
Tidak ada yang tidak mungkin dalam cinta. Bahkan cinta mampu membolak-balikkan hati dalam satu waktu. Dia yang awalnya membenci kini jadi mencinta. Berhati-hatilah dalam menghadapi kata Cinta, karena efak cinta sungguh berbahaya!
-Ega_Sri.
__________
Saat tiba di basemen apartemen, Thomas terdiam melihat pada Mattea yang tertidur di sebelahnya yang duduk di kursi kemudi.
Dia menghela nafas, melihat pakaian yang kini di gunakan oleh gadis kecilnya itu, membuat Thomas mengumpat dalam hati. Dia tidak mau memikirkan seberapa banyak laki-laki di club tadi yang menikmati pemandangan tubuh indah Mattea.
Tapi, walaupun dia menolak untuk memikirkannya, tetap saja otaknya secara lancang membayangkan membuat Thomas menggeram kesal.
Saat sedang asik dengan pikirannya ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk.
“Ya Max?” sapa Thomas menjawab panggilan yang ternyata dari Laki-laki yang dihormatinya itu.
“Kau sudah bersama dengannya?” tanya Max di seberang sana.
“Sudah. Dia tertidur di mobilku. Dia tidak mau pulang?!” Max menghela nafas di seberang sana.
“Ya sudah, kau bawa saja dia ke apartemenmu, tapi jangan sentuh dia, kalau tidak aku akan membunuhmu!”
“Iya, kau tenang saja!”
“Aku pegang ucapanmu!”
“Hemm...”
Thomas menggendong Mattea keluar dari dalam mobil, berjalan menuju lift khusus untuk dirinya, untuk bisa sampai di lantai paling atas gedung itu. Semua menunduk hormat tak kala laki-laki itu berjalan melewati mereka.
Banyak juga yang berbisik-bisik saat melihat Thomas menggendong seorang gadis, membuat para wanita yang ada disana menghela nafas kecewa.
“Sepertinya itu pacar tuan Thomas?!” gerutu resepsionis yang berkerja di gedung apartemen itu.
“Ahh, pupuslah mimpiku untuk bisa menjadi istrinya...” racau gadis itu lagi membuat temannya mendelik.
“Punya apa kau, bisa bermimpi jadi wanitanya tuan Thomas?” ucap temannya itu, membuat sang gadis merenggut.
“Aku punya tubuh yang indah!” ujarnya dengan penuh percaya diri.
“Tubuh tidak menjamin segalanya! Berhentilah bermimpi, kau tidak akan bisa bersanding dengan laki-laki sekelas tuan Thomas?!”
“Menyebalkan kau ini.”
_____
Thomas menempelkan card lock apartemennya, setelah pintu terbuka laki-laki itu membawa Mattea menuju kamar tamu yang ada di sana. Membaringkan Mattea dengan sangat hati-hati agar gadis itu tidak terbangun.
Untuk sesaat, Thomas terpaku pada wajah cantik Mattea yang putih bersih. Dengan bulu mata lentik dan pipi yang ke merah-merahan membuat Thomas membayangkan hal yang tidak-tidak.
“Oh s*it, aku pasti sudah gila!” umpatnya saat tersadar. Tapi reaksi tubuhnya berkata lain.
Thomas berjongkok di tepi ranjang, lalu menatap bibir tipis Mattea.
“Apa sekarang aku sudah bisa disebut sebagai sugar Daddy?” tanya Thomas pada dirinya sendiri. Menatap wajah polos Mattea saat tertidur, membuat fantasi liar Thomas muncul. Dia yang tidak pernah menyentuh wanita kini merasa tertarik dengan bibir tipis itu.
Mattea menggeliat dalam tidurnya, dan berbaring ke arah Thomas yang saat ini sedang berjongkok. Dengan mulut yang sedikit terbuka, Mattea sukses membuat Thomas kembali kesal.
“Kau seperti memancingku baby Girl. Jangan salahkan aku!”
Entah sadar atau tidak, laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu, mendekatkan dirinya pada Mattea, memusatkan pandangannya pada bibir Mattea yang sedikit terbuka. Hingga tanpa sadar, bibirnya sudah menempel disana.
“S*it, aku tidak bisa berhenti, ini terlalu manis!” Thomas mengul*m bibir Mattea dengan sensual, cukup lama dia bermain dengan bibir wanita itu, hingga kesadaran kembali mengambil alih dirinya.
Sedangkan Mattea, tidak terjaga sedikitpun dalam tidurnya.
