membantah. Keduanya bangkit dari duduknya lalu berjalan menjauh dari meja makan itu.
“Dasar Bos gak ada akhlak!” gerutu David yang membuat Thomas mengernyit.
“Bahasa mana itu?”
“Indonesia!”
“Darimana kau tau itu?”
“Lagi viral.”
“Cepat David, thomas.” teriak Max yang melihat kedua laki-laki itu berbincang dijalan.
“Kenapa kau nurutin aku?”
“Apa kalian bilang?” tanya Max lagi dengan sedikit berteriak.
“Nothing.”
*
“Vid..” panggil Thomas. Saat ini Keduanya baru saja selesai membelikan makanan pesanan Max di sebuah restoran yang buka 24 jam. Membuat keduanya mengelus dada lega karena tidak terlalu sulit ternyata untuk mencari iga bakar pesanan Max.
“Apa?” tanya David ketus. Dia sudah mengantuk saat ini.
“Kita beli sesuatu dulu disana.” tunjuk Thomas pada sebuah tempat yang masih buka disana.
“Mau beli apa?” tanya David heran.
“Nanti saja, ayo temani aku kesana.”
“Tidak mau. Kau saja!”
“Ayolah David,” bujuk Thomas. Dan akhirnya laki-laki tampan itupun mau tak mau tetap menuruti permintaan Thomas.
“Baiklah-baiklah. Kau ini cerewet sekali.” gerutu David. Kedua laki-laki itu kembali turun dari dalam mobil, lalu berjalan menuju toko yang tadi di tunjuk oleh Thomas.
“Kau sebenarnya mau membeli apa?” tanya David saat melihat Thomas yang berbisik pada penjaga toko itu.
“Tidak usah kepo!” ucap Thomas, sedangkan David hanya melengos saja.
“Menyebalkan!”
Pelayan toko itu menatap David dan Thomas menyelidik, membuat David sedikit risih.
‘Mereka kan sama-sama batang, tapi kenapa laki-laki tampan itu, beli barang seperti ini? Kan itu hal yang mustahil.’ batin pelayan toko itu menatap geli pada kedua laki-laki tampan itu.
“Sudah. Ayo kita pulang.” ujar Thomas setelah membayar barang pesanannya, dia melingkarkan tangannya di pundak David membuat laki-laki itu risih. Sedangkan pelayan toko yang mendengar perkataan Thomas langsung merinding dan geli.
“Sayang sekali. Padahal mereka itu sama-sama tampan, tapi malah melakukan hal yang seperti itu. Iiiii, bulu kudukku merinding.” ujar pelayan itu lagi mengusap tangannya menatap kepergian David dan juga Thomas.
*
Thomas dan David sudah tiba di mansion Max, kedua laki-laki itu turun dari dalam mobil sambil membawa kantung belanjaan barang pesanan Max tadi.
Keduanya melangkahkan kaki mereka dengan lebar menuju ruang makan.
Disana terlihat Max sedang makan iga bakar yang membuat dua laki-laki itu melongo.
“Apa-apaan kau ini Max, ini iga bakar siapa? Kau beli dimana?” tanya David kesal.
“Tadi di buatkan pelayan.” jawab Max dengan enteng membuat Thomas dan David saling menatap.
“Maaaaxxxxxxxx....,” pekik mereka bersamaan membuat Max langsung kaget dan tersedak.
“Uhuk..uhukk...” Max mengambil air minum dan meneguknya dengan cepat.
“Apa-apaan kalian ini?” tanya Max dengan suara serak. Dapat dipastikan kalau kini tenggorokan laki-laki itu pasti perih.
“Kauuuu.... Kau sungguh menyebalkan! Kalau tau begini kenapa kau menyuruh kami untuk membeli ini?” tanya David dengan sangat kesal.
“Ya mana aku tau. Tadi pelayanannya tidak bilang sih kalau dia bisa bikin iga bakar.” jawab Max dengan sangat enteng bin surenteng nya.
Ahhhh.... David rasanya ingin sekali memukul kepala laki-laki yang menjadi Bos-nya ini, ah benar-benar menyebalkan.
__________