My Devils Husband

My Devils Husband
39. Ingin mengungkap rahasia



Max memutuskan untuk membawa Stef kembali pulang ke Apartemennya lebih cepat dari waktu yang diinginkan oleh orang tuanya dihotel. Karena Max perlu membereskan masalah yang terjadi terkait dengan Jhon, ayah tiri dari istrinya itu. Kenapa dia tidak membawa Stef pulang ke Mansion karena ia tidak ingin Stef tahu terlebih dahulu tentang masalah ayah tiri gadis itu.


“Kenapa kita pulang lebih awal?” ucap Stef bertanya didalam mobil, karena setelah dari restoran tadi Max langsung mengajaknya pulang tanpa kembali ke kamar hotel.


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin membawamu pulang saja, apa tidak bole” Max bertanya seperti itu membuat Stef terdiam.


“Tentu saja boleh, aku juga rindu tidur dikamar apartemenku,” Stef sudah membayangkan bagaimana ia akan tidur di kasur empuknya nanti sendirian.


“Hei, aku juga tidur bersamamu, jadi jangan pikir aku akan meninggalkanmu untuk tidur sendiri, karena aku adalah suami yang baik hati,” pemikiran Stef langsung buyar mendengar perkataan Max.


“Aihh, aku kira tadi kau akan pulang ke Mansion-mu terlebih dulu,” ucap Stef merenggut kesal.


“Ya setelah ini aku memang akan kembali ke Mansion-ku sebentar, tapi aku akan kembali lagi untuk menemanimu tidur,” Max tersenyum jahil kepada Stef.


“Ah, terserah kau saja,” ucap Stef akhirnya. Karena walau menolak pun ia tetap tidak akan bisa, karena sekarang Max adalah suami sah-nya.


“Aku berkata benar sayang,” Max berkata seperti itu, lalu membelokkan mobilnya masuk menuju basement gedung apartemen tersebut.


“Ayo, aku akan mengantarmu,” ucap Max menjulurkan tangannya kepada Stef yang disambut baik oleh istrinya itu.


Stef turun dari mobil, mereka berjalan ke loby dan saat akan masuk kedalam lift, Stef berhenti.


“Ada apa?” tanya Max.


“Sebaiknya kau tidak usah mengantarkan aku, aku bisa sendiri, kau pergi saja ke Mansion-mu agar tidak pulang terlambat nanti,” Stef mengatakan hal tersebut dengan serius.


“Apa segitu inginnya kau agar aku bisa pulang cepat?” ucap Max menggoda istrinya itu.


“Aish, kau ini. Jangan membuatku kesal,” ucap Stef jengkel.


Setelah itu Stef menekan tombol lift, lalu masuk kedalamnya setelah pintu lift tersebut terbuka. Stef keluar dari dalam lift lalu berjalan kedepan pintu apartemennya, menekan beberapa digit angka lalu membuka pintu, dan berjalan masuk kedalam.


“Ibu belum tidur?” tanya Stef pada wanita paruh baya yang sedang berbaring di ranjangnya itu. Setelah makan malam tadi, Lie sudah diantar pulang terlebih dahulu oleh supir keluarga Luciano ke apartemen.


“Belum,” jawab Lie singkat, lalu tersenyum dengan wajah pucatnya kepada Stef membuat anaknya itu tidak tega.


“Sebaiknya ibu tidur sekarang,” ucap Stef mengambil selimut yang berada di kaki ibunya itu, lalu menutupi tubuhnya.


“Stef, ada yang ingin ibu katakan padamu,” ucap Lie menatap Stef dengan raut wajah penuh dengan rasa bersalah.


“Sebaiknya ibu tidur saja, kita bisa bicara besok,” ucap Stef lembut. “Kesehatan ibu lebih penting, jadi ibu istirahat sekarang,” Stef mencium kening Ibunya, sedangkan Lie hanya mengangguk. Lie memutuskan untuk memberitahu Stef segalanya besok, tanpa ada yang ditutup-tutupinya lagi.


“Guten Abend Mutter, ich liebe dich.(Selamat malam ibu, aku mencintaimu,)” Stef lalu berjalan keluar dan menutup pintunya, ia berjalan masuk kedalam kamarnya. Dia jadi kepikiran dengan apa yang akan dikatakan oleh ibunya itu besok.


“Hoffentlich tut es nicht wen,(Semoga bukan sesuatu yang menyakitkan),”


.


.


.


.


Love❤️❤️❤️ EgaSri