“Ah kau gila Thomas, kau pasti sudah gila. Kau sudah menjadi sugar Daddy sekarang!” Thomas menyugar rambutnya frustasi, lalu bangkit dan berjalan keluar dari kamar yang di tempati Mattea.
Thomas melangkah menuju kamarnya sendiri, dan langsung masuk kedalam kamar mandi, merutuki dirinya yang tidak bisa menahan diri pada Mattea.
“Ah, sial! Aku benar-benar gila memikirkan bibirnya yang manis itu!” Thomas menuntaskan aktivitasnya didalam kamar mandi.
“Aku menghabiskan banyak sabun malam ini!”
_______
Thomas Jenafi Achilles. Laki-laki dewasa yang tidak menyadari perasaannya sendiri.
Laki-laki yang selalu mengatakan, tidak mau berhubungan dengan wanita. Tidak ingin mencintai, dan dicintai.
Tapi, bahkan dia tidak menyadari perasaannya sendiri. Dan malam ini, malam saat dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, benar-benar membuat mata Thomas terbuka dengan sangat lebar.
Dia baru menyadari, kenapa dia tidak menyukai Harry, kenapa dia ingin selalu Mattea di antar sopir saat ke kampus, kenapa dia selalu mengatakan pada gadisnya itu untuk memakai pakaian tertutup, tak lain tak bukan karena dia tidak ingin laki-laki lain dekat dengan Mattea dan memandang gadisnya itu.
“Bodohnya kau Thomas!” bahkan setelah mandi pun Thomas tidak bisa menghilangkan pikirannya tentang Mattea.
“Bersikaplah seperti biasanya Thomas!” gumam Thomas pada dirinya sendiri.
Thomas memikirkan untuk segera tidur. Tubuhnya lelah malam ini. Bukan hanya tubuh, bahkan pikirannya pun terasa lelah.
______
“Uncle ... Uncle bangun, ini sudah pagi..” Mattea berdiri di tepi ranjang Thomas, mencoba untuk membangunkan laki-laki itu dengan membuka selimut yang digunakan Thomas dan menggoyangkan badannya.
“Oh Girl. Aku masih mengantuk saat ini!” Thomas mencoba duduk dan mengusap kedua matanya, lalu memfokuskan pandangannya pada Mattea yang memakai kemeja miliknya yang tampak kebesaran di tubuh mungil gadis itu.
“Oh S*it,” umpat Thomas dalam hati.
“Atea, kenapa kau memakai bajuku?” setelah berhasil mengendalikan diri, Thomas bertanya pada gadis yang tampak biasa-biasa saja itu saat berpakaian seperti itu didepannya.
“Hemm, tadi aku sudah mandi, dan bajuku sudah bau, juga bau alkohol. Makanya aku masuk kesini dan mengambil baju Uncle, semua baju Uncle, besar untukku!” Mattea menjelaskan dengan bibir yang mengerucut, membuat Thomas gemas sekaligus kesal.
“Kau masuk kesini hanya dengan—”
“Handuk!” jawab Mattea cepat memotong perkataan Thomas. Dan memikirkan Mattea yang hanya memakai handuk, membuat Thomas mengumpat lagi. Seharusnya dia tidak bertanya tadi. Thomas juga merutuki dirinya yang selalu berpikiran mesum saat ini pada gadisnya itu.
“Mattea, apa kau sudah sarapan?” tanya Thomas mengalihkan pembicaraan. Mendengar pertanyaan Thomas, Mattea langsung menggelengkan kepalanya.
“Minta buatkan pada pelayan. Kau keluarlah, aku mau mandi dulu!” Mattea hanya mengangguk patuh mendengar perintah Thomas. Berlama-lama berhadapan dengan Thomas yang baru bangun tidur itu, membuat Mattea memikirkan hal yang iya-iya. 😂
Mattea berjalan keluar, meninggalkan Thomas yang menatap kepergiannya frustasi, lalu menyingkirkan selimut yang masih menutupi bagian bawah tubuhnya, setelah tadi berusaha disingkirkan oleh Mattea.
“Oh My Jony. Kalau gadis kecil itu berlama-lama disini, kau pasti akan selalu menderita sayangku!” setelah mengucapkan kata-kata itu Thomas memutuskan untuk bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi.
“Setidaknya uangku tidak akan habis hanya untuk membeli sabun lebih banyak lagi!”
_______
Hohoho... Setelah lu tolak habis-habisan, sekarang jadi bucinnya dia? Gimana rasanya ayang Thomas >.< Karma tuh!